Mama Andita dan Arka sudah pulang. Mama Hanna sudah kembali dan Idan baru saja datang dengan Diva yang menangis saat melihatku. "Kenapa nangis, Diva?" Idan mengangkat Diva ke atas dan mendudukkannya di kasur, aku mengusap airmata gadis kecilnya Mirza. "Onti cakit, Daddy bilang, ada Adik bayi di cini." Diva mengelus perutku, "adik bayinya juga cakit. Kacian." "Oohh. Kakak Diva khawatir sama Adik bayi?" Gadis cantik itu mengangguk, "Adik bayinya enggak apa - apa kok, Kakak Diva." Mata Diva membesar, "iya? Adik bayinya enggak cakit?" Aku mengangguk, Diva spontan memelukku. "Adik bayi ndak boleh cakit, ada Kakak Ifa yang jagain." Kami menertawakan kepolosan Diva, aku mencium rambutnya yang wangi shampo bayi. Aku menuntut penjelasan pada Idan, tentang semua kejadian yang terjadi saat aku

