Lebih Ganteng Dari Mantan

1951 Kata
    Reuni adalah acara kumpul-kumpul setelah lama gak ketemu. Biasanya reuni adalah acara yang paling ditunggu oleh setiap orang, mungkin mayoritas. Ada beberapa kebetulan yang ingin aku sampaikan disini. Satu, kebetulan ada undangan reunian dengan kawan SMA. Dua, kebetulan Galih sedang ada di Semarang. Tiga, kebetulan aku sedang tidak ada acara jadi bisa datang ke acara tersebut. Dan yang terakhir, acara reunian kali ini bolehmembawa pasangan. Akhirnya aku bisa menghadiri acara reuni kali ini. Reuni terakhir kali aku tidak datang karena enggan bertemu dengan mantanku saat SMA.     Galih bilang hari ini dia hanya ada acara bertemu klien pagi hari, dan dia bilang akan selesai sebelum dhuhur. Semalam aku sudah mengatakan pada Galih untuk menemaniku reunian, dan reaksi Galih adalah cuma di read aja pesanku. Kurasa dia sedang sibuk membuat materi untuk diskusi dengan klien besok, hm sepertinya.     Kunikmati pagi indahku dengan duduk di teras depan rumah sambil membawa secangkir teh panas dan kacang rebus. Kukira pagi ini tidak ada gangguan apapun, namun itu hanya perkiraanku, "Kamu ngapain?" ck! Kenapa harus calon emak-emak ini sih yang keluar dari pintu kediaman Bapak Nasrin. Mari berkenalan dengan dia, dia adalah Syila Rosana Nasrin, pemilik dua klinik kecantikan di Semarang, dan dia adalah seorang bloger.     "Duduk nih." jawabku datar.      "Heh! Anak PAUD pun juga tahu kalau kamu duduk. Itu hape dari tadi kedap kedip, di tilik’i itu loh, Dek. Itu hape kedap-kedip terus tuh artinya kurang belaian." Izinkan aku merekam tiap perkataan Mbak Syila mulai dari sekarang. Biar keponakanku yang ada diperutnya tahu gimana ganasnya mulut sang emak.     Tak tahan dengan omelan Mbak Syila yang kalau bisa kudekripsikan ibarat meriam, mengagetkan namun setelahnya hilang, aku pergi kedalam untuk melihat apa yang terjadi dengan gawaiku. Kulihat benda itu bergetar dan berkedip, oh dan jangan lupakan posisinya yang hampir jatuh dari atas meja didepan televisi.     “Tuh kan, apa Mbak bilang. Mana hapemu hampir jatuh, kan.” Tak kuhiraukan perkataan Mbak Syila. Aku memilih untuk melihat siapakah gerangan yang berani membuat gawai milik Numa menjadi seliar ini. Kuhela napasku sebelum mengangkat telepon dari sosok yang aku kenal.     "Halo. Assalamualaikum,” ucapku pelan namun tak memperoleh balasan, kulihat lagi layar gawai, jelas-jelas diangkat oleh Galih, namun tidak ada jawaban. "Gal." Panggilku lagi, mari berhitung tiga, dua, satu...     "Kemana aja?"     "Hah? Dirumah kok."     "Ini telepon ke dua puluh satu dan kamu baru angkat. Kerjaan aku udah selesai, acaramu jam berapa?" ucap Galih terdengar emmm kesal.     "Jam satu."     "Good, kamu belum mandi kan?"     "Kok tahu?"     "Tahulah, kamu itu jarang mandi. Sekarang mandi sana. Jam setengah satu harus udah siap-“ Ehh!!!     "Gal." ucapku memotong perkataan Galih.     "Apa? Gak sopan orang lagi ngomong, disela begitu."     "Ini baru jam sebelas kurang seperempat loh."     "Terus? Mau telat kaya kondangan bulan lalu? Udah, sekarang sana mandi. Aku mau ngopi dulu." dan tanpa basa - basi lagi, panggilan itu diakhiri.                                                                                             * * * * *     Suara mobil Galih terdengar memasuki pelataran rumah Pak Nasrin aka Bapakku. Segera saja aku berlari keluar untuk menyambutnya. Sekaligus menunjukkan padanya kalau aku sudah siap untuk reunian kecuali sepatu. Namun ketika aku sampai didepan rumah, kulihat Galih dengan santainya menenteng belanjaan Mama, dan Mama turun dari mobil Galih.     "Kok Mama bisa sama Galih, tadi Mama bilang katanya mau shopping?” tanyaku saat melihat Mama bersama Galih. "Bisalah, emangnya kamu doang yang bisa semobil bareng Galih?” kata Mama dengan ekspresifnya, kemudian Mama berbalik menghadap Galih, meminta belanjaan yang dibawa oleh Galih, “Terimakasih ya, Galih. Hati-hati ya bawa mobilnya, kalau Numa banyak tingkah jewer aja. Tante masuk dulu ya.”     "Iya, Tante." ucap Galih sambil tersenyum. Segera saja kupepet Galih, “Kamu kok bisa bareng sama Mama sih?” Galih hanya mengangguk saja sebagai jawaban, “Kamu nggak mau nawarin aku duduk?” Kutepuk jidatku lalu mempersilahkannya untuk duduk dikursi yang ada diteras rumah, “Nggak usah buatin minum,” ucap Galih sambil memejamkan mata. Sejenak kuperhatikan wajahnya. Ada yang aneh. Kududuki bangku kosong diseberangnya, “Kok kantong mata kamu nyeremin gitu sih?”     “Hm? Kelihatan banget apa?” tanya Galih sambil mengusap bawah matanya. “Iya, lebih hitam dari biasanya.” Pekerjaan Galih sebagai seorang arsitek terkadang menuntutnya untuk lebih tahan dengan waktu tidur yang singkat. "Kurang tidur beberapa hari belakangan. Udah siap belum?" tanyanya masih dengan memejamkan matanya.     “Aku pakai sepatu sama pamit ke Mama dulu, ya.”     Akupun segera melesat kedalam rumah, memakai sepatuku, mengambil tasku, dan tidak lupa pamitan dengan Mama. Setelah berpamitan dengan Mama, aku dan Galih berjalan kearah mobil yang terparkir didepan rumahku, hal pertama yang langsung kusadari adalah betapa berantakannya bagian kursi belakang di mobil Galih. Langsung saja kutatap Galih yang baru memasuki mobilnya.“Mobil kamu kenapa berantakan gini?”     “Oh itu? Itu sisa maket yang hancur kemarin lusa.” Katanya sambil mengemudikan mobil untuk keluar dari pelataran rumahku. Kukeluarkan sebuah kantong plastik dari dalam tasku, kemudian berpindah kebelakang untuk membersihkan sisa-sisa maket itu, “Udah gak kepakai, kan?” dan balasan Galih hanyalah sebuah anggukan saja. Tak sampai 10 menit, kondisi mobil Galih kini sudah jauh lebih baik. Kali ini aku berpindah kembali kedepan, untuk membersihkan bagian bawah dashboard. Tiba-tiba kurasakan kepalaku dipegang oleh Galih kemudian mobil berhenti.     "Sembarangan banget sih bawa motor." ucap Galih sebal. "Gak kebentur kan, Num?" tanya Galih saat posisiku kembali duduk. Jadi tangan itu tadi melindungiku dari benturan. Kok sweet gini sih, Galih.     "Enggak. Makasih." jawabku sambil tersenyum. Kemudian mobil Galih kembali berjalan. Satu dua kemacetan dan traffic light sudah kami lewati. Dan sampailah kami di rumah makan yang menjadi tempat acara reuni ini. Oh iya, reuni ini adalah reuni angkatan SMA, jadi IPA dan IPS ikut.     "Ini tempatnya?" ucap Galih sambil menunggu mesin mobil stabil, kemudian mematikannya. "Iya disini. Kamu udah makan belum?” tanyaku sambil membetulkan riasanku. Dan sialnya ada dua jerawat yang sedang menghiasi wajahku, satu ada di atas alis sebelah kanan dan yang satu ada ditengah-tengah daguku. Ck, ini sangat mengganggu. “Tadi makan pisang, tok.” kata Galih yang masih dengan sabar menunggu aku selesai berkaca.     “Lihat deh aku jerawatan lagi masa. Dua lagi ini merah-merah semua. Gimana dong, Gal.” kataku sambil menunjukkan pada Galih letak jerawatku. Namun reaksi dari Galih hanya biasa saja, dia hanya menampilkan ekspresi datarnya saja.     “Terus aku disuruh ngapain, Numa? Udah selesai belum dandannya?”     “Udah nih. Nggak usah ditutupin gak apa-apa, kan?”     “Hm? Maksudnya?”     “Ya, takutnya kamu malu gitu jalan sama aku.” Ujarku sambil menyibukkan diri dengan mengemasi barangku. Tanpa kuduga, kepalaku kemudian ditarik oleh Galih dan sebuah kecupan hadir di kepalaku. “Ngapain aku malu, hm?” katanya sambil ngekep kepalaku dengan erat. Untung wangi, makanya aku tahan.     “NUUMMAAA...” sebuah teriakan tiba-tiba hadir hingga membuat Galih melepaskan kekepannya. Kami berdua serempak menoleh kearah sumber suara yang rupanya seorang gadis berhijap trendi yang sedang berjalan mendekat kearahku. Kupandang perempuan itu hingga dia behenti didepanku dan menatapku penuh perhatian, “Numa, kan?” kupegang baju belakang Galih, dan menjawab pertanyaan si perempuan ini dengan anggukan.     "Kamu lupa ya sama aku?” kuangguki lagi pertanyaannya. Kulihat dia menghela napas untuk memulai berbicara, "Ihh aku Andin. Masa lupa." Kucoba mengingat-ingat nama Andin dalam memoriku. "Andin, Andini, kan? Yang dulu suka manjat pohon mangga dibelakang kelas itu bukan, sih?" ungkapku ketika berhasil menemukan si Andin dalam ingatanku.     "Nah iya bener. Aduhh kangen banget sama kamu." dan yap, pelukan hangat dari partner in crime semasa SMA kudapatkan, namun hal itu harus membuat peganganku pada baju Galih terlepas. "Wait, si ganteng ini siapa?" dan lepaslah pelukannya padaku saat dia menyadari sesosok makhluk tampan berdiri  disampingku, "Gak boleh dianggurin nih." lanjut Andin. "Pacarku, Ndin." jawabku bangga.     "Serius? Mas kok mau sih sama cewek model Numa gini, sorry to say nih ya mas, Numa cantik sih, cuma jerawatan” kata Andini kemudian dia ulurkan tangannya kepada Galih, "kenalan dulu Mas, nama saya Andini, saya temen sekelasnya Numa dari kelas satu sampe kelas tiga. Oh iya, saya udah nikah, jadi maaf ya jangan deketin saya."     Sungguh aku kurang berkenan dengan tingkah Andini didepan Galih. Dia bersikap seakan menjatuhkan diriku didepan pacarku sendiri. "Maaf mbak, saya juga punya pasangan, dan bagi saya Numa itu cantik, lebih dan kurangnya dia.” Kata Galih membelaku. "Ouh, okay. Aku anter ke tempat anak-anak yuk. Tadi aku abis dari toilet terus nemu kamu disini." ajaknya sambil tersenyum sungkan kepada kami.                                                                                             * * * * *     "Siapa nih, Din?" ucap seorang yang cukup berisi, aku tak ingat dia siapa. "Ini si Numa. Cantik ya." jawab Andin. “Seriusan si Numa, mantannya si Bayu, kan. Cantik juga kamu ternyata.” Si berisi itu mengulurkan tangannya padaku. Si berisi didepanku ini kemudian menengokkan kepalanya kearah belakangku, "Eh, itu si Bayu. Dia masih tetep ganteng loh, Num. Dan yang kutahu, dia jomblo."     Bayu itu mantanku, satu-satunya mantan yang ku punya di SMA. Pada masa awal kami berpacaran sempat membuat kehebohan, yaitu sang pangeran sekolah berpacaran dengan si gadis berjerawat dari kelas sebelahnya. "Dia kesini tuh." ucap si Andin. Kuperhatikan air muka Galih yang sedari tadi hanya diam, dia berada agak jauh dariku seakan memberi ruang bagiku untuk berbaur dengan teman-temanku.     "Hai." sapa Bayu padaku. Memang dia masih tampan, tapi kalian akan tahu bahwa dia punya satu kekurangan besar. "Kok kamu tambah cantik sih? Jadi nyesel deh aku putusin kamu dulu." Perkenalkan, Bayu sang pangeran sekolah yang hanya modal wajah, tapi bermulut menyebalkan.     “Kamu pasti masih jomlo, kan? Aku mau kok kalau nemenin kamu jalan. FYI aku lagi tugas di Semarang, jadi bolehlah kita sering ketemu. Nanti kukenalin sama temenku, barangkali jodoh.” Ucap Bayu seenak jidatnya, belum sempat aku meladeni perkataannya, pria egois itu melanjutkan kembali ucapannya, "Nanti kuanter pulang yuk." ucapnya sambil menyugar rambut.     Kukepalkan tanganku menahan emosi, namun kurasakan sebuah tangan melingkupi genggamanku, kudapati Galih saat menolehkan kepalaku, kemudian dia menarik genggamannya padaku hingga posisiku berada sedikit dibelakang tubuhnya. “Ada apa, Mas?” ucapnya dengan nada yang bisa dikatakan tidak ramah.     Kudapati senyum menyebalkan terpatri diwajah Bayu, “Wuih siapa nih, Num? Pake gandeng-gandeng segala. Kek truk gandeng aja.” Kurasakan genggaman Galih semakin mengerat ditanganku. “Oh, pacarnya Numa, ya?” tanya Bayu dengan ekspresi yang sungguh membuatku ingin melempar pajangan diatas meja kearahnya.     “Kalau iya kenapa?” ucap Galih semkain kentara rasa tidak sukanya. Menyadari hal tersebut, si berisi yang belum kuingat namanya memilih mencoba membuka topik pembicaraan lain, kulihat tatapan sedikit takut dimata Bayu.      Kesekian kalinya aku menyesali sebuah acara bernama reuni. Dari tadi Galih juga terlihat tidak menikmati acara reuni ini. Dia lebih banyak menatap layar gawai sambil memainkan jariku yang ada digenggamannya. Aku merasa Galih sedikit terpaksa berada disini, dan hal itu membuatku merasa bersalah kepadanya.                                                                                                “Sorry,” cicitku sambil menggenggam tangannya.     “Hm? I’m fine, Num.” kata Galih sambul tersenyum menenangkanku.     Akhirnya kami bertahan hingga acara berakhir, yah meskipun kami harus menahan rasa dongkol dihati. Tingkah laku Bayu benar-benar memuakkan, dia berlaga menjadi seseorang paling keren diacara itu. Andin meminta maaf padaku atas tingkah lakunya tadi, dan mengatakan mungkin Bayu sedang tidak terima kalau aku datang ke reunian bersama pasangan, sedangkan dia baru saja ditinggalkan sang kekasih. Itu kata Andin ya.     Sekarang tinggal pamitan maka aku dan Galih bisa keluar dari acara ini, namun saat tahu siapa yang harus kupamiti kali ini, rasanya membuatku muak. “Eh, Numa! Kamu nggak mau balikan sama aku?” ucap Bayu dengan sedikit menaikkan volume bicaranya, dasar lelaki pencari perhatian.     Terang saja hal itu langsung membuaku emosi, “Maaf ya, Mas Bayu. Saya sudah punya pasangan yang jauh lebih baik hatinya, baik bicara, dan lebih ganteng daripada Anda. Jadi maaf keinginan Anda untuk balikan saya tolak.” Setelah mengucapkan hal itu, langsung saja kusalami dengan cepat beberapa orang yang ada didepanku.     “Good girl,” kata Galih saat keluar dari rumah makan.                                                                                                  * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN