"Lin, kamu gimana sih, Nak. Kamu yakin mau nikah sama cowok melehoy begitu? Mamah aja geli lihatnya, Lin!" Alya menoleh kepada putrinya yang duduk di kursi belakang.
Rosalin tersenyum saja melihat mamahnya yang sewot. "Lah, tadi siapa yang yakin banget kalau pangeran dari keluarga Anggara itu pasti ganteng, gagah, macho dan uhuuyy!" goda Roslin dengan tawanya yang puas.
Alya mencebikkan bibirnya sebal pada putrinya itu. "Ya siapa yang sangka kalau ternyata putra mereka begitu, ya ampun ... mamah beneran nggak rela Lin kalau kamu jadi nikah sama dia, mau jadi apa anak keturunanmu, Lin!" Anna menepuk jidatnya.
"Anak keturunan, siapa yang mau bikin anaknya, wkwk!" gumam Rosalin seraya terkekeh.
"Ini semua gara-gara Papah! Mau jodoh-jodohin anak lihat-lihat dulu calon yang mau jadi mantunya. Kalau kejadian begini kan jadi repot, mana anak kitanya juga aneh," omel Anna tiada hentinya.
"Dih, siapa yang aneh coba?" elak Rosalin dengan senyum di wajahnya.
"Ya kamu tadi ngapain nyender-nyender di lengan Niko-Niko tadi itu, siapa namanya Niko siapa tuh?" tanya Anna lupa-lupa ingat.
"Nikolas, Mamah ..." sahut Rosalin.
"Ya! Si Nikolas. Tuh anak ganteng, badannya bagus, sayang bener ... tuh anak kenapa jadi lembek begitu," gerutu Anna.
Rosalin hanya bisa mengulum senyum mendengar mamahnya yang sangat kecewa berat. Anna yang sejak tadi hanya bisa diam, sekarang dia baru ngoceh tiada hentinya hingga mereka kini sampai di rumah.
"Ini semua gara-gara Papah!" lanjutnya mengomel.
"Ya elah ... Mah, udah napa ngomel-ngomelnya, papah sampe mumet dengernya tahu!" kesal Arman akhirnya, seraya memijat keningnya yang memang benar-benar berdenyut mendengar omelan istrinya di sepanjang jalan.
"Bodo amat!" balas Anna, wanita itu segera keluar dari mobil dan membanting pintunya kasar setelahnya wanita itu berjalan menuju pintu rumahnya masuk.
"Mah!" Arman segera keluar dari mobil menyusul istrinya dan meninggalkan Rosalin yang masih duduk di dalam mobil.
"Ya ampun, mamah sama papah jadi berantem begini, gimana ini?" gumamnya, Rosalin kemudian menyusul kedua orang tuanya masuk ke rumah.
Anna dan Arman masih saling berkejaran menju kamar mereka. "Mah, jangan marah dong ... papah kan nggak tahu kalau ternyata anak si Danu seperti itu, kalau tahu juga papah nggak bakal mau menerima tawaran dari dia meskipun papah butuh duit buat mengembalikan kondisi perusahaan papah," bujuk Arman.
"Iya, kalau sudah begini harus gimana? Lin sepertinya sangat suka sama anaknya temen Papah itu."
"Ya sudahlah, Mah. Toh, Lin-nya yang memutuskan, dari pada sama Levin yang kere itu, mending Nikolas kan jelas-jelas."
Mulai ... otak matre papahnya jalan lagi, Rosalin yang mendengarnya pun merasa sedih, inilah yang membuat Rosalin memutuskan mau menikah dengan Nikolas.
Dia sudah memkirkan soal keuntungannya dan kemunginan yang bisa ia dapatkan jika menikah dengan Nikolas.
Gadis itu memutuskan menaiki anak tangga meninggalkan kedua orang tuanya yang masih saling debat. Rosalin masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Gadis itu menatap langit-langit rumah dengan bimbang. "Apakah keputusan gue udah bener, yah? Harusnya gue sama Nikeu bisa saling bantu. Dengan kita menikah, kita tidak akan dituntut untuk menikah lagi sama orang tua kita masing-masing.
Gue tahu, sampai kapan pun hubungan gue sama Levin bakal terhalang restu mamah-papah, karena Levin belum bisa membuktikan sama mereka kalau dia pantas meminang gue.
Sementara om Danu dan tante Alya, pasti nggak bakal lepasin Nikeu untuk ngebujang lama-lama, harusnya tuh cowok bersyukur ada gue yang nyelamatin dia biar kaga dijodoh-jodohin terus, dasar aneh!" gerutu Rosalin.
***
Berbeda dengan Rosalin yang sedang rebahan sambil menggerutu, malam ini Nikolas tidak bisa diam. Helmi sendiri sampai mumet lihat tuannya yang dari tadi mondar-mandir tidak karuan.
"Ini gawat, ini tidak bisa terjadi, Hel. Gimana ini, Hel? Saya pusing jadinya!" Nikolas mengangkat kedua tangannya dan meremas rambutnya kesal.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu," sahut Helmi dengan nada datarnya.
Sesungguhnya Helmi ingin tertawa mengingat kejadian tadi sore, tapi dari pada kakinya diinjak lagi dia lebih baik pasang wajah datar dan tak acuh, biar saja tuannya mikir sendiri.
Lagian Helmi juga sudah capek ikut-ikutan dikira tidak normal sama para gadis yang sering datang, dikira dia dan Nikolas suka sesama jenis.
"Kamu tidak tahu terus, dari tadi jawab begitu terus, kapan kamu tahunya, Hel?! Kasih saya solusi, saya tidak mungkin selamanya kemayu di depan semua orang!" Malam ini suara Nikolas benar-benar tidak bisa pelan, rasanya pengen teriak-teriak saja, sudah.
"Maaf, Tuan. Sepertinya Anda terjebak dengan rencana Tuan sendiri," ujar Helmi, kali ini dia tidak bisa menahan senyum meski pun dia berusaha menahannya.
Helmi sudah membayangkan bagaimana nanti Nikolas akan terus bersikap jadi cowok kemayu setiap hari, setiap saat bersama dengan Rosalin di mana pun mereka berada, ini pasti sulit dan bisa menjatuhkan harga diri Nikolas sendiri jika ketahuan oleh kolega bisnisnya.
Nikolas hanya menghela napas kasar mendengar perkataan Helmi. Pria itu kemudian mendudukkan dirinya dan bersandar di kursi kerjanya, dia mengusap dagunya yang bersih tanpa bulu kasar di wajahnya.
"Hel, kenapa gadis itu sangat aneh, yah? Yang lain tidak ada yang mau sama pria kemayu, tapi dia seperti malah sangat suka. Saya jadi takut, Hel."
"Haha!--" Helmi segera mengatupkan bibirnya saat ingat dia kelepasan tertawa. "Ma-maaf, Tuan. Saya kelepasan, hhh!" Tetap saja Helmi tidak bisa menahan kekehannya saat tadi mendengar Nikolas takut pada seorang gadis.
Nikolas hanya melirik jengah pada Helmi, tapi dia tidak mau menganiyaya asistennya lagi. "Maksud saya, mungkin dia gadis tidak normal. Ya ... terus kalau bener begitu, bagaimana?" tanya Nikolas sedikit was-was.
"Maksud, Tuan. Nona Rosalin itu tidak suka pria? Atau dia suka sesama jenis? Jadi, Tuan ... sepertinya kali ini Anda salah strategi, dengan Anda yang kemayu begitu mungkin membuat dia jadi semakin tertarik pada Anda," terka Helmi.
"Tapi kan, tetap saja bentukan saya ini pria, masa iya dia suka? Saya jadi tidak paham dengan gadis itu maunya apa?" Nikolas jadi berpikir keras dengan sikap Rosalin yang berbeda dari yang lain.
Helmi hanya memberi ekspresi datar, tapi di dalam pikirannya dia juga merasa aneh pada gadis yang baru ia temui malam ini.
"Hel, cepat cari tahu di mana rumah gadis itu, sekarang!" perintah Nikolas.
"Baik, Tuan. Akan saya tanyakan itu pada tuan besar," sahut Helmi.
"Jangan tanya papah, kamu cari tahu sendiri, gimana sih. Saya tuh tidak mau dikira aneh-aneh sama mereka kalau tahu kamu tanya alamat rumah gadis itu pada mereka. Pokoknya, cepat cari tahu alamat rumah dia, sekarang!"
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Helmi membungkukkan sedikit punggungnya.
"Ya, pergilah." Nikolas mengangguk dan mengibaskan tangan menyuruh Helmi pergi dari ruang kerjanya.
Di dalam hati Helmi mengerutu sendiri. "Ada yang mudah, kenapa mencari yang susah?"
Setelah Helmi berlalu, Nikolas tampak tersenyum penuh arti.
***
Pagi yang cerah, hari ini adalah hari Minggu. Bagi Rosalin adalah hari bermalas seharian, saat ini dia masih asik bergelung dengan selimutnya yang hangat.
Bermimpi indah menikah dengan Levin dan berbulan madu ke tempat romantis. Namun, suara ketukan di pintu mengusiknya.
"Lin! Bangun belum?!" panggil Anna dengan suara membahana.
"Ish!" Rosalin menutup kedua telinganya dengan bantal.
"Lin, Lin! Cepat keluar, Lin. Ada Nikolas di bawah!" seru Anna tak hentinya.
"Hah!" Mendengar ada Nikolas di depan, Rosalin seketika bangun dan berpikir dengan keras. "Ada Nikeu di bawah? Ngapain coba dia ada di sini pagi-pagi begini?" gumamnya.
"Sayang, apa kamu sudah bangun?!" Karena Rosalin tidak juga menjawab, Anna terus menerus menggebrak pintu kamar Rosalin secara terus-terusan sampai-sampai membuat telinga Rosalin hampir budek.
"Iya, Mah! Aku udah bangun." Rosalin melompat dari ranjangnya dan mendekat ke pintu.
Gadis itu membuka pintu dan mendapati Anna yang menatapnya dengan kening mengkerut.
"Mah, beneran di bawah ada Nikeu? Eh, Niko maksudnya." Rosalin terkekeh.
"Iya, di bawah ada Niko, cepat mandi dulu, mamah tunggu di bawah," jawab Anna dengan sedikit rasa dongkol di hatinya.
Rosalin nyengir saat melihat mamahnya berbalik badan dan kembali menuruni anak tangga, dia tahu mamahnya masih kecewa berat.
"Jangan-jangan cowok kemayu itu udah setuju sama perjodohan kita. Hmm sebaiknya gue segera temui dia, penasaran juga mau apa dia sebenarnya." Rosalin berjingkrak dan menutup pintu kamarnya kembali.
Saat ini Anna baru sampai di lantai dasar, berjalan mendekat pada suaminya yang duduk di sofa ruang tamu, dia kemudian duduk di samping Arman.
"Bagaimana, Tante? Rosalin-nya bisa ketemu sama saya?" tanya Nikolas dengan senyum manis.
"Eu ... mmmh, i-iya bisa Nak Niko, tapi Lin mandi dulu." Anna tampak tersenyum kecut.
Nikolas memberi senyum manisnya, mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. "Ah, syukurlah, Tante. Hari ini papah suruh kami jalan-jalan berdua, boleh kan, Tante, Om?" tanya Nikolas dengan tatap mata berbinar.
Anna dan Arman hanya memberi senyum canggung, menggaruk tengkuk mereka dan saling pandang. "Apa jadinya kalau semua orang tahu calon suami Lin model begini? Lin pasti diejek teman-temannya. Terus kalau sampe ketemu temen-temenku? Apa jadinya? Ya Allah ..." batin Anna.
"Taaan, Oom boleh, kan?" Nikolas kembali bertanya saat kedua orang tua itu hanya terdiam dengan ekspresi bingung.
"I-iya, boleh, Nak. Kamu tunggu saja sebentar lagi juga Lin turun," sahut Arman akhirnya, karena Anna tampaknya tidak rela putrinya pergi berdua dengan Nikolas.
Nikolas tersenyum menatap Arman, dan pria paruh baya itu hanya memberi senyum canggung. Tak lama suara langkah kaki terdengar, semua orang melihat ke arah sumber suara di mana Rosalin dengan pakaian seperti biasanya menuruni anak tangga.
Nikolas melihatnya dengan terkejut, saat melihat penampilan Rosalin yang jauh dari feminin, tapi tidak sama sekali mengurangi kecantikan gadis itu meski tidak memakai make up seperti tadi malam.
"Hai, Nik!" sapa Rosalin saat dia sampai di lantai dasar.
"Tuh, Lin-nya sudah datang, kalau gitu om sama Tante tinggal dulu, yah," sela Arman. "Ayo, Mah!" lanjutnya sambil menggandeng lengan istrinya.
"Ish, apaan sih, Pah! Nggak mau, mamah mau di sini aja!" tolak Anna dengan enggan meninggalkan putrinya dan pria kemayu itu berduaan.
"Yeeh, si Mamah, nggak boleh gitu kali, kaya kaga pernah mudah aja deh," timpal Arman menyenggol lengan istrinya.
"Pernah muda, pernah muda, preet!" kesal Anna dengan bibirnya yang manyun sambil melirik ke arah putrinya yang sedang mengulum senyum.
"Ck, udah yuk!" paksa Arman, dia meraih lengan istrinya agar mau ikut berdiri. "Nak Niko, kami tinggal dulu yah."
Nikolas tersenyum manis. "Iya, Om, Tan, silahkan."
Arman segera merangkul pundak istrinya memaksa Anna agar mau melangkah meninggalkan putrinya ngobrol dengan Nikolas.
Rosalin terkikik geli melihat kelakuan kedua orang tuanya, kemudian dia melirik pada Nikolas. "Ada apa nih pagi-pagi ada di rumah gue?" tanya Rosalin dengan senyum senangnya.
"Tapi, ini kan sudah jam 10, kamu baru bangun?" tanya Nikolas dengan heran, beginikah calon istrinya nanti? Batinnya.
Rosalin mendaratkan pantatnya di sofa samping dirinya. "Eh, ini tuh hari Minggu kali, waktunya tidur sampe bedug, hehe!"
Nikolas terjengkit dengan mimik wajah penuh tanya, Rosalin terkekeh jadinya. "Biasanya kalau hari Minggu gue bangun ntar tengah hari, tapi berhubung lo dateng kemari gue jadi bangun jam segini. Emang ada apaan sih ke sini di jam segini?"