Kedatangan Owen bersama dengan Frey menjadi sorotan di pesta itu. Owen yang memiliki pengendalian diri yang baik pun mencoba untuk terus berjalan santai bersama dengan Frey. Di sana Frey menampilkan senyum terbaiknya dan terus mendampingi Owen seperti janjinya.
Kemudian mereka pun sudah sampai di depan Kennard, Alice, dan Agata. “Sudah sampai. Bibi akan ke tempat Paman Luc,” ujar Frey kepada Owen. Terpaksa Owen membiarkan sang bibi pergi.
“Sepertinya acara bisa kita mulai, Ken,” kata Alice kala itu. Kennard mengangguk dan langsung membuka perayaan saat itu.
“Di mana kamu menemukan dia?” bisik Luc kepada Frey.
“Di taman. Dia sepertinya ragu untuk ke perayaan, Luc. Dia khawatir dengan tanggapan orang-orang setelah melihat rambutnya,” ungkap Frey. Mata kedua orang ini tertuju ke depan, di mana Kennard masih mengatakan sambutannya.
“Kasihan juga melihat dia. Tapi, Frey, apa mungkin inilah alasan Owen bersikap dingin kepada keluarganya sendiri?”
Frey reflek menoleh, itu bisa benar juga. “Entahlah, Luc. Tadi, aku melihat tatapan Owen. Entah kenapa aku melihat dia seperti pemuda pada umumnya. Dia juga bisa merasakan khawatir dan kegelisahan lainnya. Di satu sisi, egonya sangat tinggi. Ini seperti benar-benar menyiksanya.”
“Kamu berbicara seolah dia seperti anak kita, Frey,” sahut Luc yang mengundang tawa Frey kala itu.
“Itu tak masalah bagiku. Beberapa hari ini aku dekat dengan Agata, rasanya memiliki anak perempuan sangat bagus, Luc. Tapi, anak laki-laki juga bagus, kan?”
Luc mengangguk setuju. Mereka kembali fokus dengan acara. Owen tentu gelisah ketika indra pendengarnya sebagai werewolf mampu menangkap bisikan-bisikan tamu. Tentu saja mereka mempermasalahkan mengenai warna rambut Owen kala itu.
“Mate.”
“Diam, Crush,” sentak Owen di dalam pikirannya.
“Dasar, bodoh. Apa kau tidak mencium bau mate kita?”
Owen mengernyit. Dia mengendus-endus di udara. “Aku tidak mencium apa pun,” jawab Owen.
“Ini efek buruk dari rambut putih itu, Owen. Kau … tidak bisa mencium bau mate kita.”
“Sungguh omong kosong, Crush,” sahut Owen.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Yang jelas mate ada di tempat ini.”
Mengabaikan Crush, sekarang giliran Owen untuk menyampaikan sepatah dua kata. Meskipun gugup, pemuda ini sekali lagi bisa mengendalikannya.
“Perkenalkan, namaku Owen. Terima kasih sudah datang ke sini untuk memenuhi undangan kerajaan. Silakan nikmati hidangan yang ada, dan bersenang-senanglah.”
Sambutan yang aneh, tetapi mereka tetap bertepuk tangan untuk sang pangeran. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemotongan kue. Ini sama seperti perayaan di dunia manusia pada umumnya. Owen dan Agata berdiri di masing-masing sisi kue besar di depan mereka. Kue tersebut adalah pilihan Alice sendiri. Setelah pemotongan kue, dilanjutkan dengan pesta dansa. Owen tak ingin berlama-lama di tempat itu, dia langsung meninggalkan aula. Frey yang melihat Owen pergi segera menyusul pemuda itu setelah ijin kepada Luc.
“Owen!” panggil Frey yang berhasil menghentikan langkah pemuda itu. Frey berlari kecil untuk sampai di tempat Owen berada. “Kamu mau ke mana? Acara masih belum selesai. Kamu harus menyambut tamu-tamu. Berbaurlah, temukan teman di sana,” nasihatnya.
Owen menggeleng. “Aku akan ke kamar, Bi. Aku tidak menyukai pesta. Aku menyetujui pesta ini untuk kebahagiaan Agata,” ungkap Owen jujur. Frey tak percaya jika pemuda ini malah berkata jujur kepadanya, ya meskipun ini sedikit terdengar jahat.
“Cobalah untuk mencari teman, Owen. Itu tidak ada salahnya.”
“Tidak, Bi. Aku mendengar bisikan-bisikan mereka yang mengolokku karena rambut ini. Sejak lama aku tidak percaya dengan sebuah hubungan pertemanan.”
“Kamu aneh, Owen. Kamu belum mencoba, dan kamu sudah menyimpulkan hal itu. Paman dan Bibi bahkan berteman dengan seorang wizard serta raja dan ratu kerajaan vampir. Berteman dengan berbeda bangsa itu menyenangkan. Kita bisa tau banyak hal dan bercerita banyak hal juga. Kita juga bisa membagi kebahagiaan dan kesedihan itu bersama-sama. Kamu harus mencobanya.”
Owen menatap Frey penuh. “Aku tidak ingin merusak pertemanan di masa depan. Menyakiti orang lain karena kekuranganku ini. Aku tidak ingin. Akan lebih baik jika aku tinggal sendirian.”
Perkataan Owen ini membuat Frey benar-benar prihatin. “Owen—”
“Bi. Aku akan pergi sekarang. Bibi kembalilah ke pesta.”
Belum juga Frey menjawab, pemuda itu berbalik dan langsung pergi begitu saja. Frey menatap Owen dengan sedih.
Owen ternyata tidak menuju ke kamar, dia malah kembali ke taman tadi. Taman itu memang sepi karena bukan taman utama kerajaan. Owen kembali menikmati kesendiriannya. Seperti sejak awal, kembalinya Owen ke sini demi sang adik. Dia terlalu sayang kepada Agata. Karena hanya Agata yang sejak dulu selalu di sampingnya. Dan juga, Owen merasa bertanggung jawab untuk menjaga adiknya.
“Sepertinya perkataan Bibi ada benarnya, Owen.”
Crush kembali muncul. “Aku tidak ingin berteman dengan siapa pun, Crush,” tolak Owen selalu.
“Bagaimana dengan mate? Aku mencium baunya, meskipun sedikit samar. Tapi, aku yakin dia ada di sana.”
“Untuk satu itu, aku juga tidak ingin,” balas Owen.
“Hei! Apa maksud perkataanmu itu?!” sahut Crush dengan nada tinggi.
“Aku tidak ingin bersama dengan mate,” ungkap Owen terang-terangan dan berhasil membuat serigala itu marah.
“Jika kau tidak ingin bersamanya, maka diamlah. Aku butuh mate. Aku butuh dia,” kata Crush.
“Memiliki mate akan berbahaya untuk kita.”
“Dasar bodohh,” omel Crush. “Kau hanya bisa membahayakan diri kita sendiri. Tanpa mate, kita tidak bisa hidup.”
“Kita bisa hidup, meskipun tanpa mate.”
“Cukup, Owen. Kau benar-benar membuat aku narik darah. Jika kau tidak menginginkan mate, tidak apa-apa. Biar aku saja yang memilikinya. Sekarang, mari bertukar, karena hanya sisi serigalamu saja yang bisa merasakan mate.”
Owen mendengkus. Dia pun akhirnya mengalah dan membiarkan Crush mengambil alih kendali tubuhnya. Owen memilih untuk tidur saja malam ini. Crush pun kembali masuk ke dalam pesta. Kedatangan Owen yang dalam kendali Crush ini membuat Frey terkejut.
“Owen? Bukannya katanya kamu ingin kembali ke kamar?” tanya Frey.
Crush tersenyum. “Aku berubah pikiran, Bibi,” sahut Crush. Melihat ekspresi wajah Owen yang berbeda tentu membuat Frey curiga.
“Kamu … bukan Owen, kan?” bisiknya pelan.
Crush pun tertawa. “Maafkan aku, Bibi. Sepertinya Bibi tidak mudah untuk dibohongi. Baiklah, biarkan aku memperkenalkan diri secara formal. Perkenalkan, aku Crush. Aku adalah sisi wolf Owen. Sekarang dia sedang tidur di dalam sana.”
Frey pun mengangguk paham. Jadi sisi wolf Owen lebih mudah menampilkan ekspresinya sekarang dibandingkan Owen yang sedikit tertutup.
“Baiklah, Crush. Senang bisa berkenalan denganmu.”
“Terima kasih, Bibi. Oh iya, jika tidak keberatan aku akan pergi menyapa tamu-tamu.”
Frey mengangguk setuju, dia mempersilakan Crush untuk melakukan perannya. Dari jauh Kennard melihat Owen yang menghampiri satu per satu tamu pun terlihat sedikit lega. Setidaknya putranya masih bisa tahu bagaimana melayani tamu.
“Aku dengar Anda bersekolah di sekolah terbaik, Pangeran?” salah satu gadis yang hadir di sana mengajukan pertanyaan kepada Crush kala itu.
“Ya, kamu benar.”
“Wah, ini terdengar menakjubkan.”
Crush hanya menanggapi dengan senyuman di sana. “Bagaimana dengan mate? Apakah Pangeran sudah menemukannya?”
“Belum.”
“Sangat disayangkan.”
Crush pun tersenyum canggung. Kemudian, aroma itu tiba-tiba datang lagi. Ini adalah aroma mate nya. Meskipun tidak begitu kuat, tetapi Crush yakin jika ini adalah sang mate. Crush pada akhirnya melepaskan diri dari obrolan itu. Dia berjalan menuju ke pintu keluar. Ternyata di luar banyak orang yang ikut merayakan pesta tersebut.
Kehadiran Crush tentu membuat orang-orang itu saling berbisik. Crush mencoba mengabaikan karena fokus utamanya adalah sang mate saat ini.
Hingga, mata Crush berhenti pada satu titik. Seorang gadis dengan dress putihnya terlihat sedang sibuk mengamati kue apa yang akan ia nikmati. Crus dengan langkah lebar segera menghampiri gadis itu.
Crush menepuk pundak gadis ini dengan lembut. Si gadis yang terkejut pun langsung menoleh. Dia juga terkejut ketika mendapati Owen di depannya. “Ya?”
Crush merasa terpana karena bisa berhadapan dengan mate saat ini. Rambut gadis itu tampak cantik ditata sedemikian rupa. Dan riasan tipisnya semakin membuat aura kecantikannya terlihat di mata Crush. Benar-benar gadis yang sempurna.
Crush mengulurkan satu tangan untuk gadis itu gapai. Si gadis pun menjadi bingung. “Bolehkah kita berdansa bersama?” tanya Crush. Terlihat gadis ini terkejut karena diminta berdansa dengan sang pangeran.
Meskipun ragu, gadis ini tetap menerima uluran tangan Crush itu. Crush langsung membawa si gadis untuk berdansa bersamanya. Terlihat sang gadis sedikit malu-malu karena mereka menjadi bahan perhatian.
“Ada apa dengan Owen?” tanya Luc.
“Mungkin dia mau berteman dengan gadis itu,” jawab Frey. Kennard dan Alice juga melihat tingkah sang putra.
“Tapi … apa kamu tidak tau siapa gadis itu?” tanya Luc. Frey menggeleng. “Dia Putri Iris,” jelas Luc yang mengundang pelototan dari Frey. “Tidak perlu melolot seperti itu, Frey. Toh mereka hanya berteman,” kata Luc yang menertawkan ekspresi sang mate.
“Tapi … dia bukan seorang gadis. Dia seorang wanita yang berumur.”
“Tapi tubuhnya terlihat mungil dan seperti gadis pada umumnya,” komentar Luc yang mengundang tatapan sinis dari Frey.
“Siapa namamu?” tanya Crush ketika dia sedang melakukan dansa bersama dengan Iris.
“Iris,” jawabnya malu-malu.
“Nama yang cantik. Aku menyukainya.” Iris mengernyit ketika mendengar respon aneh pangeran kerajaan werewolf itu. “Selamat datang di kerajaan werewolf, Iris. Aku harap kamu bisa menikmati momen bersama denganku.”
“Eh?”
“Jangan terkejut. Nanti aku akan perkenalkan kepada mereka.”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” sahut Iris.
“Kita adalah pasangan mate.”
“Apa?!”
Pekikan Iris ini mengakhiri dansa mereka. Karena pekikannya cukup keras, maka semua orang pun menoleh kepada mereka. Iris menutup mulutnya. Ekspresi terkejut Iris malah membuat Crush terhibur. Namun, pekikan Iris tentu membangunkan Owen yang sedang tidur. Tentu pemuda itu tak tahu apa yang sedang Crush lakukan.
“Kamu membuat kita menjadi pusat perhatian, Iris,” bisik Crush. Tahu jika dia bersalah, Iris pun menunduk malu. “Ayo, kita harus umumkan hubungan ini,” ucap Crush yang langsung menggandeng tangan Iris menuju ke tempat Kennard dan Alice. Luc dan Frey pun akhirnya sedikit mendekat ke tempat Kennard dan Alice.
“Ayah, Ibu.”
Kali pertama Owen memanggil ayah pasti membuat Kennard terkejut. Ya tentu saja hal itu pasti terjadi, karena yang di depannya saat ini adalah Crush. “Ada apa, Owen?” sahut Kennard.
“Dia Iris. Dia mate ku, Yah.”
“APA?!”
Sepertinya baik Kennard, Alice, Luc, dan Frey sama-sama terkejut setelah mendengar pernyataan pemuda ini. Respon mereka membuat Crush mengernyit bingung.
“Apa yang kau lakukan bodoh!” tegur Owen yang sama terkejutnya dengan mereka.
“Oh, kau sudah bangun? Aku sudah menemukan mate kita,” jawab Crush dalam pikirannya.
“Ya, aku melihatnya. Aku melihat kebodohanmu selanjutnya. Cepat selesaikan ini,” perintah Owen yang langsung menutup akses bicara mereka.
“Owen. Apa kamu yakin dengan semua ini?” tanya Alice memecah keterkejutan itu.
“Aku yakin, Ibu.” Tentu Crush semakin bingung. Seolah-olah mereka tidak percaya dengan fakta baru yang Crush umumnkan.
“Apakah kamu tau siapa dia?”
“Tau. Dia Iris. Dia mate ku,” jawab Crush percaya diri.
“Putri Iris. Putri dari kerajaan wizard,” jelas Alice lebih rinci. Crush pun menoleh, mate nya seorang putri? Akan tetapi Crush tak masalah, dia juga seorang pangeran, kan?
“Itu bagus, Bu. Kita bisa langsung bicara tentang pernikahan kepada raja dan ratu kerajaan wizard.”
“Tunggu dulu, Owen,” cegah Alice. Wanita ini beralih kepada Iris yang sejak tadi diam, dia sepertinya bingung. “Putri … tidakkah kamu ingin mengatakan penjelasan lebih dulu?”
Iris mendongak, menatap setiap pasang mata yang menatapnya. Kemudian tatapannya berhenti pada Owen saat itu. Dia langsung melepaskan tautan tangan mereka. Respon Iris membuat pemuda itu bingung. “Aku sudah memiliki mate.”
Bola mata pemuda ini pun membulat sempurna. Tidak mungkin. Kenapa dia memiliki mate yang sudah memiliki mate?