Kuputar sebuah lagu dari sebuah band beraliran rock asal negeri sakura, kunikmati lagu itu secara khidmat hingga sebuah suara merusaknya, "Ganti napa, Num lagunya." suara protes dari Pingkan memasuki ruang dengarku, suarany merusak kenikmatan lagu itu. Menyebalkan. "Wegah." tolakku.
Kemudian Pingkan berdiri dan berkacak pinggang, "Kalau gak mau ganti pake headset, Num. Dari tadi itu itu terus. Bosen dengernya." emang pantes si Pingkan ini jadi tukang onar kantor, ketika ada yang tidak dia sukai maka dia akan langsung mengomentarinya dengan senang hati. Kutarik headset dari laci mejaku. Lalu ku colokkan ke slot headaet di hape, "Puas?" tanyaku sengit padanya. Lalu si calon mamak-mamak itu cuma tersenyum berterimakasih.
"Num." Panggil Pingkan, kulihat dia sedang melihat kearah bawah, mungkin yang sedang dia lihat adalah parkiran. "Apalagi?" bosan sekali dengan si Pingkan ini kalau dia sedang memasuki mode banyak cakap. "Kamu mau makan siang sama Galih? Sini deh." bergegas aku mendekatinya, kemudian mengikuti dirinya yang sedang melihat kearah parkiran.
"Kenapa?”
"Itu mobil Galih, kan?" tunjuknya pada sebuah mobil. Kuangguki membenarkan. "Iya tapi mana Galih." kataku pelan. Kami berdua sibuk mencari keberadaan Galih hingga sebuah suara menghentikan kami. "Kalian ngapain? Nyari Pak Galih? Beliau ada disini." Sumpah! Suara Pingkan yang cempreng tidak akan berubah jadi berat begini dalam hitungan menit. Kalau iya-pun, dia harus operasi berjuta-juta dulu.
Kompak, aku dan Pingkan berputar ke arah tengah ruangan menuju sumber suara. Dan disana ada Pak Putra---Bosque---dan Galih. Otakku segera memproses sebuah informasi yang berkesinambungan. Kalau Galih masuk kantor bersama Putra maka itu berarti urusan kantor. Kukira dia kesini untuk menemuiku.
"Jadi Pak Galih kesini gak mau ketemu sama Numa?" tanya si Pingkan sesuka mulut dia. Tersenyum sebentar, Galih lalu menjawab, "Saya ada urusan sama Pak Putra, jadi kalau ketemu Numa itu bonus."
"Oh iya, kalau data yang Pak Galih minta itu Pingkan yang tahu. Bisa diantar Pingkan ketempat arsip." kata Putra. "Siap." jawab Pingkan sambil tersenyum mengejekku. Mendekati Pingkan, aku berbisik di telinganya, "Jangan macam-macam, masih tak awasin kamu." Lalu dia memasang senyum yang menyebalkan, dan membawa Galih pergi bersamanya.
"Ppsstt psst, Put Putra." panggilku pada si Bos. "Apaan?" katanya, "Ini masih dikantor, jadi panggil aku yang sopan." lanjutnya. Aku dan Putra itu teman pas kuliah, meskipun kami beda universitas. "Ah elah, jadi gini Pak Putra. Kenapa Pak Galih bisa disini?" tanyaku dengan melembutkan suaraku. "Ya bisalah, memangnya Cuma kamu doang yang kenal dia, aku juga kenal dia. Lagian ya, dia kesini bukan untuk ketemu kamu. Dia mau ada urusan proyek sama aku." ck! Si Putra ini jomblo nyebelin. Mendengar hal itu membuat emosiku tersulut, dengan tidak tahu dirinya aku mengusir Putra dari ruanganku, "Ya udah sana keluar. Aku mau kerja lagi." kataku mengusirnya.
Setelah Putra keluar, yang kulakukan adalah berkutat dengan email yang dikirimkan klien, lalu membalasnya dan mengurusi hal lainnya. Dan berakhir dengan membuka softwareku. Suara tubrukan yogurt kemasan dengan mejaku membuatku kaget. Pelakunya adalah si Pingkan. Kutatap dia dengan tatapan bertanya, semoga dia mengerti.
"Dari Galih." jawabnya.
"Terus mana Galihnya?"
"Udah dibawa pergi sama Putra."
"What?! Ih kok si Putra main bawa Galih aja sih." dan berlanjutlah gerutuan dari mulutku ini. Sebel juga sama Putra itu lama-lama. "Santai aja sih, lagian Putra orangnya lurus kok. Gak bengkok.” Kurasakan gawai diatas mejaku bergetar. Sebuah pop-up pesan kuterima.
Galih
Minum itu dulu.
Pulang bareng sama aku.
Numa
Masih kurang kenyang. Tapi makasih J
Galih
Sempetnya beli itu doang.
Lunch sama temenmu dulu aja.
Numa
Terus kamu maem berdua sama Putra dong?
Galih
:*
Ck! Lemah kamu, Num! Masa cuma dikirimin emoticon kek gitu merona. Dasar lemah. Padahal dia jelas-jelas makan siang sama Putra.
"Woy!"
"Pingkaaann.. Apaan sih pake teriak segala, jarak kita tuh gak ada 15 meter. Bicara biasa aja kali." Duh Gusti, kenapa hidupku dikelilingi orang yang suka mengagetkanku, dimulai dari Mama, Mbak Syila, Asnan, Pingkan, bahkan Rizal juga ikut-ikutan. "Apa?" sengitku pada Pingkan es mambo. "Makan siang, ikut gak?"
"Ikutlah."
Numa
Jangan lupa makan siang.
Galih
Sok-sokan pake emot kucing
Dideketin yang asli aja, bikin heboh
Numa
Nyebelin.
* * * * *
Enggan makan ditempat biasa, aku dan Pingkan berakhir di sebuah cafe. Di temani melodi dari Gamaliel dan rekan-rekannya. "Woy nyet! Jangan bikin malu." sentakku pada Pingkan sambil menendang kakinya. Ck! Dia paling gak nahan kalau denger suara Gamal nyanyi. "Soalnya Gamal keren banget. Denger suaranya aja langsung terbayang kegantengannya." Kata Pingkan dengan ekspresi menjijikkan. "Nggilani. Emang bojomu gak cemburu, tah?"
"Enggak sih, dia santai kok orangnya. Lagian gak mungkin aku dan Gamal akan bersatu, terlalu banyak perbedaan diantara kami." Njir, bahasa si Pingkan ini sok puitis banget. "Eh, boleh bilang sama mbak-mbaknya gak sih. Lagunya kalau bisa GAC aja."
"Pingkaan." Dulu pernah dia meminta hal yang sama pada petugas yang menjaga kasir disebuah tempat makan untuk memutar lagu dari musisi kesayangannya, dan hasilnya lagu yang diputar adalah nyanyian si Gamal semua.
Tak berapa lama, pesanan kami sudah ada didepan mata. Karena tak ada Galih, ku puaskan memakan makanan berlemak didepanku. "Eh udah nonton film anak SMA itu belum?" tanya si Pingkan dengan sendok kosong berada didepan bibirnya. Kugelengkan kepalaku sebagai jawaban. Kata Mama, kalau mulut penuh jangan bicara. Keselek nanti. Malu-maluin. "Nonton yuk." Ajaknya. "Bukannya udah gak beredar." Tolakku.
"Dilaptopku." Ck! Kukira dia akan mengajakku ke bioskop.
"Males ah." Kulihat Pingkan menghela napas dan meletakkan sendoknya, "Kamu jenis perempuan apaan Numaa, masa gak suka sama film itu."
"That is not my cup of tea, Kan. Aku nggak terlalu suka sama genre yang begituan. Seruan juga nonton action. Kenapa sih pengen banget nonton?”
"Mumpung weekend suami lagi gak dirumah. Jadinya bisa buat me time, makanya ngajakin kamu keluar aja." Ck, s****n. Aku cuma jadi pelarian. "Ogah. Mending main sama Rizal." Setelahnya tak ada percakapan dari Pingkan dan aku. Makanan ini terlalu nikmat daripada omongan Pingkan.
* * * * *
"Masih sore tetep ganteng aja, Gal." kataku saat melihat Galih nyender keren dimobilnya. Asem, udah sore tetep keren aja sih anaknya Bunda Mida. Tanpa perlu repot ataupun merasa berkewajiban menjawab perkataanku, dia melenggang begitu saja kearah pintu mobil, "Yuk." katanya sambil membuka pintu mobil bagian kiri. Such a romantic scene, tapi dia hanya membuka lalu pergi, bukan menunggu hingga aku masuk.
"Ganti pewangi ya?" komentarku pada aroma pewangi mobil yang baru kucium. "Iya." jawabnya sambil melirikku. Apa aku bau? Kuendusi diriku, mencari tahu apakah aku bau badan atau tidak. Apa aku terlihat kuyu? Kuambil gawaiku untuk bercermin, kurasa tidak, aku baru saja dandan sebelum ketemu Galih. "Pake sabuk pengamannya." katanya sambil menyalakan mesin. "Aku tadi ngelirik sabuk pengamanmu, bukan kamu." lanjutnya.
Kubalas perkataan Galih barusan dengan sebuah tinju dilengan kirinya. "Kamu nge-gym?" sumpah, tangan Galih sekarang keras banget, tidak besar seperti body builder. Kemudian Galih mengangguk. Ck! Pantes aja keras. "Oh Ya! Kamu gak diapa-apain si Putra, kan?" tanyaku heboh. Lalu dia hanya melirikku malas sambil menyugar rambutnya yang mulai sedikit memanjang. "Lebay deh, enggak."
Mari kira mulai random talk disaat seperti ini, "Potong rambut gih, Gal."
"Kenapa?"
"Udah panjang. Gak rapi."
"Biarin gini dulu aja, ya." bujuknya sambil menggenggam tangan kananku. Dan sekarang dia mengecup punggung tangan kananku. Lalu bergumam disana. “Kasih alasan yang masuk akal.” Kataku.
“Ya biar kamu tahu, bandelnya aku gimana.” ucapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.