Bagian 28

1462 Kata
Mengetahui takdir putranya yang menyedihkan membuat Alice sebagai seorang ibu merasa gagal. Tentu saja Alice ikut merasakan kesedihan itu. Kennard yang melihat Alice pun menjadi tak tega. "Putra kita, Ken. Putra kita ... kenapa nasibnya begitu buruk," kata Alice dengan air mata yang sudah tak bisa dia bendung lagi. Mereka sedang berada di dalam kamar. Kennard segera membawa istrinya ke dalam dekapan. Padahal baru saja dia melihat senyum kebahagiaan di wajah istrinya. Sekarang semuanya terganti dengan tangisan lagi. "Maafkan aku, Alice. Maaf karena belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik," ucap Kennard. Tangis Alice pun makin pecah di sana. "Kita harus berusaha untuk Owen, Ken. Aku yakin pasti ada jalan keluar," yakini wanita tersebut. Kennard melepaskan dekapannya. "Alice, sadarlah. Wizard Berta sendiri yang mengatakan jika ini kasus pertama. Ke mana lagi kita harus mencari jawaban jika Wizard Berta mengatakan demikian?" Alice menunduk, dia mengusap air matanya pelan. "Aku takut, Ken. Aku takut semua orang memperlakukan hal buruk kepada Owen. Aku takut dia terluka karena ini." Walau bagaimana pun Alice adalah seorang ibu. Dia mengkhawatirkan anaknya. "Kamu tenanglah dulu, Alice. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Wizard Berta. Aku sudah memintanya untuk tidak berbicara di luar mengenai kekurangan Owen ini." "Bagaimana dengan Putri Iris dan keluarganya? Apa yang akan kita katakan nanti?" Untuk hal itu Kennard sudah memikirkannya. "Aku yang akan memberikan alasan yang tepat untuk mereka. Aku akan beralasan jika Owen salah mengenali Putri Iris." "Tapi, apa mereka akan percaya dengan mudah?" tanya Alice ragu. "Tidak. Tapi, mereka akan percaya jika Owen sendiri yang mengatakan itu kepada mereka." Jadi, ini artinya Owen akan ikut bersama Kennard ke kerajaan wizard. Alice mengangguk paham. Jadi kuncinya ada pada pemuda itu. Ketika Kennard dan Alice yang membicarakan perihal anak mereka, terlihat Owen sedang melakukan latihan lagi di lapangan tempat biasa dia berlatih. Owen berlatih fisik seorang diri. "Dia mungkin ditakdirkan tidak memiliki mate sejati." "Semua karena rambut putihnya." "Dia bisa menjadi yang terbaik, dia juga bisa menjadi yang terburuk." "Wolf dari Pangeran akan menangkap aroma mate dari orang-orang yang telah kehilangan mate nya." Perkataan sang wizard terngiang jelas di pikiran Owen dan Crush. Crush tentu masih sedih, sedangkan Owen sebenarnya tidak, dia lebih kepada kesal pada rambut dan takdir yang ia miliki. Owen yakin ini hanya satu kesialan yang ia miliki. Di depan pasti akan ada kesialan lainnya. "Sudah aku katakan untuk jangan terlalu bahagia. Kau lupa, Crush. Rambut ini harus selalu kau ingat. Bersamaku, kita akan menjalani hidup yang penuh rintangan," kata Owen menasihati Crush. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur wolf tersebut. "Aku ingin memiliki mate." Owen menghentikan latihannya. Inilah yang tidak pemuda itu sukai dari sang wolf. Crush akan terus merengek mengenai mate nanti. "Berhentilah membahas mate. Jika kau memang butuh mate, pilih saja wanitamu. Kita bebas memilih siapa mate kita. Tapi ingat, aku tentu tidak akan menerima mate itu," kata Owen dengan sadis. Crush pun kesal dan langsung menutup komunikasi mereka. Owen kembali melanjutkan latihannya. "Ada apa?" tanya Frey yang sedang menemui Luc. Luc memintanya untuk datang ke perpustakaan. Entahlah kenapa pria ini memilih tempat tersebut. "Duduklah," perintah Luc yang langsung dilaksanakan oleh Frey. Pandangan wanita itu tertuju kepada sang suami. "Ini benar-benar buruk, Frey. Sangat buruk," awali Luc dengan wajah yang tak bisa Frey baca. "Seburuk itukah?" tanya Frey yang diangguki jelas oleh pria di sampingnya. "Karena rambut putih itu, Owen ditakdirkan tidak memiliki mate sejati," ungkap Luc. Frey menganga, ini seperti takdir yang tidak mungkin terjadi. Itu terasa mustahil. "Dia tidak bisa mengenali mate nya. Wolf nya mengenali orang yang telah kehilangan belahan jiwa. Maka dari itu Crush mengenali Putri Iris sebagai mate di malam kemarin karena Putri sendiri telah kehilangan mate nya." "Jadi ... Owen tidak memiliki mate sejati, tapi dia bebas memilih mate nya sendiri?" "Ya, kurang lebih begitu. Tapi, dilihat dari sisi Owen sendiri dan perkataan dia kepadaku beberapa waktu lalu, sepertinya pemuda ini tidak ingin memiliki mate. Itu dia katakan dengan jelas kepadaku." Ekspresi Frey berubah menjadi sedih. Dia jadi ikut merasakan kemalangan keponakannya itu. "Takdir yang menyedihkan. Kenapa itu harus Owen? Dia butuh pendamping. Dia butuh wanita untuk memegang tahta ratu di masa depan nanti." "Kamu benar, Frey. Tapi, Owen sepertinya akan menolak tahta sebagai raja," ungkap Luc yang membuat Frey makin terkejut. "Itu benar-benar dia katakan kepadaku. Dia berencana akan memberikan tahta ke orang lain." "Kenapa dia melakukan itu? Setelah semuanya, dia harus tetap memegang kerajaan," kata Frey. Luc terdiam. Masalah di keluarga kerajaan semakin rumit saja sekarang. Kedatangan kedua keponakannya menambah rasa bahagia di kerajaan, tetapi fakta mengenai Owen malah membuat suasana berubah menjadi kebalikannya. Pencipta seakan benar-benar menguji mereka semua. "Frey ... meskipun Owen memiliki takdir yang seperti ini, mari kita bantu dia," ujar Luc kepada sang mate. Frey mengangguk. "Ya. Aku sudah menganggap Owen dan Agata seperti anakku sendiri. Aku akan berada di sisinya." Luc lega ketika memiliki mate seperti Frey. Yang selalu mendukung keputusannya. Tiba-tiba saja Frey merasakan sesuatu yang panas di perutnya. "Akhh," lirih wanita itu sembari memegang perutnya yang seperti kram. Luc yang melihat Frey kesakitan pun segera memeriksa. "Hei. Ada apa, Sayang?" "Luc ... perutku sakit," lirih wanita ini yang terus memegangi perutnya. Luc tentu bingung karena tadi Frey terlihat baik-baik saja. "Kamu tadi makan apa? Apa kamu salah makan?" tanya Luc. Frey menggeleng seperti tidak sanggup lagi untuk membuka mulutnya. Dan dengan terpaksa Luc pun langsung menggendong Frey saat itu juga untuk dibawa ke tabib. Kebetulan sekali Agata melihat Luc dan Frey saat itu. Gadis ini penasaran dengan apa yang terjadi. Jadi, dia pun mengikuti langkah Luc yang ternyata menuju ke kamar. "Tabib, segera ke kamarku." Luc langsung menghubungi tabib kerajaan. Melihat pintu tidak ditutup, Agata pun akhirnya menerobos masuk. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Frey yang merintih kesakitan. "Bibi?" Luc menoleh dan mendapati keponakannya datang. "Paman. Bibi kenapa?" tanya Agata cemas. "Paman juga tidak tau, Agata. Paman sudah memanggil tabib barusan," jawab Luc. Kemudian pria ini kembali mengecek keadaan sang mate. "Sayang. Bertahanlah." Frey hanya bisa mengangguk di sana. Tak berapa lama sang tabib datang dan langsung mengecek Frey saat itu juga. Dari tempatnya Agata masih memperhatikan wanita yang terbaring itu. Sekelebat memori masa lalu tentang Frey yang tertidur pun masuk ke dalam pikiran Agata. Perlahan Frey pun mulai tenang setelah tabib memberinya minuman. Pandangan sang tabib tertuju penuh kepada Luc. "Apa yang terjadi?" tanya Luc langsung. "Sepertinya beliau sedang hamil, Pangeran." "APA?!" pekik Luc dan Agata bebarengan. "Ha ... mil? Frey hamil?" tanya Luc memastikan. Dan sang tabib mengangguk penuh di sana. Agata yang tadinya syok pun perlahan bibirnya membentuk senyum lebar di sana. "Hamil. Sayang. Kamu hamil," ucap Luc berkali-kali kepada Frey saat itu. "Kram di perut adalah hal yang normal, Pangeran. Saya sudah memberikan beliau ramuan agar bisa istirahat," jelas sang tabib. Luc mengangguk dengan senyum cerah di wajahnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pangeran. Pastikan beliau makan dengan teratur serta istirahat yang cukup," ucap sang tabib sekali lagi sebelum dia pergi. Setelah kepergian tabib tersebut, Agata langsung menghampiri Luc saat itu. "Paman. Aku turut bahagia mendengar berita ini. Jika tidak keberatan, bolehkah aku memberitahu Ibu, Ayah, dan Kak Owen mengenai kehamilan Bibi?" pinta gadis itu. "Ya, beritahu mereka, Agata." Gadis itu mengangguk dan langsung pergi dari sana dengan langkah kaki yang semangat. Luc terus menatap Frey yang sudah terlelap. Kesempatan kedua mereka untuk memiliki anak telah hadir. Dan Luc kali ini akan benar-benar menjaga calon anaknya itu. "Mari kita jaga dia bersama," bisik pria ini dengan di akhiri kecupan hangat di kening Frey yang tertidur. Agata yang tahu jika ayah serta ibunya berada di dalam kamar pun langsung menghampiri mereka. Alice yang mendengar suara Agata di luar pun langsung menghapus air matanya agar tidak terlalu terlihat jika dia habis menangis. "Bersikap seperti biasa di depan Agata. Sepertinya putri kita tidak tahu mengenai apa yang terjadi kepada Owen," ucap Kennard. Alice mengangguk paham. Wanita ini bergerak menuju ke pintu. "Ayah, Ibu," panggil gadis itu. "Ya? Ada apa, Agata?" "Ayah. Ibu. Aku ingin memberi kabar bahagia. Bibi ... Bibi Frey hamil," ucap gadis tersebut dengan penuh semangat. Baik Kennard atau Alice pun sama-sama terkejut saat itu juga. "Hamil? Kamu tidak sedang bercanda kan?" "Tidak, Ibu. Kalau tidak percaya, Ibu dan Ayah bisa ke kamar Paman dan Bibi. Sementara itu aku akan ke tempat Kak Owen untuk memberitahu kabar bahagia ini." Baru saja Agata akan pergi, Alice langsung mencegahnya dengan menarik pelan tangan putrinya itu. "Agata ... kakakmu sepertinya sedang sibuk. Nanti saja kamu beritahu dia. Sekarang, temani Ayah dan Ibu menuju kamar Paman dan Bibi," perintah Alice kala itu. Dia sengaja tak membiarkan Agata mendekati Owen sekarang karena yang ada di pikiran Alice adalah putranya masih dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah fakta tentang dirinya baru terungkap. ______ Frey dan Luc lagi bahagia karena baru punya anak. Owen sendiri malah jadi sad boy, lebih tepatnya si Crush sih. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN