Serangan Kucing

738 Kata
    Suatu hari ketika Galih sedang di Semarang, dan katanya dia merindukanku, dia mengajakku pergi keluar untuk makan siang. Karena aku sedang malas berada di kantor, maka kuterima saja ajakan Galih. Sekalian bertemu dengannya, toh aku juga merindukan dia.     "Kok mampir disini sih, Gal?" tanyaku saat mobil Galih berhenti di depan rumah makan di daerah Semarang bawah. "Kenapa memangnya?" tanyanya sambil melepaskan sabuk pengaman dan mematikan mesin mobil. "Kamu nggak lihat itu, ada kucing!" tunjukku pada seekor kucing yang menanti didepan warung makan itu. Oh tidak, sekarang bertambah seekor lagi yang kecil. “Gak mau makan disini!" tolakku keras. Sambil mengeratkan peganganku pada sabuk pengaman. Kakiku sudah bergetar tidak jelas. "Nggak bisa, Numa. Lihat dibelakang udah ada mobil." kata Galih sambil menoleh kearah belakang. Kuikuti gerakannya. Memang benar dibelakang mobil Galih sudah ada mobil yang menghalangi. "Makan disini ya, aku udah laper banget." Ck! Si Galih pake pasang wajah melas pula.     "Ada kucing." keluhku lagi, sialnya tanganku ikut bergetar. Mama, tolong adek, rasanya aku mau menangis kalau begini. "Ada aku, kan kamu gak makan sendirian. Kalau ada kucing kusingkirin." janjinya. "Beneran ya?"     "Iya."     "Sekali ini aja makan di tempat yang ada kucingnya. Lain kali aku gak mau." ancamku. Dia tidak menjawab, malahan membuka pintu mobil. "TUNGGUIN!" teriakku. Dan Galih hanya tersenyum jahil saja. Getingne! "Aku tunggu disini, cepat turun!" dan pintu mobilpun tertutup. Galih berada diluar menungguku. Selesai merapikan diriku, lalu aku keluar menyusul Galih. Kupegang erat lengannya. "Kamu yang nyamain langkahku, bukan aku yang nyamain kamu." protesku saat langkahnya terasa terlalu lebar. Tanpa menjawab, Galih memelankan langkahnya, menyamai langkah takutku.     "Kucingnya diam disana loh. Jangan dilihatin kalau gak mau dideketin." kata Galih sambil menggenggam tanganku. "Pesen sendiri?" tanya Galih sambil menoleh padaku. "Temenin." Saat aku berjalan kearah kasir untuk memesan makanan, si kucing dengan seenaknya berbaring dibawah meja. "Kayanya dia suka sama kaki deh, Gal." kuremas lengan Galih lebih kencang lagi. Lalu dia hanya tertawa saja mendengar perkataanku, "Tahu dari mana?" tanyanya. "Ya tahulah, lihat nanti ya." Dan ternyata benar dugaanku, si kucing anakan itu mulai mendekati kami berdua. Sedangkan mamaknya masih klekaran di tempatnya tadi.     "Gaall."     "Ya udah sana pesen. Aku jagain dia. Cuci tangan juga sekalian." lalu dilepasnya tanganku untuk meraup binatang kecil itu. Kemudian aku berjalan kearah kasir untuk memesan menu. Lalu dengan segera pergi mencari tempat duduk yang lumayan aman, menurutku. Tak berapa lama, Galih datang ke meja kami.     "Gal." panggilku saat dia baru saja duduk dikursi disampingku.     "Hm,"     "Itu dia ngikutin kamu." kataku saat melihat si kucing mengikuti Galih.     "Duhh Numaa.." katanya sambil mengusap wajahnya. Kusembunyikan wajahku di lengannya lalu berkata, "Tapi aku beneran takut loh."     "Gak apa-apa."     "Enggak mau." bisikku masih di balik lengannya. Bahkan tanganku sudah dingin. Kupegang tangan Galih yang tidak tertutup oleh lengan bajunya. "Hei," panggilnya sambil memegang telapak tanganku yang dingin. "Kamu udah pesen loh." bujuknya lagi. Kugelengkan kepalaku lagi. Berharap Galih paham bahwa binatang kecil, berbulu, berkaki empat, suka mengeong itu adalah ketakutanku terbesar terhadap hewan. Ketika Galih sibuk menyingkirkan anak kucing yang akan mendekatiku, suara mbak - mbak menginterupsi kegiatannya,     "Eh, maaf Mbak, bungkus aja, boleh?" katanya sambil tersenyum. Aku tahu karena ketika si Mbak datang, aku mengangkat kepalaku. "Boleh, Mas. Tunggu sebentar." jawab si Mbak kemudian berlalu ke dapur untuk membungkus makanan kami. "Sana ke mobil!" kata Galih sambil menyerahkan kunci mobilnya padaku. Lalu meraup kucing itu dalam gendongannya. "Cepet Numa." katanya saat otakku masih asik berpikir.     Tak perlu diulang dua kali untuk cepat. Aku langsung berjalan menuju mobil Galih, membuka kuncinya lalu masuk kedalam. Ketika aku didalam aku hanya menangis mengingat keberadaan kucing tadi disekitarku. Suara pintu mobil dibuka membuatku menoleh, terlihat si ganteng Galih membawa kresek berwarna hitam.     "Kenapa?" tanyanya sambil meletakkan bungkusan itu didekat kotak tisu.     "Masih takut?" kuangguki saja pertanyaannya.     Dan tanpa kuduga, Galih mengusap air mataku. Seakan ingat tangannya tadi bekas memegang kucing, aku beringsut mundur. "Udah cuci tangan." katanya sambil mengusap kepalaku. "Udah ya." bujuknya. "Gak ada makan sama kucing lagi."     "Iya."     "Kalau masih mau makan sama kucing, makan sendiri."     "Iya."     "Kamu nyebelin."     "Iya."     "Kalau ada kucing dideket aku, kamu harus jauhin. Jangan ditinggal akunya."     "Iya."     Lalu aku diam dan hanya melihat kedalam matanya. Dia mengusap air mataku lagi. Kemudian majuu dan ---CUP. Satu ciuman dari Galih pada keningku sukses membuatku tenang.  "Asal kamu mau nikah sama aku." katanya sambil menatapku geli.     "Izin ke Bapak dulu, udah siap emang?"     "Siap, tapi masih ada yang kurang. Jadinya sabar ya.” Kata Galih sambil mengacak rambutku.                                                                                     * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN