Kabar mengenai Owen yang berhasil menyelesaikan masalah di Desa Permata pun menyebar dengan cepat di kerajaan. Tentu saja ini pencapaian yang bagus karena Kennard saja tidak bisa menyelesaikan hal di sana karena orang-orang itu selalu punya cara sendiri untuk melawan dirinya.
Owen langsung menghadap ke tempat raja. “Salam, Raja,” ucap Owen pertama kali. Sikapnya masih sama seperti mereka adalah orang asing. Kennard mengangguk menyambut putranya itu.
“Aku sudah mendengarnya. Kamu berhasil menyelesaikan tugas pertamamu dengan baik. Itu bagus,” puji Kennard. Owen tak langsung berbangga hati, dia hanya mengangguk mendengarkan perkataan sang ayah.
“Orang-orang di sana telah memalsukan dokumen surat tanah. Selama hampir lima tahun mereka telah membodohi semuanya dan menggunakan hak orang lain demi kepentingan diri sendiri,” jelas Owen. “dan aku juga sudah meminta mereka datang ke sini besok untuk menerima hukuman,” lanjut pemuda itu.
Kennard pun nampak lega ketika melihat kemampuan Owen yang begitu baik. Dia yakin di masa depan nanti sang putra bisa menyelesaikan segala hal yang menyangkut kesejahteraan orang banyak.
“Baiklah. Kamu bisa kembali ke tempatmu, Nak,” perintah Kennard. Owen pun pamit undur diri saat itu juga.
Ketika keluar dari ruangan Kennard, pemuda ini bertemu dengan Alice dan Frey. Sepertinya kedua wanita ini juga tahu mengenai keberhasilan Owen di desa itu. Alice langsung menghampiri putranya dengan senyum bangga di wajah cantik wanita itu.
“Bagaimana dengan tugas pertamamu, Nak? Ibu dengar kamu telah berhasil menyelesaikan masalah di sana. Ibu benar-benar bangga.”
“Mereka hanya perlu diberi pelajaran saja. Dan juga kita harus lebih teliti lagi untuk menyelesaikan masalah di wilayah kita.”
Alice dan Frey sama-sama setuju dengan perkataan Owen itu. “Baiklah. Kamu istirahatlah di kamar. Pasti kamu sangat lelah,” ujar Alice penuh perhatian.
“Aku baik-baik saja, Bu. Di mana Agata?” tanya Owen karena tak melihat sang adik.
“Karena melihatmu melakukan tugas pertama, dia juga ingin mendapat tugasnya. Jadi, Kak Alice memberikan dia tugas untuk mengurus kebun istana. Dan sepertinya dia masih berada di kebun saat ini,” jawab Frey mewakili. Owen pun mengangguk paham.
“Kalau begitu aku akan pergi sekarang,” pamit pemuda ini dan berlalu untuk menyusul sang adik.
“Hubungan kedua anak itu benar-benar sangat erat, Kak,” kata Frey sembari menatap kepergian sang keponakan.
“Kamu benar. Itu karena mereka sudah bersama sejak masih kecil,” balas Alice.
“Aku berharap anak-anakku juga memiliki hubungan yang erat satu sama lain seperti Agata dan Owen.”
Alice pun tersenyum kecil. Dia mengusap perut Frey itu. “Tentu hal itu pasti terjadi. Dan mereka pasti akan jadi anak yang baik hati seperti kalian berdua.” Frey pun tersenyum senang mendengar Alice.
Owen berjalan menuju ke kebun istana. Dari jauh dia melihat sang adik sedang berbicara dengan seorang pemuda yang baru ia lihat di kerajaan mereka. Dengan segera Owen pun menghampiri mereka.
“Agata,” panggil pemuda ini yang berhasil membuat keduanya sama-sama menoleh. Melihat Owen yang sudah pulang membuat Agata pun tersenyum senang. Gadis itu berlari kecil menuju ke tempat Owen dan langsung memeluk kakaknya itu.
“Kak Owen sudah pulang? Bagaimana tugas pertama? Apakah menyenangkan? Sekarang aku juga memiliki tugas di istana ini, Kak. Aku ditugaskan untuk mengurus kebun. Oh iya, dan aku juga mempunyai teman baru namanya Kristo. Ayo, biar Agata kenalkan Kristo kepada Kak Owen,” ucap gadis ini dengan penuh semangat. Bahkan gadis ini langsung menarik tangan Owen ke tempat Kristo berada.
“Kristo. Perkenalkan ini kakaku. Kak Owen, perkenalkan ini Kristo.”
“Salam, Pangeran,” sapa Kristo menunduk hormat. Bisa dilihat jika Kristo ini memiliki umur yang mungkin sama seperti Agata dan Owen. Owen hanya mengangguk untuk menjawab sapaan pemuda itu.
“Apa saja yang kamu lakukan di kebun?” tanya Owen kepada sang adik.
“Kristo mengajakku berkeliling. Dia memberitahuku banyak info mengenai kebun di istana dan apa saja yang harus aku perhatikan. Kristo benar-benar pembimbing yang baik. Oh iya, bagaimana dengan tugas pertama Kak Owen? Apakah semuanya lancar?” tanya Agata balik.
“Semuanya lancar. Aku sudah menyelesaikan permasalah di Desa Permata. Dan orang-orang yang bersalah besok akan mendapat hukuman,” jawab Owen.
“Desa Permata? Apakah ini mengenai perselisihan tanah itu, Pangeran?” sela Kristo kala itu. Owen pun mengangguk, Agata hanya menyimak obrolan mereka. “Itu sudah terjadi lama, dan Raja belum bisa menyelesaikannya. Mendengar Anda telah menyelesaikannya dengan baik membuat saya lega. Mungkin jika permasalahan tak kunjung selesai, perpecahan akan terus terjadi di desa itu.”
“Kau benar, Kristo. Sebenarnya hanya beberapa yang bersalah, tetapi warga desa mungkin ada yang ikut terpengaruh dan terjadilah perpecahan. Tapi, untunglah aku sudah menyelesaikan semuanya,” sahut Owen.
“Kak Owen keren,” puji gadis itu. Owen pun tertawa melihat respon sang adik.
“Hei, apakah kamu sudah selesai dengan tugasmu? Bukankah tadi pagi kamu ingin jalan-jalan?”
Mata Agata pun berbinar bahagia. Gadis ini mengangguk. “Tapi, apa Kak Owen tidak lelah?” tanyanya dengan hati-hati. “Kita bisa jalan kapan-kapan saja, Kak. Kak Owen baru pulang, pasti akan sangat lelah jika pergi sekarang.”
Agata adalah sosok adik yang pengertian. Tetapi, Owen jauh lebih pengertian kepada sang adik. “Tidak apa-apa, Agata. Aku baik-baik saja dan tidak lelah sama sekali,” ucap pemuda ini.
Kemudian atensi Agata beralih kepada Kristo. Pemuda yang baru dia temui hari ini, tetapi sangat baik memperlakukannya. “Kristo. Terima kasih ya untuk pelajaran hari ini. Besok kita bertemu lagi, kan?” ucap Agata yang diangguki oleh pemuda itu. Selanjutnya atensi Agata beralih kepada Owen. “Ayo, Kak kita berangkat sekarang,” ajaknya.
Owen dan Agata berjalan menjauhi area kebun. Pandangan Kristo tertuju kepada kedua anak kembar itu, lebih tepatnya kepada sosok sang putri yang baru bisa ia temui hari ini.
Dan seperti biasa, Agata akan naik ke punggung Crush. Agata merasa senang ketika angin saling bertabrakan dengan rambutnya. Crush berlari begitu cepat hingga mereka sudah sampai di air terjun hanya dalam beberapa menit saja.
Ketika menginjakkan kakinya di batu besar yang ada sekitar air terjun, Agata terlihat takjub. “Kak. Bukankah dulu kita tidak pernah bermain hingga ke tempat ini? Kenapa aku baru tau jika di wilayah kita ada air terjun yang sangat cantik?” ucap Agata kepada Owen kala itu, namun pandangannya tetap menujurus ke air terjun yang terpampang di depan mata.
Owen terkekeh mendengar pertanyaan sang adik. Tentu saja dulu mereka tidak diijinkan keluar kerajaan terlalu jauh. Jikalau keluar pun, mereka harus ada yang mengawal. Itu semua karena keduanya masihlah sangat kecil.
“Kita dulu terlalu kecil, Agata. Tentu saja kita tidak boleh ke tempat yang terlalu jauh dari kerajaan,” jawab Owen. Sang adik hanya bisa mengangguk paham di sana.
Agata dan Owen pun duduk di batu besar tadi. Mereka memasukkan sebagian kaki mereka ke air. Rasa dingin dan segar langsung menembus kulit mereka. Agata tak henti-hentinya tersenyum. Hal itu membuat Owen merasa lega.
“Kak. Hari ini untuk pertama kalinya selain di sekolah aku memiliki seorang teman. Bolehkah aku berteman dengan Kristo?”
Ini bukan kali pertama Agata meminta ijin kepada sang kakak. Itu sudah menjadi kesepakatan mereka. Tentu saja Owen akan menyeleksi orang-orang yang ingin berteman atau mendekati adiknya.
“Jika dia membuatmu nyaman, selama itu bukan hal buruk, maka aku akan ijinkan. Lagi pula dia juga berada di istana, jadi aku tidak akan terlalu khawatir,” balas Owen. Agata pun merasa senang ketika mendapat ijin itu.
“Lihatlah, Ken. Owen bisa menyelesaikan tugas pertamanya dengan baik. Tugas itu juga sudah kamu tangani bertahun-tahun lamanya. Mari kita mulai memikirkan pengangkatan raja yang baru,” ujar Alice yang langsung mendapat perhatian penuh dari suaminya. Pasangan ini sedang berada di dalam kamar mereka untuk berisitirahat. Dan seperti biasa, Alice baru memiliki kesempatan menjelang tidur untuk bicara dengan suaminya.
“Aku tidak bisa melakukan hal itu secepat ini, Alice. Kita harus melihat perkembangan Owen lebih dulu. Setelah aku merasa dia sudah mampu, maka aku akan berikan tahta ini,” jelas Kennard.
Alice tentu sedikit kurang setuju dengan keputusan Kennard, akan tetapi dia hanya bisa menuruti perkataan sang raja.
“Jika demikian, bagaimana jika kamu mulai pendekatan dengan anak-anak?” usul Alice.
“Sedang aku usahakan,” jawab Kennard yang tak begitu bersemangat.
“Agata perlahan bisa nyaman denganku. Aku yakin kamu juga bisa mendapatkan itu, Ken.”
Tatapan Kennard tertuju penuh kepada mate nya itu. Kemudian embusan napas keluar dengan kasar dari hidung pria ini. “Untuk Owen, itu tidak mudah. Beberapa hari ini aku mulai menyadari dan paham kenapa dia bersikap demikian. Itu semua karena keputusanku di masa lalu. Tapi, aku memiliki pembelaan mengenai itu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Aku ingin menjaga semuanya tetap aman.”
Alice yang mendengar perkataan Kennard pun mulai menyadari jika sang suami mungkin telah sadar sekarang akan kesalahan mereka di masa lalu. “Jika tidak keberatan kita bisa mengambil liburan. Serahkan tugas kerajaan sementara kepada Luc. Aku rasa kita sudah lama sekali atau malah belum pernah berlibur bersama.”
Mendengar usulan Alice membuat pria itu terdiam. Itu sebenarnya ide yang bagus, tapi lagi dan lagi Kennard masih mengkhawatirkan kerajaannya. “Aku akan memikirkannya lagi,” jawab pria ini mengambil jalan aman.
***
Keesokan harinya benar kata Luc jika kerajaan kedatangan tiga orang warga Desa Permata yang dinyatakan bersalah kemarin. Tentu mereka akan berkunjung ke sana untuk menerima hukuman. Kabur pun akan percuma karena mereka mungkin akan mendapat masalah yang jauh lebih besar lagi. Tiga orang itu dibawa ke aula utama. Di saja juga ada keluarga kerajaan lainnya.
Kennard memperhatikan orang-orang yang sudah membohonginya itu. Tak menyangka jika dia ditipu oleh hal seperti ini. “Sejujurnya aku benar-benar kecewa dengan masalah ini,” ucap Kennard pertama kali. “Tapi, hukuman tetap harus dijalankan untuk menjaga keseimbangan hubungan antar warga.”
“Dan karena sang Pangeran lah yang mengungkap semuanya, maka aku memberikan dia hak penuh menentukan hukuman apa yang pantas,” ujar Kennard kala itu. Owen yang mendapat hak itu pun tampak terdiam. Akan tetapi semua mata tertuju kepada pemuda ini, menunggu apa yang akan Owen katakan sebentar lagi.
“Kejahatan kalian sudah merugikan banyak orang. Untuk hukuman, tentu aku tidak akan memberikan hukuman fisik. Kalian akan menjadi pekerja di dalam istana bagian kebun. Kalian harus mengabdi dengan kerajaan seumur hidup kalian,” tutur pemuda itu.
Mendapat hukuman yang tidak begitu berat itu membuat ketiganya tampak lega. Tak lupa pula mereka berterima kasih kepada Owen. Akan tetapi keputusan Owen sebenarnya kurang Kennard setuju. Tetapi karena dia sudah terlanjur memberikan hak itu kepada sang putra, maka Kennard pun harus menerimanya.