Bagian 43

1769 Kata
"Apa kamu yakin mereka tak akan mengikuti kita?" tanya Reynart. Pria ini bersama dengan Owen sudah keluar dari Desa Arkas. Dari namanya saja terdengar aneh bagi Reynart. "Tenang saja, Paman. Mereka tak akan tahu. Jinjin dan kakaknya pasti sibuk menjaga perbatasan," jawab Owen. "Seperti yang aku katakan sedikit tadi. Desa itu bernama Desa Arkas. Aku tidak tahu dari bangsa apa mereka. Yang jelas mereka sepertinya bisa menggunakan sihir seperti bangsa wizard. Terus Tobi itu adalah pemimpin mereka. Rumah mereka menggunakan kain dan ketika hujan datang, air tidak akan masuk ke desa karena Tobi sudah memasang penahan di langit," jelas Owen membuat Reynart terkejut. "Tapi penahan itu tidak bisa dilihat oleh kita," imbuhnya. "Aku juga merasa sedikit aneh di sana, Paman. Mungkin ini karena rambutku, jadi mereka bersikap sangat baik." Reynart mengangguk paham. Rambut seperti ini benar-benar melegenda. Dan untuk menghindari hal yang tak diinginkan, kini Owen selalu memakai topi di kepalanya meskipun pada akhirnya beberapa rambut masih terlihat di sana. Langkah kaki Reynart dan Owen berhenti di semak-semak belukar yang cukup tinggi. Sedikit aneh tumbuhan itu bisa berkembang setinggi itu. Melihat keterkejutan Owen membuat Reynart memakluminya. "Kita sudah semakin dekat dengan Desa Raksasa," ungkap Reynart yang berhasil menarik perhatian pemuda ini. "Benarkah, Paman? Tapi, bagaimana kita melewati ini?" ucap Owen. Sepertinya mereka lupa membawa benda tajam untuk memotong semak-semak itu. Tapi, memotongnya akan membutuhkan waktu lebih lama. "Tenang. Kita gunakan bubuk berpindah tempat," kata Reynart yang langsung merogoh tabung kecil yang ia bawa dan sempat Owen pegang tadi. Owen pun mengernyit ketika menyadari Reynart membawa bubuk tersebut. Jika demikian, kenapa mereka tadi tidak menggunakan bubuk itu saja ketika di Desa Arkas? "Aku hanya membawa sedikit, kita harus berhemat. Untuk itu aku tidak menggunakannya tadi. Ini bisa kita gunakan untuk pulang juga nanti," jelas Reynart seakan tahu isi pikiran Owen saat itu. Reynart membuka sebuah kantong kecil. Untuk mendapatkan bubuk itu tidak mudah di wilayah wizard. Untuk itu Reynart harus bisa menggunakannya di keadaan tertentu saja. Reynart mengambil sedikit bubuk di kantong tersebut. "Pegang tanganku. Kita akan berpindah sekarang," perintah Reynart yang langsung Owen lakukan. Ketika Reynart melempar bubuk itu ke tanah, asap tiba-tiba muncul dan angin berembus kencang saat itu. Dan ketika asap telah hilang, sosok keduanya sudah tak terlihat. Mereka sudah berpindah cepat di tempat tujuan. Owen pun segera melepas pegangannya. Di balik semak itu ternyata masih ada pohon-pohon tinggi. Ia pikir mereka langsung menuju ke Desa Raksasa. "Ayo. Kita harus mencari pohon kembar," kata Reynart yang kembali memimpin perjalanan. Owen mengernyit ketika kata kembar terdengar di sana. Semua pohon terlihat sama di mata pemuda ini. Bagaimana menentukan pohon kembarnya? "Bukankah kamu masuk ke sekolah khusus? Sudah berapa banyak buku yang kamu baca?" Owen mengembuskan napas lelah. Wajarkah dalam keadaan begini Reynart bertanya mengenai pendidikan Owen? "Jangan mengeluh. Aku bertanya karena dirimu terlihat sama sekali tak tahu mengenai Desa Raksasa atau yang berhubungan dengan mereka. Semua mengenai raksasa ditulis lengkap di sebuah buku. Dan aku rasa di sekolahmu buku tersebut ada," jelas Reynart. Oh, jadi itu alasannya. "Aku banyak buku yang aku baca. Tapi tidak untuk mengenai para raksasa. Aku lebih fokus kepada dunia immortal terutama bangsa vampir, werewolf dan wizard," terang Owen. "Pantas saja. Desa Raksasa tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Pintu masuk ke dunia mereka adalah dua pohon kembar. Kenapa kembar? Aku juga tidak tahu. Itu semua aku dapatkan dari buku sejarah dunia," ungkap Reynart. "Lalu. Bagaimana kita menemukan pohon kembar itu, Paman?" tanya Owen. "Itu dia. Aku tidak mendapat petunjuk mengenai hal tersebut di buku," jawab Reynart yang telah berhasil meruntuhkan semangat Owen. Jika Reynart saja tidak tahu, bagaimana dengan Owen sendiri? "Tapi tenang saja. Petunjuk satu-satunya adalah arah selatan. Jadi kita berjalan ke arah selatan sembari memperhatikan setiap pohon yang ada," sela Reynart kemudian. Meskipun begitu, tetap saja jumlah pohon di sini sangatlah banyak. Dan ini sepertinya akan memakan waktu yang lama. "Paman. Sebaiknya kita istirahat dulu," usul Owen. Reynart terdiam, dia pun mengangguk setuju. Keduanya duduk di bawah pohon rindang. Sudahlah, semua pohon terlihat sama saja. Reynart kembali merogoh tabungnya dan mengeluarkan beberapa bekal yang telah dia siapkan. Sepertinya Reynart jauh lebih mempersiapkan diri dibandingkan Owen di sini. "Paman. Aku akan mencari air dan beberapa buah untuk persediaan bekal," putus Owen. Reynart mengangguk setuju. Owen pergi sembari memakan bekal yang Reynart bawa itu. Sedangkan Reynart memilih untuk duduk dan istirahat sejenak di bawah pohon tersebut. Untungnya saja ada sungai di dekat sana, jadi pemuda ini tak perlu berjalan jauh. "Apa kau tidak takut bila Paman Reynart melaporkan ini kepada keluargamu?" kata Crush yang nampak mencurigai Reynart. "Hush. Apa yang kau pikirkan? Paman Reynart berada di sini. Bagaimana cara dia memberitahu keluargaku? Sudahlah, jangan terlalu berpikiran buruk padanya. Apa kau lupa dengan cerita dari Paman Luc? Paman Reynart itu adalah orang yang pintar meskipun bukan dari kalangan kerajaan. Dan dialah satu-satunya orang yang bisa memberi kita petunjuk sekarang," balas Owen. Crush pun diam dan tak mau bicara lagi. Setelah Owen mengisi beberapa botol untuk minuman mereka, pemuda ini pun kembali ke tempat Reynart. Tapi sebelum itu dia sedikit mencari beberapa buah di sekitar sana. Hutan ini tumbuh buah-buahan yang banyak. Buah mangga dan apel paling banyak di sana. Owen tak menyia-nyiakan makanan yang terpampang di depan matanya. Dia mengambil beberapa dan memasukkan ke kantong yang tadi sempat Reynart berikan kepadanya. Karena terlalu tinggi, Owen terpaksa harus memanjat. Owen pun mulai memanjat dan memetika buah di sana untuk ia masukkan ke kantong lagi. Asyik memetika buah, Owen baru menyadari sesuatu dari pohon yang ia naiki ini. Owen pun turun dan berjalan menjauh untuk memperhatikan pohon yang tadi ia naiki dan pohon di depannya. Mulutnya terbuka membentuk huruf O. Kedua pohon itu sedikit miring, tetapi ke arah yang berbeda. Kemudian letak buah yang tumbuh juga berada di tempat yang sama begitu juga dengan batang dan dahan yang ada. Inilah yang membuat Owen curiga tadi. Benar, bisa jadi kedua pohon ini adalah pohon yang sedang mereka cari. Tanpa berlama-lama, Owen bergegas menuju ke tempat Reynart. Terlihat Reynart yang memejamkan matanya di bawah pohon tadi. Sepertinya pria itu mencoba untuk tidur sejenak. Akan tetapi kepekaan Reynart tidak bisa dianggap remeh. Merasakan ada pergerakan, pria ini pun langsung membuka matanya. Owen cukup terkejut dengan gerakan waspada pria ini. "Owen. Apakah sudah semua?" tanya Reynart membantu Owen memasukkan air serta buah-buahan ke dalam tabung tadi. Owen pun mengangguk. "Ya sudah istirahatlah sebentar di sini," kata Reynart. "Paman. Aku menemukan pohonnya, tapi aku sedikit tak yakin jika itu pohon yang kita cari," ungkap Owen kala itu. Reynart pun segera beranjak berdiri. "Di mana? Aku akan mengeceknya," sahut Reynart. "Di sana. Ayo aku tunjukkan," kata Owen sembari menunjuk ke arah tempat dia mencari buah tadi. Kedua orang ini pun bergegas pergi ke sana. Setelah dirasa sudah sampai, Owen kembali menunjuk dua pohon yang ia maksud. "Aku pikir arahnya saja yang berbeda. Tetapi bentuk, ketinggian, letak dahan dan buahnya sama persis. Aku pikir mungkin ini pintu gerbangnya," jelas Owen kemudian. Reynart terlihat meneliti dua pohon tersebut. "Aku butuh air, lemon, dan daun jeruk," ucap Owen. "Kau ambillah air dan daun jeruk di sekitar sini. Untuk lemon, sepertinya ada di tabung milikku," titah pria tersebut kepada Owen. Owen pun langsung pergi untuk mencari dua bahan tadi. Setelah memakan waktu hampir 15 menit untuk mencari daun jeruk, akhirnya Owen pun bisa membawa dua bahan itu ke tempat Reynart menunggu. Reynart sendiri sudah siap dengan wadah yang terbuat dari batok kelapa. Pria itu menuangkan sedikit air, ditambah perasan air lemon dan terakhir daun jeruk. Reynart mengaduknya hingga rata. Owen hanya memperhatikan dari samping. Dari sini Reynart mulai membacakan beberapa mantra yang tak Owen pahami. Kemudian terakhir pria itu menyipratkan air dari 3 bahan tadi ke tengah-tengah area dua pohon kembar tersebut. Tak beberapa saat kemudian seperti ada getaran di tanah bersamaan dengan munculnya sesuatu yang bergelombang di depan mereka. Ketika disentuh seperti air, tetapi itu bukanlah air. "Kita berhasil menemukannya," ucap Reynart dengan wajah kebahagiaan di sana. "Ayo Paman kita masuk," kata Owen. "Tunggu dulu." Reynart mencegahnya. "Kita belum tau apa yang ada di sana. Bagaimana jika ada sesuatu yang berbahaya?" kata pria ini. Owen terdiam. Benar juga. Mereka memasuki kawasan para raksasa. Dari segi ukuran saja mereka berbeda. Pantas saja ada batas di sini karena orang tidak bisa sembarangan masuk, begitu juga dengan para raksasa tersebut. "Tunggu sebentar. Kamu diamlah di sini, aku akan mengecek keadaan di sana," ide Reynart. "Tapi, Paman. Bagaimana jika dirimu diserang oleh raksasa di sana?" "Jangan berlebihan, Owen. Meskipun mereka raksasa, tapi mereka masih memiliki pemikiran untuk menyerang musuh. Aku hanya sebentar. Mengecek keadaan dan langsung kembali ke sini," kata Reynart kemudian. Owen pun pada akhirnya setuju dengan pria yang jauh lebih tua darinya itu. Reynart masuk ke dalam sana. Seketika tubuh pria itu pun menghilang. Owen menanti dengan sabar di tempatnya. Ketika Reynart masuk ke dalam, pria itu mengernyit. Ternyata pintu tadi itu mendarat di sebuah bukit. Dan yang paling aneh adalah keadaan di sana sudah malam, bahkan bintang bertaburan di mana-mana. Dan tempat itu sunyi bagi Reynart sendiri. Setelah memastikan keadaan baik-baik saja, Reynart pun kembali ke tempat semula. Owen yang melihat pria itu pun langsung mendekat. "Bagaimana, Paman?" tanyanya langsung. "Di sana aman. Sepertinya antara di sini dan sana ada perbedaan waktu. Di sana sudah tengah malam, Owen," ungkap Reynart. Owen tak terkejut karena mungkin hak itu sama seperti tempat ia sekolah dulu. Tempat-tempat tersembunyi seperti itu nampaknya memang berbeda dengan dunia ini. "Ya sudah ayo masuk," ajak Reynart. Kedua laki-laki ini pun masuk bersama. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di bukit tempat mereka tuju. "Selamat datang di Desa Raksasa," ucap Reynart. Owen mengamati sekitar. Semuanya benar-benar sangat besar. Mereka terlihat seperti semut saja di sini. "Lalu ... ke mana kita akan pergi?" tanya Reynart. Owen tersenyum canggung sembari mengusap tengkuknya. Melihat gelagat mencurigakan pemuda ini membuat Reynart mulai memahami keadaan. "Kamu nekat membuat kita berada di tempat ini, tetapi kamu sama sekali tidak tahu ke mana tujuan kita selanjutnya," ucap Reynart yang sudah mewakili jawaban dari pertanyaannya tadi. "Ayolah, Paman. Ini adalah kali pertama perjalananku. Tapi, aku yakin di sini akan menemukan mate dari Agata. Yang perlu kita lakukan adalah mencari seseorang yang sekarat. Mungkin itu adalah petunjuk satu-satunya," kata Owen. "Apakah kamu sudah berpikir berapa luasnya wilayah ini? Bahkan selangkah milik kita saja tak ada tandingannya bagi mereka," sembur Reynart. Owen mengusap wajahnya kasar. "Baiklah, baiklah. Kita jalan saja, nanti jika kita bertemu satu raksasa, mungkin kita bisa bertanya baik-baik," tutur Owen kemudian. Meskipun masih tak menyangka dengan kenekatan pemuda ini, Reynart pun tetap mengikuti alur yang Owen buat. Jadi, tugas pertama mereka adalah menemukan satu raksasa di tempat seluas itu dan di tengah malam begini. Oke, ini terdengar cukup sulit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN