Bagian 39

1402 Kata
Owen dibawa ke sebuah perkampungan yang mana berdiri rumah-rumah yang atapnya hanya dari kain. Seperti tenda-tenda begitu. Tentu saja hal ini asing bagi sosok Owen sendiri. Owen masih dipegangi oleh kedua orang tadi, takut bila pemuda ini kabur tentunya. Sosok Owen yang nampak baru dilihat warga di sana pun menjadi sedikit perhatian. Owen dibawa ke sebuah rumah yang terlihat lebih besar dari rumah lainnya. Di depannya juga terdapat kursi kayu. Setelah masuk ke dalam, rumah itu tampak luas, tidak seperti dari luarnya. Owen dibawa menghadap kepada seorang pria dengan topi aneh di atas kepala. Topinya tertempel beberapa ornamen yang tak Owen pahami. “Siapa dia?” tanya pria di depan sana sembari menunjuk sosok Owen. “Dia Jasper. Dia adalah seorang werewolf, Tobi,” jawab Jinjin. Owen pun paham, jadi pria di depan sana adalah Tobi. Nama yang tadi sempat disebutkan oleh teman Jinjin. “Werewolf? Untuk apa dia ke sini?” tanyanya lebih lanjut. “Kami belum tahu. Dia tak menjawab pertanyaan kami,” kata Jinjin. Owen pun dilempar ke depan. Dia tak lagi dipegangi oleh dua orang tadi. Sosok Tobi pun mendekati Owen saat itu. Owen berdiri dari tempatnya, dengan berani dia menatap Tobi. Keduanya saling tatap. Ditatap sedemikian seriusnya membuat Owen tak mengerti. “Ada urusan apa kau ke mari?” tanya Tobi. “Aku tidak memiliki urusan dengan kalian. Aku hanya ingin numpang lewat,” jawab Owen. Tobi menatap Jinjin, seolah meminta kebenaran. “Aku melihat wolf nya. Wolf nya berwarna putih,” ungkap Jinjin. Atensi Tobi kembali beralih kepada Owen. Owen sudah berpikiran buruk mengenai perkataan Jinjin barusan. Jangan-jangan warna putih yang ada pada diri Owen akan membawa masalah lagi. “Buka penutup kepalamu,” perintah Tobi kepada Owen. Tetapi, Owen tidak serta menurut dengan perintahnya. Lagi pula apa hak orang ini memerintah Owen? Merasa jika Owen tak mau membuka penutup kepalanya, Tobi pun mengkode dua orang yang tadi memegangi Owen. dan dengan cepat rambut putih milik Owen pun sudah terlihat. Yang mana hal itu membuat semuanya orang di sekitarnya terkejut. Owen merampas penutup kepalanya dan memakainya kembali. “Tindakan kalian ini tidaklah sopan. Apa begini cara kalian memperlakukan seorang tamu?” hardik Owen. “Aku tidak memiliki urusan dengan kalian. Jika tak keberatan aku akan pergi saat ini juga,” ucap Owen yang berbalik untuk melangkah pergi. “Tunggu!” cegah Tobi memerintahkan Owen. Pemuda ini berbalik dan menatap Tobi penuh. “Kenapa buru-buru? Kau baru saja datang. Mari, kita akan ajak berkeliling,” kata pria itu yang membuat Owen terlihat bingung. “Jinjin. Mat. Kalian ajak dia berkeliling kampung kita,” perintah Tobi kepada keduanya. “Kau. Pergilah dengan mereka. Jika membutuhkan tempat menginap, mintalah pada Jinjin dan Mat,” kata Tobi kepada Owen saat itu juga. Tentu saja hal itu membuat Owen semakin bingung dibuatnya. “Ayo.” Jinjin mengajak Owen untuk keluar. Bersama dengan Jinjin dan Mat, pemuda ini pun keluar dari rumah Tobi. Ketiganya berjalan bersisian di mana Owen berada di tengah-tengah kedua orang asing tersebut. “Ini … apa nama tempat ini?” tanya Owen. Di sekelilingnya ia melihat semua orang tampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Dan tak jarang antara satu orang dengan lainnya saling membantu. Di sana dia malah tak melihat hewan ternak sama sekali. Ia pikir tadinya ini pasar karena ramai, ternyata bukan. “Selamat datang di Desa Arkas,” kata Jinjin. Desa Arkas? Terdengar tak asing bagi Owen. Dia seperti pernah mendengar nama desa itu, akan tetapi lupa di mana. Langkah mereka berhenti di sebuah kedai yang terlihat menjual manisan buah-buahan. “Tolong manisannya tiga,” kata Mat kepada si penjual. Sang penjual pun mengangguk dan secepat kilat mempersiapkan manisan mereka. Owen cukup takjub dengan kecepatan orang itu melakukan pekerjannya. Owen menerima satu kotak kecil manisan. Mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan sembari menikmati manisan tersebut. “Desa Arkas. Desa ini berada jauh dari dunia immortal tempat orang-orang sepertimu berada. Desa ini tidak terikat akan peraturan. Kami memiliki kebebasan penuh untuk melakukan segalanya yang masih dalam konteks hal baik. Kami boleh ke mana pun pergi tanpa perlu perijinan,” jelas Jinjin. “Kami boleh memburu hewan di hutan, akan tetapi tidak boleh sampai membuat hewan-hewan itu musnah,” imbuh Mat yang diangguki oleh Jinjin. “Peraturan di desa kami cukup mudah. Jangan sampai timbul perpecahan atau keributan sekecil apa pun itu. Jika tidak, maka akan ada konsekuensi yang harus diterima.” Meskipun masih belum paham, Owen tetap saja menganggukkan kepala. “Pria tadi adalah Tobi. Dia adalah pemimpin kami,” jelas Mat. Benar dugaan Owen jika Tobi adalah pemimpin mereka. Dilihat dari rumahnya saja sudah beda. “Rumah kalian hanya beratapkan kain, apakah itu tidak masalah jika turun hujan?” tanya Owen. Jinjin dan Mat tertawa. “Jangan terkejut. Jika hujan menjelang, Tobi akan memasang pengaman di sekitar desa,” jelas Jinjin yang masih belum Owen pahami. Melihat pemuda itu bingung, Jinjin pun kembali menjelaskan. “Di sana,” kata wanita ini menunjuk langit yang cerah. “Tobi akan membentangkan sebuah pengaman yang tak kasat mata. Itu membuat desa tak diturunin hujan. Jadi, semuanya akan aman,” terangnya. Mungkin seperti perisai pikir Owen. Jika demikian, berarti Tobi bukanlah orang yang sembarangan. “Tapi, bagaimana jika Tobi tidak ada? Maksudku jika dia tak berada di tempat?” tanya Owen lebih lanjut. Segala hal bisa saja terjadi bukan? “Itu tidak mungkin. Tobi akan selalu berada di tempatnya. Jika tidak, seluruh desa akan basah dan terendam air,” jawab Jinjin. “Kalian mengklaim jika adalah desa bebas. Bagaimana soal pasangan? Apakah kalian juga mencari mate?” tanya Owen. “Itu tentu saja. Memiliki mate itu sebuah keseharusan. Mereka yang sudah siap harus mencari mate mereka sesegera mungkin untuk selanjutkan dinikahkan di hadapan seluruh warga desa,” jawab Mat. Owen menatap Jinjin dan Mat bergantian. Melihat tatapan pemuda itu membuat Jinjin tertawa. “Aku tau apa yang kau pikirkan. Mat bukanlah pasanganku. Dia adalah kakakku,” kata Jinjin. Mereka berhenti di salah rumah di sana. “Ini adalah rumah kami,” kata Mat. “ayo masuk. Akan kami perkenalkan kepada ibu dan ayah,” perintah Mat. Pria itu pun masuk lebih dulu, kemudian disusul oleh Jinjin, dan terakhir adalah Owen. Bentuk dalam rumah mereka berbeda dengan Tobi. Perabotannya pun juga berbeda. Tetapi rumah itu cukup baik digunakan untuk tempat tinggal. Owen jadi berpikir, apakah mereka masih termasuk dalam golongan wizard? Owen dibawa menghadap dua orang dewasa yang terlihat sudah tua. “Ibu. Ayah. Perkenalkan. Dia adalah Jasper,” kata Mat. Keduanya pun menatap Owen. Yang dilakukan Owen hanya menyapa mereka dengan senyum kecil. “Ayah. Ibu. Kami berdua diminta oleh Tobi untuk mengajak dia keliling di desa kita. Dan juga dia butuh tempat tinggal. Bolehkah untuk sementara dia tinggal di rumah kita?” tanya Mat. Owen menoleh. Padahal dia sama sekali tak berniat untuk menetap di desa tersebut. Tapi, melihat desa yang tampak damai ini membuat Owen jadi penasaran dengan desa tersebut. Mungkin menginap untuk beberapa hari tak ada masalahnya. Dan mungkin saja dia mendapatkan informasi mengenai Desa Raksasa. “Baiklah. Siapkan kamar untuknya,” kata ayah dari Mat dan Jinjin di sana. “Terima kasih,” ucap Owen yang diangguki oleh mereka. “Ayo, Jasper. Kami tunjukkan kamarmu,” ajak Jinjin yang langsung menarik Owen saat itu juga. Dari tempat tadi, mereka hanya berpindah sedikit dengan bebelok ke arah kiri. Meskipun terlihat luas, sayangnya setiap ruangan alias setiap kamar tidak ada pintu. Lagi dan lagi hanya tertutup oleh kain. Owen, Mat, dan Jinjin memasuki sebuah kamar. Di sana sudah ada tempat tidur sederhana dengan satu lemari kecil. Tempat ini malah terlihat sudah seperti dipersiapkan. “Jangan terkejut. Biasanya kamar ini akan digunakan oleh sepupu kami. Tapi, dia sedang tidak berkunjung, jadi tidak ada salahnya ini menjadi tempatmu sekarang,” jelas Mat yang mematahkan kebingungan Owen lagi. “Kalau begitu istirahatlah. Nanti malam kita akan ajak ke pusat desa. Di sana biasanya ada acara penyambutan anggota baru,” kata Jinjin. “Tunggu dulu. Penyambutan? Tapi, aku tidak sedang berniat menetap lama di sini. Aku memiliki urusan lain,” sela Owen. “Menetap atau tidak, acara itu tetap akan kami lakukan. Bersiaplah nanti. Mat akan meminjamkan baju untukmu,” jelas Jinjin. Mat menepuk pundak Owen pelan. “Dia benar. Sambutan perlu dilakukan, ini juga sudah terjadi sejak lama. Nanti akan aku berikan baju milikku, semoga muat untukmu,” katanya. Owen pun sepertinya tidak bisa menolak kebaikan orang-orang ini. Setelah itu baik Mat dan Jinjin pun keluar kamar untuk memberikan ruang istirahat bagi Owen. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN