Owen keluar dari kamar untuk menemui Mat sekeluarga. Dia sudah memakai pakaian milik Mat. Sedikit informasi saja. Pakaian itu bukanlah jubah. Ini terlihat seperti baju bekas. Bukannya ingin merendahkan, tapi baju yang Owen pakai terlihat memiliki beberapa sambungan kain di beberapa bagian. Apakah ini sebuah style?
Ketika Owen sudah keluar, dia melihat Mat dan keluarganya memakai baju yang hampir mirip dengan yang Owen pakai. Apakah ini seperti baju kebersamaan?
“Sepertinya dia kebingungan kenapa baju kita seperti ini,” bisik Jinjin kepada Mat. Owen yang memiliki kekuatan werewolf pun masih bisa mendengar bisikan wanita itu.
“Ini adalah baju khas desa kami. Semuanya dibuat dari hasil menyatukan beberapa kain. Kita memafaatkan segalanya yang ada. Biasanya jika keseharisan bajunya seperti yang aku pakai tadi. Akan dilengkap beberapa kantong untuk memudahkan menyimpan senjata,” jelas Mat. Lagi-lagi Owen hanya mengangguk saja.
“Ayo. Sepertinya semua orang sudah menunggumu,” ajak ayah dari Mat dan Jingga.
Mereka pun keluar bergantian di mana Owen paling akhir. Ketika keluar, dia terkejut melihat warga desa tersebut berjejer rapi di masing-masing depan rumah mereka. Apa-apaan ini? Sebuah perayaan yang menjadi Owen sebagai pemeran utamanya?
Jinjin dan Mat mendampingi Owen untuk menuju ke tempat penyambutan. Di belakang mereka disusul oleh ibu dan ayah kedua orang itu. Ketika mereka sudah berjalan, warga desa yang menunggu tadi tampak ikut menuju ke tempat penyambutan di mana mereka mengikuti Owen rombongan Owen di belakangnya. Dan di sini Owen baru menyadari jika di sepanjang jalan di hiasi lampu-lampu dari obor. Ini malah terlihat seperti arak-arakan bagi Owen.
Ternyata tempat penyambutan berada di ujung desa. Dan di sana sudah ada Tobi yang duduk menanti kedatangan mereka di singgasananya. Setelah sampai, Owen dibimbing oleh Mat dan Jinjin untuk naik sedikit ke tempat seperti podium. Itu tidaklah terlalu tinggi. Di sana sudah ada Tobi yang menanti mereka.
Owen dihadapkan kepada seluruh warga desa. Bisa dibilang penghuni desa ini sedikit, mungkin tidak sampai seratus orang. Tobi memberikan kata-kata sambutan dan pengumuman mengenai sosok Owen. Di sana Owen terlihat hanya mendengarkan perkataan Tobi.
Setelah itu Tobi memberikan Owen secangkir kecil minuman. Katanya itu bentuk sebagai penyambutan. Minuman itu dibuat dari akar pohon tua yang sudah berada di desa tersebut selama berjuta-juta tahun dan telah dianggap sakral.
Untuk menghormati semuanya, Owen pun menenggak habis minuman itu. Rasanya sedikit pahit di tenggorokan. Jinjin memberikan Owen manisan buah lagi. Aneh, manisan itu rasanya mampu menghilangkan rasa pahit di tenggorokannya.
Kemudian Mat mengambilkan sebuah kain tidak terlalu panjang. Tobi mengambil kain itu dan mengikatkannya di pinggang Owen. Itu apa? Tentu saja Owen tak tahu.
“Ini adalah identitas. Dengan ini kami tahu jika kau adalah bagian dari desa ini. Dan orang luar pun juga pasti mengenal jika kau memang berasal dari kami,” jelas Tobi.
“Tapi … aku bukanlah warga desa ini,” kata Owen. Ia merasa kurang pantas menerima semua ini ditambah lagi di awal dia sudah membohongi semua orang perihal namanya.
“Cepat atau lambat kau akan menjadi bagian dari kami. Sekarang, setelah menjalani semuanya, kau diterima oleh kami. Berjanjilah untuk selalu menjaga dan membela warga desa. Berjanjilah untuk tetap menjaga kerukunan di antara kami.”
Makin pusing saja Owen. Dia tak ingin menetap malah dipaksa untuk menetap. “Tobi. Bukannya aku tidak mau. Aku tidak ingin membuat janji yang bahkan aku ragu untuk mengatakannya. Jangan lupa, aku berasal dari dunia immortal. Tempat asliku adalah di sana, di wilayah werewolf.”
Tobi tersenyum. “Aku tau. Sebuah kehormatan bagimu, Jasper. Kau diterima oleh kami kapan pun kau akan berkunjung. Tidak masalah jika kau ingin kembali ke tempat asalmu. Tapi, selalu ingat jika kau juga bagian dari kami. Suatu hari nanti jika kau membutuhkan bantuan, pintu kami akan terbuka lebar untukmu,” ucap Tobi yang membuat Owen takjub. Takub sekaligus aneh karena dia diterima dengan begitu cepat di tempat baru.
“Oke. Baiklah. Aku terima penyambutan ini. Terima kasih banyak,” balas Owen yang sudah tak mampu berkata-kata lagi.
Di saat Owen sudah menemukan tempat tinggal yang baru, nampak aktivitas di kerajaan werewolf berjalan dengan lancar. Keinginan Agata untuk membuka toko bunga pun terlaksana. Bahkan sang putri turun langsung ke pasar untuk memantau tokonya tersebut. Tentu saja dengan ditemani Kristo yang mana semakin hari sudah semakin dekat dengan Agata.
“Kris. Kamu urus ya perihal pemasukan dari toko ini. Nanti langsung laporkan kepadaku biar aku langsung bicara dengan raja. Mungkin hasilnya akan kita belikan beberapa kebutuhan untuk dibagikan kepada warga,” perintah Agata.
“Baiklah. Apa ada lagi yang harus aku urus?” tanya Kristo. Agata menggeleng, untuk sekarang hanya itu. Sepertinya karena memiliki aktivitas baru, jadi gadis ini sudah tak begitu sedih dengan kepergian Owen.
Kemudian mata Agata beralih kepada bunga lili. Dia kembali teringat Owen yang sempat memberikannya bunga itu. Agata mengambil satu tangkai di sana. Kristo yang melihatnya pun kembali menghampiri sang putri.
“Apakah kamu menginginkan bunga itu?” tanya pemuda ini.
Agata menghirup aroma dari bunga tersebut. “Tidak, Kris. Aku hanya teringat dengan kakakku. Dulu dia pernah memberikan aku bunga seperti ini. Dia mendapatkan bunga itu dari kebun kerajaan wizard,” jawab Agata.
“Ah. Aku melupakan sesuatu,” pekik Agata yang membuat Kristo mengernyit. Agata kembali meletakkan bunga tadi tempatnya. Kemudian dia berpusat kepada sosok Kristo. “Kris. Maukah kamu menemaniku sebentar? Ada hal yang harus aku berikan kepada Putri Iris. Ini perintah dari Kak Owen,” ujarnya. Kristo pun mengangguk. Keduanya langsung bergegas pergi saat itu juga. Akan tetapi mereka akan pulang lebih dulu untuk mengambil surat titipan dari Owen.
Di istana sendiri terlihat Kennard dan Luc membicarakan sesuatu di ruangan raja. “Aku dengar di desa tempat terakhir Owen melakukan tugasnya terdapat masalah lagi. Haruskah aku yang turun sekarang, Kak?”
“Ya. Urus masalah di sana, Luc. Dan satu lagi, cobalah mampir ke kerajaan wizard. Tanyakan perihal ketersediaan pupuk mereka apakah masih cukup banyak,” perintah Kennard.
“Ya. Aku akan ke sana setelah menyelesaikan di desa bermasalah itu dulu. Dan aku juga akan mampir ke tempat Reynart,” balas Luc. Sudah lama sekali ia tak mengunjungi sang sahabat. Bahkan rencananya berkunjung bersama Axele pun gagal.
Tentu saja Axele tidak akan bisa pergi jauh dari kerajaannya karena hari kelahiran sudah dekat. Meskipun masih lima hari lagi, tetapi kerajaan sudah disibukkan dengan penyambutan anggota baru itu. Axele tentu mengkhawatirkan karena proses kelahiran pasti sangat menyakitkan.
“Raja … Raja,” teriak seorang maid berlari ke ruangan Axele. Di sana nampak sang raja sedang mengadakan rapat dengan anggota penting kerajaan. Melihat maid yang selalu ia tempatkan bersama Bella membuat pikiran Axele menjadi bercabang.
“Ratu akan melahirkan hari ini.”
“APA?!” pekik Axele yang berdiri dari singgasananya. Bahkan seluruh anggota yang hadir tampak ikut terkejut juga.
Axele tak perlu berpikir dua kali untuk segera menyusul istrinya. “Panggilkan tabib!” perintah Axele dengan aura kepemimpinanya. Semua orang pun terlihat sibuk berlarian ke sana ke mari. Bahkan karena tadi ada anggota penting kerajaan, tak jarang beberapa di antara mereka langsung menyebarkan berita kelahiran pangeran kerajaan vampir itu ke masyarakat.
Bella sendiri sedang menahan sakit yang teramat sangat. Anaknya akan lahir hari ini, lebih cepat lima hari dari perkiraan. Dan ternyata di sana sudah ada tabib kerajaan.
"Atur napas Anda, Ratu," perintah tabib yang akan membantu proses persalinan Bella. Wanita itu melaksanakan intruksi dari sang tabib.
Axele yang sudah datang pun langsung mendekati Bella. "Aku tau kamu pasti bisa, Sayang," kata Axele menyemangati. Tentu saja Axele tak ingin kehilangan momen penting anaknya lahir.
"Axel ... ini sangat sakit," ucap Bella. Axele tahu itu sakit, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Kini, hanya Bella yang harus berjuang demi anak mereka.
"Lihatlah aku. Aku di sini, bersamamu. Kita akan lewati semuanya bersama-sama oke."
Bella tak menjawab, dia sedang fokus dengan kelahiran anak mereka.
"Baz, ini sungguh menegangkan. Semoga menantu dan cucu kita bisa selamat," ucap Felis yang hanya bisa menunggu di luar kamar bersama suaminya.
Kerajaan vampir sepertinya sebentar lagi akan bergembira karena kelahiran sang pangeran. Desas desus kuat yang mengatakan jika penerus Axele lebih kuat darinya pun menyebar. Namun, semua itu tidak akan terwujud jika Bella belum melahirkan. Tabib juga ikut bekerja keras sekarang. Butuh waktu sampai lima jam hingga puncak kelahiran pun datang dengan Bella yang melakukan perjuangan hingga di titik terakhirnya.
Suara tangisan bayi pun terdengar. Baz dan Felis yang menunggu di luar pun tampak bahagia. Axele yang berada di sisi sang istri pun tertegun melihat seorang bayi yang baru saja keluar. Tabib dengan cepat membersihkan bayi itu. Bella masih sadar, wanita itu sedang mengatur napasnya. Perutnya sudah tak sebuncit tadi.
Wanita itu menggerakkan tangan Axele yang membungkus tangannya. Barulah pria ini sadar dan menoleh. Dan saat itu Axele langsung memeluk istrinya. "Terima kasih, anak kita sudah lahir," ucapnya. Bella mengangguk, dia juga sama senangnya dengan Axele.
Setelah membersihkan sang bayi, tabib segera memberikan bayi tersebut kepada Bella. "Selamat, putra kalian sangat tampan dan sehat."
Putra? Tentu baik Bella dan Axele sudah tak perlu bertanya lagi apa jenis kelamin anaknya. Bayi itu diletakkan tepat di samping Bella. Bayi yang lucu menurutnya. Bayi itu terus menggeliyat tak nyaman. "Dia lucu," kata Bella.
"Dia anak kita," kata Axele.
"Di mana? Ibu mau melihat cucu Ibu," sela Felis yang baru masuk ke kamar karena sudah diperbolehkan. Di belakangnya diikuti oleh Baz. Felis segera menuju ke sisi lain tempat Bella berbaring. "Uh, lucunya. Siapa namanya?" tanya Felis beralih kepada kedua anaknya.
Axele dan Bella saling tatap. Sejak lama keduanya sudah menyiapkan nama jika dia laki-laki atau perempuan. "Namanya Jason Chrisitian Miguel," ucap Axele. Itu adalah nama yang sudah mereka putuskan.
"Jason. Nama yang bagus. Ibu sangat suka." Felis mencium cucunya sebentar. "Jadilah anak yang kuat, Sayang," ucapnya penuh pengharapan.