Keputusan Mutlak Rosalin

1702 Kata
"Hai!" Rosalin menyapa dengan senyum manis, mencoba mengakrabkan diri dengan pria yang dianggapnya sangat lucu. Saat ini Rosalin dan Nikolas sedang ada di dekat kolam renang, setelah makan malam tadi, pihak keluarga membiarkan mereka berdua untuk saling mengenal, sebelum tanggal pernikahan akan ditentukan. Nikolas memalingkan wajahnya layaknya perempuan yang ogah didekati, dia mempersiapkan suara rendah khasnya. "Mau apa kamu ke sini?" tanyanya jutek. Rosalin tersenyum melihat pria yang sok imut ini. "Eheum, hmm ... gue tahu lo nggak mau nikah, kan?" tanya Rosalin. Nikolas tidak menjawab, dia diam pura-pura tak peduli padahal dia menunggu kelanjutannya. Rosalin sebenarnya mau membuat kesepakatan dengan Nikolas, tapi karena sikap Nikolas yang menjengkelkan, sepertinya menggoda pria kemayu ini lebih menyenangkan, pikirnya. "Sama, gue juga nggak mau nikah, tapi pas gue lihat lo tadi. Gue suka aja gitu. Lo beda dari yang lain, lo unik." Rosalin tersenyum pada Nikolas dengan tatap mata menggoda. Hoooeek! Aslinya Rosalin merasa mual mengatakannya. "Eh, tapi saya tidak suka sama kamu, yah! Jadi, jangan maksa deh!" Nikolas melengos dengan ekspresi jijik di wajahnya. Rosalin semakin tersenyum lebar menahan tawa saat melihat Nikolas yang begitu, sikapnya bagi Rosalin menggemaskan dan lucu, sehingga Rosalin semakin senang menggodanya. "Eh, mana tahu pas kita sudah nikah lo jadi normal, lo jadi doyan wanita gitu, Nikeu." Lagi-lagi Rosalin memberi senyum centilnya, membuat Nikolas jadi tambah ngeri. "Bagaimana bisa saya terima pernikahan ini? Terus harus pura-pura melambai begini selamanya? Oh, No!" batin Nikolas, merasa takut sendiri. Saat Nikolas hanya diam saja, Rosalin kembali bertanya, "gimana, lo setuju kan, Nikeu? Siapa tahu lo nanti jadi suka sama gue dan nggak suka sama Helmi lagi." Nikolas melebarkan kelopak matanya saat mendengar tuduhan Rosalin padanya. Jujur saja Nikolas jadi merinding sendiri, tapi dia harus diam. "Ck, Nikeu. Sebenarnya kita itu saling membutuhkan loh, gimana kalau kita buat kesepakatan sekarang?" Rosalin terus memepet Nikolas meski pria itu merasa risi berdekatan dengannya. "Tidak, apa pun itu. Saya tetap tidak mau menikah! Apa lagi denganmu, dasar gadis centil!" ejek Nikolas dengan jengkel merajuk, pria itu menatap Rosalin tajam sebelum ia melengos dan melangkah pergi. Rosalin segera mencegah, digenggamnya lengan Nikolas yang terasa begitu kekar. Sesungguhnya Rosalin merasa aneh, ada gitu cowok melambai tubuhnya kekar begini, lengannya saja berotot seperti ini. Rosalin mengerutkan kening menatap wajah Nikolas yang terlihat jengkel padanya, pria itu mengibaskan lengannya dengan kuat hingga Rosalin hampir saja akan terjatuh ke kolam renang. "Apaan sih, lepasin saya. Jangan pegang-pegang, yah!" Nikolas memeringati dengan jarinya yang mengacung ke wajah Rosalin, hingga gadis itu tercengang melihat sikapnya yang jutek dengan gayanya yang khas wanita jejadian. "Iya, maaf, maaf, tapi dengerin gue dulu kali." Mohon Rosalin, kali ini dia mau bicara serius. "Tidak, saya tidak punya waktu berbicara. Intinya, kamu katakan pada mereka nanti kalau kamu mau batalkan perjodohan ini, titik!" peringat Nikolas, pria itu kemudian berjalan meninggalkan Rosalin sendiri di tepi kolam itu. "Susah kalau ngomong sama cowok jadi-jadian begitu, rempong! Baru juga digoda udah ngeloyor aja, padahal gue belum ngomong soal kesepakatannya. Heuh, terus kenapa juga tadi gue godain dia segala, jadi tambah ngambek kan dianya!" gerutu Rosalin merasa kesal sendiri. *** Saat ini Rosalin datang menghampiri semua keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga, Nikolas juga tampak sudah ada di sana. Pria itu duduk santai dengan kedua tangan yang dilipat di bawah d**a, saat melihat Rosalin muncul sikapnya kembali jutek dengan tatapan penuh dengan kejengkelan. "Sayang, kamu dari mana saja? Sini duduk di sampingnya Nikolas, Sayang." Alya melambaikan tangan pada Rosalin yang hanya memberi senyuman. Gadis itu melangkah dan duduk di samping Nikolas, ia menoleh ke arah pria itu dan dengan juteknya Nikolas membuang wajahnya. Rosalin tidak peduli dengan sikap menyebalkan Nikolas, dia sudah membulatkan tekadnya untuk tetap menikah dengan Nikolas. Dia berpikir dengan begini hubungannya dengan Levin juga aman, tidak akan ada cemburuan-cemburuan dari Nikolas kalau dia tahu Rosalin dekat dengan Levin atau sebaliknya. Bagaimana mau cemburu, semua tahu pria model begini mana mungkin cemburu. Dia kan tidak suka wanita, paling Rosalin yang akan merasa was-was kalau dia nanti mengenalkan Levin pada Nikolas. Selain itu juga, dia bisa membantu bisnis papahnya tanpa berhutang pada keluarga Anggara, hutang yang pasti sangat besar jika Rosalin tidak memutuskan untuk mau menikah dengan anak keluarga mereka. Rosalin tahu ini salah, tapi ia harus lakukan agar bisa mendapat dua lalat dalam satu tepukan. Mempertahankan hubungannya dengan Levin dan membantu orang tuanya. "Gimana, Sayang. Tadi kalian sudah banyak ngobrol, kan? Kalian sudah saling cocok, kan?" "Tidak, Mah!" "Cocok kok, Tan!" Nikolas dan Rosalin saling pandang saat Alya bertanya dan mereka menyahut dengan jawaban yang berbeda. Rosalin mengerutkan kening, dan Nikolas menyipitkan kelopak matanya menatap wajah Rosalin dengan kesal. Pria itu memiringkan sisi tubuhnya untuk berbisik. "Saya sudah katakan, yah! Tolak perjodohan ini, ingat!" Rosalin tersenyum menantang. "Maaf, saya tidak ingat, dan tidak setuju dengan keinginan Anda, jadi terima saja!" balas Rosalin ikut-ikutan gaya bicara Nikolas. Nikolas menjauhkan tubuhnya dan mengusap wajahnya frustasi, sepertinya Nikolas akan terjebak dengan permainannya sendiri. Alya dan Danu tertawa semringah, mereka tidak peduli dengan pendapat putranya sendiri. "Haha, bagus kalau Rosalin merasa cocok, om sangat senang mendengarnya." Pria paruh baya itu kemudian melirik pada istrinya yang sama-sama tersenyum senang. Arman dan Anna hanya memperhatikan saja dan menyimak obrolan, mereka juga memperhatikan wajah Nikolas yang terlihat tak suka. "Maaf nih, Dan. Tapi, sepertinya anakmu tidak suka dengan putriku, sebaiknya jangan dipaksa saja, Dan." Arman angkat bicara. Sesungguhnya dia juga tidak rela kalau putri semata wayangnya menikah dengan pria tidak normal seperti Nikolas, dia merasa kasihan saja pada putrinya nanti. "Oh, tidak perlu hiraukan dia, cinta kan nanti bisa datang belakangan, iya kan Niko?" tanya Danu pada putranya. Nikolas bukannya menjawab, tapi malah menghela napas kesal. Pria paruh baya itu hanya tersenyum melihat putranya yang skak mat kali ini. Dia menatap Rosalin yang hanya memberi senyum, Danu merasa bersyukur pada akhirnya menemukan gadis yang mau menerima putranya yang aneh itu. "Bagaimana kalau kita mulai bicarakan tanggal pernikahannya, aku mau menyelenggarakan pestanya secara besar-besaran. Setuju nggak, Ma?" tanya Danu pada istrinya. "Mamah setuju, Pah. Ini kan pernikahan putra satu-satunya kita yang pertama dan yang Insya Allah yang terakhir, mama mau membuat pesta yang berkesan." Alya menjawab dengan antusias. Danu kemudian menoleh pada kedua orang tua Rosalin yang hanya diam, sepertinya mereka berdua sangat keberatan. Meskipun mereka membutuhkan uang, tapi mereka juga tidak akan mengorbankan putrinya. Danu dan Alya memahami perasaan Arman dan Anna, orang tua mana yang rela melepas buah hatinya menikah dengan pria yang tidak punya harapan seperti Nikolas. Itu yang dipikirkan Arman dan Anna, tapi tidak bagi Danu dan Alya. Mereka tahu putra mereka normal, seratus persen sangat normal dan sudah pasti Nikolas akan ada harapan jatuh cinta pada istrinya. Jadi, Danu dan Alya sebodo amat dengan apa yang mengganggu pikiran sahabatnya itu, yang terpenting di sini Rosalin telah setuju. "Kalian tidak usah khawatir soal biaya keseluruhan pesta, semuanya akan diurus oleh kami. Kalian cukup persiapkan diri kalian, dan putri kalian yang cantik ini." Alya melirik pada Rosalin yang sok-sokan tersipu malu. "Istriku benar, kalian tidak usah mencemaskan apa pun soal pernikahan kedua anak kita. Biar kami yang akan memikirkan semuanya," sambung Danu. Arman tampak menghela napas pelan, dia menatap putrinya yang duduk di samping Nikolas, pria itu bahkan tidak sudi menatap putrinya seperti itu. Hati Arman semakin bimbang karenanya. "Man!" panggilan Danu kembali menyadarkan lamunan Arman. "Eh, i-iya, Man. Tapi, aku mau tanya sekali lagi pada putriku boleh, kan?" tanya Arman. Danu menoleh pada Rosalin, pria paruh baya itu cemas kalau gadis itu berubah pikiran. Namun, ia juga harus memberi kesempatan pada kedua orang tua itu untuk memastikan. Tentu Danu juga tidak mau membuat anak orang merasa tertekan nantinya. "Silahkan, Man. Kamu boleh bertanya sekali lagi pada putrimu ini. Dan Rosalin, om juga harapkan kamu pikirkan ini baik-baik, om dan Tante tidak mau nantinya kamu menyesal, Nak." "Iya, Nak. Coba kamu pikirkan lagi keputusanmu ini, Sayang. Papah tidak mau nantinya kamu menyesal, papah tidak akan memaksa kamu, Lin," sambung Arman. Rosalin terdiam menatap kedua wajah pria paruh baya yang terlihat cemas dan memelas, entah mengapa hati Rosalin merasa iba pada Danu dan Alya yang terlihat sedih. Bukannya dia merasa kasihan pada kedua orang tuanya, Rosalin justru malah kasihan pada kedua orang tua Nikolas yang seperti takut dia akan merubah keputusannya. Rosalin jadi membatin, "Om Danu dan Tante Alya kelihatannya berharap banget gue jadi nikah sama anaknya, ngerti banget deh gue sama perasaan mereka yang punya anak meleheoy begini." Gadis itu melirik Nikolas sekilas, lalu kembali melirik pada Danu dan Alya. "Pasti sulit dapat mantu kalau anak satu-satunya kayak si Nikeu begini, hmm terserah! Mau dia setuju apa kaga, gue putuskan akan tetap menikah dengan cowok melambai ini, gue harap keputusan gue ini udah bener, dan tidak akan ada masalah di kemudian hari. Bismillah," batinnya lagi, menguatkan sebelum dia menjawab dengan tegas. "Lin tetap pada keputusan awal, Pah. Lin akan tetap menikah dengan Nikolas." Arman membolakan kedua matanya dengan keputusan putrinya yang tidak berubah, Nikolas juga tampak sangat stress dengan hal ini, beberapa kali pria itu mendengkus kesal. Di sini yang paling girang hanyalah Danu dan Alya, tak lupa dengan Helmi yang sejak tadi berdiri di samping Nikolas, pria itu hanya mengulum senyum saja hingga Nikolas merasa jengkel saat melihatnya. "Mmh!" Nikolas tanpa perasaan menginjak kaki Helmi hingga pria tampan itu meringis kesakitan. "Rasakan itu, siapa suruh menertawakan saya!" lirih Nikolas yang hanya bisa didengar oleh Helmi dan Rosalin saja. "Maaf, Tuan." Helmi membungkukkan sedikit punggungnya sambil menahan sakit di kakinya akibat ulah Nikolas. Rosalin menatap Helmi, seketika merasa kasihan pada pria tampan itu. "Eh, jangan KDRT dong, kasihan tahu!" bisiknya di sisi Nikolas. Mendengar bisikan Rosalin di dekatnya sampai sisi wajahnya menempel di lengan kirinya seketika Nikolas menoleh padanya dengan tatapan tajam. Segera Rosalin terjengkit menjauhkan dirinya segera dengan kaget. "Ih, galak amat sih, amit-amit ... amit-amit semoga umat rosul yang satu ini bisa tobat setobat-tobatnya!" ejek Rosalin dalam hati. Gadis itu tersenyum kikuk saat melihat pada Danu dan Alya yang hanya mengulum senyum melihatnya, beda lagi dengan kedua orang tuanya yang meliriknya aneh. "Pah, ini yang nggak normal anaknya pak Danu apa anak kita sih, kok dia yang nyosor mulu, masa sama pria begitu dia sampe ngebet banget," bisik Anna pada suaminya. Arman juga jadi bingung dengan tingkah putrinya, pria paruh baya itu hanya menggeleng pasrah seraya memijat pangkal hidungnya, merasa mumet sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN