“Bagaimana keadaanmu sekarang, Frey?” tanya Alice ketika dia sudah bisa menengok adik iparnya itu. Tadi setelah mendengar wanita ini hamil, Alice dan Kennard langsung menuju ke kamar Luc. Akan tetapi Luc mengatakan jika Frey sedang istirahat untuk sekarang. Jadi, Alice baru bisa menengok di malam hari ini.
Mengetahui jika dirinya sedang hamil lagi membuat Frey tentu merasakan kebahagiaannya lagi. Dan merasakan kembali bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang tumbuh di dalam perutnya.
“Aku baik, Kak. Jauh lebih baik dari sebelumnya,” jawab wanita ini yang tak henti mengusap perutnya yang masih rata itu. Alice melihat kebahagiaan Frey sekarang ikut merasakan kebahagiaan itu juga.
“Dalam beberapa bulan ke depan kita akan mendapatkan anggota keluarga yang baru. Aku sudah tidak sabar menanti itu,” ucap Alice yang ikutan mengusap perut Frey itu. Ini mengingatkan Alice ketika dia baru pertama kali hamil, di mana saat itu ada Owen dan Agata di dalam perutnya.
“Bibi … ini artinya nanti Agata akan memiliki adik baru kan?” tanya Agata dengan wajah polosnya. Alice dan Frey pun tertawa.
“Iya, Sayang. Nanti kamu dan Owen memiliki adik. Semoga dia bisa secantik kamu atau setampan Owen ya,” sahut Frey.
“Itu pasti, Bibi. Nanti Agata yang akan menjaganya ketika Bibi dan Paman sibuk,” kata gadis ini kembali. Alice lega ketika Agata mulai melunak dan mau bergaul dengan keluarganya sendiri. Kelegaan juga ada pada diri Frey yang malah semakin dekat dengan keponakan perempuannya ini. Kini tujuan kedua wanita ini terlihat sama, mencairkan es yang ada di dalam hati Owen.
Kennard, Luc dan Owen sedang berada di dalam ruangan Kennard saat ini. Para laki-laki ini sedang mendiskusikan perihal keluarga kerajaan wizard.
“Sudah aku putuskan jika Owen dan aku akan menuju ke kerajaan wizard untuk menjelaskan semuanya. Tapi, di sini aku minta untuk kita tidak membeberkan kekurangan yang ada pada diri Owen. Itu semua demi keselamatan Owen dan kerajaan ini.”
“Aku akan ikut bersama kalian,” sela Luc. Dia tidak bisa membiarkan Kennard dan Owen pergi hanya berdua. Ayah dan anak ini sama-sama keras kepala dan dingin, jadi butuh sosok seperti Luc di tengah-tengah mereka.
“Tidak perlu, Luc. Bukankah Frey sedang hamil? Kau harus lebih banyak bersama dengan dirinya untuk saat ini,” kata Kennard yang mengundang perhatian Owen kala itu. Pemuda ini memang baru mendengar jika Frey sedang hamil.
“Ada Kak Alice dan Agata di sini, Kak. Frey akan baik-baik bersama mereka,” kata Luc. Kennard pun tak lagi membantah, itu artinya pria ini membiarkan sang adik untuk ikut.
Kemudian atensi Kennard tertuju penuh kepada Owen. “Dan untukmu. Jika mereka bertanya, katakan saja jika Crush salah mengenali mate di malam itu. Dan minta juga kepada wolf mu untuk mengendalikan diri nanti ketika bertemu dengan Putri Iris.”
Owen mengangguk paham. Luc melirik interaksi kedua orang ini. Crush menurutnya lebih bersahabat dibandingkan Owen yang minim bicara. Bahkan dalam pertemuan ini pemuda itu sama sekali tak mengeluarkan suara.
“Owen. Aku mendapat informasi dari penjaga jika kamu berlatih di hutan beberapa waktu lalu.” Luc mencoba untuk membuat pembicaraan di antara mereka. Mendengar perkataan Luc membuat Kennard sedikit tertarik.
“Crush seminggu sekali harus berlatih, Paman. Itu sudah aku lakukan sejak lama.”
“Kenapa harus di hutan? Kenapa tidak di dalam kerajaan saja?” tanya Luc. Hal yang sama juga dipikirkan oleh Kennard.
“Crush butuh tempat yang bebas, hutan adalah tempat yang pas. Di sekolah dulu ada hutan yang bisa aku gunakan untuk berlatih bersama teman-teman lainnya,” terang pemuda ini. Luc pun mengangguk paham.
“Kapan-kapan kita harus berlatih bersama. Paman juga ingin melihat Crush dalam tubuh wolf nya.”
Owen terdiam, tidak mengiyakan permintaan pamannya itu. Merasa jika tidak ada hal penting untuk dibicarakan lagi, Owen pun berdiri dari tempat duduknya. “Paman. Raja. Jika tidak keberatan aku akan pergi sekarang,” ijinnya. Kennard mengangguk, Owen langsung bergerak menuju ke luar.
Melihat kepergian sang keponakan dengan sikap dinginnya membuat Luc menjadi frsutasi. Kemudian perhatiannya langsung tertuju kepada Kennard yang malah tak berbeda dengan putranya sendiri.
“Lihatlah, Kak. Dia persis seperti dirimu,” ujar Luc. “Apakah Kak Kennard tidak merasa sedih melihat ini?” tanya Luc. Jika Luc mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya pasti dia akan sedih sekali. Seperti ada jarak dan batas di antara ikatan mereka.
Kennard terkekeh sebentar mendengar pertanyaan sang adik. “Kau sendiri yang mengatakan jika dia mirip denganku, Luc. Jadi, jangan heran jika aku tampak biasa saja seperti dirinya.”
Sudahlah. Semua terasa percuma bagi Luc saat ini. “Anak itu akan semakin jauh dari Kak Kennard.”
“Itu pilihan dia, Luc. Aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk bisa menerimaku termasuk untuk Agata dan Owen,” kata Kennard yang malah benar-benar membuat Luc harus bersabar. Hidup beratus tahun lamanya bersama dengan Kennard membuat Luc paham sekali dengan karakter sang kakak.
“Aku tidak bisa berpikir jernih mengenai ini, Kak. Orang tua harus dekat dengan anak mereka. Semoga saja di masa depan nanti aku tidak akan kehilangan anakku sendiri,” kata Luc yang langsung beranjak pergi dari sana dengan kebisuan di dalam diri Kennard.
Melihat Luc yang pergi membuat ekspresi Kennard berubah menjadi semakin datar. Tentu saja perkataan Luc benar-benar menusuk dalam hati pria ini. Sindiran keras itu membuat batin Kennard diam-diam tak tenang.
“Owen!”
Luc berhasil menyusul pemuda itu. Untung saja Owen tidak pergi begitu jauh dari ruangan Kennard. Luc berlari kecil menuju ke tempat Owen. “Kamu mau ke mana? Bolehkah Paman ikut?”
Jika Kennard tidak mau dekat dengan anaknya, biar Luc yang akan mendekati Owen. Seperti perkataan dirinya dan Frey, Luc akan memperlakukan Owen dan Agata dengan baik. Dia tak ingin membuat kedua anak ini merasa tak memiliki keluarga utuh hanya karena sikap dingin Kennard itu.
“Aku akan belajar di perpustakaan, Paman,” jawab pemuda ini.
Luc mengangguk paham. “Baiklah. Ayo Paman temani. Paman juga ingin membaca buku di sana,” ajak Luc yang langsung berjalan lebih cepat. Owen tau maksud sang paman, pemuda ini tetap membiarkan pria dewasa itu untuk melakukan rencananya.
Setelah sampai di perpustakaan, masing-masing dari mereka mengambil buku masing-masing. Luc yang melihat buku bacaan Owen pun hanya bisa menganga. Buku itu terlihat tebal, bahkan Owen baru membaca seperempatnya saja.
Luc tertawa kecil. “Kamu mengingatkanku dengan Paman Reynart, Owen. Oh iya, kamu masih ingat Paman Reynart, kan?” tanya Luc.
Owen mengangguk. Tentu dia mengingat wizard itu. “Dengan Paman Axele tentu kamu belum berkenalan dengannya,” lanjut Luc. Memang sejak dulu Luc tidak mengenalkan Owen dan Agata kepada Axele karena pada saat itu hubungannya dengan sang sahabat tidak begitu baik.
“Kapan-kapan Paman akan ajak kamu ke kerajaan vampir. Oh iya, Paman harus memberi kabar mengenai kehamilan Bibi Frey kepada dua sahabat Paman itu. Bagaimana jika kamu ikut nanti?”
Owen mengangguk setuju, Luc pun senang ketika Owen menerima ajakannya.
“Paman bersahabat dengan dua orang berbeda bangsa, apakah itu tidak menjadi masalah?” tanya pemuda ini dengan mata yang tertuju kepada buku. Sepertinya Owen mampu melakukan beberapa hal dalam satu waktu. Luc tentu mengapresiasi kepintaran dan keseimbangan keponakannya ini.
“Masalah? Tentu tidak. Kita dari kecil sudah bersahabat. Ada banyak pengalaman dan masa yang kami lewati bersama. Meskipun kami berbeda, tetapi Paman merasa jika perbedaan itulah yang membuat persahabatan kita kuat,” jelas Luc yang selalu merasa bangga dengan persahabatan dirinya dengan Reynart dan Axele.
Mendengar perkataan Luc membuat Owen tersenyum miris. Dia bahkan tidak memiliki sahabat. Hanya Agata yang paham dengan dirinya. Luc yang merasakan perubahan hati sang keponakan pun menepuk pundaknya pelan. “Kamu harus terbuka, Owen. Coba bangun komunikasi baik dengan orang lain. Kamu tidak perlu memikirkan mengenai rambut ini. Lagi pula, dengan rambut ini kamu pasti akan menemukan sahabat yang bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu,” nasihat Luc yang didengar betul oleh sang keponakan.
“Jika boleh bercerita sedikit, Paman akan menceritakan persahabatan Paman dengan dua orang itu. Bolehkah?”
“Boleh, Paman,” jawab Owen yang tak keberatan.
Luc tersenyum. Dia kembali mengingat masa-masa bersama dengan Axele dan Reynart dulu. “Di antara mereka, Paman sepertinya orang yang paling lemah,” ungkap Luc. Owen mendengarkan betul cerita sang paman. “Setiap Paman berlatih bersama dengan Axele, dia selalu bisa membangkitkan emosi Paman dan berakhir dengan kemenangan di miliki olehnya.”
“Mungkin itu karena Paman Axele adalah raja di atas raja. Jadi dia jauh lebih kuat dari pada kita, Paman,” sahut Owen.
Luc menggeleng. “Paman Axele juga memiliki kekurangan. Dia tidak percaya dengan yang namanya mate,” ungkap Luc. Ini membuat Owen merasa jika hal itu yang saat ini dia lakukan. “Itu benar. Dia sebenarnya tidak mau mencari mate nya, tetapi pada akhirnya dia pun sadar jika dia butuh mate. Oh iya, dalam pencarian mate Paman Axele, dia dibantu oleh Paman Luc dan Paman Reynart, loh. Kami bertiga bersama dengan Bibi Frey datang ke dunia manusia.”
“Dunia manusia?” tanya Owen dengan kernyitan di dahi pemuda itu.
“Ya. Mate Paman Axele dulunya adalah seorang manusia. Sebenarnya dia half. Tapi karena insiden, nyawanya tak tertolong. Tetapi kini Paman Axele sudah memiliki mate nya lagi. Bibi Bella adalah wanita itu.”
Owen pun mengangguk paham. Luc sengaja tidak memberitahu perihal insiden di mana Celesse tiada dan Frey tertidur panjang.
“Paman Reynart. Menurutku di antara kami bertiga, dia lah orang yang paling bijak dan satu -satunya yang bisa mengendalikan Paman Luc dan Paman Axele. Meskipun dia bukan berasal dari keluarga kerajaan, tapi kesetiannya tidak bisa diragukan lagi, Owen.”
“Paman Reynart sangat suka dengan buku, sama seperti dirimu. Dia selalu memiliki pengetahuan yang luas di anatara kami bertiga.”
“Kalau begitu Paman Reynart adalah yang paling sempurna,” sahut Owen yang mendapat gelengan penuh dari Luc.
“Tidak juga. Hidupnya belum sempurna tanpa seorang mate. Hingga detik ini dia belum menemukan mate. Sudah beratus-ratus tahun lamanya, Owen. Dia mungkin tidak pernah bercerita kepada kami mengenai kesedihannya, tapi kami tau bila Paman Reynart sangatlah bersedih mengenai ini.”
Owen tertegun. Tak menyangka jika persahabatan ketiga orang ini benar-benar menakjubkan. Ada kelebihan dan kekurangan di antara mereka, tetapi ketiganya selalu bersama. Owen jadi iri, dia juga ingin memiliki sahabat seperti itu.
“Setelah mendengar ini, apakah kamu sudah berniat untuk membuka hati?” tanya Luc. Dia sengaja bercerita demikian untuk menyadarkan Owen. Untuk mencairkan es yang ada pada diri pemuda ini.
Owen menatap Luc penuh. Meskipun ragu, pemuda ini pada akhirnya mengangguk. Luc pun lega. Setidaknya dia bisa menyingkirkan satu sifat Kennard yang ada pada diri Owen.