Rega menggeliat dari tidur, perut nya sudah sangat menagih untuk diisi. Ditambah lagi aroma masakan yang semakin menari-nari dihidung nya, mengajak lelaki itu untuk membuka mata. Kalau dipikir-pikir, tingkat kehaluan manusia itu akan semakin tinggi ketika perut lapar atau disituasi tertentu. Seperti yang Rega alami sekarang, dia mencium aroma yang sangat lezat. Jangan lupakan kalau dia hanya seorang diri disini, tidak ada bahan makanan apapun dirumah ini, bahkan ia sendiri tak pernah menginjakkan kaki ke dapur. Dia pria lajang yang memanfaatkan uang dengan sebaik mungkin, kenapa harus mengotori tangan disaat restoran dengan berbagai jenis sudah siap menunggu kedatangan nya. Rega pasti sudah gila karena semakin dia ingin memejamkan mata, maka semakin lekat aroma masakan itu menusuk hidung nya.
Karena tak kunjung berhenti membayangkan berasal dari mana bau wangi yang memenuhi seluruh ruangan kamar, Rega pun membuka mata. Melirik jam di tangan kanan nya, dan sedikit terkejut karena sudah hampir maghrib. Pria itu mengusap wajah sebentar, mengumpulkan separug nyawa yang masih berceceran, lalu memejam sekali lagi untuk memastikan jika dia tak akan terjungkal ketika bangun. Lalu setelah nya, dia bangkit menuju kamar mandi, cuci muka. Mengganti baju kerja nya dengan pakaian santai.
Ia masih tidak percaya kalau aroma itu masih saja tercium, rasa ingin tahu yang besar dan lapar yang memaksa Rega keluar dari kamar. Dia membawa ponsel untuk memesan makanan, namun setiba nya di anak tangga terakhir dia mengernyitkan alis melihat seseorang sedang memasak didapur. Berdiri membelakangi nya.
Baiklah, ini memang gila tapi gadis itu seperti Rani. Tapi dari mana datang nya perempuan itu, rumah ini bahkan memiliki pagar otomatis dan kunci hanya dia sendiri yang punya. Oh tidak, Ari memiliki kunci asli rumah sedangkan Rega hanya memegang kunci cadangan. Lalu siapa gadis itu? Maling? Kalau ya, alangkah baiknya dia mau memasak untuk Rega yang tengah kelaparan. Lagi pula rumah ini tidak memiliki barang berharga apapun.
Lama ia termenung memikirkan banyak hal yang terasa mustahil, sampai orang itu berbalik dan terkejut melihat sosok Rega.
"Hai. Kamu sudah bangun?" Sapa nya ramah, mengulas senyuman serta kerinduan yang menumpuk didalam d**a.
"Kamu gak kaget ya lihat aku disini?" Rani meletakkan mangkuk berisi sup jagung itu ke meja, lalu mencuci tangan dan berjalan mendekati Rega. Tanpa aba-aba, dan permisi dari sang empunya tubuh gadis itu langsung melingkarkan tangan nya dipinggang Rega. Tubuh pria itu menegang, sentuhan yang membawa aliran menyengat itu menyadarkan nya kalau keberadaan Rani yang tengah memeluk itu bukan lah ilusi.
"Is it dream?" Rega masih belum membalas pelukan gadis itu, dia masih terkejut dan seperti mimpi yang begitu nyata.
"Hmm, mbak Sus ngasih aku surat tugas pindah kerja disini. Aku pikir ini satu-satu nya kesempatan yang aku miliki untuk bisa melihat kamu lagi".
Sekarang Rega tahu kalau ini memang bukan halusinasi, melainkan memang benar terjadi. Ia membalas pelukan itu, mencium puncak kepala Rani dan mengeratkan dekapan mereka. Gadis itu bilang Susi yang memberikan nya surat tugas kerja disini, apa hadiah yang paling tepat untuk ia kirimkan sebagai balas budi? Rumah, mobil atau justru paket liburan keliling dunia. Rega harus sujud syukur karena keberuntungan yang tak terduga ini.
Pria itu melepaskan pelukan, memberi sedikit jarak diantara tubuh mereka lalu tanpa disangka ia mendaratkan ciuman di bibir Rani. Bukan hanya kecupan, melainkan lumatan yang penuh damba sekaligus kerinduan yang menggunung. Memperdalam ciuman itu dengan menekan tengkuk Rani, melupakan semua isi dunia dan hanya berfokus pada gadis itu saja.
Ciuman itu terlepas, senyuman penuh kebahagiaan itu mengembang diwajah keduanya. Rega tidak tahu kalau mencintai seseorang itu bisa sehebat ini pengaruh nya. Dia mungkin telah banyak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas perasaan gadis itu, tapi disaat sekarang dewi fortuna kembali memihak pada nya. Rega tak akan melewatkan begitu saja, Rani harus merasakan kebesaran cinta Rega pada nya. Gadis itu harus tenggelam didalam kasih sayang milik Rega, sampai jauh kedasar dan membuatnya terjebak disana. Rega mengusap pipi Rani, mencium sekali lagi bibir gadis itu.
"Aku tidak memiliki apapun untuk dikatakan, tapi kamu harus tahu kalau apa yang barusan terjadi itu adalah perasaan ku yang sebenarnya." Rega tulus mengatakan nya, ia benar-benar malu dan gengsi untuk mengakui perasaan yang sesungguh nya. Cukuplah Rani mengerti jika ia sama merindukan kehadiran gadis itu disisinya.
Bunyi perut Rega merusak suasana dramatis dirumah ini, membuat Rani menatap wajahnya tak suka. Rega hanya meringis, sekali lagi dia benar-benar malu, dan baru kali ini suara perut kelaparan membuatnya ingin menghilang kebagian bumi lain. Sialan!
"Kapan terakhir kali kamu makan? Aku kira kamu gak pernah masak apapun, karena dapurnya bersih banget. Sampah juga sedikit, kamu memang pemalas." Rani menarik tangan pria itu mendekati meja makan, mempersilakan Rega duduk. Ia pun ikut duduk disebelahnya.
"Aku gak akan kehabisan uang cuma untuk beli makanan". Jawab Rega sambil memperhatikan gerak-gerik Rani yang mengambilkannya nasi. Mereka seperti suami istri, apa? Pikiran Rega sedang kacau, dia memang sudah gila. Suami istri yang bahkan tidak pernah saling membalas ungkapan cinta. Cih!
"Tapi kalo tiap hari beli, rugi juga kali. Nih makan, abisin. Aku udah capek masak buat kamu". Rega tersenyum, ketika Rani bersikap seperti ini dia jadi semakin takut kalau semua yang terjadi sekarang adalah mimpi.
Gadis itu selalu membawakannya makan siang, hasil tangan sendiri jadi Rega merasa dejavu.
"Ayo dimakan. Kenapa malah melamun?" Suruh Rani lagi. Rega meraih jemari gadis itu dan menggenggam nya.
"Aku hanya takut ini mimpi, kamu muncul disaat aku baru aja mimpiin kamu". Rani menggigit pipi bagian dalam miliknya sambil memicingkan mata, menaikkan kacamata yang melorot.
"Kamu gak mimpi m***m sama aku kan? Atau jangan-jangan kamu juga suka main lima jari kek Arifin?" Rega menyentil dahi gadis itu gemas, walau pun dia suka kenikmatan tapi Rega hampir tidak pernah melakukan onani sendiri kecuali memag situasi nya tak terduga.
"Ingatkan aku untuk kempesin perut Arifin karena sudah meracuni otak kamu. Kalau ada kamu disini, ngapain main sendiri. Berdua jauh lebih baik". Jawaban nya sangat membagongkan sekali, tapi rona merah diwajah Rani tak dapat disembunyikan. Dia masih perawan kalau saja Rega amnesia.
"Udah udah, gak usah diperpanjang lagi. Kamu makan aja sekarang".
Rani mengibaskan tangan nya, menyuruh lelaki itu kembali fokus, sama makanan ya bukan yang lain.
"Punyaku juga panjang, lumayan lah untuk ukuran standar orang pribumi. Dijamin deh kamu bakal puas". Rega semakin menjadi dengan kalimat ambigu yang dia ucapkan, Rani gemas hingga memberi nya satu cubitan kepiting. Pria itu mengaduh kesakitan, tapi tawa nya menggema diseluruh penjuru rumah.
"Dasar m***m! Playboy cap biskuit! Ahhh!!" Rega menerima serangan bertubi-tubi dari Rani, baiklah mereka terlihat sangat intim sekarang. Suasana langsung berubah, awalnya membahas soal makanan dan sekarang isi celana dalam. Entahlah ya, memang setiap obrolan kalau tidak menyelipkan hal m***m tidak akan seru.
"Wow. Ukuran d**a kamu berapa? Kek nya pas deh ditangan aku. Gimana kalo kita ukur sekarang?"
"Aii. . Dasar sinting! Gila! Gak waras, sakit jiwa kamu ya?!" Rani menutupi d**a nya menggunakan tangan, Rega masih saja menatap lapar kearahnya disertai senyuman jahil yang menyebalkan. Gadis itu berlari menuju kamar yang akan menjadi tempat nya selama bekerja disini, menutup rapat pintu dan menguncinya.
"Dasar gila!" Desisnya dengan nafas terengah, Rani menyandarkan diri kedaun pintu. Mengambil nafas sebanyak mungkin, dia berdebar, jantung nya berdetak cepat sekali. Entah itu karena ucapan Rega, atau karena ia berlari tadi. b******n itu membuatnya malu dan merona sekaligus!
Diluar Rega tidak henti menertawakan raut wajah gugup milik Rani, sudah ia duga gadis itu masih sangat polos untuk ukuran wanita dewasa. Dan mengetahui fakta itu, Rega senang sekali.
"Ran, meja makan nya luas loh! Kamu gak mau nyoba rebahan disini?" Teriak Rega masih saja ingin menggoda Rani.
Gadis itu hanya bisa membekap wajah, b******k! Sial sial sial.
"DASAR GILA!"