Seusai acara reuni, aku dan Galih memutuskan makan di sebuah warung makan penyetan. Sepanjang perjalanan gak ada tuh tanda-tanda Galih cemburu sama Bayu. Nyebelin banget, kan. Padahal aku juga pengen tahu bagaimana Galih kalau sedang cemburu. "Kamu apaan ngirim pesan? Orang akunya aja ada disebelah kamu." kata Galih sambil menunjukkan layar gawainya kepadaku. Oh! Itu saat aku bosan di perjalanan dari tempat reuni ke warung makan, Galih sama sekali tidak mengajakku berbicara, dia hanya bernyanyi ngikutin stereo mobil aja, apakah mungkin itu penyampaian rasa cemburunya?
Jadi begini pesan yang aku kirim,
Numa
ILU
"Apa ini ilu-iluan?" duhhh Ya Allah, Galih emang ganteng! Tapi gak pekanya kebangetan, masa Cuma singkatan seperti itu dan dia nggak tahu. "Bales lah!" ucapku sambil menutup (baca, membanting) pintu mobil dan meninggalkannya diparkiran warung makan. Tapi langkahku terhenti saat kurasakan tanganku digenggam. Kukira dia akan membalas perkataanku, ternyata tidak. Dia hanya menggandengku memasuki warung makan. Kan sebel! Si Galih memilih tempat duduk sedangkan aku memesan untuknya. Tahu menu apa yang kupesan? Olahan yang sangat dibencinya.
"Aku kamu pesanin apa?" tanya Galih saat aku duduk didepannya. "Nanti juga tahu." kataku sambil mengeluarkan gawaiku, bermain sebuah game action disana. "Berisik, Num." kata Galih saat suara game ini menggema. tak kuhiraukan keluahnnya tentang berisiknya suara game ini. Merasa tak didengarkan Galih merebut gawaiku dan menghentikan jalannya gameku. Kutatap dia dengan pandangan seakan berkata terserah kau saja Gal, ck! Kurasa aku harus tanya sama Bunda Mida apa rahasia punya anak ganteng.
"Permisi, ini pesanannya." ucap seorang Pramusaji yang membawa pesanan kami. Kulirik ekspresi Galih. Antara bingung, marah, dan lapar. Haha... "Selamat menikmati." ucap sang pramusaji kemudian kubalas terimakasih. "Seriously." Kata Galih sambil menunjuk menu yang kupesan, setelah ini kalian akan mendengar keluhan Galih, "Num, ini paket hati ampela sama paket lele. Terus kenapa paket hati ampelanya ada didepanku, bercanda?" tanyanya sambil menatapku tajam.
"Pesenin lagi yang lain." sebenarnya hal ini akan mudah kalau Galih makan sendiri atau bersama kawannya. Jadi dia bisa tinggal pesan lagi menu baru. Namun akan sulit kalau makan bersamaku atau Bunda Mida. Dia akan sangat manja. "Males ah, laper aku tuh. Meskipun tadi udah makan hati waktu ketemu Bayu. Terus ada yang gak peka, dikasih ucapan cinta tuh harusnya dibalas gitu." kataku sambil menyodorkan piring berisi nasi dan lele kehadapannya dan mengambil piring yang ada ati ampelanya. “Yaudah sini kalau nggak mau makan jeroannya, ini makan lele aja. Barangkali habis makan jeroan aku jadi tambah sabar.” Kuambil suapan besar berisi nasi, sambal, potongan ati, dan sedikit sayur kemudian kumasukkan kedalam mulutku.
“I love you too.” Ucap Galih sambil mengembalikan gawaiku yang disitanya.
Mendengar hal itu membuatku tersedak rasa pedas dari sambal yang kumakan. Selanjutnyahanya berisi kepanikanku dan repotnya Galih.
* * * * *
"Nih." kataku sambil menyodorkan potongan kecil melon yang kami beli dipinggir jalan tadi kedepan mulut Galih. Tentu dia akan menerimanya. Itu salah satu buah favoritnya. "Lain kali kalau mau ngerjain yang pinter, Num." Ucap Galih. "Kamu sih gak pekaan." Kulihat Galih menghela napas, kurasa Galih suka sekali menghela napas. "Kamu tuh udah tahu aku sayang sama kamu masih pake ngirim begituan. Tinggal bilang langsung aja, bisa kan."
"Habisnya kamu suka ngejekin aku kalau aku bilang kek gitu ke kamu."
"Kamu cocok sih kalau diejekin."
"Oh gitu, nanti aku bujuk Bapak buat ngasih kamu tantangan ngelebihin Mas Ilham, kalau kamu ngelamar aku." ancamku ngaco. Tapi waktu Mas Ilham ngelamar Mbak Syila dulu disuruh sama Bapak buat nanam cabai dikebun bapak. Dan itu cukup sulit, mengingat Mas Ilham adalah pilot dan jarang ada waktu senggang.
“Yakin banget mau dilamar sama aku.” Katanya sambil meminta suapan melon lagi kepadaku. Mendengar hal itu hatiku sedikit tercengang. “Hehe,” diusapnya rambutku dengan lembut, “nggak usah gitu, aku bakal ngelamar kamu kok.” Lalu diangkatnya tanganku yang sedang menusuk sepotong melon kearah depan mulutnya. “Iya sih, cukup sulit buat ngeyakinin Bapakmu. Gak bisa disogok. Main catur aja aku kadang kalah sama Bapak. Padahal waktu itu pas main catur aku sudah beri sebungkus kopi ke Bapak, barangkali dia mau ngalah." Jelas. Mana mau Bapak disogok pake sebungkus Kopi Gayo. Disogok pake segepok uang aja nolak. "Biarin, biar aku tahu kamu itu sayang nggak sama aku." Setelah itu, mobil harus berhenti karena sedang lampu merah.
Kurasakan Galih mendekat kearahku setelah sebelumnya melepas sabuk pengamannya. "Aku sayang kamu. Gak perlu aku ngucapin tiap hari, kan? Muak sendiri kamu jadinya nanti. Cukup aku lakuin pake caraku aja, Num. Aku juga males ngomong cinta tiap hari. Bikin bosan." dan diakhiri dengan mengusap kepalaku. Kemudian dia memakai sabuk pengamannya lagi dan melajukan mobilnya.
Mamaa.. tolong adek Num lemes.
* * * * *
Seusai makan, Galih hanya mengantarkanku pulang, dan tidak mampir karena harus segera check out dan pulang ke Yogyakarta. Beginilah nasib LDR, Long Distance Relationship. Untungnya salah satu cabang dari kantor Galih ada di Semarang. Jadi kami bisa bertemu sesekali kalau dia sedang ke Semarang. Kubuka pintu rumahku setelah sebelumnya mengucap salam, "Loh, kok pada nangis sih?" tanyaku pada Mama dan Mbak Syila yang sedang menangis didepan televisi.
"Mama?" panggilku lagi sambil berjalan mendekati mereka berdua. "Ini dek, dramanya bikin sedih. Bikin Mama sama Mbak Syila nangis." kata Mama sambil menarik lembaran tisu dari kotaknya. "Jehh Numa kira apa." kemudian aku mengambil duduk di sofa lain.
"Galih gak mampir?" tanya Mama setelah berhasil mengendalikan emosinya. "Ndak Mah, dia mau check out hotel, terus pulang ke Yogyakarta. "Udah Syil, jangan nangis lagi. Kasihan cucu Mama, bangun dia." kata Mama sambil mengusap perut buncit Mbak Syila. "Iya Ma."
"Dih cengeng." celetukku. "Heh! Action figure yang kamu titipin Mas Ilham gak usah jadi aja ya." ancamnya langsung membuatku ciut. "Janganlah Mbak, gitu aja ngambek, kalem bae." rayuku sambil mengusap perutnya. "Boleh. Asal bikinin Mbak jus." tawarnya.
"Deal." Demi action figure Code Lyoko. Ulrich aku datang.
"Sekarang, Dek Num." kata Mbak Syila sambil memasang senyum yang jelek. "Iya-iya." kataku sambil melangkah kedapur untuk membuatkan jus bagi nyonya Ilham itu. "Mbak mau jus apa?" teriakku dari dapur. "Jus strawberry." balas mbakku tak kalah kerasnya. Selesai ku buat, lalu kubawa kedepan Mbak Syila. "Nih!" kuletakkan gelas kaca itu diatas meja, "udah, kan?"
"Sip.” Kemudian dirasakannya jus buatanku. “Jus buatanmu gak kalah sama bikinan mbak-mbak pinggir jalan." Komentarnya. "Jelaslah! Lebih higienis lagi. Eh tadi kayanya aku lupa gak cuci tangan, Mbak." setelah itu, kulangkahkan kakiku kekamarku. "NUMA!" kudengar suara kakakku dari kamarku. Rasain.
* * * * *