Kualat Sama Calon Istri

1708 Kata
Sepeninggalan pelayan tadi, Rosalin menutup bibirnya menahan tawa. "Ya ampun, si mbak aja sampe ragu mau nyebut lo mas apa mbak, haha!" Nikolas mengatupkan bibirnya, menatap Rosalin dengan jengkel. "Awas saja kamu, beraninya menertawakan saya. Ini semua gara-gara kamu yang buat saya seperti ini. Pokoknya saya harus bisa membuat kamu membatalkan perjodohan ini, agar saya bisa hidup secara normal kembali. Saya tidak bisa bayangkan kalau pernikahan ini bisa terjadi, mau jadi apa saya nanti setiap hari harus belagak jadi kemayu begini," batin Nikolas, pria itu mengusap wajahnya frustasi. Rosalin mengerutkan keningnya, lalu tersenyum. "Lo mikir apa sih? Bingung amat kayaknya," tegur Rosalin jadi ingin tahu dengan apa yang ada di pikiran pria di hadapannya ini. "Oh, tidak tidak, saya tidak mikirkan apa-apa," elak Nikolas dengan senyum canggung. Bibir Rosalin mencebik. "Aneh banget sih lo, Nik." Tak lama pelayan datang dengan pesanan mereka. "Selamat menikmati, permisi," sela pelayan pada mereka berdua. "Ya, silahkan," sahut Rosalin mempersilahkan pelayan itu untuk pergi. Rosalin kemudian melirik pada Nikolas. "Ya udah yuk buruan makan, gue udah laper." Rosalin segera menyomot satu potong pizza dan mengigitnya, Nikolas hanya memperhatikannya saja yang terlihat sangat lahap. Sepotong, dua potong dan seterusnya, bahkan Nikolas sudah kenyang dengan melihat dia makan. Pria itu hanya meraih cup minumannya dan menyesapnya perlahan. Rosalin yang asik makan sendiri pun baru sadar kalau dari tadi Nikolas hanya memperhatikannya tanpa ikut makan, gadis itu mengerutkan kening saat melihat tatapan Nikolas yang berbeda. Sempat merasakan kejanggalan ada pada pria yang Rosalin ketahui kemayu itu. "Nik, lo kok--" ucapan Rosalin terputus saat Nikolas kembali bersikap seperti semula, pria kemayu yang sok imut. Seketika Rosalin menepis kecurigaannya lagi. "Lo kagak makan? Ya udah gue abisin, ya?" Rosalin nyengir. "Iya, iya sudah silahkan habiskan saja, saya belum lapar," sahut Nikolas seraya mengangguk. Rosalin dengan tanpa ada rasa jaim-jaiman langsung lanjut makan sampai habis satu loyang pizza ukuran jumbo, dan meminum minumannya hingga tandas. Tentu sikap begini tidak pernah ia tunjukkan pada pria yang ia sukai, dengan Levin gadis itu pasti akan jaga kelakuan semanis yang ia bisa, sementara dengan Nikolas, buat apa dia jaim? Rosalin berpikir, bodo amat pria itu mau suka apa tidak padanya. Pernikahannya pun hanya sebuah kesepakatan, tidak ada cinta di antara mereka. Lagian Nikolas juga tidak suka sama wanita, jadi biasa saja sama dia mah. "Eh, Nik. Gue heran sama lo," ungkap Rosalin saat ia mengingat sesuatu. "Apa?" tanya Nikolas. "Semalam kan lo nolak banget sama perjodohan kita, terus kenapa hari ini lo ajak gue jalan-jalan begini?" tanya Rosalin ingin tahu. "Oh, itu ... itu karena saya sadar kalau saya terus menolak perjodoahan yang papah mamah buat, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan membuat rencana perjodohan lagi dengan gadis lain, saya sudah capek saja dihadapkan dengan situasi yang begitu terus," jawab Nikolas beralasan. "Jadi, lo memilih gue yang jadi istri lo, nih?" Rosalin terkekeh. "Ya apa boleh buat," jawab Nikolas pura-pura pasrah. "Ih, pasrah amat." Rosalin mencebikkan bibirnya, tapi tak lama dia bereaksi lagi, "eh, siapa tahu kalau lo tolak gue, lo bisa nemu cewek yang lebih cakep dari pada gue yang mau jadi istri lo." "Gadis yang cantik tidak ada yang mau menikah dengan saya," sahut Nikolas "Jadi, gue jelek?!" sungut Rosalin. Nikolas tersenyum kecil. "Bukan saya yang bilang loh, yah," selorohnya. "Uh, dasar!" Rosalin melemparkan tissue hingga mengenai d**a bidang Nikolas. Sejenak interaksi mereka membuat Nikolas tertawa, meski di dalam hatinya tengah merencanakan hal lain. Nikolas benar-benar tidak siap menikah dan memiliki hubungan serius dengan wanita mana pun. Kenangan pahit saat dikhianati seorang yang ia cintai begitu membekas di hatinya. Mencintai terlalu dalam itu bisa menghancurkan segenap hatinya saat tahu cinta dan kepercayaannya diabaikan. Maka dari itu pria tampan ini memutuskan melakukan hal konyol selama ini untuk menghindari perjodohan yang sering kedua orang tuanya buat untukknya. Selama ini sandiwaranya selalu berhasil menggagalkan perjodohan, tapi kali ini rupanya Nikolas tengah kena batunya sendiri karena Rosalin ternyata beda dari gadis lainnya. Nikolas terancam terjebak dalam permainannya sendiri jika pernikahan ini sampai terjadi. Di tengah lamunan Nikolas, teguran Rosalin mengejutkannya. "Wey! Ngelamun aja ... kesambet, ntar gue yang repot!" "Bisa tidak, tidak usah mengagetkan orang lain kalau bicara!" ketus Nikolas. Rosalin terkekeh melihat ekspresi kaget Nikolas. "Lagian lo ngelamun mulu, mikirin apa sih, jadi kepo gue." Rosalin kembali terkekeh tak kuasa menahan tawa. "Dasar, mau tahu saja urusan orang lain!" Nikolas membalas dengan nada ketus lagi. Rosalin sama sekali tidak tersingung, menerima keketusan Nikolas yang terkesan lucu, hanya bisa membuatnya tersenyum. "Apakah nanti setiap hari kami akan begini? Berdebat karena hal kecil dan jutek-jutekkan. Lucu banget gue bayanginnya, berasa punya kakak cewek yang pacarnya gue rebut, ya gini kali. Ngambek ... aja terus, hhhh!" Kali ini Rosalin yang melamun. Nikolas mengerutkan kening melihat Rosalin yang hanya senyum-senyum sendirian sambil terus memperhatikannya. "Mikir apa kamu?!" Teguran Nikolas membuat Rosalin tersadar. "Eh, enggak enggak," elaknya sambil mengulum senyum. "Gue tuh aneh aja, lo kok bicaranya formal terus. Saya kamu, Saya kamu." "Ya karena saya tidak biasa bicara gaul kaya kamu," sahut Nikolas. "Nikeu, padahal kalau lo nggak kaya gini, mungkin lo gampang dapet jodoh, bokap nyokap lo pasti kaga bakal pusing jodoh-jodohin lo mulu. Lo kaga ada niatan berubah gitu?" tanya Rosalin serius. "Berubah jadi apa? Saya sudah nyaman begini, lagian sudah ada gadis yang mau sama saya, meski pun saya seperti ini." Rosalin tersenyum melihat gestur tubuh Nikolas yang gemulai pada saat berbicara, jari-jari pria itu terus saja mengaduk minuman di dalam cup dengan sedotan dan menyesapnya dengan manja. "Tapi, kalau lo tahu gue nggak tulus sama lo, lo marah nggak, Nik?" Rosalin tiba-tiba jadi merasa bersalah. Gadis itu ingin bertanya sebelum pernikahannya terjadi, dia juga ingin mengutarakan niat sesungguhnya kenapa dia mau menerima perjodohan. Nikolas tersenyum sinis. "Tidak masalah, di dunia ini memang tidak pernah ada yang tulus," sindir Nikolas, mungkin pada seseorang yang pernah melukai hatinya, atau pada semua wanita di dunia ini. "Maaf," ungkap Rosalin, membuat Nikolas menatapnya aneh. "Maaf, jika gue terkesan memanfaatkan lo, Nik. Tapi gue nggak mau bohong sama lo, gue sejujurnya udah punya pacar, dan gue sangat sayang sama dia." Nikolas terdiam, tidak menanggapi lebih dulu kalimat Rosalin, dia menunggu kalimat selanjutnya. "Tapi, nyokap bokap gue nggak setuju gue sama dia, karena dia derajatnya di bawah kami. Mereka lebih ingin punya menantu seperti lo, orang kaya raya yang bisa membanggakan mereka di depan umum. Lo jangan khawatir, gue tahu lo nggak suka sama gue, kan? Tapi, gue minta waktu sama lo bertahan sama gue, setelah Levin bisa membuktikan dirinya pada kedua orang tua gue, gue akan minta pisah dari lo. Tidak apa jika nanti alasan perpisahan kita, gue yang disalahkan.. Gue janji sama lo, gue akan jaga nama baik lo meski nanti kasus perceraian kita terjadi. Gue mohon maafin gue, yah!" Rosalin mengulurkan tangan dan mengenggam kedua telapak tangan Nikolas, menatap pria itu dengan air mata yang hampir jatuh. Nikolas melihat ketulusan dari sorot mata gadis petakilan ini, tapi ketulusan itu bukanlah untuknya. Ada rasa sesak di dalam hatinya saat tahu alasan sesungguhnya, bukan hanya karena ingin membantu ayahnya, Rosalin ternyata punya rencana sendiri. Nikolas jadi bimbang, secara tidak langsung Rosalin meminta bantuan darinya, tapi di sisi lain Nikolas merasa keberatan dengan apa yang akan terjadi pada dirinya jika pernikahannya terjadi. Nikolas tetap pada niat awal, dia tidak mungkin jadi gemulai sampai waktu itu tiba, di mana Levin bisa membuktikan diri dan Rosalin meminta pisah, ya kalau cepat, kalau lama? Nikolas melepaskan genggaman tangan Rosalin. "Oh, jadi itu alasannya? Kamu mau memanfaatkan saya?" Rosalin menatap wajah Nikolas yang berpura-pura marah, gadis itu masih tenang menghadapi Nikolas saat ini. "Nikeu, sudah gue katakan sama lo, kan? Gue minta maaf, lalu kalau lo tidak mau bantu gue, gue juga nggak bisa memaksa. Yang terpenting gue udah jujur sama lo. Lo bisa nolak ke om dan tante, tapi please jangan katakan alasan gue pada mereka." "Oh, kamu tidak mau dianggap jelek oleh keluarga saya?" sindir Nikolas sambil menaikkan satu alisnya. "Gue nggak peduli tanggapan orang tua lo ke gue gimana, gue hanya takut orang tua lo laporan ke orang tua gue dan itu bisa mengancam hubungan gue dan Levin. Oke, gue udah lelah ngejelasin, terserah lo mau ngadu apa nggak, gue pasrah. Sekarang lebih baik kita pulang aja." Rosalin berdiri dan sepertinya sudah tidak bersemangat lagi menemani Nikolas berjalan-jalan. Nikolas pun sepertinya sudah tidak berniat untuk mengerjai Rosalin lagi, raut wajah gadis itu tampak sangat lelah dan sedih dan Nikolas bisa memahaminya. "Ya sudah kita pulang, saya bayar dulu." Nikolas melambaikan tangan dan pelayan datang menghampiri. Nikolas merogoh saku celana samping kirinya, dia merasakan ada sesuatu yang hilang, dan mencoba merogoh saku sebelah kanannya dan kini benar-benar yakin kalau ada yang hilang. Pria itu akhirnya berdiri lalu menoleh ke kiri ke kanan dan ke bawah seperti mencari sesuatu. Rosalin yang memperhatikannya pun mengerutkan keningnya bingung. "Nyari apaan sih?" tanya Rosalin akhirnya. "Dompet saya hilang, Lin." Nikolas terus mencari ke segala arah siapa tahu jatuh di sekitaran situ. Kali ini Nikolas serius, bukan mau ngerjain Rosalin. Awalnya sih iya mau ngerjain, mau bilang lupa bawa dompet dan menyuruh Rosalin yang bayar biar gadis itu makin jengkel. Namun, karena tadi Rosalin tampak sedih, Nikolas mengurungkan niatnya. Eh, malah ilang beneran, sepertinya Nikolas kualat sama calon istri. "Hah, seriusan dompetnya ilang? Lo tadi simpennya di mana?" Rosalin pun ikut panik dan membungkuk untuk mencari ke kolong meja dan ke sekitaran tempat itu. "Ya serius lah, masa bohong. Saya simpen di saku celana, tidak di mana-mana," sahut Nikolas. Pelayan juga jadi ikut membantu mencari, dia takut. Takut pesanannya tidak jadi dibayar, dan ujung-ujungnya ngutang. "Jangan sampe deh nih orang kasbon, tampang aja keren, tapi jalan sama cewek nggak mau modal!" batin Pelayan itu ngelirik-lirik pada Nikolas yang masih berusaha mencari dompetnya. "Lo lupa bawa kali, Nik," ucap Rosalin lagi saat ternyata dompet yang dimaksud tidak ada di mana pun. "Tidak mungkin, saya ingat saya bawa, saya ini belum pikun, ya!" "Ya biasa aja kali jawabnya, galak amat!" "Udah, sekarang kamu bayar dulu, nanti saya bayar sepuluh kali lipat." Rosalin mencebikkan bibirnya sebal. "Nggak usah, dari tadi juga gue yang biayain kencan kita. Dari beli tiket sampe jajan dan sekarang gue lagi." Nikolas mendengkus kesal, dia emang apes, mau ngerjain malah kena ejek, dan paling parah dompetnya asli hilangnya. Rosalin terkekeh melihat ekspresi Nikolas yang jengkel, dia pun melirik pada pelayan. "Berapa emang, Mbak?" tanya Rosalin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN