"Semuanya 350 ribu, Mbak," jawab si pelayan.
Rosalin pun mengeluarkan dompet dari tas kecil miliknya. "Nih, Mbak." Rosalin memberikan uang pas pada pelayan.
"Terima kasih ya, Mbak." Pelayan itu tersenyum ramah dan melirik pada Nikolas yang hanya memperhatikan dia yang sepertinya sedang mengatai Nikolas di dalam hati.
"Permisi," pamit pelayan itu dan segera berlalu.
"Dih, itu pelayannya kenapa lihatin lo gitu amat, suka kali sama lo," goda Rosalin seraya terkekeh melirik pada Nikolas.
"Itu sih bukan suka, sepertinya dia sedang mengatai saya dalam hati, tidak berani saja dia bicara langsung sama saya."
Rosalin tertawa, dan meraih tangan Nikolas. "Udah yuk pulang," ajaknya dan menarik tangan Nikolas keluar dari restoran. "Lo buruan urus ke kantor polisi kalau lo keilangan dompet, pasti di dalemnya banyak barang berharga, kan?" Rosalin mengingatkan.
Nikolas masih mengikuti langkah Rosalin yang menggenggam tangannya, pria itu menatap tangan mereka yang berkaitan. "Nik, buruan dong jalannya, kok di belakang terus."
Nikolas terkejut saat Rosalin tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik badan, melihat ekspresi wajah Rosalin yang sepertinya menyadari sesuatu.
"Lo kok kayanya tadi jalannya nggak seperti biasanya, gue merasa ...."
Nikolas berdehem, dan mengelus tengkuknya, kakinya kembali merapat dan tersenyum canggung. "Me-merasa apa, jalan saya masih sama, kaya gini." Nikolas berjalan mendahului Rosalin dan menyembunyikan ekspresi paniknya dari gadis itu.
Rosalin berbalik badan dan melihat cara jalan Nikolas yang kembali menyilang, sangat angun dan menggelikan jatuhnya. "Tapi, kenapa tadi gue merasa dia jalannya kaya cowok asli gitu, nggak seperti itu ...."
Gadis itu jadi berpikir keras, perlahan dia pun ikut berjalan menyusul Nikolas di depan, kembali ia melihat cara jalan Nikolas dan meyakinkan dirinya kalau tadi itu hanya perasaan dia saja.
Nikolas tampak menghela napas lega, hampir saja dia lupa dan ketahuan. Dia terus berjalan di depan dan Rosalin masih berjalan di belakangnya hingga keduanya sampai di dekat mobil Nikolas.
"Biar saya saja yang nyetir," ucap Nikolas saat Rosalin sudah ada tepat di belakangnya.
Gadis itu masih seperti orang linglung, karena hatinya berkata perasaannya tadi benar, tapi pada kenyataanya tidak. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Nikolas masih seperti itu.
"Iya, masa gue lagi yang nyetir, gantianlah sekarang lo yang nyetir." Rosalin lalu segera masuk mobil dan disusul Nikolas.
Pria itu sejanak melirik pada Rosalin yang sepertinya masih terpikirkan sesuatu, tepatnya apa Nikolas pun kurang paham.
Nikolas akhirnya memanuver kendaraannya meninggalkan area mall, di tengah perjalanan Nikolas sering mencuri pandang ke arah Rosalin yang tampak menyangga kepalanya dengan tangan kirinya yang bertumpu pada pintu mobil.
"Kamu kenapa? Apa masih memikirkan perasaanmu yang salah itu tentang saya?" Nikolas menduga kalau Rosalin masih memikirkan kecurigaannya.
Rosalin menggeleng, Nikolas salah. Gadis itu saat ini tengah memikirkan hal lain. "Masih kepikiran soal pembicaraan tadi di restoran?" tanya Nikolas lagi.
"Tidak usah dibahas, yang penting gue udah jujur sama lo, dan gue pasrah kalau lo mau batalin, asal jangan kasih tahu alasan gue tadi."
Nikolas tersenyum miring. "Kalau tidak saya utarakan alasan saya menolak pernikahan ini karena apa, papah dan mamah mana bisa terima."
"Kalau begitu, diem! Terima aja, gue janji nggak bakal mengganggu lo apa pun yang lo lakukan. Gue hanya butuh waktu menunggu dia bisa sukses, dan bisa meyakinkan kedua orang tua gue."
Nikolas menghela napas berat, harus bagaimana dia sekarang. Meski bagaimana pun dia mengerjai Rosalin, gadis ini pasti akan tetap bertahan, karena dia memiliki keinginan kuat.
"Tapi, sampai kapan?" tanya Nikolas ragu.
Rosalin mengkedikkan bahunya. "Yang pasti dia sedang berusaha." Rosalin tampak mengusap sudut matanya dan memalingkan wajah, gadis itu tidak mau memperlihatkan sisi kelemahannya pada siapa pun termasuk pada Nikolas.
Sayangnya Nikolas sudah melihat sisi lain itu dari Rosalin yang biasa petakilan. Gadis ini memiliki cinta tulus dan sungguh-sungguh setia.
"Oke, saya setuju. Tapi, ingat perkataanmu tadi, jangan ikut campur semua urusan saya dan apa pun yang saya lakukan."
Rosalin menoleh pada Nikolas dan tersenyum lebar. "Seriusan, Nikeu. Lo nggak bohong, kan?"
"Hmm!" dehemnya lalu menggeleng sebagai jawaban.
Rosalin dengan senang memeleuk lengan Nikolas dan menempelkan sisi wajahnya. "Mmh, makasih, Nikeu. Gue beruntung mendapat teman seperti lo. Pokoknya mulai saat ini, lo gue anggap temen gue, temen terthe best gue."
Nikolas sejenak terdiam, janji sudah dibuat, ludah sudah jatuh ke tanah dan tidak mungkin dijilat kembali. Nikolas memutuskan untuk membantu Rosalin.
Meski ia harus menjalani dua kebiasaan yang berbeda jika bersama Rosalin, entah sampai kapan dia harus berpura-pura intinya jauh di dalam hati Nikolas yang terdalam, dia begitu iri pada pria bernama Levin.
Pria yang tidak tahu seperti apa rupa dan sifatnya hingga gadis ini begitu mecintainya hingga rela menunggu. Sementara dirinya, yang terhitung orang yang lahir dengan sendok emas di mulutnya.
Paras yang tidak jelek, bahkan sangat tampan. Bisa-bisanya dia mengalami pengkhianatan oleh seorang wanita. Sepertinya setelah dia bertemu Rosalin dan lebih mengenalnya, Nikolas mungkin akan merubah pemikirannya yang selama ini menganggap wanita itu sama saja.
Mobil mewahnya memasuki halaman luas rumah megah keluarga Hendaru, keduanya keluar dan berjalan menuju pintu depan rumah, tapi sebelum mereka sampai di depan pintu.
Rosalin menghampiri sebuah sepeda motor matic yang terparkir di halaman depan rumahnya. "Levin, Levin di sini?!"
Gadis itu kemudian segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Nikolas yang masih melihat kendaraan milik orang yang bernama Levin itu.
"Rosalin akan menikah akhir bulan ini, jadi tante harap kamu jangan dekati Lin lagi, Lev!"
"Mah!" Rosalin masuk dan melangkah lebih dekat, disusul Nikolas di belakang yang ikut memperhatikan ketegangan di dalam rumah itu.
Levin berdiri, pria tampan dengan berkemeja biru itu menatap kekasihnya yang datang bersama dengan seorang pria lain. "Lev, lo di sini?" tanya Rosalin saat sampai di hadapan Levin.
Pria itu memang lebih muda dari Nikolas, tapi lebih tua juga dari Rosalin. Intinya Levin dan Nikolas hanya terpaut perbedaan usia beberapa tahun saja.
"Lin, apa maksud dari Papah dan Mamah lo? Siapa dia?!" Levin menunjuk pada Nikolas yang hanya berdiri menonton.
"Lev, gue bisa jelasin--"
"Mau jelasin apa lagi, Lin? Papah dan Mamah sudah jelasin sama Levin, kalau kamu akan menikah dengan Nikolas putra dari keluarga Anggara yang kaya raya," kata Anna.
"Mah, Pah, tapi tidak harus kalian yang menjelaskan. Lin bisa jelaskan sendiri pada Levin, nggak seperti ini--"
"Sama aja, Lin. Intinya lo lebih milih pria itu dibanding gue," tunjuk Levin pada Nikolas.
"Ini nggak seperti yang lo pikirkan, Lev. Denger penjelelasan gue dulu-- Lev!"
Levin tampaknya sangat kecewa dan sakit hati, pria itu tidak mau mendengarkan penjelasan apa pun saat ini, dan memutuskan pergi.
Rosalin mengejar kekasihnya, tapi Levin sudah berlalu mengendarai motornya. Rosalin dengan marah kembali masuk ke dalam dan menatap kedua orang tuanya yang merasa bersalah karena membuat putri mereka merasa marah.
"Lin harap, kalian berdua puas!" tandas Rosalin, dengan tatapan kecewa pada Anna dan Arman, Rosalin berlari menaiki anak tangga.
"Lin, dengerin mamah dulu, Lin! Maafin mamah sama papah!" seru Anna, wanita paruh baya itu kemudian menoleh pada suaminya dengan sedih. "Gimana ini, Pah. Lin marah sama kita. Tapi, bukannya cepat atau lambat pemuda itu tetap harus tahu?"
"Terkadang orang tua tidak harus ikut campur pada kehidupan anak-anaknya, setidaknya beri mereka kepercayaan untuk menyelesaikan urusannya sendiri. Maaf jika saya ikut campur," sela Nikolas.
Anna dan Arman saling pandang saat mendengar perkataan Nikolas barusan, mereka berdua kemudian menoleh pada Nikolas secara bersama-sama.
"Maaf, Nak Niko. Tadi kok suara dan cara bicaranya Nak Niko beda? Tadi itu ...." Arman tampak ragu mengatakannya.
Niko tertegun, ia lupa kalau harusnya dia jadi pria kemayu di depan Rosalin termasuk kepada kedua orang tuanya dan orang-orang yang Rosalin kenal tentunya.
Nikolas tidak menyangka ini akan menjadi sulit, tapi janji sudah ia buat dengan Rosalin. Maka dia akan menjalaninya meski ini akan terasa riskan dan mengancam kehormatannya jika dia harus berakting di depan orang-orang penting yang ia kenal.
Pria itu kemudian tersenyum, dan kembali berdehem untuk mempersiapkan suara rendah dan gestur tubuh gemulainya lagi. "Mmh ... maaf, Om, Tante. Saya pamit pulang dulu, yah. Mamah dan papah pasti menunggu saya di rumah, nanti kalau ada kepentingan perihal pernikahan mamah atau saya akan mengabari pada Lin. Permisi, Om, Tante, saya pulang dulu."
Tanpa lama lagi, Nikolas langsung berbalik badan dan mengambil langkah seribu untuk kabur dan menghela napas saat ia berhasil masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran rumah keluarga Hendaru.
Arman dan Anna masih saling pandang, masih merasa bingung dengan kelakukan Nikolas yang bisa berubah-ubah. "Kok bisa gitu ya, Mah?"
Anna mengkedikkan bahunya. "Mana mamah tahu, mungkin dia punya dua keperibadian," tuduh Anna.
"Hus!" hembus Arman menaruh jari telunjuk di depan bibir.
***
Di tengah perjalanan hingga kini Nikolas sampai di rumahnya, dia masih saja memikirkan kebiasaannya yang sering lupa dalam bertindak atau berbicara.
Dia tak menyangka ini akan jadi keberlanjutan seperti ini, diusapnya wajah yang terlihat frustasi sebelum ia keluar dari dalam mobil.
Nikolas melangkah memasuki rumah yang langsung mendapat sambutan dari kedua orang tuanya. "Wah, yang baru kencan sama calon istri kelihatannya seneng banget," goda Alya, sambil menaik turunkan alis melirik pada Danu yang menanggpinya dengan senyum dan anggukkan.
"Tahu dari mana saya kencan?!" sahut Nikolas dengan sedikit ketus.
Alya dan Danu hanya saling melempar senyum, mereka kemudian menjawab dengan bersama-sama. "Siapa lagi kalau bukan dari asistenmu."
"Helmiii!" Nikolas mengetatkan rahangnya saat menyebut nama asisten pribadinya itu. "Sekarang mana dia?" tanyanya dengan kesal.
Alya dan Danu tampak membeliak saat melihat putranya marah. "E-eh ... jangan marah pada Helmi, kami yang memaksa dia buka mulut. Kami cuma mau tahu pagi-pagi sekali putra mamah mau pergi ke mana, mana ganteng banget lagi, hhh!" Alya kembali terkekeh menggoda putranya lagi.
Nikolas tidak menjawab, dia hanya menghela napas kesal memandangi kedua orang tuanya yang begitu terlihat bahagia. "Kalau mereka tahu alasan gadis itu setuju menikah dengan saya, gimana? Mereka pasti kecewa," batin Nikolas.
Pria itu kemudian berkata, "Saya mencari Helmi dulu, ada sesuatu yang harus dia lakukan." Nikolas memutuskan untuk berpamitan dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih tersenyum memandangi kepergiannya.
Nikolas pergi ke paviliun di mana Helmi tinggal, segera ia mengetuk pintu dan tak lama pintu terbuka.
"Tuan," sambut Helmi segera ia sedikit membungkukkan punggungnya.
"Kamu!" Nikolas meninju d**a Helmi perlahan, tapi cukup membuat Helmi meringis memegangi dadanya. "Kamu membocorkan rahasia saya pada mamah dan papah, hmm!" lanjutnya dengan pandangan jengkel melihat Helmi.
Helmi kembali membungkuk. "Maafkan saya, Tuan. Tuan dan Nyonya besar mengancam saya kalau saya tidak mau buka mulut."
"Apa?! Mereka mengancam apa sama kamu?" tanya Nikolas dengan sangat penasaran.
"Tuan dan Nyonya mengancam kalau akan mempercepat pernikahan Anda dengan nona Lin sesegera mungkin kalau saya tetap tutup mulut."
Nikolas memejamkan kedua matanya merasa jengkel, jengkel ke segala hal. Dimulai dari rencananya yang gagal, dompetnya yang hilang dan sekarang ini.
"Sudahlah, lagipula saya sudah setuju menikah, jadi terserah saja!"