Bagian 37

1509 Kata
“Tugas?” ucap Luc ketika Owen menceritakan akan rencana kepergiannya dalam waktu dekat. Pemuda itu mengangguk. “Ke mana kamu akan pergi?” tanya Luc lebih rinci. Pertanyaan yang sama seperti Alice dan Frey. “Aku tidak bisa mengatakannya, Paman. Ini perintah dari raja,” jawab Owen. Tentu dia menggunakan nama Kennard sebagai pelindung. Dan hanya Kennard saja yang tahu ke mana Owen akan pergi, dengan Iris tentunya. Jadi, jika keluarga lainnya tahu mengenai tempat yang akan pemuda ini tuju, Owen patut mencurigai kedua orang itu sebagai informan semua orang. Luc yang mengetahui jika Kennard dan Owen bersengkongkol tentu sedikit curiga. Curiga bila Kennard akan kembali mengirim putranya ke tempat yang jauh. “Selama aku pergi, aku ingin meminta bantuan Paman. Tolong jaga Agata untukku. Aku tau dia akan sangat aman berada di istana, tapi segala hal buruk bisa terjadi di mana saja.” Luc nampak prihatin dengan takdir Owen. Berpuluh tahun dia dijauhkan dari keluarganya sendiri. Dan kini hal itu akan terulang kembali. Meskipun Luc tentu tidak tahu sampai kapan Owen akan pergi nanti. “Aku akan menjaganya. Kamu pun harus menjaga dirimu baik-baik. Jika memungkinkan, kirimkan pesan kepada kami mengenai keadaanmu. Dan aku berharap segala urusan dan tugasmu cepat selesai,” kata Luc. Owen tersenyum. Lega ketika dia sudah berpamitan kepada semuanya. Kini Owen tentu harus menghadapi Iris. Ya, dia harus berpamitan kepada temannya itu agar Iris tak terus mengkhawatirkan dirinya. Dan tentu saja Owen ingin Iris tak membocorkan kepada keluarganya ke mana dirinya akan pergi. Owen sudah mengirimkan pesan kepada Iris mengenai pertemuan mereka. Owen sendiri tidak bisa datang langsung ke kerajaan. Dan Iris juga tidak mungkin Owen ijinkan berkunjung ke kerajaannya. Itu agar semua orang tak mengira Iris tahu ke mana Owen pergi. “Ibu. Aku ijin ke hutan sebentar,” kata Owen yang langsung menemui Alice di pagi harinya. “Untuk apa ke hutan?” tanya Alice. “Aku perlu melatih Crush, Bu,” jawab Owen. Alice pun ingat jika Owen harus melatih Crush seminggu sekali. Wanita ini pun mengijinkan Owen pergi. Owen langsung menuju ke area hutan agar Iris tak menunggu dirinya terlalu lama. Bersama dengan Crush yang berlari menembus hutan lebat tersebut. Langkah Crush sedikit melambat ketika hampir sampai di area dekat air terjun. Owen memutuskan untuk bertemu di sana. Secara perlahan wujud Crush digantikan oleh wujud manusia Owen. Di salah satu batu besar duduk Iris seorang diri dengan pakaian yang seperti biasa ia pakai. Owen pun menghampiri temannya itu. Merasakan jika ada seseorang yang mendekat, Iris menoleh dan tersenyum ketika tahu orang itu adalah Owen. Owen duduk di samping Iris. Keduanya menatap air terjun di depan mereka. “Sudah lama aku tidak ke sini. Terakhir adalah bersama Axele,” kata Iris memecah keheningan. Owen mengernyit ketika nama raja di atas raja itu keluar dari mulut temannya. Bahkan Iris tidak memanggil Axele dengan ‘raja’. Melihat Owen yang tampak bingung, Iris pun terkekeh. “Aku lupa untuk bercerita kepadamu. Dulu aku dan Axele dekat sebagai seorang teman. Aku sering berkunjung ke kerajaannya. Mungkin dialah teman pertamaku. Karena setelah kehilangan mate, aku sudah tak sanggup untuk melakukan pertemanan. Dan teman-temanku seperti menjauhiku. Seolah-olah aku lah alasan kenapa mate ku bisa tiada,” kata Iris yang mencoba tegar. Owen mengusap pelan punggung wanita itu. Iris memaksakan senyumnya. “Kemudian sosok Axele pun hadir. Dia menerimaku meskipun itu karena permintaan kedua orang tuaku. Tetapi, dia terlihat kurang nyaman dengan adanya diriku di dekatnya. Waktu itu dia sudah kehilangan mate. Karena kami sama-sama kehilangan mate, jadi aku pikir tidak salahnya berteman.” “Kemudian Bella pun hadir. Aku sudah tidak bisa lagi menjalin hubungan dengan Axele. Melihat dia yang kembali memiliki mate membuatku ikut bahagia meskipun aku tidak mungkin memiliki takdir yang demikian.” Owen jadi ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Iris. Kalau saja Iris tahu bila takdir Owen lebih menyedihkan dari pada dirinya, mungkin wanita ini akan berhenti bersedih. “Kehilangan adalah sebuah takdir yang mungkin tidak diinginkan oleh semuanya, Iris. Tapi, ketentuan sang pencipta jauh lebih baik dari pada ketentuan kita,” kata Owen. “Meskipun kamu sudah kehilangan mate, tetapi kamu tidak kehilangan orang-orang yang kamu sayang. Kamu masih memiliki kedua orang tuamu. Kamu masih memiliki aku yang akan selalu mendengarkan ceritamu. Dan tentu saja kerajaan werewolf akan selalu menerima dirimu. Jangan sedih lagi. Kamu tidak akan sendirian.” Iris tersenyum bahagia ketika memikirkan apa yang dikatakan Owen ada benarnya. Jika begini Owen jadi tak sanggup untuk mengatakan kepada Iris mengenai kepergiannya. Pasti wanita ini sangat sedih sekali. “Oh iya. Kenapa kamu memintaku bertemu di sini?” tanya Iris kepada Owen. Pemuda itu terdiam. Mengalihkan pandangannya kembali pada air terjun. “tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertemu dan mengobrol denganmu,” jawabnya yang tak jadi bercerita mengenai rencananya. Iris pun mengangguk. “Aku pikir tadinya kamu ingin mengatakan kepadaku bila akan pergi ke tempat Desa Raksasa. Syukurlah jika akhirnya kamu tidak jadi pergi, Owen. Tempat itu sangatlah berbahaya untuk kaum kita,” kata Iris yang semakin membuat Owen tak bisa berkata-kata. Tentu saja apa yang Iris pikirkan tentang Owen adalah benar. “Iris. Apakah kamu kenal dengan Paman Reynart?” tanya Owen yang mulai mengalihkan pembicaraan. Iris terdiam, mencoba mengingat-ingat. Kemudian wanita ini pun menggeleng. “Paman Reynart adalah seorang wizard. Apakah kamu tahu jika Paman Luc, Paman Reynart dan Raja Axele sudah bersahabat sejak lama? Persahabatan mereka sudah terjalin sejak masih kecil. Bukankah ini terdengar menarik?” “Wah. Itu artinya ketiganya memiliki kecocokan satu sama lain tanpa memandang dari mana mereka berasal. Persahabatan seperti ini jarang terjadi apalagi dalam kurun waktu beratus-ratus tahun,” tutur Iris yang diangguki oleh Owen. “Untuk itu mari kita buat persahabatan yang demikian,” usul Owen. “Tentu saja! Persahabatan kita akan berlangsung sampai selamanya,” sahut Iris yang setelah itu mereka pun saling tertawa. Owen senang pada akhirnya bisa mengembalikan tawa Iris lagi. * Semua yang ada di kerajaan werewolf terlihat sedang mengantar Owen pergi. Ya, Owen memutuskan pergi hari ini. Karena dia tidak ingin Iris tahu. Karena kemarin dia tidak bisa berpamitan secara langsung, jadi Owen memutuskan akan memberitahu Iris melalui sebuah surat yang ia titipkan semalam kepada adiknya. “Kamu jaga diri baik-baik ya, Nak. Jangan lupa makan. Jika lelah, kamu istirahatlah. Jika tugasmu di sana sudah selesai, cepatlah kembali. Ibu akan menunggumu di sini,” nasihat Alice yang ia akhiri dengan pelukan hangat dan kecupan singkat sebagai restu darinya. Kemudian Owen beralih kepada Frey. “Nasihat Bibi sama seperti ibumu, Owen. Jaga diri baik-baik dan selalu waspada. Kita semua tidak tahu bahaya apa yang terjadi di luar sana. Restuku akan selalu menyertaimu.” Owen mengangguk. “Bibi juga jagalah diri baik-baik terutama anak Bibi.” Owen pasti tidak akan bisa menyaksikan kelahiran anak Luc dan Frey. Dia berharap anak yang sudah ditunggu lama oleh paman dan bibinya itu bisa lahir dengan selamat. Owen kemudian berpindah ke tempat Luc. Pria itu langsung memeluknya dengan hangat. Sekali lagi Kennard melihat interaksi dekat itu merasa iri. Memeluk? Bahkan Kennard belum pernah memeluk anak-anaknya kecuali ketika mereka kecil. “Jagoan Paman pasti bisa menjaga diri dengan baik. Paman percaya kepadamu dan Crush. Kalian berdua sama kuatnya. Hadapi segala rintangan di depan dengan berani oke?” “Oke, Paman.” Kini tibalah saat di mana Owen berpamitan kepada sang adik. Melihat kakaknya yang akan pergi jauh tentu membuat Agata sedih. “Jika sempat aku akan mengirim surat. Oh iya, selama aku pergi jadilah anak baik. Jangan lupa untuk berlatih. Kamu bisa minta tolong kepada Kristo mengenai itu.” Agata langsung memeluk Owen saat itu juga. “Jagalah diri baik-baik, Kak. Kembalilah dalam keadaan baik-baik saja. Aku akan bersikap baik di sini.” Owen tersenyum di balik pelukan mereka. “Tentu saja. Dan jangan lupa berikan surat itu kepada Iris, ya,” bisik Owen yang diangguki oleh gadis itu. Kini adalah saat di mana Owen akan berhadapan langsung dengan Kennard. Dua orang dengan sifat yang bisa dibilang hampir mirip. “Terima kasih sudah mengijinkanku pergi,” ucap Owen. Kennard mengangguk. “Kembali sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat,” kata Kennard yang membuat anggota keluarga lainnya mengernyit, akan tetapi Owen mengiyakan perkataan dari ayahnya. “restuku akan menyertaimu,” imbuh Kennard. Sebelum pergi Owen menatap satu persatu anggota keluarganya. Dalam hatinya Owen meyakini pemandangan ini akan sangat sulit ia lihat dalam waktu lama. Owen akan mengingat setiap momen yang ia lakukan bersama mereka meskipun itu hanya sebentar. Owen berbalik dan melangkah menuju ke gerbang istana. Setelah itu wujud Crush pun mengambil alih dan melesat pergi menjauhi kerajaan. Tangis Agata mengiringi kepergian sang kakak. Ini adalah kali pertama dia ditinggal lama oleh pemuda itu. Owen sendiri dengan rasa tekadnya demi membahagiakan sang adik, pemuda ini rela mempertaruhkan hidupnya itu. Yang padahal dia belum tau bahaya apa yang mengintai di luar sana. __ Owen jadi pergi. Agata sendirian. Yuk bisa yuk. Owen pasti bisa menemukan mate dari Agata. Aku berharapnya sih si Owen juga temuin mate nya sendiri. Bukan mate, sih. Lebih kepada pasangan. Kan gak lucu di kerajaan cuma ada raja sedangkan ratu nya kosong. Btw jangan lupa untuk komen dan tap love oke.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN