Hari ini Pak Bos bilang akan ada rapat bahas sebuah proyek dengan rekanannya. Dan aku diminta untuk menyiapkan ruangan rapat, dan kebutuhan lainnya. Hal itulah yang menyebabkan aku harus berada diruangan 4x4 meter ini sendirian, eh nggak nding ada proyektor yang lagi nampilin tayangan gosip terkini dari laptopku. Sesekali kunikmati segelas jus jeruk yang aku beli melalui Pingkan yang berangkat siang.
“Permisi!!” --- “Astaghfirullah hal adzim,” buru-buru kutolehkan kepalaku menuju asal suara yang sepertinya berasal dari pintu ruang rapat. Dan ternyata benar, disana ada dua orang lelaki dewasa yang sedang melihatku, kuberikan tatapan kekesalanku kepada mereka. Untungnya jus jerukku tidak tumpah, bisa gawat kalau tumpah.
“Maaf, Mbak. Nggak sengaja. Tadi saya udah ketuk pintu tapi nggak ada sahutan, ya udah saya masuk aja langsung.” Ucap seorang pria yang berdiri paling depan. “Ada apa ya, Mas?” tanyaku mencoba bersikap ramah. “Saya mau rapat, tadi sama resepsionis diminta ke ruangan ini.” Katanya. Oh yang mau rapat tho.
“Silakan duduk, Mas.” Kataku sambil mempersilakan mereka untuk duduk di kursi yang kosong kemudian kuberesi barang-barang tidak berguna milikku yang ada diatas meja, “nama saya Numa, sebentar saya panggilkan Bapak dulu.” Ujarku sambil pamit mencari si bos. Kucari bos diruangannya, namun dia tidak ada. Kemudian kucari dia diarea parkir kantor, dan dia berada disana.
“Ada apa, Num?” tanya Pak Bos sambil mengangkat sebuah kantong plastik besar yang kuperkirakan isinya adalah snack untuk rapat. “Udah datang tuh yang mau rapat.” Kataku sambil menutup pintu belakang mobilnya. “Berapa orang?” tanya Putra yang sudah lebih dulu berjalan didepanku. “Baru dua orang.” Kuikuti terus jalannya si Bos hingga depan pintu ruang rapat. Dan didepan ruang rapat sudah ada salah satu dari lelaki yang mengagetkanku tadi. Pak Bos sempat berbicara singkat dengannya sebelum kemudian beliau masuk kedalam ruangan.
“Numa ya?” ucap pria itu saat aku akan masuk kedalam ruangan. “Iya,” jawabku singkat. “Lupa sama aku?” katanya lagi. Sejujurnya aku malas mengingat-ingat, tapi pria didepanku ini terlihat tidak asing, dimana ya aku pernah bertemu. Kulihat pria ini tersenyum memaklumi aku yang sedang kesulitan mengingatnya, merasa aku tidak dapat mengingatnya diapun mengenalkan dirinya, “Asnan.” Ucapnya singkat, “temen kuliah, Num. Masa lupa sih?”
“Asnan?!!” seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat aku terus melihatnya seakan membandingkan pria didepanku dengan Asnan di ingatanku dulu. “Beda banget, weh.” Kataku sambil meninju lengannya. “Jelaslah, udah lumayan mapan sekarang. Eh dengar-dengar kamu dekat sama Bang Galih anak organisasi itu ya? Beneran sama Bang Galih?”
"Iya,”
"Serius? Udah berapa lama?"
"Almost dua tahun,”
"Enggak, bukannya dulu waktu kuliah rumornya dia itu deket sama Mbak Sinta yang anak Putri Jurusan itu ya." Mbak Sinta itu satu angkatan dibawah Galih, yang artinya satu angkatan diatasku. "Ya itukan dulu. Kenapa sih?" aneh banget si Asnan ini. Pake bawa-bawa nama Mbak Sinta yang terkenal jelita itu.
"Enggak ada apa-apa, aku cuma penasaran kok bisa kalian jadian. Sini cerita sama Abang." kata Asnan sambil menampilkan ekspresi sing marai gilo. "Najiss." umpatku padanya. Namun kemudian aku menceritakan padanya, "Jadi gini, kita ketemu tuh dua tahun lalu, pas acara kantornya dia di Bogor. Kantorku diundang. Aku jadi perwakilannya. Kita ngerasa kek familiar antara satu sama lain karena dulu pernah satu kepanitiaan kan, terus dia nyapa aku, jadilah kita mulai deket dari situ." aku berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Setelah itu Nan, dia dateng kerumah. Katanya buat minta izin kalau mau deket sama aku. Pas itu yang dirumah cuma Mama sama Mas Ilham. Dan dia izin sama Mama terus dibolehin. Ya udah dia nembak aku waktu itu. Gimana ya, bukan nembak juga sih sebenernya. Berkomitmen lebih tepatnya. Dan kukira bakal kaya mantan-mantan aku yang dulu, cuma tiga bulan pacaran terus putus. Ini enggak. Apa ya, gak bisa dijelasin lah." Jelasku panjang lebar sama cowok yang dulu waktu kuliah slengean tapi sekarang jadi sekeren ini. Sayang, dia udah nikah teman-teman.
"Wah wah wah, seorang Numa dibuat gak berkutik sama Bang Galih. Keren." katanya hiperbolis. "Aku tadi pangling sama kamu, Num. Sumpah, beda banget sama pas waktu kuliah dulu."
“Beda apanya?”
"Banyak sih, dari style rambut pertama, terus make up, gaya pakaian kamu juga beda, sama lebih bersih aja muka kamu. Cuma, ada satu yang gak berubah." kurasa dia sengaja menghentikan ucapannya agar aku berkata ... "Apa?"
"Jerawat kamu yang dipipi kanan itu kayanya selalu ada ya, Num."
Ee buset.. "Ini baru muncul dua hari yang lalu. Gak usah protes. Galih aja gak protes." sengitku padanya. Dan tak lama tawanya terdengar. Kalau kalian bertanya siapa teman lelaki yang paling sering kuhabiskan waktunya, jawabannya bukan Galih, karena waktu itu kami hanya sebatas kenal nama saja. Yang benar adalah Asnan. Dan hanya sebatas teman.
* * * * *
"Udah pulang?" terdengar suara Galih di benda pipih dekat telinga kiriku. Saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang naik taksi online. "Lagi di taksi." jawabku lemas. "Lemes banget?"
"Iya."
“Aku mau cerita,” kataku cepat. “Boleh.” Jawab Galih. "Tadi aku ketemu sama Asnan, tauk. Dia tadi ikutan rapat dikantor, dan ternyata dia itu rekanan si Bos. Kami tadi ngobrol lumayan banyak, terus pas kami cerita masa lalu tetiba dia bawa-bawa nama Mbak Sinta masa." aduku pada Galih, sambil berharap cemas, reaksi apa yang dikeluarkannya.
"Terus?" Duhhhh Mamass.. Masa cuma terus. "Kamu inget Mbak Sinta gak sih? Atau jangan-jangan kamu gak reti mana yang namanya Asnan."
"Sinta yang jadi Putri Jurusan itu kan? Asnan yang temen cowokmu yang suka kamu bawa kemana-mana itu kan?"
"IYA!!" Kulihat pak sopir melirikku dari kaca tengah, lalu aku hanya tersenyum sambil mengangguk sungkan, meminta maaf padanya. "Harus nge-gas banget ya, Num? Maunya kamu gimana?"
"Ya gak tahu. Emang kamu gak ada gimana gitu denger nama Mbak Sinta?"
"Biasa aja."
"OH!" duhhh kapan Galih Pranaja akan jadi lelaki yang tanggap, Oh Tuhan. "Kamu cemburu?" tanya Galih yang langsung membuatku diam. Aku? Cemburu? "Saya gak cemburu." kumatikan sambungan itu tanpa pamit kala taksi telah berhenti didepan rumahku.
"Assalamualaikum." teriakku saat membuka pintu. Dan aku langsung disambut oleh Bapak. "Waalaikumsalam." kata Bapak. Kucium tangan Bapak, lalu masuk kedalam rumah. "Udah makan?" tanya Mama dari ruang makan. Tentu saja belum. Ini baru jam setengah tujuh malam. "Belum, Mama. Numa mau mandi dulu." kemudian kulihat Mama mengangguk saja. Dan disana juga ada Mbak Syila yang membantu Mama. Kugerakkan kakiku untuk membersihkan diriku dari debu yang menempel. Keringat yang tercampur debu dan sel kulit mati harus segera dibersihkan. Mandi. Setelah selesai Mandi, aku membuka sejenak ponselku. Manusia sekarang itu gak bisa lepas dari benda persegi ini. Aku juga sih.
Ada satu pesan dari Galih.
Galih
Sopan.
Satu kata dan diakhiri dengan tanda titik. Oke, dia mulai marah sepertinya.
Numa
Maaf
Galih
Udah keseringan
Numa
Galih
Maaf, tadi aku turun dari taksi terus bayar.
Galih
Gak bisa pamit?
Sumpah, Mama aku keder sekarang. Padahal ini cuma chat via w******p. Tapi marahnya kerasa sampe sini. Dia di Jogja aku di Semarang.
Numa
Oke aku salah,
aku udah minta maaf loh.
Galih
Ok
Dan kurasa malam ini aku harus tidur dengan menanggung rasa bersalah kepada Galih.
* * * * *
Sejak kejadian aku mematikan telepon empat hari yang lalu, Galih masih bersikap dingin padaku. Kucoba berbagai cara untuk mengembalikan Galih. Tapi nihil. Dia tambah diem.
Numa
Marahan cuma boleh 3 hari tok.
Bahkan pesan yang kukirimkan pagi tadi hanya di read saja olehnya. "Pingkan." panggilku pada Pingkan yang asik mengunyah keripik pisang. "Apa?" Baiklah Numa, semoga pilihan bercerita pada Pingkan adalah hal yang benar. "Gimana kalau kamu telepon orang, terus tiba-tiba dimatiin gitu aja sama dia?"
"Kesel banget, anjir." berpura-pura tak mengerti, kulanjutkan pertanyaanku, "Gimana rasanya, jelasin!" kataku sambil mendekatinya. "Ya kaya, ini orang gak sopan banget sih, kita udah ngeluangin waktu buat nelepon malah main dimatiin. k*****t. Taekk." s**l kalau Pingkan sudah memakai kata mutiaranya, berarti ini menyinggungnya. "Oh okay." setelahnya langsung ku telepon nomor Galih melalui speed dial. Beberapa saat kemudian baru diangkat.
"Halo." cicitku pelan.
"Ada apa?" suara Galih terdengar datar.
"Mau ngomong. Terserah mau didengerin atau nggak, asal jangan dimatiin. Oke?" kucoba mencari peruntungan.
"Oke." jawabnya datar lagi.
"Aku ngerti gak enaknya dicuekin, gak dianggap, gak dihargain. Pas lagi telepon main di matiin. Apalagi udah nyempetin ngeluangin waktu malah yang ditelepon kurang ajar. Aku tahu aku salah, aku kurang ngehargai kamu. Karena aku ngerasa kamu bakal selalu ngasih toleransi kelakuan aku. Ternyata gak. Galih tetep punya batas sabar." kuhela napasku sejenak. Dan Galih tidak bersuara sama sekali. Kulanjutkan perkataanku, "Dan lain kali aku gak ngulangin hal itu. Maaf aku udah nggak sopan. Kalau kamu matiin sekarang gak apa-apa."
"Ngapain dimatiin, kayak kamu aja." tak kusahuti perkataannya yang menyindirku. Hingga dia kembali berucap, "Kenapa kemarin kaya gitu?"
"Aku berharap kamu bakal ngerasa aneh pas aku nyebut nama Mbak Sinta sama Asnan. Ternyata kamu biasa aja."
"Karena aku udah sama kamu. Masih kurang panjang?"
Aku diam. Kembali Galih berucap, "Aku sayang sama kamu. Jadi aku ngerti gimana harus bersikap sama kamu. Tanpa ngekang atau ngurung kamu. Aku balik kerja lagi. Kumatiin ya." Dan aku langsung duduk dikursiku. Tak tahu berucap apalagi. Ujung mataku terasa basah. Galih membuka pemikiranku. Lagi.
* * * * *