“Aku sudah memiliki mate.”
Bola mata pemuda ini pun membulat sempurna. Tidak mungkin. Kenapa dia memiliki mate yang sudah memiliki mate?
"Kak ... sebaiknya kita membicarakan hal ini nanti saja. Tidak enak dengan tamu-tamu yang hadir sekarang," sela Frey.
"Iya, Kak. Benar kata, Frey."
"Iris. Ada apa ini?"
Raja wizard yang mendengar jika sang putri memiliki masalah pun langsung menghampirinya.
"Maaf, Raja. Kita akan jelaskan nanti," jawab Luc memberi pengertian. "Kak. Sebaiknya Kak Kennard, Kak Alice, dan Owen bawa raja dan ratu wizard ke ruangan Kak Ken. Untuk para tamu biar Luc dan Frey yang urus."
Luc harus mengambil tindakan cepat. Dia tak ingin kerajaan di cap buruk. Kennard mengangguk setuju. Dia memimpin jalan menuju ke ruangannya. Iris tentu saja ikut bersama mereka. Luc dan Frey mau tidak mau harus menenangkan tamu-tamu.
"Ada apa dengan mereka?" bisik Bella kepada Axele. Tentu saja kedua orang ini juga melihat ada hal yang tak beres. Axele yang memiliki ketajaman pendengaran pun tampak tahu bila putra Kennard menemukan mate nya. Dan dia tak menyangka jika mate Owen adalah Iris. Apa mungkin ini adalah jawaban doa-doa wanita itu?
"Luc," panggil Reynart yang sejak tadi ingin bertanya apa yang telah terjadi. Luc pun menghampiri sahabatnya itu sedangkan Frey mencoba mengalihkan perhatian beberapa tamu. Kedua orang ini bekerja sangat keras di pesta tersebut.
"Rey, aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak. Jika tidak keberatan, tolong bantu aku mengalihkan perhatian tamu-tamu ini," kata Luc dengan cepat. Pria ini hendak pergi, namun Reynart dengan cepat mencegahnya.
"Tunggu, Luc. Jelaskan dulu kepadaku."
"Singkatnya begini. Owen menemukan mate nya, dan dia adalah Putri Iris." Reynart terkejut bukan main. "Aku tau kau terkejut. Mereka sedang membicarakan hal ini di ruangan Kak Kennard. Untuk sekarang, tolong bantu aku, Luc."
Reynart mengangguk. Kedua pria itu pun bergerak ke tempat mereka masing-masing. Melihat kedua temannya sibuk membuat Axele jadi tak tega. Pria ini pun menatap Bella yang duduk di sebelahnya. "Sayang ... kamu diamlah di sini dulu. Aku harus bicara dengan Luc. Tidak apa-apa, kan?"
Bella mengangguk. Axele mulai bergerak ke tempat Luc berada. Pria itu menepuk pundak Luc pelan membuat sang empu menoleh. Melihat Axele membuat Luc tau jika pria ini pasti akan bertanya hal sama seperti Reynart tadi.
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang, Axele. Aku sibuk. Bisakah kau menunggu sebentar?" kata Luc langsung.
Axele terkekeh melihat respon tanggap sahabatnya. "Aku tau yang terjadi tadi. Dan ya, aku butuh penjelasan. Tapi, kedatanganku sekarang ingin mengajukan diri untuk membantu. Apa yang bisa aku bantu?"
Luc bernapas lega, bersyukur dia memiliki teman-teman yang baik. "Terima kasih. Sekarang aku sedang mengalihkan perhatian para tamu. Jika tidak keberatan, kamu bisa membantuku."
Axele mengangguk. "Baiklah, akan aku lakukan."
Saat Luc dan teman-temannya sibuk dengan para tamu, terlihat rombongan Kennard sudah duduk rapi di kursi yang ada di dalam ruangan pria itu. Iris masih saja menunduk, lebih kepada bingung sebenarnya. Kernyitan terlihat jelas di dahi Owen alias Crush yang tak menyangka tentang fakta baru sang mate.
"Sebelumnya kami minta maaf karena telah melibatkan raja dan ratu dalam insiden tadi," awali Kennard. Crush tentu kurang suka dengan permintaan maaf tersebut. Karena dia merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan di sana.
"Terus saja dengan kebodohanmu itu, Crush. Itu memang salahmu." Owen kembali memaki sang wolf. Tak menanggapi Owen, Crush tampak lebih tertarik dengan hal yang terjadi di ruangan ini.
"Tidak apa-apa, Raja. Kami hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya."
Kennard mengangguk. Sebelum itu pria ini menatap Alice lebih dulu seperti sedang meminfa persetujuan. Kemudian terlihat Alice yang mengangguk di sana. Apa yang sedang pasangan ini bicarakan? Tentu saja hanya mereka yang tau.
"Begini, Raja. Pangeran baru saja mengatakan kepada kami jika dia telah menemukan mate. Dan entah bagaimana, mate nya adalah Putri Iris."
Keterkejutan berada di wajah raja dan ratu. Iris tau jika ini mungkin akan menjadi masalah besar untuknya. "Tapi ... bagaimana ini mungkin?" sahut sang raja. Untuk hal tersebut, semua orang di dalam ruangan ini juga tak memiliki jawaban. Crush dibut frustasi akhirnya.
"Sepertinya kita harus memanggil Wizard Berta, Raja. Mungkin dia tau jawaban dari kebingungan kita," usul Kennard yang tepat sasaran. Wizard Berta sudah seperti sumber informasi yang akurat bagi semua orang.
"Tunggu." Owen alias Crush pada akhirnya membuka suara. Semua orang terlihat memusatkan perhatian mereka kepada pemuda ini. "Jika benar Iris memiliki seorang mate, kenapa aku tidak melihat mate nya? Apa mungkin mate tega membiarkan pasangannya sendirian? Ini sungguh mustahil."
Perkataan Crush tentu mengundang atensi Iris. Jika membahas perihal sang mate terus menerus, itu membuat Iris kembali mengingat akan masa-masa indahnya bersama sang mate.
Alice memegang bahu Owen dan membuat pemuda itu seketika menoleh. Maksud Alice adalah dia ingin mencegah Owen untuk berkata lebih jauh, yang mana mungkin itu akan menyakiti Iris. Akan tetapi, Crush tentu tidak tahu maksud dari Alice.
"Untuk sekarang, mari kita simpan fakta ini lebih dulu, Raja. Kami akan mendatangkan Wizard Berta. Setelah sudah menemukan jawaban, kami akan menghubungi pihak kerajaan wizard lagi." Kennard pun memilih untuk mengambil keputusan tersebut. Dia tak ingin salah melangkah. Crush yang mendengar perkataan Kennard pun nampak kurang suka.
***
Luc dan Frey telah menyelesaikan tugas mereka. Kedua orang ini pada akhirnya menyusul Kennard dan lainnya. Sayangnya pembicaraan itu telah berhenti dan di dalam ruangan Kennard hanya menyisakan Kennard, Alice, dan Owen.
"Bagaimana, Kak? Apakah semuanya sudah menemui keputusan?" tanya Luc.
Kennard menggeleng. "Aku sedang menunggu kedatangan Wizard Berta," jawab pria ini.
Frey malah lebih tertarik dengan Crush atau Owen saat ini. Dilihat dari ekspresinya, pemuda itu hanya diam dengan ekspresi tertahan. Frey tau Crush masih menguasai diri Owen saat ini.
"Hei," panggil Frey lembut yang berhasil membuat pemuda itu menoleh. Ada tatapan terluka di mata Crush saat ini, dan Frey menyadari itu. Crush mengembuskan napas beratnya.
"Bibi ... kenapa semua orang tidak mau memberiku penjelasan? Bahkan pertanyaan-pertanyaanku pun tidak mereka jawab," adu Crush kepada Owen. Obrolan kedua orang ini mengundang atensi semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Kamu yang sabar ya. Kita harus menunggu Wizard Berta dulu," jawab Frey.
"Ini membingungkan untukku. Jelas-jelas aku merasakan jika dia adalah mate ku. Aku sudah menemukan mate, kenapa semua orang tampak kurang menyukainya? Aku tak masalah jika Owen menolak mate, tapi aku butuh mate. Aku sangat membutuhkan dia," kata Crush dengan emosional.
Luc yang kasihan melihat Frey pun pada akhirnya menghampiri kedua orang itu. Frey tentu tidak tahu apa yang terjadi dengan Iris, jadi wanita tersebut tidak bisa menjelaskan lebih banyak.
"Paman mungkin bisa menjawab kebingunganmu itu, Owen."
"Crush. Aku Crush," ralat Crush kala itu. Dia lelah dipanggil Owen sejak tadi. Luc mengernyit.
"Wolf Owen namanya Crush. Sekarang tubuh ini dalam kendali Crush," terang Frey dan berhasil membuat semua orang terkejut. Tentu saja seorang Owen tidak mungkin berbicara begitu banyak.
"Baiklah, Crush. Paman yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu."
"Cukup, Luc," cegah Kennard. "Jangan berbicara lebih. Jangan membuat semuanya semakin rumit."
"Ayahlah yang membuat semuanya menjadi rumit. Kalau saja aku diberi satu kesempatan untuk bicara tadi, mungkin semuanya akan selesai dengan mudah. Bahkan mempertanyakan perihal mate Iris saja aku dilarang. Sungguh ini tidak adil," sahut Crush dengan menggebu-gebu.
"Pertanyaanmu itu bisa membuat Putri Iris terluka," jawab Kennard yang menahan emosinya atas sikap sembrono sang anak. Kalau saja Crush atau Owen bisa menahan diri, pasti semuanya tak akan begini.
"Terluka? Kenapa dia harus terluka? Apa dia ditolak oleh mate nya? Benarkah dugaanku ini?"
"Mate nya sudah tiada," ungkap Luc. Crush reflek menatap sang paman dengan tatapan tidak percayanya. "Itu adalah kebenarannya, Crush. Jika kamu terus bertanya perihal mate kepada Putri Iris, itu akan benar-benar melukainya," jelas pria ini lagi.
Crush merasa dunianya kian runtuh. Sungguh malang nasib Iris sekarang. Kehilangan mate tentu membuat jiwanya benar-benar hilang. Semuanya akan terasa sepi dan tak berpenghuni.
"Raja Axele juga ditinggal oleh mate nya. Kemudian dia menemukan Bella. Mungkin itu adalah kesempatan kedua dengan menghadirkan mate ke dua untuk raja. Jadi, mungkin saja Putri Iris memiliki kesempatan itu dengan bersama Owen atau Crush," sela Frey menengahi suasana yang memanas tersebut.
"Axele tidak memiliki mate ke dua, Frey. Bella adalah sosok Celesse dengan wujud berbeda. Itu kata Wizard Berta," jelas Luc yang malah baru diketahui orang-orang di dalam ruangan tersebut.
Merasa jika semua orang dalam keadaan kurang baik, Alice pun mulai angkat bicara. "Hari sudah semakin larut. Lebih baik kita kembali ke tempat masing-masing."
Crush pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Alice yang melihat sikap sang putra hanya bisa mengembuskan napas beratnya. "Anak itu benar-benar membuat segalanya menjadi rumit," komentar Kennard setelah kepergian sang anak.
"Pada dasarnya ini bukan salah Owen atau Crush, Kak. Dia hanya mengikuti insting wolf nya. Seorang mate tentu berpengaruh banyak bagi makhluk hidup. Aku yakin jika Kak Kennard dipisahkan dari Kak Alice tentu tidak ingin, kan? Hal itu berlaku bagi Crush dan Owen yang ingin bersama dengan Putri Iris," balas Luc.
Kennard tak menanggapi perkataan sang adik. Tidak ingin Luc berbicara lebih jauh lagi, Frey pun segera membawa pria itu keluar. Namun, Luc kembali menyuarakan isi hatinya, di mana itu mungkin akan membuat Kennard tersadar.
"Tapi ... sebelum Kak Kennard menyalahkan anak-anak, akan lebih baik jika Kak Kennard berbenah diri. Bertanya kepada diri Kak Kennard sendiri kenapa sikap Owen berubah. Kenapa sikap anak-anak jadi berubah dan tidak seperti dulu."
Kennard diam. Dia tetap dalam ke diamannya.