Dari semua hal yang memusingkan kepala, hanya ada satu yang membuat kepala Rega ingin meledak saat ini.
"GIMANA KALIAN BISA SALAH PASANG?! SAYA KAN SUDAH BILANG, HATI-HATI JANGAN SAMPAI MENGULANG LAGI, TAPI LIHAT SEKARANG!" Pria itu menghempaskan gulungan desain bangunan ke meja, sangat keras sampai beberapa orang pun terkejut. Rega menghempaskan diri nya kekursi, memijit pelipis yang mulai lagi berdenyut. Kapan terakhir kali dia merasa senang dengan pekerjaan yang semakin hari, terasa semakin menguras emosi. Dia pun tidak ingat. Ia menatap semua wajah yang berada didalam ruangan, memberikan tatapan membunuh yang menakutkan. Dia benar-benar sangat kesal sekarang.
"KALIAN SEMUA TIDAK BECUS! BERESKAN INI SEMUA, ATAU SAYA TIDAK AKAN MEMBAYAR UNTUK SEMUA KESALAHAN INI. KALIAN DENGAR?"
Tidak ada yang menyahut, semua terlalu takut menghadapi kemarahan wakil direktur tersebut tapi justru keheningan ini semakin membuatnya emosi.
"SELAIN BODOH, KALIAN JUGA TULI. SAYA MAU PEKERJAAN INI SELESAI DALAM WAKTU SEMINGGU, APAPUN CARA NYA. BERESKAN SEMUA". Rega bangkit dari kursi, keluar ruangan dengan wajah sangar nya. Baru kali ini dia merasa sangat marah, d**a nya terasa panas akibat emosi yang meluap-luap. Dia selalu kehilangan kontrol pada diri sendiri jika ada satu saja kesalahan yang orang lain buat, ya tentu saja dia tidak pernah menyadari kalau diri nya sendiri pun sering melakukan kesalahan, kecerobohan yang hampir membuat nya mati karena berdiri dibawah orang yang sedang melakukan pengangkatan bahan bangunan. Kalau saja mandor disana tak menyelamatkan Rega, mungkin sekarang dia sudah mendapatkan gelar almarhum.
Rega menjalankan mobil nya tak tentu arah, ini bahkan masih jam sepuluh pagi dan kepala nya terasa mau meledak. Sialan!
Mungkin secangkir kopi bisa menenangkan nya, pikiran pun semakin berkelana ketika mengendarai mobil mengikuti jalanan yang cukup padat. Ia melewati jembatan Ampera, tertarik untuk melepaskan penat dengan duduk disalah satu kursi di pinggir jembatan. Ia terus menyusuri jalan, meminggirkan mobil lalu berhenti disisi kanan jembatan. Luas jalan yang cukup lebar tak membuat gangguan pada kendaraan lain yang ingin lewat. Rega keluar dari mobil, dia lupa kalau tidak ada orang jual kopi disini. Hanya sebungkus rokok berada ditangan, ia pun mencari tempat yang pas untuk beristirahat.
Angin cukup deras, matahari yang masih berada setengah jalan tak membuat nya kepanasan. Rega menyalakan api untuk rokok, kemudian menghisapnya. Berdiri begitu dekat dengan pembatas jembatan sambil melihat jauh keujung sana, kuatnya arus dibawah jembatan menjadi suara menenangkan untuk pria itu.
Malam hari pemandangan seperti ini tak akan terlihat, kapal-kapal kecil yang lalu lalang, rumah-rumah yang berada dipinggir sungai, serta eceng gondok yang menutupi pinggiran, semua terlihat dengan jelas. Pikiran Rega menerawang jauh ke Jakarta, ingin mengetahui kabar gadis itu tapi segan untuk bertanya. Apalagi hampir setiap malam Ari meneror agar segera meng-aktifkan nomor telpon, tapi dia mengabaikan hal itu. Rega masih belum siap menerima pesan dari siapapun, atau justru tekad yang setengah bulat ini akan semakin kacau jika ada telpon dari Rani yang mengkhawatirkan nya.
Pikiran nya terus tertuju pada wanita itu, hingga tak terasa sebatang rokok pun habis. Didalam lamunan yang semakin jauh, ia mendengar suara seseorang sedang berbicara entah dengan siapa.
Orang itu berdiri tak jauh dari Rega, namun posisi nya membelakangi.
"Iya ma, aku udah sampai kok. Ini lagi mau cari rumah nya boss, mama sehat-sehat ya. Aku bakal jaga diri, mama gak perlu khawatir".
Pria itu menatap tak suka dengan orang tersebut, suara nya begitu mengganggu dan mengingatkan nya pada Rani. Tapi gadis itu tidak mungkin Rani, batin Rega. Dari bentuk tubuh memang kelihatan mirip, tinggi badan juga warna rambut yang kecoklatan, semua hampir sama dengan Rani. TIDAK! Jangan mulai lagi, kalau ingin gila, matilah sendiri dengan pemikiran gila ini. Mana mungkin Rani disini, bahkan meskipun dalam khayalan Rega memaksa diri untuk berhenti mengharapkan sebuah keajaiban.
"Iya ma, ya sudah aku tutup dulu telpon nya. Nanti aku kabarin kalo udah sampe".
Rega membuang puntung rokok nya kebawah, mengabaikan kehadiran orang asing itu dan kembali menatap sungai namun tidak lagi seperti tadi. Ketenangan yang tadi sudah hilang karena gangguan yang tidak disengaja itu. Pemuda itu mendengus kesal, benar-benar pengganggu.
Kesal karena lagi-lagi ketenangan nya diganggu, Rega pun pergi dari sana. Tak lupa memasukkan rokok dan korek dalam saku celana, mungkin pulang kerumah adalah pilihan yang bagus. Atau pergi kemana pun yang bisa membuat Rega merasa terhibur.
*****
Kemana pun kalian pergi, hanya rumah tujuan yang paling sempurna untuk pulang. Seburuk apapun kesendirian dan kesepian itu menggerogoti diri kita, tetap saja mereka adalah teman yang paling setia. Setelah puas berkeliling jalanan di Palembang, pada akhirnya pulang adalah pilihan yang tepat.
Jam menunjukkan pukul duabelas siang, itu artinya dia sudah berkeliling selama dua jam tak tentu arah dan hanya membuang-buang minyak mobil.
Rega menekan remot yang disatukan dengan kunci mobil tersebut, pagar tertutup secara otomatis. Dia keluar dari mobil dan langsung menuju rumah, ia tidak sadar kalau pintu rumah sudah tidak terkunci. Karena tak mau memusingkan lagi kepala nya, Rega mengabaikan hal itu dan segara menuju kamar yang ada dilantai atas.
Rumah dua tingkat yang dibeli Ari beberapa bulan lalu, hanya untuk menjadi tempat beristirahat jika mereka sedang liburan kesini. Sekarang Rega yang menempati, jarak nya yang tidak terlalu jauh dari kantor memudahkan pria itu untuk bekerja.
Setiba nya dikamar, ia langsung merebahkan diri ke kasur. Lapar, sejak tadi perut nya sudah keroncongan minta diisi tapi Rega terlalu malas untuk makan. Padahal dia bisa memesan, ya nama nya juga malas. Tidak tertolong sama sekali.
Merasa kalau matanya kian memberat, serta sejuk nya pendingin ruangan, membuat Rega perlahan-lahan menutup mata dan tertidur.
Belum ada lima menit dia terlelap, suara barang jatuh di dapur begitu keras terdengar. Rumah ini hanya dihuni satu orang, suasana yang begitu sunyi tentu saja sekecil apapun suara pasti akan terdengar nyaring. Rega kembali membuka mata, mengumpat lalu mengubah posisi tidur.
Ingatkan dia untuk membuang kucing sialan yang selalu diam-diam masuk kerumah ini hanya untuk numpang tidur. Entah apa yang membuat hewan berbulu sangat betah berada disini, padahal Rega bukan lah manusia penyayang binatang. Dia hanya mencintai s**********n, tapi itu dulu. Author! Jangan membuat gue semakin dihujat ya, segini aja banyak banget yang nge-doain gue biar dapat karma. Ngadi-ngadi!
Pria itu sangat lelah hingga suara apapun yang berasal dari bawah sana, tidak dihiraukannya lagi. Berpindah ke alam mimpi, berpelukan mesra dengan Rani yang setiap malam selalu singgah di mimpi nya.
"Aku sayang kamu, Queen".