BOOM!
Sebuah batu besar terlempar ke depan Reynart dan Owen berdiri. Keduanya nampak terkejut ditambah lagi terdengar suara bedebum berulang kali. Reynart langsung menarik Owen untuk bersembunyi di balik batu yang terlempar tadi.
“Keluar!” seru sebuah suara dari atas. Reynart yang merasa mereka sudah ketahuan pun akhirnya keluar diikuti oleh Owen.
Seorang pria raksasa berdiri di hadapan mereka. Reynart dan Owen susah untuk melihat wajahnya karena terlalu tinggi ditambah lagi keadaan masih malam.
Raksasa itu juga terlihat kesusahan melihat tubuh normal mereka. Si raksasa pun mau tidak mau mengangkat Reynarta dan Owen ke atas batu tadi sedangkan dia memilih duduk di tanah. Bagi si raksasa, itu hanyalah kerikil. Tetapi bagi Owen dan Reynart, batu tersebut begitu besar dan mereka harus hati-hati agar tidak terjatuh ke bawah.
“Siapa kalian?” tanya si raksasa.
Owen memperhatikan si raksasa tersebut. Ia pikir para raksasa memiliki tubuh yang berbeda dengan mereka, ternyata semuanya sama. Hanya yang membedakan adalah ukurannya.
“Kami datang dengan damai,” jawab Reynart.
“Katakan siapa kalian?!” seru raksasa tersebut karena keduanya tak kunjung menjawab pertanyaan.
“Aku Reynart. Dan ini adalah Owen. Kami datang dari dunia immortal,” ungkap Reynart jujur dan bahkan menyebutkan nama asli mereka.
“Dunia immortal? Untuk apa kalian di sini? Dan bagaimana cara kalian masuk ke wilayah kami?” kata si raksasa kembali.
“Kami ingin mencari seseorang. Seseorang yang sedang sekarat,” jawab Reynart cepat.
Terlihat si raksasa terdiam sejenak. Reynart dan Owen nampak memperhatikan manusia bertubuh besar itu. Reynart sendiri tidak bisa membaca pikiran si raksasa. Maklum, raksasa bukanlah dari dunia immortal.
“Aku Kromos. Jika kalian mencari seseorang dengan ciri-ciri seperti itu, maka hanya ada satu orang yang bisa kita temui di sini,” tuturnya.
“Siapa itu? Bisakah kau membawa kami kepadanya?” sahut Reynart.
“Aku tidak tau. Untuk menuju ke pusat desa apalagi menemui raja, aku harus melewati beberapa penjaga. Dan orang-orang seperti kalian tidak diijinkan berkeliaran bebas di sini,” jelas Kromos si raksasa.
Reynart dan Owen pun saling tatap. Mereka sudah sampai di tempat tujuan. Akan sangat disayangkan jika mereka memilih untuk mundur.
Kemudian terlihat Reynart yang membuka tabung miliknya lagi. Owen masih belum tau apa yang pria itu lakukan sebentar lagi. Si raksasa yang melihat Reynart melakukan sihir pun terlihat takjub. Reynart memperlihatkan sebuah benda berbentuk bohlam. Itu biasanya digunakan oleh para wizard. Owen pun mengernyit. Akan Reynart apakan benda itu?
Reynart mengulurkan benda itu kepada Kromos. Di tangan si raksasa, benda tersebut begitu kecil. Kromos pun bingung dengan pemberian Reynart ini.
“Benda ini sangat berguna bagi kaum wizard. Jika mau, akan aku berikan kepadamu,” ucap Reynart membuat Owen menganga. Hell. Siapa yang mau menerima barang seperti itu? Bahkan di pasar pun banyak.
“Baiklah, aku menerimanya,” sahut Kromos yang berhasil membuat Owen tak mampu berkata-kata.
“Kalian tidak bisa terlihat seperti ini berkeliaran di desa kami. Masuk ke kantongku selama perjalanan menuju ke pusat desa,” kata Kromos yang membuka kantong di depan bajunya. Raksasa tersebut memasukkan tubuh Reynart dan Owen ke dalam sana.
Owen menutup hidungnya karena di sana bau sekali. Reynart hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. Kromos pun langsung beranjak meninggalkan tempat tadi. Meskipun sedikit terguncang, Reynart dan Owen mencoba menyesuaikan keadaan.
“Raksasa ini bau sekali, Paman,” ucap Owen yang tentu tak bisa didengar oleh Kromos.
Reynart membuka tabungnya lagi dan mengeluarkan sebuah semprotan manual. Pria itu semprotkan cairan di dalam botol sana ke sekitar mereka. Owen kemudian merasakan aroma lain dan tidak seperti tadi. Pemuda ini bisa bernpas lebih leluasa sekarang.
Reynart memberikan semprotan itu kepada Owen. “Peganglah,” perintahnya. Owen mengangguk dan menyimpannya di kantong. Menurutnya itu berguna di keadaan seperti ini. Reynart benar-benar ajaib pikir Owen.
Di saat Owen dan Reynart masih terus melakukan perjalanan mereka, terlihat di Kerajaan Werewolf sosok Agata masih sibuk di kebun bersama Kristo. Bahkan keduanya sekarang sudah sangat dekat sekali. Frey yang melihat kedekatan itu pun sedikit khawatir. Hal itu ia utarakan langsung kepada Alice.
“Itu hanyalah kedekatan antara teman, Frey,” sahut Alice yang terdengar tak mengkhawatirkan apa pun.
“Ya aku tau, Kak. Tapi bagaimana jika di antara mereka tumbuh perasaan lebih dari seorang teman? Wolf Agata itu lemah, jadi dia sulit untuk menemukan mate. Aku khawatir Agata menempatkan sosok Kristo di atas mate nya sendiri yang mana kita belum tau di mana.”
Alice terdiam, dia tersenyum kecil. “Frey. Aku tau kamu khawatir. Tapi, hal itu tidak akan terjadi. Kristo akan tau di mana batasan untuk itu. Dia juga nantinya akan bertemu dengan pasangannya, sama seperti Agata juga.”
Frey merasa percuma saja bercerita kepada Alice karena wanita ini sama sekali tak menaruh kekhawatiran mengenai anak gadisnya. Pilihan Frey adalah Luc sekarang. Wanita ini segera menemui sang mate yang ternyata sibuk memantau prajurit yang berlatih.
Ben yang merasakan keberadaan Frey pun langsung memberitahu Luc. Pria itu langsung menoleh dan mendapati Frey berada di sekitarnya. Luc pun tersenyum untuk menyambut wanita tersebut. Fokusnya beralih kepada perut Frey yang sudah membesar. Tinggal menunggu hari kelahiran.
“Ada apa, Sayang? Anak kita mengganggumu lagi?” tanya Luc dengan nada becanda di sana.
Frey menggeleng, wajahnya nampak serius. “Aku sudah mengatakan ini kepada Kak Alice, tetapi dia terlihat santai sekali,” ungkap wanita ini berhasil membuat Luc mengernyit bingung. “Aku khawatir dengan kedekatan Agata dan Kristo. Mereka sama-sama masih belum menemukan mate. Aku takut ada kenyamanan di antara mereka yang membuat keduanya memutuskan untuk mengkhianati mate masing-masing.”
Luc mengajak Frey untuk duduk. Pria ini tahu akan kekhawatiran istrinya itu karena Frey memang dekat dengan Agata. “Sayang. Seharusnya kamu jangan terlalu memikirkan tentang Agata dan Kristo. Jika Kak Kennard dan Kak Alice menganggap itu tidak apa-apa, maka kita tidak bisa apa-apa.”
Frey merenggut sebal. Luc ternyata sama saja dengan Alice. “Aku khawatir karena aku sayang kepada mereka. Aku ingin yang terbaik untuk Agata dan Owen. Untuk Owen saja kita tidak tahu di mana dia sekarang. Lalu Agata dan Kristo. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan mereka, Luc,” tutur Frey dengan nada frustasi.
“Hei. Hei, Sayang. Jangan terlalu stres. Anak kita butuh perasaan bahagia dari ibunya,” kata Luc. “Ayo ambil napas dan buang. Seperti latihan yang kita lakukan,” perintah Luc. Frey pun melakukan perintah dari suaminya itu.
Dirasa tenang, Luc pun mengambil Frey minuman miliknya. “Minum dulu,” titahnya kemudian. Frey menerima minum itu dan menenggaknya sedikit. Wanita ini mengatur napasnya dengan teratur.
***
“Ken,” panggil Alice kepada Kennard yang baru saja keluar dari kamar mandi selepas membersihkan diri. Kennard pun menghampiri mate nya itu.
“Ya?”
“Frey kembali membicarakan perihal Agata dan Kristo. Dan sekali lagi aku memberi pengertian padanya mengenai kedekatan mereka. Menurutmu apakah kedekatan itu tampak berlebihan?” tanya Alice yang membutuhkan pendapat dari Kennard.
“Aku setuju dengan Frey,” balas Kennard yang membuat Alice bingung. “Jangan terkejut. Kemarin aku menganggap semuanya tampak biasa, ternyata tidak sama sekali. Itu memang agak berbeda, Alice. Mungkin bagi Agata nampak biasa, tetapi bagaimana dengan Kristo?
“Tapi mereka hanya berteman, Ken.”
“Begini saja. Coba kamu lihat penuh bagaimana bentuk perhatian yang Kristo berikan. Normal saja jika Frey curiga. Dia hanya berusaha menjaga semuanya tetap dalam jalan masing-masing. Ingat, Agata dan Kristo memiliki mate nya. Hanya saja mereka belum memiliki kesempatan untuk bertemu,” jelas pria ini kemudian.
Alice terlihat lesu. Yang ia tau adalah Agata tak akan melakukan hal yang membuat hidupnya berantakan. Melihat Alice yang terdiam membuat Kennard jadi kasihan. “Alice. Aku berencana mengijinkan Kristo untuk pergi ke luar istana guna mencari mate nya. Aku rasa dia sudah cukup umur untuk melakukan itu. Bagaimana menurutmu?”
Alice menoleh. Ide yang tak buruk. Mungkin itu juga pilihan yang terbaik bagi pemuda tersebut. “Baiklah. Aku setuju,” balas Alice. “tapi, bagaimana dengan Agata? Apakah dia akan baik-baik saja? Setelah kepergian Owen, hanya Kristo yang menjadi sosok terdekatnya.”
“Untuk itu aku serahkan kepadamu dan Frey. Meskipun Kristo dekat dengannya, tapi aku yakin dirimu dan Frey bisa mengatasi ini,” tutur Kennard yang memberikan kepercayaan penuh kepada sang istri. Mau tidak mau Alice pun harus mengikuti rencana mate nya.
Reynart, Owen, dan Kromos baru saja sampai di sungai. Mereka memilih untuk istirahat di pinggiran sungai. Reynart kembali mengeluarkan bekal makanan mereka, sedangka Kromos memakan segala hal yang berada di dekatnya yang bisa dimakan. Seperti ikan di sungai yang ia tangkap dengan mudah dan ia makan mentah.
“Paman. Apa Paman yakin dengan raksasa ini?” tanya Owen menatap Kromos yang sibuk di tengah sungai.
Reynart menggigit apel miliknya. “Ya. Aku yakin. Jika memang dia berniat jahat, pasti dia sudah memakan kita sejak awal bertemu tadi,” sahut pria tersebut.
“Memakan? Raksasa bisa memakan makhluk seperti kita? Maksudku apakah itu tidak terlalu sadis?” sela Owen memandang ngeri sosok Kromos yang melahap ikan dengan nyaman. Astaga, bahkan ikan pun ia makan hidup-hidup.
Melihat ekspresi ngeri Owen membuat Reynart merasa terhibur dan tak bisa menahan tawanya kembali. Owen yang menyadari tingkah Reynart pun paham jika pria ini hanya membodohinya. “Paman. Ini tidaklah lucu,” protes Owen.
“Mereka tidak akan memakan makhluk seperti kita apalagi manusia. Tetapi untuk hewan dan tumbuhan mungkin mereka akan memakannya langsung,” jelas Reynart yang membuat Owen bernapas lega.
Tak beberapa terlihat Kromos yang menghampiri mereka. Reynart dan Owen juga perutnya sudah kenyang.
“Kita berangkat lagi?” tanya Reynart yang diangguki oleh Kromos. Raksasa itu membawa Owen dan Reynart ke dalam kantongnya. Lagi dan lagi Owen menggunakan semprotan itu lagi. Setidaknya dia masih bisa bertahan hidup di sana karena semprotan itu.