Bagian 38

1616 Kata
Hari pertama tanpa sosok Owen di dalam kerajaan membuat perasaan semua orang menjadi sedih. Akan tetapi, jika sang raja sudah memutuskan demikian, maka mereka tak bisa membantah. Bahkan Alice saja sudah menanyakan kepada Kennard ke mana anak mereka akan pergi. Namun, karena Kennard sudah membuat kesepakatan, jadi dia tidak bisa memberikan informasi apa pun kepada sang istri. Dan tentu Alice menjadi sedikit kesal karena seharusnya dia berhak tau. Agata berada di kebun istana. Setelah pergi beberapa saat, sosok Kristo kembali terlihat dengan membawa beberapa tangkai bunga di tangannya. Agata melihat temannya itu. “Ini,” ucap Kristo sembari mengulurkan bunga-bunga tersebut. Agata pun menerimanya. Bunga-bunga itu sangat cantik. Tapi, tetap saja Agata belum bisa tersenyum karena dia masih kepikiran kepada Owen. Kristo duduk di samping gadis itu. Pemuda ini tahu apa yang membuat sang putri gelisah. “Pangeran pasti baik-baik saja, Agata. Seperti tugas sebelumnya, dia akan menyelesaikannya dengan cepat. Mari kita terus berpikir positif dan melakukan aktivitas seperti biasa,” ucap Kristo memberi pengertian kepada temannya meskipun dia sendiri tak tahu ke mana Owen pergi. Embusan napas berat keluar dari mulut Agata. Gadis ini menatap bunga yang ia genggam. Hening beberapa saat, melihat bunga-bunga itu membuat Agata memiliki sebuah ide. “Kristo. Aku barusan kepikiran. Di kebun kerajaan ini banyak bunga yang tumbuh, kan?” pemuda itu mengangguk. “kenapa kita tidak menjualnya saja?” imbuh Agata. Terlihat Kristo yang tertawa. Hal tersebut membuat Agata mengernyit. “Apakah ada orang yang mau membeli bunga? Lagi pula bunga-bunga di sini bisa ditanam sendiri, Agata.” “Haish. Tentu saja. Jika tidak ada kenapa ada penjual bunga dan tanaman di pasar?” sahut Agata yang membuat pemuda tersebut terdiam. “Aku berpikir tidak ada salahnya membuka toko bunga. Nanti hasil penjualan bisa disalurkan untuk rakyat yang membutuhkan. Ah, sepertinya ide ku ini sangat bagus. Aku akan mengatakannya pada ayah,” ucap Agata. Kristo terdiam. Membuat Agata semakin bingung. “Kristo, apa yang kamu pikirkan?” tanya gadis itu. Pemuda ini menggeleng. Dia tak jadi melarang Agata karena Kristo merasa mungkin saja dengan begini Agata akan melupakan kesedihannya karena kepergian Owen. Di hutan sendiri langkah kaki Crush begitu cepat menembus pepohonan. Serigala ini begitu kuat dan tampak belum lelah. Owen yang melihat Crush sangat berambisi pun hanya bisa menggelengkan kepala. Maklum, Crush sangat ingin menunjukkan diri karena dia hanya keluar seminggu sekali. Itu benar-benar menyikasi serigala tersebut. Akan tetapi, karena Owen sudah berada di luar istana, jadi dia bisa kapan saja muncul. Langkah kaki Crush melambat ketika memasuki area pepohonan yang nampak lebat. Bahkan cahaya matahari seakan sulit untuk masuk. Ini membuat keadaan di sana jadi minim pencahayaan. Mata Crush tiba-tiba menajam ketika merasakan ada pergerakan tak jauh dari sekitar mereka. Owen yang merasakan itu juga nampak berwaspada. Mereka sudah cukup jauh dari daerah perabatasan. Dan ini sudah bukan memasuki dunia immortal yang artinya makhluk-makhluk di sini tidak terikat aturan. “Waspada, Crush. Segala sesuatu bisa saja terjadi. Gunakan seluruh kekuatan indra kita,” kata Owen. “Ya, aku tau. Diamlah,” jawab serigala tersebut yang tak mau diperintah oleh Owen. Crush melangkahkan kakinya dengan lambat. Mendengarkan dari mana asal suara-suara aneh itu. Yang pasti ada sesuatu yang bersembunyi dari dirinya. Musuh? Mereka berdua belum bisa memastikan hal tersebut. Tiba-tiba sebuah angin besar berhembas menerpa tubuh Crush yang membuat bulu-bulunya bergerak. Crush tak teralihkan, dia masih berfokus mencari siapa si pengganggu itu. Sret. Sebuah anak panah melesat tepat di depan Crush dan hampir mengenai moncongnya. Crush menoleh dari mana asal panah itu melaju. Dan benar saja, di salah satu pohon besar terlihat seseorang misterius memegang busurnya. “Biar aku yang mengambil alih, Crush,” kata Owen yang dijawab geraman tak setuju oleh serigalanya. Orang yang melesatkan anak panahnya itu melompat dari atas pohon dan mendarat dengan selamat di atas tanah. Pandangan Crush menajam, seolah orang itu adalah musuhnya. Tentu saja Crush mengira itu adalah musuh karena tidak ada seorang kawan yang melesatkan senjatanya kepada temannya sendiri. Orang dengan baju aneh serta penutup sebagian wajah menyisakan mata itu pun mendekati Crush. Crush tidak mundur, menunggu kedatangan orang itu. Setelah sampai di depan Crush, orang tersebut meneliti sosok serigala ini. “Keluarkan bentuk aslimu,” katanya seperti sebuah perintah. Owen mengernyit. Orang itu tahu bila dia adalah seorang werewolf. “Biarkan aku yang mengambil alih, Crush,” kata Owen. Crush menggeram tak suka, tetapi dia tetap membiarkan Owen mengambil alih tubuh manusianya lagi. Dalam beberapa saat, Owen pun muncul menggantikan sosok Crush. Tentu saja dengan pakaian lengkapnya. Atensi Owen tertuju kepada orang misterius ini. “Aku sudah mengeluarkan wujud asliku. Sekarang giliranmu. Perlihatkan wajahmu,” kata Owen yang kembali mendesak orang tersebut. Orang itu berdecih. Owen mengira jika orang ini tidak mau membuka penutup wajahnya. “Jika tidak mau tidak usah, aku tidak memaksa pun. Yang pasti, jangan ikuti aku apalagi coba-coba untuk menyerangku,” ucap Owen lagi seperti sebuah perintah. Setelah mengatakan itu, Owen berbalik dan meneruskan langkahnya kembali. Namun, kakinya berhenti ketika orang itu mencegah kepergiannya. “Tunggu!” Owen menoleh, menunggu apalagi yang akan dilakukan orang tersebut. Orang itu menatap Owen serius, kemudian dia memegang salah satu sisi kain penutup wajahnya. Owen menyadari jika orang ini hendak menunjukkan wajahnya saat ini. Dengan perlahan orang itu pun membuka penutup itu. Owen tak terkejut, lebih kepada mencoba mencium aroma dari tubuh orang ini. Dari manakah dia berasal? “Siapa kau?” tanya Owen langsung. Selain membuka penutup wajahnya, orang misterius itu juga membuka tudung yang ia pakai tadi dan menerbangkan rambut panjangnya. Ya, dia ternyata seorang wanita. Akan tetapi Owen tidak mengenalnya dan bahkan belum pernah melihatnya. “Seharusnya aku yang bertanya. Siapa kau? Baru kali ini aku melihat bangsa werewolf berkeliaran yang bukan di daerah mereka. Tidak mungkin kau tersesat,” kata wanita tersebut. Owen pun cukup takjub dengan pintarnya wanita ini karena bisa membaca keadaan. “Di bangsaku tidak ada larangan untuk pergi ke mana pun. Kami sangatlah bebas.” Wanita tersebut memincingkan matanya, seolah masih tidak percaya dengan sosok yang baru ia temui. Apalagi ketika melihat serigala putih tadi. Dan kali ini Owen memakai penutup kepala, jadi rambut putihnya tidak terlihat dari luar. “Ada larangan atau tidak itu bukan masalah. Hanya saja tidak biasanya bangsa dari dunia immortal masuk ke wilayah ini. Apakah kau memiliki maksud lain selain berjalan-jalan?” Berjalan-jalan? Bahkan Owen tak mengatakan jika dia sedang berjalan-jalan. “Hei, Nona. Aku masih memiliki hal yang lebih penting dari ini. Jika tak keberatan aku akan pergi sekarang,” kata Owen yang menyudahi obrolan tak penting tersebut. Tak mendapat respon apa pun, Owen berbalik dan hendak pergi, namun wanita itu malah menahan bahunya. Sikap waspada pun Owen lakukan di mana dia langsung mendorong tubuh wanita tersebut hingga terlihat si wanita mundur beberapa langkah. “Kau …” Sepertinya wanita itu tidak terima karena Owen melakukan p*********n lebih dulu. Karena dianggap Owen adalah orang berbahaya dan aneh, wanita itu pun langsung menyerang pemuda tersebut saat itu juga. Owen yang memiliki skill bela diri pun merasa tidak kesusahan melawan wanita tersebut. Ingat, dia sering memenangkan pertandingan di sekolah dulu. Dengan dibantu Crush, pemuda ini melakukan tendangan kuat yang mana membuat sang lawan terjatuh ke tanah. Dan Owen secepat mungkin menahan tubuh wanita itu dengan menginjak bagian dadaa wanita ini. Tentu saja dia tak bisa bergerak. “Sejak awal aku tidak ingin melakukan kekerasan. Kau lah yang memancingku duluan,” kata Owen menatap wanita di bawah kakinya itu dengan nyalang. “Sikapmu mencurigakan. Wolf mu juga mencurigakan. Kau juga tidak menjawab dengan benar pertanyaanku. Sesuai dengan hukum di wilayah ini, kau dicurigai sebagai penyusup,” katanya seperti tak takut sama sekali. Owen pun tertawa. Mungkin jika wanita ini tahu siapa sosok Owen yang sebenarnya, mungkin dia tak akan berani berbicara demikian. Baru saja Owen ingin menendang wanita itu, sebuah anak panah melesat cepat. Untung saja Owen mengetahu menyadari itu. Akan tetapi lengan kirinya berdarah karena tergores anak panah itu. Owen melihat lukanya yang tak lebar. Crush akan segera menyembuhkan dirinya. Ketika Owen lengah, wanita tadi nampak menyelamatkan diri. Dan beberapa orang sudah mengepung Owen saat itu juga. Owen menyadari jika orang-orang ini adalah teman-teman dari wanita itu. Wanita tadi itu pun tampak tersenyum senang ketika melihat Owen tak berdaya. Tak berdaya? Itu tidak pernah ada di kamus pemuda itu. “Jinjin. Apa yang sedang makhluk ini lakukan di sini?” tanya seorang pria kepada wanita yang tadi sempat Owen kalahkan. Ternyata nama wanita itu adalah Jinjin. Nama yang sedikit aneh untuk didengar. “Dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Mungkin dia penyusup,” jawab wanita bernama Jinjin dengan asal. “Hei, jangan menuduh tanpa sebuah bukti,” sahut Owen tak terima. “Kalau begitu jawab pertanyaanku siapa dirimu sebenarnya?” kata Jinjin yang terus mendesak. Owen berdecih. Sungguh menyebalkan jika harus berhadapan dengan para wanita. Setidaknya Jinjin adalah wanita pertama yang menurut Owen sangat menyebalkan. Berbeda jauh sekali dengan sosok Iris. “Jika aku beritahu pun kau tidak akan mengenalku,” jawab Owen. “Hei. Apa salahnya menjawab pertanyaannya? Ini demi keselamatanmu dan kami semua,” sahut pria tadi yang sempat bertanya kepada Jinjin. “Ck, menyusahkan. Jasper. Namaku Jasper,” kata Owen yang tentu mengelabuhi semuanya. Dia tak mungkin mengatakan nama aslinya kepada orang di luar dunia immortal. Bisa-bisa mereka tahu jika Owen adalah pangeran yang sebentar lagi akan menjabat sebagai penguasa wilayah werewolf. “Aku sudah memberitahun namaku. Bolehkah aku pergi sekarang? Aku memiliki urusan yang lebih penting dari pada sekedar ini,” ucap Owen lagi. “Tidak, kau tidak boleh pergi begitu saja,” kata pria yang belum Owen ketahui namanya. “Kalian berdua, cepat bawa dia. Kita harus memberitahu Tobi,” perintahnya kepada dua pria lainnya. Owen pun menganga. Dia tak memberontak saat itu juga karena tidak ingin identitas aslinya diketahui oleh orang-orang aneh ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN