Pain again

1237 Kata
Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah perasaan mencintai namun tak terbalas? Melihat dia bersama orang lain, atau menanti kedatangan nya setelah pergi tanpa pesan. Rani kehilangan senyum dan semangat sejak pagi, bukan tanpa alasan. Setiap hal pasti memiliki alasan kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, kalau tidak bisa begitu, bisa begini. Ini author nya ngawur. Maapin yak! Pagi ini dia langsung dikejutkan oleh berita pemindahan tugas Rega sebagai kepala pengawas proyek mereka di Palembang, dan wow sekali! Rani sama sekali tidak siap atas kepergian pria itu, bahkan setelah mereka melewati semalam dengan suasana yang cukup akrab. Dia tiba-tiba saja merasa kosong dan hampa, Arifin yang memberitahu pun merasa menyesal karena hal ini. Ruangan yang biasa Rega tempati sekarang akan dihuni oleh Arifin, meski hanya sementara tapi tetap saja Rani merasa tidak akan sanggup melewati hari-hari kerja tanpa kehadiran Rega. Oke, dia memang munafik dan plinplan tapi bukan begini yang ia inginkan. Rani mau pria itu menyesal membuat nya sakit hati, lalu berbalik mengejar. Dan apa ini? Rega bahkan tak memberi tahu soal kepindahan nya, Rani sadar jika mereka bukan apa-apa tapi setidak nya lelaki itu bisa mengucapkan selamat tinggal sebagai seorang teman. Teman? Lelucon ini sangat lucu sekali sampai air mata sialan itu turun tanpa diminta. Rani mengurung diri didalam bilik kerja nya, dia bahkan mengabaikan ajakan Susi untuk makan diluar. Menolak mendengarkan curhatan Winda, dan tawaran beli underwear baru dari Arifin. Ia sangat sedih dengan kepergian Rega. Pagi sebelum berangkat dia sudah menggemparkan satu rumah untuk mencari kisspray, jas lelaki itu yang dipakai oleh Rani semalam sudah ia cuci dan dikeringkan memakai kipas. Lalu pagi nya dia menyemprotkan begitu banyak pewangi di pakaian tersebut, berniat membuat Rega akan selalu mengingat nya tapi sekarang apa? Justru Rani merasa kalau itu adalah satu-satu nya hadiah perpisahan untuk mereka berdua. Rani tahu betul jika proyek di Palembang belum dimulai sama sekali, mereka masih mendikusikan lahan dan sebagai nya. Yang jadi masalah adalah, Rega pasti akan sangat lama disana. Lalu dia harus menunggu berapa lama lagi untuk pria itu kembali, tiga tahun lagi? Atau mungkin Rega tak akan pernah kembali karena memang Rani bukan tujuan nya. Gadis itu masih teringat bagaimana cara Rega menatapnya semalam, ada raut sedih dan bimbang tapi ia pikir itu hanya soal pekerjaan. "Dasar pria b******k!" Tangis nya semakin pecah, fokus nya pada pekerjaan seratus persen hilang. Tapi tidak memungkin kan untuk cuti. Hati nya hancur, retak, patah dan apa saja istilah untuk menggambarkan Rani saat ini. Semua berjalan semesti nya, Rani yang ingin move on, lalu Tuhan memberikan jalan agar dia bisa dengan cepat melupakan Rega. Tapi sekarang ia justru menangis tersedu-sedu karena pria itu pergi tanpa pamit. Didalam ruangan Ari, ada Susi yang kini tengah menatap garang kearah suami nya. "Siapa yang kasih izin pindahin Rega kesana?" Dari tadi hanya hal itu yang ditanya oleh Susi, Ari sudah menjelaskan berulang kali tapi tetap saja wanita keras kepala ini tak percaya. "Dia yang minta sendiri, sayang. Kamu pikir aku kekurangan karyawan sampai harus dia yang turun kesana?" Ari memijit pelipis, merasa pening dengan cercaan sang istri. Wanita hamil terkadang membuat sakit kepala, rasa ingin tahu mereka melebihi anak umur lima tahun. Ingatkan Ari untuk memotong gaji Rega bulan ini karena sudah membuatnya dimarahi oleh Susi, oh ya dan jangan harap pria itu bisa menggunalan fasilitas perusahaan. Bocah tengik! "Seharus nya kamu larang dong?! Kamu tuh gak ngerti yang, gak ngerti! Rani sama Rega itu lagi berantem, malah dipisah kek gini kapan selesai nya masalah mereka!" Susi semakin kesal karena sikap acuh suaminya itu, ingin sekali melemparkan koran dimeja kepada Ari agar sadar apa keinginan nya. "Suruh dia balik kesini, atau aku yang nyusul ke Palembang! Kamu pikir aku gak berani?" Denyutan dikepala Ari semakin menjadi, apa tadi dia bilang? Menyusul? Langkahi dulu mayat Ari jika Susi bersikeras melakukan hal konyol itu. "Astaga! Dia yang berantem kenapa aku juga yang kena sih, biarin mereka selesaikan masalah sendiri yang. Rani sama Rega itu bukan anak remaja lagi, mereka udah gede. Biarin lah". "Gak mau! Suruh dia pulang kesini, SEKARANG!" Well, ini adalah perintah mutlak. Dan Ari bisa apa? Wajah cemberut milik istri nya benar-benar menggemaskan, jadi tentu saja dia tak akan mampu marah. Apalagi perut yang mulai membuncit, membuat d**a Ari mengembang karena senang. Akhirnya kerja keras berhasil, membuah dengan baik dan semoga saja hasil nya sempurna. "Oke. Aku telpon dia sekarang, kamu nya sini. Duduk sama aku". Susi mendekati suami nya, lalu duduk diatas pangkuan pria itu. Tidak secanggung dulu, semua sudah berubah sesuai apa yang mereka inginkan. Meski banyak hal yang terkenang tapi itu bukan masalah, yang penting mereka bahagia bersama. Ari menghubungi Rega melalui video call. Namun tak ada tulisan berdering, hanya menyambungkan saja. Susi yang ikut melihat pun dibuat kesal dan cemas. "Kok gak aktif ya, coba kamu telpon biasa jangan dari wa". Ari menurut, ia menelpon Rega sekali lagi tapi hanya operator yang menjawab. Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi. "Aduh, kok gak aktif sih? Terus gimana ini". Susi hendak beranjak dari pangkuan suami nya namun gagal. "Kan aku udah bilang, ini permintaan dia sendiri. Biarin lah, nanti kalau memang sudah waktu nya tuh anak bakal balik sendiri". Ari memeluk tubuh Susi, mengusap perut wanita itu dengan senyuman yang menampilkan semua nya, bahagia. Menyandarkan kepala dibahu Susi sambil menghirup aroma yang selalu menjadi favorit nya. "Tapi Rani gimana? Aku gak tega". "Mau gimana lagi, toh kamu bilang sendiri kan kalau Rani mau move on berarti gak masalah kalau Rega pergi". Susi semakin merasa bersalah, tidak ada hubungan dengan nya masalah kedua orang itu tapi melihat sahabat sendiri bersedih, siapa yang tega membiarkan dia berlarut dalam kesedihan. "Gak masalah, tapi tetap ajaaa. Ah kamu gak ngerti yang". Susi merengut kesal, percuma ngomong sama Ari karena dulu pun pria itu sama menyebalkan seperti Rega. Cih! "Oke, oke, lupain soal mereka berdua. Gimana kalau sekarang kita pulang duluan, mau gak?" "Ngapain?" Pertanyaan yang ambigu, ya kalo pulang banyak kegiatan. Bercinta misal nya. "Apa aja yang penting keringetan". Satu cubitan maut Susi mengenai lengan Ari, membuat pria itu mengaduh sakit. "m***m!" "Kamu juga dulu m***m, suka ngomong ambigu soal permesuman. Eh giliran praktek malah kaku, gimana sih". "Gak lucu ya?" Susi menahan malu yang luar biasa. Memang nya apa yang Ari harapkan, dia berlaga seperti pemain video 19detik? Sinting! Ari tertawa melihat Susi merona, mengecup sekilas pipi wanita itu. "Yang bilang lucu siapa? Gak ada kan". "Kamu makin hari, makin m***m ya". Pria itu semakin tertawa, dia suka kedekatan mereka yang intim seperti sekarang. Susi bangkit dari pangkuan Ari, begitu juga dengan pria itu yang ikut berdiri dibelakang nya. Sebelum mereka pulang untuk menunaikan sunnah, Ari membalik tubuh Susi dan mencium bibir perempuan itu penuh gairah. Dan ketika mereka hampir hanyut, suara pintu terbuka membuat semuanya menjadi ambyar. "ARI SETIAWAN, SUDAH MAMA BILANG KALAU MAU ENA-ENA DIRUMAH JANGAN DI KANTOR, KASIAN ISTRI KAMU!!" Begitulah akhirnya, kalau sudah berhubungan dengan dua manusia ini pasti tidak akan ada yang selesai. Baru juga mulai ciuman, udah end aja. ***** Palembang, today. Rega menikmati secangkir kopi s**u tanpa gula, mengisap sebatang rokok sambil memandang hamparan sungai musi yang memanjang. Jembatan yang menjadi ikonik kota ini pun terliha ramai kendaraan. Mata nya jauh menerawang, memikirkan semua hal yang berkaitan dengan gadis itu tidak akan pernah ada habis nya. Kali ini, dia akan berusaha untuk tidak lagi menjadi playboy. Tidak setelah dia tahu bahwa melepaskan dan kehilangan itu adalah sesuatu yang menyakitkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN