Kabar mengenai kelahiran putra dari raja vampir pun tersebar dengan cepat di penjuru dunia immortal. Luc dan Frey yang mendengar kabar itu pun begitu senang. Setelah semua kejadian yang menimpa Axele, pada akhirnya pria itu bisa menemukan kebahagiannya sekarang.
"Aku ingin bertemu dengan Bella, Luc. Juga anak mereka. Pasti anak mereka sangat tampan," ucap Frey ketika dia dan Luc sedang bersama di dalam kamarnya.
"Lihatlah perutmu, Sayang," kata Luc sembari menunjuk perut buncit mate nya. "tidak akan ada kunjungan hingga bayi kita lahir. Itu semua demi kebaikanmu," imbuhnya. Frey mengerucut sebal. Padahal sudah berbulan-bulan dia dan Bella tak saling bertemu.
"Baiklah. Aku akan nurut. Tapi, setelah anak kita lahir, aku tidak bisa menunda untuk ke tempat Bella. Kita juga harus melihat anak mereka dan memperkenalkan anak kita. Hitung-hitung agar anak-anak ini bisa meneruskan persahabatan yang terjalin dari orang tua mereka," ujar Frey.
Luc pun mengangguk setuju. Pria ini sedikit menunduk untuk menggapai perut istrinya. "hei. baik-baik di dalam sana ya, Nak. Dalam waktu dua atau tiba bulan lagi kamu tidak akan kesepian lagi. Ayah sangat menunggu hari itu," ucap Luc kepada anaknya yang belum lahir. Melihat bagaimana Luc memperlakukan anak mereka membuat Frey terharu sekaligus bahagia. Dirinya juga sama menantikan hari di mana bisa mendengar tangis anaknya.
"Apakah kamu sudah menyiapkan nama yang pas untuk anak kita?" tanya Frey. Luc kembali menegakkan tubuhnya, pria itu mengangguk. Perihal nama, ia sudah menyiapkan sejak jauh-jauh hari. "Siapa namanya?" tanya Frey dengan antusias.
"Tunggu hari di mana anak kita lahir, Frey. Saat itu aku akan memberitahu namanya," balas Luc yang malah membuat Frey kesal. Padahal ini juga anak wanita itu. "Hei, kenapa kamu marah? Setelah berbulan-bulan kamu bersama anak kita terus, perihal nama adalah tugasku. Beri kesempatan kepadaku untuk memberinya nama yang terbaik. Mungkin hanya itu yang bisa aku berikan untuk sekarang."
Frey menggenggam tangan Luc dengan erat. "Anak kita pasti bangga memiliki ayah seperti dirimu. Dia akan bercerita kepada semua orang betapa beruntungnya ia memiliki ayah sepertimu," kata Frey yang menyemangati sang mate bila sosok Luc akan selalu dikenang oleh anak mereka.
"Itu juga berlaku untukmu, Frey. Setelah perjuangan kita bersama, kebahagiaan akan datang sebentar lagi. Aku harap sudah tak ada lagi kesedihan melanda keluarga kita."
"Aku juga berharap demikian," balas Frey. "Luc. Mengenai Owen apakah kamu sudah bertanya kepada Kak Kennard?"
Pembicaraan bukan lagi perihal anak mereka yang belum lahir, kini beralih kepada sosok Owen yang sudah pergi dari istana. "Kenapa aku jadi berpikir jika Kak Kennard kembali mengulang kesalahan di masa lalu? Dia kembali mengirim Owen ke tempat asing dan berakhir berjauhan dengan kita," lanjut Frey yang malah berpikiran buruk mengenai kepergian Owen yang tiba-tiba itu.
Luc memijit pangkal hidungnya pelan. "Aku sudah bertanya kepadanya. Kak Kennard tidak mau memberitahuku mengenai ini. Mungkin kamu bisa bertanya kepada Kak Alice. Dia pasti--"
"Tidak, Luc," potong Frey cepat. "Kak Alice sama sekali tidak tau ke mana Owen pergi. Kak Kennard bahkan merahasiakan tempat itu kepada Kak Alice. Aku takut jika Kak Kennard kembali mengulang masa lalu. Ini benar-benar akan menyakiti Kak Alice dan Kak Kennard sendiri," ujar Frey yang begitu prihatin akan keluarga kakak iparnya itu.
Luc mengusap pelan lengan Frey. "Nanti aku akan coba cari cara untuk mengetahui di mana Owen berada. Untuk sekarang mari kita tetap berpikir positif jika Owen akan selalu dalam keadaan baik-baik saja," tutur Luc yang mencoba membuat Frey tenang.
Teruntuk Iris.
Jika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada di rumah. Aku tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Agata. Dia adalah satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupku. Aku berharap kamu memahami hal ini. Aku ingin minta maaf karena sudah melanggar janji kita. Maaf karena sudah mengecewakanmu Iris. Aku harap kamu bisa memaafkanku.
Aku tidak bisa membawamu dalam pelarian ini karena aku tidak ingin menempatkan dirimu dalam situasi berbahaya. Aku berjanji akan selalu dalam keadaan baik-baik saja dalam perjalanan ini. Aku berjanji akan kembali seperti terakhir kali kita bertemu.
Iris, aku ingin kamu berjanji satu hal. Aku ingin kamu berjanji untuk tidak membocorkan kepada siapa pun mengenai ke mana aku pergi. Yang mengetahui tujuanku saat ini hanyalah dirimu dan raja. Raja sudah berjanji tak akan memberitahu siapa pun, aku harap kamu juga demikian. Dan satu lagi, berjanjilah untuk menjadi Iris yang ceria. Berjanjilah untuk tetap menjadi Iris yang aku kenal. Aku harap kamu bisa menepati janji ini, begitu juga denganku.
-Owen
Iris benar-benar terkejut ketika Owen memilih pergi dan mengabaikan janjinya. Tentu saja rasa kecewa menyelimuti hati wanita ini. Dan yang paling penting adalah rasa khawatir mendominasi di sana. Tadi Agata sempat datang ke Kerajaan Wizard. Ini adalah kali pertama gadis itu datang. Iris menyambutnya dengan baik, begitu juga dengan kedua orang tua Iris. Setelah itu Agata pun memberikan surat tersebut dan meminta Iris membacanya nanti. Iris pun menurut saja, tak lupa juga dia mengajak Agata dan Kristo berkeliling istana. Yang tak Iris habis pikir adalah, kenapa Owen tidak mau mengajak dirinya? Berbahaya? Semua tempat di dunia ini menurut Iris memang berbahaya. Itu semua tak akan menjadi masalah jika mereka bisa menjaga satu sama lain.
Iris keluar dari kamarnya untuk menemui sang ayah. Dia ingin tahu apakah Owen dalam keadaan baik-baik saja atau tidak saat ini. Raja wizard bisa melihat situasi seseorang meskipun berada di tempat jauh.
Baru saja Iris hendak berbelok menuju ke lorong tempat ayah dan ibunya berada, wanita ini mulai memperlambat langkahnya.
'Aku ingin kamu berjanji untuk tidak membocorkan kepada siapa pun mengenai ke mana aku pergi'
Iris ingat jika Owen menulis kalimat itu. Langkah Iris terhenti. Wanita ini mengembuskan napas kasar. Jika dia meminta tolong kepada sang ayah, Iris tidak bisa menjamin jika ayahnya akan tutup mulut dari keluarga Owen. Sudahlah, lebih baik dia diam. Iris berbalik dan memilih untuk kembali ke kamar saja.
"Selamat malam, Putri," sapa seorang pemuda yang membuat Iris refleks berbalik.
"Judy?"
Iris mengenal pemuda ini sebagai pengurus kebun di istana. Pemuda bernama Judy itu pun membungkuk hormat. Kemudian Iris mengingat sesuatu mengenai sosok Judy ini.
"Judy. Bisakah kamu ikut denganku? Aku ingin membicarakan sesuatu," kata Iris dengan raut wajah serius. Meskipun bingung, pemuda itu tetap mengangguk. Tidak mungkin dia menolak permintaan Iris.
Iris pun memimpin jalan. Lagi dan lagi wanita ini memilih kebun istana sebagai tempat mengobrolnya.
"Judy ... aku mengingat jika kamu bisa melihat masa depan. Bolehkah aku meminta bantuanmu?" ucap Iris dengan gamblang. Judy pun menatap wanita itu penuh, dia pun mengangguk.
"Sebelumnya aku ingin memperingatkanmu untuk tidak membocorkan hal ini kepada siapa pun. Cukup ini menjadi rahasia kita berdua, oke?" Judy kembali mengangguk, mengiyakan perintah Iris.
"Tolong perlihatkan keadaan Owen. Pangeran Owen maksudku," ujar Iris.
"Maaf, Putri. Saya tidak bisa melihat keadaan. Saya hanya bisa melihat sedikit gambaran tentang masa lalu dan masa depan seseorang. Untuk melihat keadaan saat ini, hal itu tidak bisa saya lakukan," kata Judy.
"Kalau begitu lihatlah masa depan Pangeran Owen," sahut Iris.
"Saya butuh perantara," kata Judy. Iris tak menyangka akan sesulit ini hanya untuk bisa mengetahui keadaan temannya.
Iris teringat dengan surat milik Owen. Dia langsung merogoh kantong, Iris memang sempat membawanya untuk diperlihatkan kepada sang ayah, tapi segera ia urungkan rencananya itu. "Kalau dengan surat apa masih bisa?" tanyanya nampak ragu.
"Bisa, Putri."
Iris bernapa lega. Dia memberikan surat itu kepada Judy. Judy langsung menggenggamnya, tidak dibuka untuk dibaca. Kemudian pemuda ini menutup kedua matanya sejenak. Iris memperhatikan apa yang sedang Judy lakukan. Beberapa saat kemudian kernyitan terlihat di dahi pemuda ini. Iris jadi penasaran mengenai pandangan Judy.
Setelah melakukan penglihatan dalam beberapa saat, Judy mengembalikan surat itu kepada Iris lagi. Wanita ini menyimpan surat dari Owen itu ke kantongnya kembali. "Bagaimana? Apa yang kamu lihat?" tanya Iris langsung.
"Putri. Di masa depan nanti akan ada kejadian luar biasa di dunia immortal. Hal itu berkaitan dengan Pangeran Owen dan kerajaan di dunia ini."
Penjelasan Judy tak mampu Iris pahami. "Tunggu, Judy. Sebelumnya aku ingin tahu, apakah di penglihatanmu itu keadaan Owen baik-baik saja?" tanya Iris lebih dulu.
"Dia baik. Dia nampak semakin kuat, Putri. Kekuatannya benar-benar dahsyat."
"Dahsyat?"
Iris pikir Judy nampak sedikit berlebihan di sini. "Dan berbahaya," imbuh Judy kemudian.
"Berbahaya?" pekik Iris. "Kamu tidak salah lihat, kan? Tidak ada hal yang berbahaya pada diri Owen. Aku tau itu," ujar Iris.
"Itulah yang saya lihat, Putri. Anda bisa percaya atau tidak. Yang pasti keberadaan Pangeran akan berpengaruh dengan keberlangsungan hidup dunia immortal ini."
Iris memijit pelipisnya pelan. "Aku tidak paham dengan yang kamu katakan, Judy. Tetapi ketika mendengar jika Owen akan baik-baik saja di masa depan nanti membuatku sedikit lega," kata Iris. "Terima kasih untuk bantuanmu. Kamu bisa kembali ke tempat," imbuh wanita ini kembali.
Judy mengangguk dan akan pergi, begitu jugan dengan Iris. "Putri," panggil Judy yang membuat Iris tak jadi pergi. Wanita itu menatap Judy penuh. "Saya melihat jika Anda bisa membantu Pangeran di masa depan nanti. Tetaplah berada di sisinya, Putri. Dengan begitu Pangeran akan baik-baik saja. Saya pamit," kata Judy yang malah mengundang teka-teki di dalam kepala Iris.
----
Iris dan Owen ini punya takdir yang sama perihal pasangan. Jadi menurutku nggak ada salahnya kalau mereka bersama. Entah sebagai sahabat atau pasangan hidup.