bc

Perawat Benih Sang Dosen

book_age18+
218
IKUTI
3.7K
BACA
family
HE
age gap
kickass heroine
drama
single daddy
secrets
like
intro-logo
Uraian

Kinara Ayudia, gadis berusia dua puluh tahun itu tak pernah menyangka bahwa orang yang selama ini sangat ia cintai merupakan pria yang telah menghamili saudara kandungnya.

Tak berhenti sampai di sana, dia juga dihadapkan dengan sebuah takdir kejam yang membuatnya terpaksa menjadi seorang ibu tunggal di usia yang masih sangat muda.

Di tengah keterpurukannya, Rayhan datang. Dosennya itu menawarkan sebuah pernikahan dengan berbagai janji manis di dalamnya. Di sisi lain, dia juga dihadapkan dengan sebuah fakta mengejutkan tentang pria itu.

Bagaimana kelanjutannya? Akankah Kinara menerima tawaran Rayhan? Lalu, bagaimana nasib hubungan keduanya setelah fakta mengejutkan tentang Rayhan terkuak?

Penasaran? Yuk, baca kisah selengkapnya di sini.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Menghamili Calon Istri
“Ehm, Pak.” Kinara memberanikan diri untuk menatap pria di depannya. “Tentang kejadian tadi, saya—” “Kamu sebegitu sukanya sama saya, hm?” Belum sempat Kinara menyelesaikan perkataannya, Rayhan Askara-pria yang tak lain adalah dosen wanita itu telah lebih dulu menyela. Bukan dengan jawaban, tetapi dengan sebuah pertanyaan sarkas yang membuat jantung Kinara serasa diremas seketika. “M-maaf, Pak. G-gimana?” tanya wanita itu setelah berhasil menetralisir keterkejutannya. “Kamu pikir saya tidak tahu kalau selama ini kamu mengejar-ngejar saya? Kamu juga ‘kan, yang sudah menyebarkan gosip tentang saya di kampus?” tanya Rayhan bertubi-tubi. “E-enggak, Pak! Bukan say—” “Jangan berkilah! Kalau bukan kamu, memangnya siapa lagi yang bisa melakukannya?” Rayhan kembali menyela perkataan gadis di depannya. “Dengar ya, Kinara! Dengan kamu melakukan hal itu, kamu hanya akan terlihat semakin rendah di mata saya!” Kinara terdiam seribu Bahasa. Dia tak menyangka kalau orang yang paling dirinya hormati setelah keluarganya, mampu berbicara sekasar ini. “Kalau kamu bertanya-tanya kenapa saya bisa bicara sekasar ini. Tentu saya punya jawaban.” “Pertama, saya sama sekali tidak memiliki ketertarikan sama kamu. Kedua, saya paling benci dengan orang-orang seperti kamu ini. Dan yang terakhir, saya sudah punya calon istri! Jadi, berhenti mengejar-ngejar dan mencari informasi tentang saya. Itu memuakkan, asal kamu tahu!” jelas Rayhan panjang lebar. “Calon istri, ya?” Berbeda dari sebelumnya, kali ini Kinara merespons perkataan Rayhan dengan berani. “Calon istri yang Bapak hamili di luar nikah itu?” lanjutnya sembari tersenyum mencemooh. “Lancang sekali mulut kamu, ya!” desis Rayhan geram. Kemudian segera beranjak dari kursi kerjanya. “Memangnya kenapa kalau saya menghamili calon istri saya? Masalah buat kamu?” Medengar hal itu, mendadak Kinara menyesali perkataannya barusan. “M-maaf, P-pak. S-saya enggak bermaksud—” “Dengar, Kinara Ayudia! Kecuali yang saya hamili itu saudara kamu, kamu baru berhak berbicara seperti itu pada saya! Kalau bukan, maka tutup mulut busukmu itu! Jangan terlalu suka ikut campur pada urusan orang lain!” *** “Lho, Nara. Kamu kenapa, Dek?” Arini, wanita yang sedang hamil tua itu menatap khawatir ke arah sang adik yang tengah bergelung di balik selimut tebal. “Kamu sakit?” tanya Arini sembari mendudukkan diri di atas ranjang adiknya. “Nara, hei! Kamu kenapa, Sayang?” tanya Arini sekali lagi. “Coba buka dulu selimutnya!” lanjutnya membujuk. Awalnya, Kinara masih enggan untuk menurut. Namun, berkat bujukan sang kakak yang tak pernah putus, akhirnya wanita itu menyerah juga. Dia membuka selimut, menampilkan wajah berantakannya, lengkap dengan mata sembab. “N-nara sakit hati, Kak.” Kinara mengusap pipinya berulang kali. Berharap air matanya akan berhenti mengalir. Meskipun pada kenyataannya tak begitu. “Sshhhtttt, sudah-sudah. Jangan nangis lagi. Sini, Kakak peluk,” ujar Arini menenangkan. “Kamu sebenarnya kenapa, Dek? Apa yang membuat kamu menangis sampai sebegininya? Jangan bilang, cowok yang kamu suka dari dulu itu nolak kamu?” tebaknya asal setelah beberapa saat. Mendengar pertanyaan kakaknya yang sama sekali tak salah itu membuat tangis Kinara kembali pecah. “Dia jahat, Kak,” adu Kinara sambil menangis tersedu-sedu. “Dia bilang ….” “Dia bilang apa, Dek?” “Dia bilang dia sudah punya calon istri, hiks.” Di antara semua perkataan pedas Rayhan, bagian ini lah, yang paling Kinara benci. Demi Tuhan, dia benci saat pria itu secara tak langsung membenarkan gosip yang tengah beredar di kampus tentang dirinya. “Hei, hei, hei! Kok malah nangis lagi, sih?” tegur Arini. Wanita itu bingung harus bereaksi bagaimana usai mendengar cerita sang adik. “Nara, Sayang.” Setelah beberapa saat Kinara tak kunjung menghentikan tangisnya, Arini membelai lembut kepala wanita itu. “Maut, rezeki, jodoh, semua sudah ada yang mengatur, Dek. Tugas kita sebagai manusia ini hanya berikhtiar, tentang hasil, Allah yang menentukan.” “Kakak bukan bermaksud menceramahi kamu. Bukan juga berniat ikut campur dalam urusan kamu. Demi Allah, kakak enggak ada apa-apanya dibanding kamu. Kakak ini pendosa, tapi--” Arini menggantung kalimatnya selama beberapa saat. “Kakak sayang sama kamu dan kakak enggak mau kamu salah langkah seperti kakak.” Arini menghela napas pelan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan perkataannya. Dia mencoba menasihati sang adik, tanpa melukai perasaan wanita itu. “Lagi pula, Allah tahu yang terbaik buat hambanya. Apa yang menurut kamu baik, belum tentu baik menurut Allah. Begitu pun, sebaliknya.” “Bisa jadi, orang yang kamu damba-dambakan itu, ada keburukan di dalam dirinya yang disembunyikan. Kita enggak ada yang tahu, kan? Makanya, percayakan semuanya kepada Allah, ya?” “Kalau memang dia jodohmu, mau dia sudah punya calon istri sekalipun, Allah pasti beri jalan untuk kalian Bersama.” Kinara mengangguk cepat. “Maafin Nara ya, Kak. Harusnya Nara yang kuatin Kakak, tapi malah—” “Sudah, sudah, jangan bahas hal itu lagi. Sekarang lebih baik kamu bersih-bersih, terus sholat. Curahkan semua kesedihanmu sama Allah,” potong Arini cepat. Wanita itu seolah tak ingin mendengar kelanjutan dari perkataan sang adik. “Habis itu, kamu turun ke bawah, ya. Ada seseorang yang mau kakak kenalkan ke kamu.” “Siapa, Kak?” tanya Kinara penasaran. “Ada deh.” “Ya sudah, terserah Kakak. Nara mau bersih-bersih dulu,” putus Kinara akhirnya. “Bunda mandi dulu ya, Dek. Kamu jangan nakal-nakal. Jangan bikin mamamu sakit lagi. Oke?” ujar Kinara di depan perut buncit kakaknya. *** Tubuh Kinara membeku di ambang pintu. Meski sudah dipanggil berulang kali oleh sang kakak, tetapi tak sedikitpun, ia berniat melangkah maju. “Maaf, Nara pergi dulu, Kak!” ujar Kinara dengan sedikit terbata dan terburu-buru. Ditinggalkannya Arini yang tampak kebingungan, dan seorang pria yang sama sekali tak berekspresi. Arini baru saja berniat menyusul Kinara saat itu. Namun, belum sempat berdiri, pergerakannya telah lebih dulu dihentikan oleh sang calon suami. “Kamu duduk aja, biar saya yang bicara sama dia.” “Enggak apa-apa kok, Mas. Saya bisa sendiri.” “Duduk saja Rin. Jangan ngeyel, kalau diberitahu. Kandunganmu sudah sangat besar. Kamu tidak boleh capek-capek,” ujar calon suami Arini memperingatkan. Mendengar hal itu, mau tak mau, akhirnya Arini mengurungkan niat. Membiarkan calon suaminya pergi, mengejar adiknya yang mungkin masih belum bisa menerima kehadiran pria itu. Sementara itu, Kinara yang masih sangat syok, tak tahu harus pergi kemana. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah pergi dari rumah. Setidaknya begitu, sebelum pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang. “Ayo bicara sebentar!” ujar orang itu. Kinara tak mengiyakan, tapi juga tak langsung menolak. Untuk beberapa saat, dia hanya menatap pria di depannya dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan. “Saya enggak nyangka kalau laki-laki b******k itu adalah Bapak!” ujar Kinara penuh penekanan. “Lepasin tangan saya!” Kinara mencoba melepaskan genggaman tangan Rayhan. Dia tak tahan melihat wajah pria itu lama-lama. Hatinya sakit. Benar, pria yang barusan dia lihat adalah Rayhan. Orang yang hari ini berseteru dengannya. “Saya tahu kamu marah, tapi tolong pikirkan perasaan kakak kamu. Dia sedang hamil tua, jangan buat dia kepikiran karena tingkah kekanakkan kamu ini.” “Kekanakkan?” Kinara tertawa sumbang mendengar perkataan Rayhan yang masih saja terdengar sarkas di telinganya. “Terus sikap Bapak yang enggak bertanggung jawab itu enggak kekanakkan gitu?” lanjutnya menyindir. “Saya—” “Dasar laki-laki biadab!” Hardik Kinara tanpa ampun. “Sekarang saya sudah berhak kan, bicara seperti ini?” lanjutnya membalas perkataan pedas Rayhan tadi siang. “Lepas!” teriak Kinara sembari menyentakkan tangan. "Tolong kendalikan emosi kamu. Saya tidak mau Arini sampai dengar pembicaraan ini.” “Heh!” Kinara mendengus sebal. “Kenapa? Bapak takut kalau Kak Arini tahu, orang seperti apa Bapak ini?” lanjutnya mencemooh. "Dengar ya, Pak! Saya enggak sudi Kakak saya menikah dengan orang seperti Bapak! Jadi, lebih baik Bapak pergi dari sini!" "Saya datang bukan untuk kamu, tapi untuk Arini dan calon anak kami. Jadi, kamu tidak berhak mengusir saya." "b******k!!!" Kinara mengepalkan tangannya kuat-kuat, bersiap memberikan bogem mentah kepada Rayhan. Namun, baru saja pukulan itu akan dilayangkannya, tiba-tiba suara jeritan seseorang terdengar mengejutkan. "Tolong!" Bersambung

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook