Terimakasih Senggugut

1059 Kata
Numa Aku lagi di Kendal. Ngurusin proyek Ada Asnan juga disini,     Entah ini pesan keberapa yang ku kirimkan pada Galih hari ini, dan bukan kali pertama dalam satu bulan terakhir pesanku diabaikan olehnya. Memang sesekali dibalas olehnya. Dan beruntungnya, pesanku kali ini langsung dibaca olehnya. Galih Hati-hati Numa Aku pake topi dari kamu, Tapi aku gak mau kirim foto, Lagi kumut-kumut. Galih Iya.     Dibalas 'Iya' oleh Galih itu sudah amat senang. Apalagi disaat seperti ini. "Num!" k*****t banget sih si Asnan ini. Tukang teriak. "Eh! Kebiasaan banget sih koe. Aku iseh krungu, Ndes." kataku padanya. Bodo amat sedikit kasar. Toh, Mama memang orang Surabaya, jadilah begini. "Itu." ini telunjuk nunjuk kemana. Ogah banget ngikutin ini jari.     "Apaan sih! Awas! Mau lewat." kutepis tangannya yang sedari tadi menunjuk ke entah arah mana. Kalian tahu, perpaduan lapar dan panas adalah hal yang mudah tersulut. Maka dari itu diharap untuk menjauhkan amarah dari keduanya. Tapi dengan adanya Asnan diantara lapar dan panas adalah musibah. Masa bodo! Kulangkahkan terus kakiku meninggalkan Asnan. Jalan raya didepanku cukup sepi. Tak usah tengok kanan kiri kalau mau sampai seberang. Hingga kudengar klakson menjerit dari sebelah kiriku. Belum kurasakan sakitnya benturan, diriku sudah lebih dulu ditarik. Hingga aroma parfum favoritku menyerbu penciumanku.     "Mbak! Hati-hati dong!" entah siapa yang berteriak itu. Aku lebih memilih mencengkram pinggang manusia yang memelukku.     "Maaf Mas." suaranya masih bisa setenang ini. Beberapa saat kemudian tubuhku dipaksa untuk berjarak dengan d**a bidang didepanku. Kemudian pria ini menarikku untuk duduk dibawah teduhan. "Woy! Mau mati lo? Untung ada Bang Galih yang langsung lari tadi. Kurang kerjaan banget sih." kurasakan kemarahan dalam suara Asnan. Kemudian sebuah botol air minum berada didepanku.     "Minum!" kata Galih setelah membuka tutup botolnya. Kuterima dengan tangan gemetar.     "Nan, mending kamu balik ke proyek, izinin si Numa. Pekerjaan dia bisa dihandel sama kamu kan hari ini? Biar aku yang ngurusin dia." kata Galih pada Asnan. "Bisa sih bisa, Bang. Kalau anak di proyek pada nyariin lo, gimana?" tanya Asnan. Kuangkat kepalaku melihat mereka berdua. Barulah aku sadar, kenapa Galih bisa disini? Dan apa maksudnya anak-anak di proyek? Ah mbuh lah, rak mudeng     "Santai. Lagian aku juga cuma gantiin Bos. Udah ngertilah mereka." kulihat Galih menepuk-nepuk pundak Asnan. "Ya udah gue cabut dulu. Tuh anak perlu di rukiyah deh, kayanya Bang." Ucap Asnan sambil menatapku tajam. Dan Galih hanya tertawa saja. Sepeninggal Asnan. Galih duduk dibagian bangku yang kosong disampingku. "Minum." ucapannya masih sama seperti yang tadi. Namun lebih lembut.     Kulakukan apa yang dikatakannya. Meminum sedikit air hanya untuk membasahi bibir saja. “Udah tenang?” tanyanya, dan kujawab dengan gelengan. Kulihat Galih berdiri, "Kita gak bisa ngomong disini." katanya sambil mengulurkan tangan padaku. Mengajakku berjalan kearah mobilnya. Lalu dia membukakan pintu untukku. Kukira dia akan langsung berbicara denganku, ternyata tidak. Sepuluh menit mobil berjalan, blas gak ada omongan.     "Gal." panggilku pelan. Sesekali aku meringis karena senggugut. Ini hari pertama datang bulan. "Kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya saat melihatku meringis tadi. Kugelengkan kepalaku. Lalu memilih membawa kakiku untuk keatas kursi. Kemudian memeluknya. Tak lama Galih berhenti didepan sebuah penginapan yang jelas bukan penginapanku.     "Kenapa, hm?" tanya Galih sambil mengusap kepalaku. Ya Allah, terimakasih, akhirnya aku bisa mendengar suara Galih yang menenangkan lagi. Meskipun nyeri diperutku benar-benar sakit. Seingatku tadi pagi gak sesakit ini. "Nyeri," jawabku sambil mengusap perutku.  "Yaudah turun dulu." katanya sambil melepaskan kaitan sabuk pengamanku. Kemudian dia keluar dan berjalan mengitari mobil.     "Nyeri banget." ucapku selepas dia membuka pintu mobil disampingku. "Iya, tapi kan gak mungkin kita disini terus. Turun dulu." Dengan terpaksa aku turun dari mobil. Dan berjalan menggandeng lengan Galih. Sesampainya di sebuah kamar. Kurasa ini milik Galih. Kami masuk kedalamnya. Galih mengeluarkan sebuah kaos lengan panjang dan celana selutut sebagai baju gantiku. Kemudian kuminta dia untuk membelikanku jamu kunyit asem dan pembalut. Semoga saja Galih tidak malu saat membelinya.     Kuganti bajuku dengan baju Galih. Mencuci mukaku lalu setelahnya berakrobat diatas kasur Galih. Kalian tahukan ada tipe wanita yang heboh ketika datang bulan. Sepertiku misalnya. Masa bodo dengan sprei yang acak-acakan. Kedengar bunyi panggilan dari hapeku. Kuedarkan tanganku mencarinya. Setelah ketemu lalu kuangkat.     "Udah ganti baju?" Galih toh tibak e. "Udah. Kamu dimana?"     "Di parkiran. Bentar lagi kesitu." lalu panggilan diputus. Tak lama bunyi ketukan pintu terdengar. Kubuka pintunya dan terlihat Galih dibaliknya. "Ini jamunya. Sama aku beliin sate tadi. Ini bener kan pembalutnya yang ini?" dikeluarkannya bungkusan itu dari plastik hitam tadi. "Iya bener. Makasih,"     "Aku ke kamar mandi dulu." Ucapku dan kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi. Kurasa aku harus berterimakasih pada senggugut kali ini.. Alhamdulillah, meskipun sakitnya masih berasa.                                                                                         * * * * *     Selesai makan dan ngapa-ngapain. Tapi bukan ngapa-ngapain yang negative yaa.. Jangan sembrono mikirnya. Galih sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Kuubah posisiku dari berbaring jadi tengkurap disamping Galih. "Kamu ngerjain apa?" tanyaku dari belakangnya. Galih tidak menoleh namun menjawab, "Tender dari klien."     "Masih marah?" kucoba melempar peruntungan dengan masalah kemarin. "Emang sekarang kelihatan marah gak?" liriknya sambil tetep menjaga wajah gantengnya menghadap laptop. "Ya kan lain dimuka lain dihati." kumiringkan kepalaku menghadapnya. "Sekarang udah nggak. Jangan diulangi aja sih."     YESSS!!! Aku dimaafin!! Aku turun dari kasur lalu duduk bersila disampingnya, menghadap kearah Galih sepenuhnya. "Siap!" kataku. "Jangan nyebrang sesuka hati. Itu jalan umum, bukan jalanmu Num."     "Oke!"     "Jangan cuma 'siap' sama 'oke' aja. Dilakuin." sindirnya sambil mulai mengetik lagi. Kumajukan badanku kearah kepala belakangnya. Kubisikkan sesuatu disana, "Sayang kamu." Dan respon darinya adalah ... Senyuman manisnya. Duhh.. Jantungku pelan aja lah detaknya. Pipiku memanas dibuatnya. Hening beberapa menit. Hanya ada suara yang ditimbulkan jari Galih dan keyboard laptopnya. Ketika sudah tidak ada suara dari jari keyboard yang beradu maka kurasa pekerjaannya sudah selesai. Dan dia menutup laptop itu sekarang.     Sek sek, tadi Asnan bilang nanti anak-anak bakal nyariin Galih kalau dia pergi. "Kamu kenapa bisa disini?" tanyaku. "Masa kamu gak tahu kalau aku sama Asnan sekantor? Lupa?"     "OH IYA! Kok aku bisa gak inget sih, Gal. Ah tahu gini aku pasti tahu kalau kamu--" Oke sekarang aku jadi patung karena tindakan Galih mengusap kepalaku. Untungnya tadi pagi aku udah keramas. Jadi gak bau banget lah yaa..     "Gal."     "Hm?"     "Jangan macem-macem!" ucapku mengingatkannya.     "Enggak."     "Kalau kamu aneh-aneh nanti tak bilangin ke Bapak biar gak dapet restu Bapak."     "Enggak. Aku gak ngapain-ngapain kamu." kemudian diturunkannya tangan itu dari kepalaku. Dia diam. Hanya diam sambil memandangku. Kutahankan saja menatap matanya.     "Nanti nikah sama aku ya, Num."      Apa??? Aku nggak salah dengerkan? Aku nggak lagi mimpi, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN