Bagian 42

2348 Kata
Iris tidak ingin terpengaruh oleh perkataan Judy. Tapi, entah mengapa hal tersebut selalu terngiang di kepalanya. Iris tidak ingin terus larut dalam kesedihan dan kekhawatiran mengenai Owen. Karena pada dasarnya Iris harus yakin bila temannya itu bisa menjaga diri. "Iris." Panggilan tersebut membuat kepala wanita ini reflek menoleh kepada sumber suara. "Iya, Bu?" jawabnya kepada sang ibu kala itu. "Ibu lihat kamu akhir-akhir ini selalu melamun. Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Nak?" tanya wanita paruh baya tersebut dengan penuh perhatian. Iris tersenyum kecil dan sedikit menggeleng di sana. "Tidak ada apa-apa, Bu," jawabnya. "Baiklah. Ibu tau kamu tidak akan cerita sekarang. Kalau nanti sudah ingin cerita, katakan kepada Ibu, oke?" Iris mengangguk saja di sana. "Jika begitu Ibu akan ke tempat Ayah dulu. Bukankah hari ini kamu ada jadwal pengecekan bahan-bahan kebun?" Iris seakan lupa akan tanggung jawabnya karena terlalu memikirkan Owen. Wanita ini pun beranjak dari duduknya. "Iris akan pergi sekarang, Bu. Sampai jumpa," ucapnya cepat dan segera berlalu meninggalkan ibunya. Di saat Iris mengkhawatirkan Owen, sosok pemuda ini terlihat sudah beradaptasi dengan desa tempat dia tinggal sekarang. Bersama dengan Mat dan Jinjin, sosok Owen perlahan mulai dikenal oleh penduduk desa di sana. Tak hanya itu, Owen juga ikut berkontribusi membangun desa tersebut. Owen yang dibimbing oleh Mat dan Jinjin menjadi penjaga perbatasan. Seperti pertama kali mereka bertemu, begitulah tugas Owen sekarang. Para penjaga ini akan bersembunyi di dahan pohon dalam hutan. Ketika ada orang asing masuk ke wilayah mereka, maka mereka harus segera menyelidikinya. Kebetulan saat ini Owen akan berjaga bersama Jinjin di daerah timur, sedangkan Mat dan temannya berada di sisi selatan. "Apa kau sudah lama melakukan tugas ini?" tanya Owen kepada Jinjin. Keadaan di hutan tersebut benar-benar sepi dan hanya ada mereka di daerah situ. Jinjin mengangguk. Dulu Ayah dan Ibu juga melakukan tugas ini. Jadi, aku dan Mat juga meneruskan tugas mereka," jawabnya yang membuat Owen mengangguk paham. "Bagaimana denganmu? Apa tugasmu yang ada di dunia immortal itu?" tanya Jinjin balik. Owen terdiam. Akan sangat berbahaya jika dia mengaku sebagai seorang pangeran. "Aku biasanya membantu ayah dan ibu di kebun," jawab Owen berbohong. "Itu bagus," sahut Jinjin. Kemudian mata wanita ini seketika menajam. Owen mengernyit, tapi sedang mencoba merasakan apa yang terjadi. "Ada yang mendekat," bisik wanita tersebut. Owen mengangguk, dia juga merasakannya. "Perhatikan baik-baik," intruksi Jinjin yang sedang memberi pengarahan. Tiba-tiba saja dari sisi utara datang seorang pria dengan tudung di kepalanya. Jinjin dan Owen memperhatikan orang tersebut. "Seorang wizard," kata Jinjin. Owen juga merasakan jika itu adalah wizard, dilihat dari pakaiannya saja demikian. "Ayo," ajak Jinjin yang langsung melompat turun. Owen menganga dengan gerakan tiba-tiba wanita itu, tetapi dia tetap mengikutinya. Ketika Owen dan Jinjin sudah berada di depan orang asing tersebut, sang wizard pun berhenti melangkah, namun tidak membuka tudung di kepala dan hanya mundur beberapa langkah. "Siapa kau?" tanya Jinjin mengintrogasi. "Dan apa keperluanmu kemari?" sambung Owen dengan nada tegas. "Aku hanya ingin numpang lewat," jawab orang tersebut. Jinjin meneliti orang ini. "Buka penutup kepalamu itu," titahnya. Terdengar helaan napas dari orang ini, namun sedetik kemudian dia melaksanakan perintah Jinjin. Owen yang sejak tadi berdiri di depan orang asing yang merupakan seorang pria ini pun nampak mengernyir tatkala pria ini memandangnya berbeda. "Bukankah kau ...." Bola mata Owen membulat sempurna tatkala pria ini terlihat mengenali dirinya. Tidak, Owen tidak ingin terkuak identitas aslinya di depan Jinjin. Jinjin yang melihat pria asing ini seperti mengenal Owen pun nampak curiga. "Apa kau mengenalku?" tanya Owen hati-hati dan tentu saja dengan sikap waspada. Pria itu tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Owen. "Tentu saja. Seluruh dunia immortal juga tahu tentang dirimu," katanya. "Seluruh dunia immortal?" seru Jinjin tak habis pikir. "Ah. Sepertinya aku lupa sesuatu. Kau ingat bukan jika aku selalu membantu ibu dan ayah di kebun? Hasil dari kebun itu aku jual ke beberapa tempat. Untuk itu semua orang nampak tak asing denganku," jelas Owen cepat kepada Jinjin. Mendengar pernyataan Owen tersebut membuat sang wizard mengernyit bingung. "Lantas, apa keperluanmu datang ke wilayah kami?" tanya Jinjin kepada pria tersebut. "Sudah aku katakan jika aku sedang lewat saja. Tujuanku adalah tempat lain, bukan di sini," ungkapnya. Owen segera menggunakan kecerdasaannya agar identitasnya tetap aman. "Kenapa kamu tidak mampir ke desa kami saja?" celetuk Owen yang langsung mendapat tatapan penuh dari kedua orang ini terutama Jinjin. "Begini, Jinjin. Aku lihat orang ini tidaklah berbahaya. Jadi, apa salahnya jika mengajak dia berkeliling sebentar sebelum dia kembali melanjutkan perjalanan?" terangnya. "Apa yang kamu lakukan? Tobi belum memberi keputusan," sahut Jinjin tak terima. "Menurutku ini tidak apa-apa. Bagaimana jika kita bawa dia ke Tobi? Terus melihat keputusan apa yang dia buat," usul Owen lagi. Jinjin nampak ragu, tetapi dia malah mengiyakan permintaan Owen itu. "Baiklah. Ayo ikut kami," ajaknya. Pria itu pun mengikuti Jinjin dan Owen di mana Jinjin memimpin lebih dulu. Sedangkan Owen terlihat mencoba mendekati pria ini. Lebih kepada mencoba bernegosiasi agar pria itu tak memberitahu identias asli Owen. "Hei, kawan. Kita harus bicara berdua setelah ini. Saat kau bertemu dengan orang-orang di desa ini, jangan panggil aku pangeran atau nama asliku. Panggil aku Jasper," perintah Owen. Tentu saja perintah pemuda ini membuat sang wizard bingung. Jasper? "Siapa namamu?" tanya Owen yang masih berbisik di sana. Pria itu menoleh, dengan kaki yang masih terus berjalan. Tidak heran bila Owen tak mengenalinya dengan baik. Karena memang mereka tidak pernah bertemu secara pribadi. "Reynart. Namaku Reynart," jawabnya. Owen mengernyit sembari menghentikan langkah mereka. Reynart, terdengar tidak asing? Mereka tak menyadari bila Jinjin masih terus berjalan di depan. "Kenapa? Terdengar tidak asing bagimu, Pangeran?" ujar Reynart menatap pemuda ini. Dia lebih kepada terkejut kenapa Owen bisa berada di tempat tersebut yang mana jauh dari kerajaannya. Dan yang pasti Reynart juga curiga perihal Owen yang tak menunjukkan identitas aslinya. "Paman Reynart?" pekik Owen dengan intonasi yang masih bisa ia kontrol. Setelah melihat Owen yang mengenalinya, Reynart pun tersenyum tipis. "Astaga, Paman. Ini ... maafkan aku. Maafkan aku karena tidak mengenalimu. Tapi, kenapa Paman bisa berada di sini?" tanya Owen kemudian. "Bukankah seharusnya hal itu yang harus aku tanyakan? Kenapa seorang pangeran dari kerajaan werewolf berada di tempat ini?" serang Reynart yang berhasil membuat Owen terdiam. "Apakah keluargamu tau jika kamu berada di sini?" tanyanya lagi. Owen mengangguk. "Aku yakin kamu tidak mengatakan tujuanmu ke mana," imbuhnya yang berhasil menebak apa yang terjadi. Owen mengaku kalah. Percuma juga berbohong karena Reynart adalah seorang wizard. Dia pasti ahli membaca keadaan dan pikiran. "Ceritanya panjang, Paman. Nanti aku akan ceritakan setelah kita memiliki ruang privasi. Untuk sekarang kita harus menghadap kepada Tobi. Dia adalah pemimpin di desa ini," balas Owen yang kembali berjalan diikuti oleh Reynart juga. Jinjin terlihat mencari keberadaan dua orang di belakangnya. Wanita itu sudah sampai di tempat Tobi. Tetapi ketika dia menoleh, ternyata dua orang itu tak ada. Kemudian dari jauh Jinjin melihat Owen bersama dengan Reynart berjalan menuju ke arahnya. “Astaga. Ke mana saja kalian?” katanya dengan wajah garang karena harus menunggu. “Sudahlah, ayo masuk,” katanya kembali. Owen mengangguk. Jinjin diikuti oleh Owen dan Reynart pun masuk ke dalam. Ketika pertama kali masuk ke dalam sana terlihat Reynart yang sama takjubnya seperti Owen saat itu. Reynart tentu berpikiran jika mungkin penghuni desa ini adalah seorang wizard, sama seperti dirinya. Ketiganya pun menghadap kepada Tobi. Terlihat Tobi memperhatikan Reynart dengan teliti. Serta pria itu menyadari bila Reynart adalah seorang wizard. “Salam, Tobi. Kami menemukan orang baru lagi. Dilihat dari aromanya, dia berasal dari bangsa wizard,” lapor Jinjin langsung. Tobi beranjak dari duduknya. Dia mendekati Reynart saat itu juga. Terlihat bila Reynart nampak santai-santai saja di sana. “Ada keperluan apa ke desa kami?” Reynart sepertinya lelah mendapat pertanyaan itu terus menerus. Padahal tujuannya bukanlah ke desa ini. “Aku sudah mengatakan kepada mereka berdua jika aku hanya numpang lewat. Tujuanku bukanlah di sini. Itu adalah jawabanku sejak tadi,” sahut Reynart. “Dan pria ini juga mengenal Jasper,” ungkap Jinjin yang membuat Tobi menatap Reynart dan Owen bergantian. “Bukan artian mengenal dekat. Aku biasanya membantu kedua orang tuaku menjual hasil kebun ke beberapa tempat. Dan dia mengenalku dari sana, tetapi aku sepertinya lupa karena terlalu banyaknya orang yang aku temui,” jelas Owen. Tidak apa-apa, ini terdengar masih normal. Tobi menatap Reynart lagi. “Apakah begitu?” tanyanya. Ada jeda sebelum akhirnya Reynart pun mengiyakan. “Lalu, kenapa dia dibawa ke sini? Bukankah dia sudah mengatakan tujuannya bukanlah ke sini?” kata Tobi yang berbalik untuk kembali ke tempat duduknya. “Maaf, Tobi. Aku berencana untuk mengajaknya berkeliling sebentar di desa ini. Untuk itu aku butuh ijin darimu jika diperbolehkan,” jawab Owen. Tobi menoleh, kembali menatap Reynart dan Owen bergantian. “baiklah. Kau boleh membawanya berkeliling, tetapi jangan terlalu lama. Biarkan dia pergi menuju ke tempat tujuannya,” kata Tobi. Owen lega jika pria itu masih memiliki kebaikan. Setelahnya ketiga orang ini pun keluar dari rumah Tobi. Jinjin menatap mereka bergantian, masih tampak curiga di sana. “Kau kembalilah ke perbatasan. Aku akan mengajaknya berkeliling, setelah itu aku akan memastikan dia sudah pergi siang ini,” kata Owen ditujukan kepada Jinjin. Jinjin mengangguk dan bergegas pergi. Owen langsung membawa Reynart ke tempat yang aman untuk mereka jadikan tempat mengobrol. Owen memilih di belakang tenda yang penghuninya kosong. “Jadi … kenapa Paman bisa berada di sekitar sini?” tanya Owen pertama kali. “Aku sedang mencari sesuatu,” jawab Reynart. “Sesuatu? Apa itu?” tanya Owen penasaran. “Mari bertanya secara bergantian agar terdengar lebih adil, Pangeran,” sahut Reynart yang membuat pemuda itu tersadar jika dirinya terlalu banyak mengajukan pertanyaan. “Sekarang giliranku. Kenapa kamu berada di tempat ini?” “Sama seperti Paman. Awalnya aku hanya ingin lewat, tetapi aku dicegat dan dibawa ke sini. Lalu Tobi merekrutku menjadi anggota desa. Aku diterima di sini kapan pun aku mau. Dan mereka juga tahu bila aku berasal dari dunia immortal,” jawab Owen yang membuat Reynart mengernyit. “Jadi, apa yang Paman cari?” tanya pemuda ini. “Mate. Aku melakukan pencarian mate,” jawab Reynart. Owen pun mengingat jika teman dari pamannya ini memang belum memiliki pasangan hingga sekarang. “Apa kamu tidak merasa aneh orang tadi menerimamu begitu saja di desa ini? Sebuah perekrutan anggota baru bukanlah hal yang mudah dilakukan. Bukankah harus ada seleksi ketat?” ujar Reynart. Itulah sebenarnya yang Owen bingungkan. Dia bertahan di sini juga ingin tahu apa tujuan mereka merekrut dirinya dengan mudah. “Aku tidak tau, Paman. Mungkin ini karena wolf dan rambutku yang berwarna putih,” kata Owen. Karena entah bagaimana dia merasa rambut ini kembali membuat dirinya terjebak dalam suatu situasi yang tak bisa Owen pahami. “Ke mana tujuan Paman sebentar lagi?” tanya Owen menatap pria tersebut. “Entahlah. Aku hanya ingin mengikuti langkah kakiku saja,” jawab Reynart. “Lalu. Ke mana tujuanmu sebenarnya jika bukan ke desa ini?” “Desa Raksasa. Aku akan menuju ke sana, Paman.” “Desa Raksasa? Apa kamu tidak berpikir sebelum bertindak? Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apakah kamu tidak memberitahu mereka?” Owen terkekeh. “Paman terlalu berambisi hingga lupa peraturan dalam obrolan ini,” tegur pemuda itu membuat Reynart langsung menutup mulutnya. “Tapi tidak apa-apa. Aku akan menjawab karena aku tidak punya pertanyaan lagi untuk paman. Tetapi sebelumnya berjanjilah kepadaku untuk tidak memberitahu siapa pun mengenai ini, Paman. Terutama keluargaku.” Reynart pun mengangguk. “Aku harus ke Desa Raksasa untuk melihat keadaan mate dari Agata. Itulah yang dikatakan oleh Wizard Berta.” Reynart terkejut? Tentu saja. “Jika Paman berpikir mate dari Agata apakah seorang raksasa, itu belum bisa aku jawab. Yang jelas mate nya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Untuk itu wolf dalam diri Agata juga melemah. Aku harus membantunya,” jelas Owen kembali. “Lalu mengenai keluargaku. Mereka semua tidak tahu ke mana aku pergi, kecuali raja. Yang mereka tau adalah aku pergi untuk menjalankan tugas dari raja.” Reynart bahkan tak mampu berkata-kata ketika pemuda ini rela mengambil keputusan yang bisa dibilang sangatlah berbahaya. Raksasa bukanlah tandingan makhluk dunia immortal. “Jika begitu, kenapa kamu masih berada di desa ini? Bukankah kamu harus melanjutkan perjalanan? Alangkah lebih baik pencarian itu secepatnya diselesaikan agar kamu bisa kembali pulang,” kata pria itu. “Iya, Paman. Aku tau. Tapi aku butuh waktu untuk pergi. Dan aku juga butuh informasi di mana Desa Raksasa berada.” “Jadi kamu pergi sejauh ini tetapi tidak tau di mana Desa Raksasa?” tanya Reynart yang diangguki oleh Owen. Reynart pun jadi gemas sendiri kepada pemuda ini. “bagaimana bisa kamu menempatkan nyawamu dalam bahaya seperti ini, Owen? Astaga, bahkan aku tidak habis pikir.” “Apa Paman tau di mana desa itu?” “Tentu saja,” jawab Reynart cepat yang membuat Owen terlihat begitu semangat. “Jika begitu, maukah Paman memberitahuku di mana tempatnya?” pinta Owen. Reynart menatap pemuda itu dengan penuh, seperti sedang mempertimbangkan keputusannya sebentar lagi. “Hanya untuk menemukan mate Agata, kan?” tanyanya. Owen mengiyakannya. “Baiklah. Aku yang akan mengantarmu ke sana,” putus Reynart. Tentu dia tak bisa membiarkan calon raja di Kerajaan Werewolf ini dalam bahaya. “Itu tidak perlu, Paman. Paman cukup beritahu aku saja di mana tempatnya. Bukankah Paman juga sedang memiliki urusan lain?” tolak Owen. “Itu adalah keputusanku. Jika kamu tidak mau, maka aku tidak akan memberitahumu tempatnya,” ucap Reynart yang berhasil membuat pemuda itu kelabakan. “Baiklah. Baiklah. Kita akan pergi bersama,” putus Owen. “Pertama yang harus kita lakukan adalah pergi dari sini tanpa ketahuan,” kata pria ini lagi. Owen terdiam, mencoba mencari cara untuk bisa keluar tanpa dicurigai. “Aku tau. Kita bisa pergi tanpa ketahuan. Tapi sebelum itu, aku akan mengambil barang-barangku lebih dulu,” ujar Owen yang memiliki ide untuk kabur dari sana. Sebelum pemuda itu pergi, Reynart mencegahnya. “Ini, masukkan semua barang bawaanmu ke dalam sini. Jika kamu membawa tas, itu akan membuat mereka curiga. Ini adalah tabung serbaguna yang bisa menyimpan semua barang,” kata Reynart memberikan sebuah tabung kecil yang ia ambil dari kantongnya. Owen mengangguk. Dia segera menuju ke rumah Jinjin dan Mat untuk mengambil barangnya sedangkan Reynart akan menunggu di tempat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN