Bagian 6

1544 Kata
Di antara jutaan keinginan yang ada dalam hatinya, hal yang sangat ingin Luc lihat adalah terbukanya kedua mata wanita yang sudah terbaring lama di tempat tidur itu. Wanita yang sangat Luc rindukan kehadirannya. "Luc, segera turun ke bawah. Ada Axele datang bersama dengan seorang gadis." Perintah Kennard membuat Luc mengernyit di tempat. Pria ini masih menatap Frey yang masih tidur di tempatnya. Gadis? Apakah gadis itu? Tapi, kenapa Axele datang bersamanya? Tak ingin berspekulasi banyak, Luc pun langsung menuju ke ruang pertemuan. Dari jarak beberapa meter saja dia bisa mencium bau vampir dan wizard di sini. Sepertinya Axele datang bersama gadis bernama Bella itu. Luc telah sampai, dan Bella duduk tepat di samping Axele, teman lamanya. Kedua pria ini saling tatap, hingga teguran dari Kennard membuat Luc tersadar. "Duduklah, Luc," titah sang raja werewolf. Luc duduk, mengambil tempat duduk tepat di depan Axele. Pandangan Axele masih tertuju kepada Luc sekarang. "Aku tidak ingin berbasa-basi, Luc. Dan aku juga tak ingin terjadi kekerasan dalam pertemuan kita," awali Axele. Kemudian pria ini beralih kepada Kennard dan Alice. "Aku harus memperkenalkan gadis di sebelahku ini kepada kalian. Gadis ini namanya Bella, dia adalah gadis yang Luc serang beberapa hari lalu. Bella adalah mate baruku." Fakta baru itu membuat Kennard dan Alice terkejut. Karena memiliki mate pengganti sangatlah langka terjadi. Sedangkan Luc nampak sudah menduga hal ini dari ucapan Axele di hutan saat itu. Kemudian Axele beralih kepada Luc. "Sekarang aku butuh banyak penjelasan darimu, Luc mengenai p*********n itu," perintah Axele. Terlihat Luc yang mengembuskan napas beratnya. Kemudian dia menatap Kennard dan Alice bergantian. Kedua kakaknya itu memberi Luc kesempatan untuk menjelaskan. Lagi pula mereka juga perlu tau apa yang sebenarnya terjadi dari awal. "Sebenarnya aku tidak ingin menyakiti siapa pun, Axele. Meskipun kita sudah lama tak berkomunikasi, aku sangat menghormatimu sebagai teman dan rajaku. Tetapi, posisiku saat itu berbeda. Aku terdesak. Aku kehilangan mate ku. Mungkin aku tak seberuntung dirimu yang bisa memiliki mate pengganti. Aku sangat tidak ingin kehilangan Frey sampai kapan pun." "Frey tidak pernah membuka kedua matanya setelah kau menyerangnya 50 tahun lalu. Aku gelap mata dan menemui penyihir hitam. Dia mengatakan aku harus mencari darah suci, dan darah suci itu ada di bangsa wizard," ungkap Luc yang membuat semua orang terkejut kecuali Axele yang masih menampilkan wajah serius. "Aku menemui Reynart di sana dan meminta petunjuk. Kemudian aku mendapat fakta yakni gadis di sebelahmu memiliki darah suci itu. Kemudian, aku menemui kedua orang tuanya, meminta ijin untuk mengambil darahnya sedikit, tetapi mereka menolak dan mengusirku." "Aku tidak memiliki pilihan lain ketika melihat Frey sekarat, untuk itulah aku nekat menyerang dan hendak membawanya paksa. Tapi, aku benar-benar tak tahu jika dia adalah mate mu." Sederet penjelasan panjang dari Luc ini menjadi titik terang permasalahannya. Axele dan lainnya pun menjadi paham. "Bolehkah aku melihat mate mu?" Tak disangka pertanyaan itu membuat semuanya beralih kepada Bella. Gadis itu meringis, dia ingin memastikan sesuatu saja. "Bolehkah?" tanya Bella kepada Axele. Axele menatap mate nya secara penuh beberapa saat, kemudian pandangannya beralih kepada Luc. Beberapa detik keduanya saling tatap, Luc pun mengangguk yang merupakan isyarat jika dia mengijinkan. Kennard, Alice, Luc, Axele, dan Bella segera menuju ke kamar Luc dan Frey. Axele setia di sisi sang mate dan tak membiarkan gadis itu pergi sendirian. Kemudian, semuanya pun telah sampai. Luc membuka pintu lebar-lebar. Bella dengan pelan menuju ke dekat tempat tidur, begitu juga dengan semua orang. Axele melihat dengan mata kepalanya sendiri jika tubuh Frey tak seperti dulu. Wanita itu kurus dan masih tetap menutup kedua matanya. Pantas saja Luc gelap mata dan menghalalkan segala cara. Hati Axele sedikit tercubit karena walau bagaimanapun ini juga salahnya. Bella hendak melepaskan pegangannya pada Axele dan mendekat untuk duduk di pinggiran ranjang, namun Axele mencegahnya. Bella menatap penuh mate nya itu. Memberi Axele pengertian jika semuanya akan baik-baik saja selama Axele berada di sisinya. Tak ada yang baik-baik saja meskipun ia ada di sana. Axele mengingat hari kematian Celesse yang tepat berada di depannya. Dia sama sekali tak bisa menyelamatkan wanita itu meskipun ia ada di dekatnya. Namun, sekarang Axele mengalah dan membiarkan Bella melakukan apa yang ingin dia lakukan. Semua yang ada di sana nampak memperhatikan apa yang akan Bella lakukan sekarang. Pertama, Bella memegang tangan Frey yang dingin ketika ia sentuh. 50 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Luc menunggu. Pasti pria itu benar-benar tertekan. "Beberapa hari lalu dia muntah darah. Tepat di hari aku menyerangmu," ungkap Luc kala itu. Axele terkejut karena mendengar penderitaan Luc hingga saat ini. Bella memperhatikan wajah Frey. Wanita yang cantik menurutnya, tetapi tertutupi karena tubuh kurusnya. "Apakah kamu tidak mencoba menggunakan cara lain? Ramuan dari para wizard, mungkin?" tanya Bella. Luc menggeleng. "Aku tidak begitu yakin. Aku sudah menemui beberapa wizard terkenal, dan mereka tak memiliki jawaban untuk ini," ungkap Luc. Axele terdiam. Dia mengingat nama satu wizard terkenal yang mungkin bisa mengatasi segalanya. Wizard Berta. Pengkhianat sekaligus orang yang ia jatuhi hukuman penjara seumur hidup bersama dengan Baz dan Mr. Martin. Luc sangat tahu arti keterdiaman Axele sekarang. Persahabatan mereka yang terjalin lama membuat dia paham bagaimana pola pikir pria itu. "Ada satu wizard yang mungkin bisa memberi kita jawaban," kata Luc membuat Bella mengalihkan penuh perhatiannya pada pria itu. "Tetapi, aku butuh Axele yang bertindak sekarang," lanjutnya. Bella mengernyit ketika nama sang mate disebut. Axele mantap nyalang Luc kali ini, dan Bella tahu ini tidak baik. Gadis itu segera berdiri dari tempatnya dan kembali menggenggam tangan Axele agar pria itu tak lepas kontrol. "Aku tidak akan menemuinya, Luc. Aku tidak akan membebaskan pengkhianat-pengkhianat itu," kata Axele tegas. Aura penguasanya keluar, dan orang-orang yang ada di dalam kamar itu dapat merasakannya. "Aku butuh dia, Axele. Hanya dia yang bisa kita mintai jawaban. Jika kau tidak mengijinkanku menemuinya, maka aku tidak memiliki pilihan lain untuk menyakiti mate mu." "Berani kau menyentuhnya, maka akan aku lenyaplan segala hidupmu," kata Axele tegas. "Apa yang mau kau renggut dariku lagi, Axel? Frey adalah hidupku. Aku sudah kehilangan dia, bahkan bayiku juga tiada. Itu semua karenamu. Apakah sedikit pun kau tidak memiliki hati, Axel?" "KAU!" Axele hampir saja kehilangan kendali dan menyerang Luc, namun Bella yang bisa membaca keadaan pun dengan cepat menahannya. Sebenarnya ia tak mengerti dengan apa yang kedua pria ini bicarakan. "Axel, kita pulang sekarang," lirih Bella, dia tak ingin keadaan menjadi buruk. Bella beralih kepada Kennard dan Alice. "Raja, ratu, dan Luc, kami pamit pulang dulu. Terima kasih untuk jamuannya, dan maaf karena belum bisa membantu banyak. Aku berdoa agar Frey bisa segera bangun dari tidurnya," kata Bella. Axele yang sudah tak tahan berada di sana pun langsung membawa Bella pergi tanpa berpamitan kepada siapa pun. Bella sangat menyayangkan sikap Axele kali ini. Melihat Axele pergi membuat hati Luc gelisah. Sekarang dia akan sangat sulit menggapai sosok Bella. Sedangkan Frey sangat butuh gadis itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? “Lihat! Axele jadi marah. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dia akan semakin tak menyukaimu,” seru Kennard. Alice memegang bahu sang mate agar Kennard tak lagi melukai hati Luc. Dan Alice langsung membawa Kennard keluar juga. Luc menunduk lesu. Dia kembali menemani Frey di sana. “Mereka menganggapku selalu bersalah, padahal ini semua ulah Axele. Kalau saja dia 50 tahun lalu tidak murka, pasti semuanya tak akan begini,” keluh Luc. “Hanya kamu yang bisa aku ajak berkeluh kesah, Frey. Mereka sama sekali tidak mendukungku. Kalau saja ada Grace, pasti aku tak akan kesepian. Luc mendengar Ben yang berbicara di dalam pikirannya. “Ish. Memang hanya kau yang kehilangan? Aku pun sama. Aku merindukan Frey dan Grace,” sahut Luc. *** Karena tak memiliki cara lain, Luc pun akhirnya hanya bisa berdiam diri di istana. Axele sudah menjatuhi ancaman, jadi dia tak mungkin berani mendekati Bella. Dan juga dia tak ingin kehilangan nyawa sebelum Frey membuka kedua mata. “Lebih baik kita berlatih saja, Ben. Kita harus tetap menjaga fisik,” usul Luc yang disetujui oleh sang serigala. Untuk itu mereka pun menuju ke hutan untuk melakukan latihan. Hanya hutan sekitar wilayah werewolf saja pastinya. Ben berlari dengan begitu kencang menembus hutan di sekitar kerajaan. Tidak ada kendala sedikit pun bagi serigala ini. Ben berhenti tepat di tengah hutan. Tatapannya berubah menjadi tajam, geraman keluar dari mulutnya. Serigala ini mengaum keras di cuaca terik seperti sekarang. Fokus Ben ada pada seekor tupai yang asyik melompat kecil mengambil beberapa biji yang jatuh di tanah. "Ya, kau pasti bisa, Ben. Seperti biasanya," ucap Luc kepada werewolf nya itu. Ben mengangguk, secepat kilat dia berlari dan langsung mengigitt mangsanya itu. Sang tupai memberontak, berharap bisa terlepas rupanya. Tetapi sayang, dengan cepat pula Ben menerkam dan memakannya. Luc yang berada di dalam pikiran Ben pun merasa jijik. Ya, keduanya memiliki selera berbeda. Luc tidak suka memakan semuanya dalam keadaan mentah, sedangkan Ben malah sebaliknya. Dua pribadi yang berbeda. Kemudian Ben mumutuskan untuk bertukar dengan Luc. Tubuhnya pun berubah menjadi manusia kembali. Luc memilih untuk istirahat sejenak dengan duduk di bawah pohon rindang. Angin membuat di sekitar pria ini menjadi sejuk. Luc menutup matanya sejenak mencoba menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. “Kita dulu sering melakukan seperti ini bersama Frey dan Grace,” ucap Luc kepada wolf nya itu. Setiap momen yang ia buat bersama dengan Frey tidak akan pernah ia lupakan, bahkan selama lima puluh tahun lamanya, momen-momen itu yang membuat Luc tetap bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN