Galih dengan segala kekeras kepalaannya. Setengah bulan berada di Bandung, dia masih keukeuh untuk bolak-balik Bandung-Semarang. Apalagi kalau bukan untuk mengurusi si daun bawang yang tinggal menunggu sebulan lagi untuk panen. Seminggu belakangan keadaan kantor juga sedang hecticnya. Karena sebagian data ada yang rusak dan hilang karena serangan virus. Belum lagi aku harus pergi kelapangan, dan akhirnya jarang memperhatikan Mas Galih. Memperhatikan Galih saja aku jarang apalagi untuk mengurus si jerawat membandel yang mulai muncul lagi. Galih bilang santai aja sama jerawatnya, yang penting telaten ngurusnya. Dan sayangnya aku bukan Galih yang bisa dengan sangat teratur mengerjakan sesuatu. "Ada Galih diluar." kata Mbak Syila dari luar kamarku. Menyemprotkan sedikit minyak w

