"Saya mau ajak kamu jalan-jalan mau, kan?" tanya Nikolas dengan senyumnya yang menurut Rosalin seperti menyimpan sesuatu.
Tiba-tiba Rosalin jadi merasa curiga. "Boleh aja sih ... tapi mau ke mana kita?" tanya Rosalin dengan ragu.
Nikolas langsung berdiri dan menggenggam pergelangan tangan Rosalin. "Ayo, ikut saja!" ajaknya.
"E-eh, bentar dulu ... ke mana dulu, kok gue jadi curiga sama elo," tunjuk Rosalin pada wajah Nikolas.
"Ck, udah ... ayo ikut saja sih, kita cuma mau jalan-jalan, nonton, atau belanja. Kata papa kita harus lebih saling kenal sebelum pernikahan biar tidak kaget pas kita nanti sudah jadi suami-istri." Nikolas tersenyum.
Rosalin mengerutkan keningnya. Nih, orang kenapa cepet banget berubah pikirannya, yah? Padahal semalem jelas-jelas banget dia nolek gue, kan?! Rosalin merasa sangat heran.
"Ayo ... pergi, Liin!" rajuk Nikolas dengan manja.
Rosalin meringis. "I-iya deh, ayo!"
Akhirnya Rosalin berdiri dan Nikolas dengan senang segera menarik tangannya agar segera berjalan keluar rumah. "E-eh, bentar kali, gue pamit sama papah mamah gue dulu."
"Tidak usah, saya tadi sudah bicara sama mereka kok," sahut Nikolas sambil terus menarik tangan Rosalin menuju pintu keluar.
"Pah, mah! Lin pergi dulu, yaaaa!" teriak Rosalin agar kedua orang tuanya bisa mendengar suaranya.
"Udah ... ayo cepat jalannya, Lin ..." Paksa Nikolas terus menarik Rosalin hingga kini mereka sampai di dekat mobil Nikolas.
Pria itu tampak merogoh celana jogernya dan melemparkan kunci mobil pada Rosalin, dengan sigap gadis itu menangkapnya meski hampir mengenai keningnya. Buset dah nih laki ngeselin!
"Nih, kamu saja yang nyetir," kata Nikolas, pria itu kemudian berjalan ke sisi pintu lainnya dan Rosalin masih saja tertegun.
Rosalin masih menatap kunci mobil di tangannya, dia berpikir harusnya kan cowok yang nyetir buat ceweknya, lah ini kebalik. "Oh iya, gue lupa, dia itu siapa, hhh!" gumam Rosalin sambil menahan senyum kesal.
"Eh, buruan masuk, malah bengong sih!" Nikolas dengan gayanya membuat Rosalin jadi berdecih sebal.
"Iya, iya, bawel banget deh, cerewet!" ketus Rosalin seraya membuka pintu dan masuk.
Nikolas hanya mengulum senyum saja melihat kejengkelan gadis yang kini duduk di sampingnya. Ini belum seberapa, kita lihat nanti! Nikolas tersenyum jahat.
"Mau ke mana kita sekarang?!" tanya Rosalin dengan kesal.
"Hmm, gimana kalau kita ke mall, saya mau ajak kamu keliling-keliling ...."
"Ya elah, keliling-keliling doang, nih?" sahut Rosalin sambil mulai menyalakan mobil.
"Ya tidak, kita nanti nonton film, makan-makan, terus belanja," sahutnya dengan gaya dicentil-centilin.
Rosalin meliriknya, dirinya langsung membatin. "Amit-amit ... ada gitu makhluk Allah yang kaya gini. Badan bagus, muka lumayan, kaya pulak, tapi kelakukannya ampun dah, centilnya lebih-lebih gue yang cewek.
Nih, cowok kalau normal pasti banyak yang naksir. Kaga bakal sulit lah jodohnya, tinggal lirik tuh cewek pasti ngikut. Tapi, kalau dia normal udah pasti gue tolak. Levin mau gue apain entar, hmm!"
Tepukan di bahu mengagetkan Rosalin dari lamuanannya. "Eh, jangan ngelamun yah, kita lagi di jalan. Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Terus kalau kepala saya kejedot gimana?"
"Ya elah ... paling kalau kaga ko'it lo amnesia doang, Nikeu. Kali aja pas lo sadar, lo jadi normal. Kan lo lupa sama lo yang begini, hihihi!" Rosalin jadi nyengir dengan terus memperhatikan jalan, tanpa dia sadari eskpersi wajah Nikolas berubah jadi sedikit marah.
"Eh, kenapa lo diem aja? Marah ama gue? Ya elaaah kaga usah ambekan lah jadi orang. Kenapa lo kaga suka gue sebut kaga normal?" Rosalin menoleh pada Nikolas sekilas dan kembali fokus pada jalanan.
"Tidak!" sahut Nikolas seraya merajuk.
"Terus apa, dong?" tanya Rosalin ingin tahu.
"Saya takut amnesia," jawaban Nikolas membuat Rosalin memutar bola mata malas.
"Kirain marah karena gue katain kaga normal. Eh, ternyata karena lo takut amnesia karena takut lupa lo cowok lembek doang!"
***
Mobil sampai di pusat perbelanjaan, mall besar di bilangan Jakarta Selatan. Mereka melepas safetybelt dan keluar secara bersamaan.
"Ayo, cepat masuk!" ajak Nikolas dengan jalannya yang nyilang-nyilang pria itu melangkah lebih dulu meninggalkan Rosalin di belakang.
Melihat cara jalan pria yang sesungguhnya sangat tampan itu membuat Rosalin jadi agak sebal, tapi apa boleh buat manusia sejenis itu kan emang begitu gayanya.
Nikolas menoleh saat tahu Rosalin tidak segera mengikutinya. "Ayo dong buruan, kok malah bengong!" Nikolas berbicara sok imut dengan nada sedikit agak keras, sehingga orang-orang yang melintas memperhatikannya dan Rosalin.
Rosalin agak sedikit malu, dia pun melirik ke kiri dan kanan lalu segera berlari kecil menghampiri Nikolas. "Iya, udah ayo buruan masuk, lo mau beli apaan sih, pokoknya buruan!" Rosalin menggandeng lengan Nikolas mengajaknya agar segera masuk ke dalam mall.
Nikolas tersenyum, bukannya Rosalin yang digandeng malah dirinya yang menggandeng lengan Rosalin. Setiap langkah tak sedikit orang memperhatikan mereka berdua.
Entah itu karena Nikolas yang kelewat ganteng, apa mereka yang kelewat aneh sebagai pasangan kekasih. Mungkin perbedaan mereka berdua hanya sebatas wajah tapi kelakuan mereka hampir mirip, malah Rosalin bisa dibilang lebih macho dibanding Nikolas yang jalannya saja ribet.
"Nikeu, kita udah muter sana, muter sini, muter-muter sana sini lo sebenernya mau nyari apaan ... hah!" Rosalin dibuat jengkel setengah mati, karena sejak tadi sampai sekarang Nikolas hanya mengajaknya keliling, mampir ke satu toko ke toko lain, mending beli, kagak!
"Nonton aja, yuk! Katanya ada film baru, yang cowoknya itu Jefri Nichol, saya suka itu filmnya romantis sekali." Nikolas bertingkah menggelikan saat mengatakannya.
"Lo suka ceritanya apa suka sama Jefri Nichol-nya? Jangan bilang lo suka ...." Rosalin menyipitkan matanya pada Nikolas yang tersenyum mengembang.
"Dua-duanya, udah yuk buruan nanti keabisan tiketnya." Nikolas menarik tangan Rosalin naik ke lantai atas.
Setelah keduanya sampai, antrian tiket terlihat sangat panjang. Nikolas melirik pada Rosalin. "Kamu yang antri,, saya tunggu di sini," titah Nikolas yang langsung duduk di kursi tunggu.
Rosalin melotot dengan kesal. "Gue juga yang harus antri?! Lo sebagai cowok gimana sih!"
Nikolas mengerutkan bibirnya, kedua matanya menatap Rosalin dengan hampir menjatuhkan air mata. Rosalin menghela napas kasar, gadis itu harus lebih sabar lagi menghadapi pria ini.
Meski jengkel dan kakinya serasa mau copot karena sejak tadi muter-muter mall, kini ia paksakan untuk melangkah dan berdiri ikut antri. "Ini baru di awal, gimana kalau gue udah nikah sama dia, mampuslah gue ntar. Emang dasar kampret, lah!" omel Rosalin di sepanjang ia mengantri.
Nikolas hanya menahan senyum jahat, apalagi saat melihat bibir Rosalin yang tak hentinya bergerak-gerak, dia tahu gadis itu sedang mengomel atau bahkan tengah mengumpati dirinya.
"Rasakanlah itu, salah kamu sendiri yang memaksa mau tetap menikah dengan saya. Ini baru awalnya saja, dan besok-besok mungkin bisa lebih dari ini," gumamnya dengan suara normal, menatap Rosalin dengan senyum miring.
Rosalin tampak kembali menghampiri Nikolas yang dengan santainya duduk sambil bersilang kaki. "Udah nih tiketnya, udah yuk masuk, bentar lagi juga mulai filmnya."
"Beliin popcorn sama minumnya juga dong, kalau saya haus sama mau ngemil di dalam gimana, saya malas nanti keluar laginya," ucap Nikolas nada setengah merengek.
"Ya udah beli aja sana! Gue mau duduk, capek!" Rosalin baru saja mau duduk di samping Nikolas, tapi pria itu dengan segera mencegahnya.
"Beliin dulu, sebentar saja, tuh tuh antriannya sedikit kok." Nikolas tersenyum manis dengan puppy eyesnya.
"Antrian dikit, antrian dikit, lu enak cuma duduk duduk, lah gue! Dahlah, capek gue ngomong sama lo, tar lo nangis lagi."
Meski dongkol Rosalin tetap saja melangkah pergi untuk membeli apa yang Nikolas mau.
***
Kali ini posisi mereka sedang ada di dalam gedung bioskop. Rosalin hanya menonton dengan malas karena dia tidak terlalu suka dengan film romantis.
Gadis itu lebih suka film action atau horor. "Ya ampun ... kamu ganteng banget sih ...." Suara dengan nada kemayu ini pastinya bukan punya Rosalain, siapa lagi kalau bukan punya Nikolas Anggara yang saat ini tengah totalitas berakting jadi pria kemayu akut supaya Rosalin mau membatalkan perjodohan mereka.
Rosalin melirik tajam pada Nikolas yang duduk di sampingnya, dia merasa malu karena orang-orang ada yang terganggu dengan pekikkan Nikolas. "Heh, lo bisa diem kaga?! Berisik banget, lo kalau mau berisik mending kita pulang, terus lo nonton di rumah lo sendiri, sana!"
"Heu, iya maaf, maaf ... " sahut Nikolas dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Rosalin melengos, pandangannya ia alihkan ke layar besar di depannya dengan jengah. "Kalau bukan anak orang kaya, lo udah gue karungin terus gue lempar ke laut aja, Nikeu!" gumamnya penuh tekanan.
"Apa? Tadi kamu mau apain saya apa?" tanya Nikolas yang sedikit mendengar gumaman dari mulut Rosalin.
"Hmm, apaan! Gue kaga ngomong apa-apaan, gue cuma bilang kalau lo imut, manis, bikin gue gemes pengen ... bejek lo!" Kemudian Rosalin tersenyum sok imut sekilas dan menyudahinya, pandangannya ia arahkan kembali pada layar lebar di depan dengan tidak sabaran.
Rosalin ingin sekali segera pulang, mending di rumah saja dia bisa rebahan sepanjang hari.
***
Rosalin berjalan dengan lemas, dari pagi loh dia belum sarapan dan sekarang sudah lewat tengah hari. Mereka baru keluar dari dalam bioskop, gadis itu menyandarkan punggungnya di dinding saking lemasnya.
"Kamu kenapa?" tanya Nikolas saat melihat Rosalin menyandarkan tubuhnya dengan memelas.
"Gue laper," sahut Rosalin.
"Ya udah makan dulu saja sebelum kita pulang," usul Nikolas, sepertinya ada sedikit rasa iba di hati pria itu.
Rosalin segera berdiri tegak dan memberi senyum. "Ya udah buruan, gue udah lemes banget tahu dari pagi belom makan apa-apaan, lo sebagai cowok kaga pengertian banget ya ampun!" gerutu Rosalin sambil menarik tangan Nikolas untuk segera menuruni eskalator.
"Ya ... maaf, saya kan tidak tahu kalau kamu kelaparan," sahut Nikolas merasa bersalah.
"Udah, mending jangan ngomong terus, kita ke situ aja." Rosalin membawa Nikolas ke salah satu restoran pizza yang sudah terkenal mendunia.
Mereka duduk berhadapan di salah satu tempat yang kosong, tak lama pelayan datang untuk mencatat pesanan. "Silahkan, mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut.
"Lo mau pesan apa, Nikeu?" tanya Rosalin sambil menyodorkan buku menu.
Nikolas melirik pada pelayan di hadapannya saat tadi Rosalin menyebutnya Nikeu, benar saja pelayan perempuan itu tampak mengulum senyum menahan tawa.
Jujur saja ini benar-benar menjatuhkan harga diri dia sebagai pria sejati, tapi ini sudah terlanjur dia lakukan. Tidak mungkin juga dia tiba-tiba menyerah dan menunjukkan aslinya.
"Mmh, ehum!" Nikolas berdehem untuk menetralkan tenggorokannya, Rosalin hanya memeperhatikan saja dan menunggu Nikolas menyebutkan pesanannya. "Mmh, terserah kamu saja, Lin. Saya ... akan makan apa pun makanan yang kamu pesan," kata Nikolas dengan nada lembutnya.
Pelayan itu agak tercengang mendengar suara mendayu pria tampan itu. "Ya ampun nggak nyangka, penampilannya sangat menipu," batin sang Pelayan.
Rosalin mengangguk. "Hmm, ya udah kalau gitu gue pesen ini aja yah." Rosalin menunjuk gambar pizza double suprime di dalam buku menu itu.
"Iya, terserah," sahut Nikolas lagi.
"Ya udah, Mbak ... kami pesan yang ini satu, yah. Terus minumnya ini dua." Rosalin menunjuk gambar-gambar di buku menu itu.
"Baik, ditunggu sebentar ya, Mbak." Pelayan itu menjeda, lalu melirik pada Nikolas dan dengan segan menyebutnya, "Mas." Setelahnya Pelayan itu pamit dan berlalu pergi, seperti takut diomeli pria yang kelihatan macho, tapi lembek itu.