Pernah merasakan iri hati yang sangat berlebihan pada orang-orang disekitar mu karena memiliki orang yang dicintai, dan bisa dimiliki? Kalau pernah, maka Rani pun sama. Sejak kepergian Rega dua minggu lalu, hidup nya yang ceria berubah menjadi suram. Tidak ada malam tanpa tangis penuh kerinduan, dia menjadi lemah hanya karena rasa rindu yang membuat seluruh jiwa nya mati. Rega tidak memberikan hak apapun, tapi pria itu dengan lancang nya membawa pergi sebagian jiwa Rani. Tak pernah mengembalikan hati yang telah dia curi selama bertahun-tahun, rasa sakit dan kecewa menghancurkan Rani. Dia merasa sangat iri melihat kemesraan Susi dan Ari, dulu saat kedua boss nya itu belum menjadi pasangan suami istri, ia tahu kalau Susi pun pernah mengalami kesulitan tapi lihat sekarang. Mereka sudah bahagia, setiap hari tanpa rasa canggung saling mengumbar kemesraan.
Rani benci mengakui kekalahan, tapi Rega membuatnya menjadi gadis bodoh yang selalu bermimpi jika perasaan nya akan terbalaskan.
Rega memberikan harapan, dia melambungkan mimpi setinggi langit, lalu perpisahan menghancurkan semua nya.
Setiap hari yang dia lakukan hanya lah melamun, mengabaikan segala hal yang terjadi disekitar nya. Betran yang selalu mendatangi pun tak dihiraukan lagi, hidup Rani benar-benar kosong.
Kata Susi, mencintai seorang makhluk tidak boleh melebih kecintaan kita pada Tuhan. Rani mengataskan Tuhan dari semua hal yang ada didalam hidup, Rega sudah menjadi urutan sekian namun tetap saja rasanya sakit. Tak pernah terbalas, terabaikan, dan kehilangan untuk sekian kali.
Rani memejamkan mata, berbaring membelakangi adik nya yang ikut tidur dikamar. Remaja perempuan itu selalu menumpang tidur dikamar kakak nya jika ada tugas, karena hanya Rani yang memiliki laptop dirumah ini.
Dalam keheningan malam, air mata Rani terus mengalir. Andai saja mencintai tak sesakit ini, andai saja semua hal bisa dia gapai dengan mudah, andai saja kehangatan setiap malam mampu menghilangkan kejenuhan nya, andai dan andai.
Dibawah sinar rembulan yang menembus jendela kaca dikamar gadis itu, Rani menitipkan setitik rasa rindu pada Rega yang jauh disana.
"Mencintai kamu itu sakit sekali, tapi kenapa aku tidak bisa berhenti". Kedua mata Rani tertutup, terlelap dengan linangan air mata yang terus mengalir.
Cinta, satu kata yang tidak memiliki makna apapun ketika hanya rasa sakit yang didapat. Cinta tidak hanya untuk mereka yang menjadi pasangan, atau pun keluarga. Cinta itu besar, dan didalam cinta itu terdapat banyak dosa yang tak pernah kita sadari.
Didalam mencintai, manusia akan selalu dipertemukan dengan rasa sakit, mengeluh, terpaksa, iri dengki dan kebohongan.
Bukankah cinta itu hanya menjatuhkan kita pada kubangan hitam yang gelap dan menyesatkan, lalu kenapa masih banyak orang-orang yang mau bercinta?
Jawaban nya adalah, karena cinta itu adalah sumber kenikmatan duniawi. Dalam pikiran kita dia bisa menjadi racun yang menyesatkan, dalam hati dia pun menjelma menjadi iri dengki. Semua orang menyukai cinta. Bahkan menantikan kehadiran cinta tersebut, tak peduli dengan kehancuran yang menunggu dibelakang sana. Yang terpenting adalah, cinta itu akan terasa mudah didapat jika diiringi oleh nafsu ingin memiliki. Egois memang, tapi siapa yang peduli. Bahkan kebutaan mu pada cinta mampu melenyapkan semua kesadaran diri.
Rani akan selalu menanti hari dimana cinta nya berbalas, tak peduli berapa lama lagi dia harus menunggu. Menyerah pun dia akan merasa sakit, semua perjuangan menjadi sia-sia. Kalau memang tidak mudah, maka dia akan berusaha lagi menjungkir balikkan dunia Rega dengan semua perasaan yang dimiliki nya.
Meskipun setiap usaha tidak ada yang sia-sia, namun rencana tak akan pernah menjadi nyata jika tak memiliki kematangan pola pikir.
*****
Rega melemparkan jas ke sofa, lalu menyusul diri nya yang ikut merebahkan diri disana. Lelah, ya dia sangat lelah dengan semua pekerjaan yang semakin hari bertambah banyak, menguras pikiran dan tenaga. Ia bahkan tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar menghibur diri, pulang larut malam tanpa ada yang menyiapkan makanan, atau sekedar air hangat untuk berendam. Memikirkan siapa yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya, tiba-tiba saja muncul wajah Rani yang tersenyum. Membuat pria itu berdecak.
Dia tidak hanya lelah karena pekerjaan, tapi juga lelah memikirkan gadis sipit itu. Entah bagaimana kabar nya sekarang, atau apa yang sedang dia lakukan, mungkin dikantor dia masih akan bersikap seperti biasa saat dirinya jauh. Semua hal yang menyakitkan berkumpul dikepala, hingga rasanya mau pecah. Rega tidak mau mengganggu perempuan itu lagi, sesuai janji nya dia akan menghilang. Tapi kenapa sekarang dia jadi ikutan tersiksa.
Dulu saat ia hendak ke Autralia, Rega berpamitan pada gadis itu dan meyakinkan Rani kalau dia pasti akan kembali, lalu sekarang? Dia bahkan tidak berani memikirkan tiket pesawat dan kembali ke Jakarta malam ini juga hanya untuk melihat wajah Rani. b*****t!
Rega menutup wajah menggunakan lengan, memejamkan mata dan mencoba melelapkan diri. Mungkin kalau sekarang dia tak bisa melihat wajah Rani di kehidupan nyata, biarlah mimpi mempertemukan mereka.
Karena hanya disana, semua hal bisa terjadi bahkan yang paling mustahil sekalipun.
Tak butuh waktu yang lama untuk Rega tertidur, pria itu sudah berlayar ke alam mimpi. Mencari sekeping hati yang sudah dia hancurkan milik Rani, dan menyatukan kembali hati itu. Menyembuhkan luka, mengolesi setiap goresan yang tercipta dengan obat yang dia miliki. Rega sudah jauh berjalan kesana, ke tempat dimana hanya orang-orang yang suka bermimpi, yang mampu mendatangi nya.
Cinta itu gila, tergila dari hal yang paling gila sekali pun. Jika hatimu tidak siap mencintai, maka jangan lakukan. Karena kegilaan cinta pasti akan menjeratmu kedalam kegelapan yang bahkan tiada berujung.