Bagian 32

2336 Kata
“Jika tidak keberatan, bisakah aku mendapat sebuah tugas pertama di kerajaan ini?” ucap Owen kepada Kennard yang saat itu tampak sibuk di dalam ruangannya. Mendengar anaknya meminta tugas untuk pertama kalinya membuat Kennard terkejut. “Gelar pangeran tidak akan cocok jika si pelaku sendiri tidak melakukan tugasnya,” imbuh Owen memberitahu sekali lagi jika ia harus ikut bertanggung jawab sebagai seorang pangeran. Kennard terdiam, seperti mempertimbangkan tugas untuk putranya. Pria ini kemudian mengingat jika ada sedikit pertikaian kecil di salah satu desa yang ada di wilayah mereka. “Pergilah ke Desa Permata. Ada sedikit pertikaian kecil di sana. Aku dengar ada perselisihan tanah yang sampai saat ini belum juga menemukan titik terang.” “Baiklah. Kapan aku bisa berangkat?” “Itu terserah padamu.” “Kapan tenggang waktu yang aku miliki?” Kennard memijit pelipisnya. “Itu terserah padamu, Owen,” jawabnya. “Baiklah. Aku akan bicara dengan beberapa prajurit,” putus pemuda ini yang langsung pergi meninggalkan ruangan Kennard itu. Agata yang tadi kebetulan lewat sana pun tak sengaja melihat Owen yang baru saja keluar dari ruangan sang ayah. “Kak!” panggil gadis itu yang membuat langkah Owen berhenti dan langsung berbalik. Agata berlari kecil menuju ke tempat sang kakak. “Kak Owen mau ke mana?” tanya gadis ini. “bagaimana jika kita jalan-jalan di sekitar istana? Kata Paman di dekat sini ada air terjun yang bagus.” “Aku tidak bisa menemanimu sekarang, Agata. Ada tugas yang harus aku kerjakan,” tolak pemuda ini. “Tugas? Tugas apa?” “Aku akan pergi ke Desa Permata untuk menyelesaikan perselisihan di sana. Ini perintah raja,” ungkap Owen yang masih saja tak memanggil Kennard dengan sebutan ayah. “Oh. Oke. Baiklah. Kakak bisa pergi. Hati-hati.” Owen pun pergi meninggalkan sang adik dengan raut wajah Agata yang cemberut. Tentu saja gadis ini merasa iri ketika Owen mendapat tugas pertamanya sedangkan dia tidak sama sekali. “Jika dia mendapatkan tugas, kenapa aku tidak? Ya, aku juga harus menemui ayah,” ucap Agata lebih berani. Gadis ini berbalik dan langsung melangkah menuju ke ruangan Kennard. Pria yang tadinya sedang fokus itu pun mulai teralihkan lagi fokusnya karena mendengar pintu terbuka. Visual sang putri tampak di sana, Kennard tentu bingung. Tumben juga Agata menghadapnya. “Selamat pagi, Ayah,” sapa gadis ini. Meskipun Owen masih belum memanggilnya ayah, tetapi pria ini sedikit lega ketika sang putri masih menganggapnya ayahnya. “Pagi, Agata. Ada apa kamu ke mari?” tanya Kennard to the point. “Aku mendengar Ayah memberikan tugas kepada Kak Kennard. Jadi, aku pikir mungkin aku juga bisa mendapatkan tugas di sini.” Kennard jadi pusing sendiri ketika anak-anaknya menuntut sebuah tugas darinya. Owen menurutnya tidak masalah. Mengenai Agata, dia sendiri bingung tugas apa yang tepat untuk putrinya ini. Melihat tak ada jawaba dari Kennard membuat Agata jadi bingung. “Ayah? Apakah tidak ada tugas sama sekali untukku?” tanyanya hati-hati. Kennard menatap putrinya itu. “Agata. Maafkan aku. Untuk sekarang aku belum memiliki tugas untukmu. Tapi, bagaimana jika kamu tanya Ibu? Mungkin saja dia ada tugas untukmu,” ujar pria ini. Agata pun mengangguk paham. “Kalau begitu aku akan pergi menemui Ibu,” putus gadis itu yang disetujui oleh Kennard. “Alice,” panggil Kennard tepat ketika Agata pergi. “Ya?” “Agata akan menemui. Berikan dia tugas apa pun agar dia tidak kecewa.” “Oh, baiklah.” Kennard pun bisa melanjutkan pekerjaannya lagi sekarang. Langkah kaki Agata membawanya berkeliling kerajaan untuk mencari ibunya. “Permisi. Apakah kamu tau di mana Ratu berada?” tanya gadis ini kepada salah satu prajurit kerajaan. “Beliau sedang ada di gazebo, Putri,” jawab prajurit itu. Agata mengangguk dan langsung menuju ke tempat sang ibu berada. Dari kejauhan Alice melihat putrinya. Di gazebo yang baru Kennard bangun ini tampak Alice asyik berbincang dengan Frey. “Ada apa, Kak?” tanya Frey yang melihat senyum di wajah wanita itu. Alice menggeleng. “Tidak ada, Frey. Aku hanya tersenyum ketika mendapat pesan dari Kennard jika aku harus memberikan tugas kepada Agata.” “Tugas?” tanya Frey. “Ibu. Bibi.” Agata sudah sampai di gazebo itu. “Oh, hai, Agata. Kamu tampak semangat sekali pagi ini,” ucap Frey yang melihat suasana berbeda dari gadis itu. “Iya, Bibi,” jawab Agata. “Ibu. Aku disuruh Ayah menemui Ibu untuk meminta tugas. Apakah ada tugas untukku?” tanyanya kemudian. Frey pun mengernyit bingung, memilih untuk mendengarkan obrolan ibu dan anak itu. “Kenapa kamu meminta tugas dengan tiba-tiba seperti ini?” tanya Alice. “Kak Owen baru mendapat tugas pertamanya dari Ayah. Aku pikir sekarang aku juga harus melaksanakan tugasku sebagai putri di kerajaan.” Frey pun jadi paham sekarang. “Ibu belum memiliki tugas yang pas untukmu, Sayang. Tapi, kenapa kamu ingin sekali mendapatkan tugas? Tugas di istana ini berat-berat. Biasanya dilakukan oleh para pria seperti Ayah, Paman Luc, dan Kak Owen,” jelas Alice. Agata pun tersenyum kecut. “Kak. Berikan saja tugas kepada Agata untuk mengatur kebun?” usul Frey tiba-tiba. “Ah, iya, Ibu. Aku mungkin bisa melakukan itu,” sahut Agata yang kembali bersemangat. Alice pun tampak sedikit ragu. “Boleh kan, Bu?” pinta gadis ini dengan ekspresi yang ia buat sememelas mungkin. Alice pun menjadi tak tega melihatnya. Frey merasa terhibur melihat Alice yang tertekan melihat putrinya. “Baiklah. Kamu boleh mengambil tugas itu,” putus Alice. “Temui Kristo, dialah yang tau bagaimana mengelola kebun. Belajarlah darinya,” perintah wanita ini. Agata mengangguk paham. “Kalau begitu aku akan pergi sekarang,” ucap Agata yang dengan cepat pergi meninggalkan kedua wanita ini. “Tenanglah, Kak. Tidak akan terjadi hal buruk padanya. Toh Agata masih berada di dalam istana,” kata Frey bermaksud menenangkan sang kakak ipar. “Bagaimana dengan kandunganmu, Frey? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Alice yang selalu perhatian kepada adik iparnya ini. “Baik, Kak. Hanya saja aku sering mengantuk semenjak hamil ini,” ungkap Frey. “Oh iya, Kak Alice sudah tahu belum jika Bella ternyata hamil juga? Dan perutnya kata Luc sudah membesar.” Alice mengangguk. “Sudah. Perkembangan bangsa vampir memang lebih cepat di bandingkan kita, jadi itu wajar. Mungkin saja nanti Bella duluan yang akan melahirkan,” kata wanita ini. “oh iya, apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?” Frey menggeleng. Menurutnya ini terlalu dini jika memikirkan nama. Menjaga anaknya hingga lahir dengan semangat saja adalah hal yang Frey pikirkan. “Kak Alice aku ingin bertanya. Aku dengar Agata sedikit bermasalah pada wolf nya? Apakah itu benar?” Frey mendapatkan informasi ini dari Luc. Dan yang pasti Luc mendapatkan info itu dari Owen yang sekarang sudah semakin dekat dengannya. Alice tentu saja tidak tahu sama sekali mengenai hal itu. Dan Alice semakin merasa jauh dari sang anak. Hal yang paling menyakitkan bagi seorang ibu adalah ketika melihat anaknya lebih dekat dan bebas bersama dengan orang lain dari pada orang tuanya sendiri. *** Owen bersama dengan rombongan kecilnya pun menuju ke desa tujuan mereka. Kali ini dia menggunakan kuda sebagai kendaraan. Owen hanya membawa tiga prajurit saja bersama dengan dirinya. Kedatangan Owen di desa tersebut tentu membuat warga desa terdiam. Di perayaan saat itu mereka sudah mendengar dan turut hadir dalam perayaan, tetapi itu hanya di luar istana. Kali ini pertama kalinya mereka melihat pangeran dari dekat. Dan yang pasti rambut putih Owen menjadi perhatian orang-orang. Kemudian Owen berhenti di sebuah tempat, bukan rumah tetapi seperti tempat pertemuan di desa tersebut. “Bawa orang-orang yang berselisih paham itu ke sini,” perintah sang pangeran yang langsung dilaksanakan oleh warga desa. Dari sini semua tahu kedatangan sang pangeran ke desa mereka untuk apa. Mungkin untuk menyelesaikan perselisihan warga desa yang sudah berlangsung lama. Warga Desa Permata menjamu Owen dan rombongan dengan baik. Sembari menunggu orang-orang yang bersangkutan, Owen pun sedikit mengobrol dengan pemimpin di desa itu. “Sudah berapa lama perselisihan itu berlangsung?” tanyanya. “Sekitar lima tahunan, Pangeran.” “Selama itu dan kalian belum menemukan solusi? Sungguh memalukan,” kata Owen tanpa memfilter perkataannya. Sepertinya warga desa harus mulai terbiasa dengan Owen yang selalu ceplas-ceplos apa adanya. “Maafkan saya, Pangeran. Tapi orang-orang yang berselisih tidak mau berdamai dan akan terus mempertahankan tanah mereka.” Owen pun mengangguk. Dia akan segera menyelesaikan ini dengan cepat. Tugas pertama harus ia selesaikan dengan sempurna. Beberapa saat kemudian datanglah orang-orang yang sudah Owen tunggu sejak tadi. Sekitar empat orang menghadap pada dirinya saat ini. Ia pikir hanya dua orang saja tadinya. “Baiklah. Tanpa berbasa-basi lagi aku akan mengutarakan maksud kedatanganku ke sini. Aku ke sini dikirim oleh Raja Kennard untuk menyelesaikan perselisihan di antara kalian yang sudah terjadi bertahun-tahun. Apakah ada hal yang ingin kalian sampaikan sekarang?” Salah satu orang di depan Owen mengangkat tangannya. “Pangeran. Tanah milikku sebenarnya satu hektar, tapi dia telah memanipulasi dan malah menggunakan tanahku sebagai perkebunannya,” ujar orang ini sembari menunjuk salah satu dari mereka. “Itu tanahku, Pangeran. Aku membeli kepada dia dengan tunai,” sahut orang yang ditunjuk taadi sembari menunjuk orang lainnya. “Kau. Apa penjelasanmu? Apakah benar dia membeli tanah itu kepadamu?” tanya Owen  kepada pria ke tiga. “Benar, Pangeran.” “Tapi, pembelian itu tidak ada bukti apa pun, Pangeran. Jika Pangeran tidak percaya, tanyakan saja padanya,” sela orang pertama. Pandangan Owen pun beralih kepada orang ke dua tadi. “Itu benar, tapi tetap saja aku sudah membelinya, Pangeran. Tanyakan saja kepada dia. Dia adalah saksi mata jual beli itu,” jawab orang ke dua sembari menunjuk orang ke empat yang sejak tadi diam. “Benar, Pangeran. Itu terjadi sekitar hampir enam tahun yang lalu,” ungkap orang ini. Jadi permasalahan memang hanya ada pada dua orang, dan dua orang lainnya sebagai saksi. “Sekarang aku minta bukti-bukti perihal kepemilikan tanah kalian,” perintah Owen. Sekarang segala hal harus dibuktikan dengan hal yang tertulis. Orang pertama menyerahkan surat miliknya yang langsung diterima oleh Owen. Kemudian orang ke dua pun juga sama. Orang-orang di sana pun saling berbisik memperkirakan apakah permasalahan akan benar-benar selesai di tangan pangeran mereka. Seperti yang sudah-sudah, mungkin perselisihan akan terus berlangsung meskipun Owen sudah mengatakan keputusannya. Hal itu juga terjadi kepada Kennard kala itu. “Mana bukti pembelian itu?” tanya Owen kepada orang ke dua tadi. Terlihat orang itu kebingungan sembari melirik sang makelar tanah. Melihat kebingungan itu membuat Owen mengambil kesimpulan jika orang ini tidak memilikinya. “Kau tidak memiliki itu. Kau bisa mendapat masalah karena ini,” kata Owen . “Aku tidak diberikan nota itu oleh dia, Pangeran,” ungkap orang itu kepada si makelar. “Dulu memang aku tidak pernah membuat bukti pembelian karena hal itu menurutku tidak perlu dilakukan,” jelas si orang itu dengan tenang. Owen pun tertawa. “Apakah kau menganggap aku bodoh?” sindir Owen terang-terangan dengan senyum tipis miliknya. Hal ini membuat semuanya menjadi menarik, dan warga desa yang hadir tampak menyukai permainan pangeran mereka. “Tanpa bukti tidak ada yang namanya pembelian. Jika begini, seluruh tanah itu adalah milik dia,” ujar Luc sembari menunjuk orang pertama. “Itu tidak mungkin, Pangeran. Aku sudah membeli tanah itu,” sahut orang ke dua yang tidak terima dengan pernyataan Owen. “Jangan terlalu menggebu-gebu. Apa perlu aku permalukan kalian bertiga di depan seluruh warga desa ini?” ancam Owen yang malah membuat orang-orang itu tertegun di tempat mereka. Owen tahu ada kejanggalan di sini, apalagi ketika melihat surat-surat itu. Dan tentu saja interaksi ketiga orang tadi. Terutama antara orang ke dua dan ke tiga. “Katakan sejujurnya, maka aku akan membuat keputusan yang tepat untuk kalian. Jika tidak, terimalah konsekuensinya,” kata Owen sekali lagi. Terlihat warga di desa saling berbisik. Orang ke dua melirik si makelar tadi. Orang pertama malah bingung dengan situasi yang ia miliki saat ini. “Tidak mau bicara?” desak Owen. “baiklah. Aku yang akan tangani ini,” kata Owen yang mulai berdiri dari tempat duduknya. “Seluruh tanah di tempat itu adalah milik dia,” ungkap Owen menunjuk si orang pertama. Tentu saja semuanya terkejut, si orang pertama pun juga sama. “Dia memanipulasi surat-surat ini. Tapi ada detail kesalahan yang dibuat olehnya. Kop kerajaan tidak tertera dengan jelas, surat ini palsu,” lanjut Owen menuduh si makelar. “Itu tidak mungkin,” bantah sang makelar. Owen pun tertawa. Sudah ketahuan bersalah dan masih mau membela diri. “Surat-surat itu adalah asli,” katanya dengan tegas. “Cukup sudah. Persengkokolan ketiga orang ini mudah untuk aku baca. Kau dan kau adalah kaki tangan pria ini, kan?” tunjuk Owen kepada orang ke dua dan ke tiga tadi. “Kalian mengambil milik orang lain dan berani memanipulasi kerajaan. Jika Raja tau hal ini pasti dia akan sangat kecewa dengan warganya. Apakah tidak cukup bagi dirimu mendapat bantuan dari kerajaan?” Owen tahu jika kerajaan juga membantu warganya. Kennard selalu memastikan agar warganya tetap damai dan tentram. Tetapi ketika melihat hal seperti ini terjadi di wilayahnya, mungkin Kennard akan kecewa. “Apakah yang Pangeran katakan adalah benar?” tanya sang pemimpin desa. “Kalian bertiga benar-benar membuat kami semua malu,” hardiknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh warga desa. Owen mengangkat tangannya, meminta semuanya untuk tetap tenang. “Aku akan membuat keputusan mengenai ini,” ucap Owen dengan serius. “Untukmu, karena semua tanah ini adalah milikmu, maka seluruhnya akan kembali kepadamu,” ucap Owen kepada si orang pertama. “Semuanya? Apakah itu benar, Pangeran?” tanya orang itu dengan ekspresi tak percaya. Owen mengangguk membenarkan. “Tapi, jika kau ingin menyumbangkan beberapa tanah itu untuk kesejahteraan warga desa aku akan sangat menghargai keputusan itu,” tutur Owen. Terlihat si orang pertama mempertimbangkan usulan Owen ini. “Baiklah, Pangeran. Aku akan tetap mempertahankan satu hektar tanah milikku itu, sedangkan sisanya akan dipergunakan untuk perkebunan dan pertanian warga desa.” Semua orang pun tampak bergembira, tetapi tidak dengan ketiga orang tadi. “Untuk kalian yang tak ingin jujur dan mengakui kesalahan, datanglah ke istana besok,” perintah Owen. ketiga orang itu pun mengangguk dengan berat hati. Mereka akan mendapatkan hukuman nantinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN