Ucapan Meli itu membuat aku menjadi kesal kepadanya, meski aku tahu betul watak dia bagaimana. Tapi aku sangat tersinggung dengan ucapannya meski ia sudah meminta maaf kepadaku.
"Maaf ya Mba, tadi aku sudah berbicara begitu! Aku gak ada maksud apa-apa kok Mba!" Tuturnya memasang wajah bersalah dihadapan Mas Rangga.
"Ada apa emangnya?" Tanya Mas Rangga sembari menaikan sebelah alisnya.
"Bukan apa-apa kok Mas! Tadi kita hanya sedang bercanda aja kok.. Oh ya Mel, tadi kamu bilang mau ada acara keluarga kan? Kalau mau pulang gak papa kok!" Ucapku mengusir Meli secara halus, aku sengaja mengedipkan mataku memberi kode kepadanya.
Meli nampak terdiam menatapku lalu bergantian menatap Mas Rangga, jujur saja melihat tatapan Meli kepada Mas Rangga membuatku sangat tidak nyaman.
"Kenapa Meli? Kalau mau pulang sekarang juga gak papa kok... Kita juga rencananya mau keluar hari ini." Kuperjelas lagi ucapanku.
"Hemm... Ya sudah! Mas Rangga dan Mba Annisa! Aku pamit pulang dulu ya, kapan-kapan aku main lagi kemari. Boleh kan?" Ucapnya membuatku menyipitkan mata menatapnya. Nampak Meli menjadi gugup melihat tatapanku yang menelisik kearahnya.
"Boleh kok Mel! Kapan pun kamu mau main, pintu rumah kita selalu terbuka untukmu." Ucap Mas Rangga membuat Meli nampak tersipu-sipu.
Aku kesal rasanya, kenapa Mas Rangga berucap begitu sih?
****
Setelah pertemuan pertamaku dengan Meli untuk pertama kali setelah sekian lama tidak berjumpa dengannya. Meli makin sering datang ke rumahku, bahkan hampir setiap Sabtu dan Minggu selalu datang tanpa diundang.
Hari Sabtu ini aku sengaja mengajak Mas Rangga pergi ke Puncak untuk berlibur, entah mengapa aku malah jadi risih dengan sikap Meli yang menjadi sok akrab kepada Mas Rangga.
Padahal dahulu mereka berdua itu jarang ngobrol malah terkesan cuek satu sama lain, tapi untuk saat ini aku melihat sikap yang berbeda dari sahabatku Meli.
"Sayang, jadi gak kita ke Puncak?" Tanya Mas Rangga yang baru saja selesai mandi.
"Jadi dong Sayang! Aku sudah siapkan segala keperluan kita untuk di Puncak.. Hari Senin kebetulan tanggal merah kan Mas, jadi kita bisa menginap beberapa hari di Villa Puncak." Jawabku. Nampak Mas Rangga manggut-manggutkan kepalanya.
"Oke lah kalau begitu! Aku panaskan mobil dulu ya Sayang, ini koper sekalian aku bawa ke mobil ya." Ujar nya, aku mengiyakan nya.
Tring!
Ponselku berbunyi, sepertinya ada pesan masuk. Aku menyambar tas dan ponselku lalu menyusul suamiku yang sudah menunggu dimobil.
"Mau kemana kalian pagi-pagi sudah rapih aja?" Tanya Ibu Mertua yang muncul secara tiba-tiba, aku yang sedang mengunci pintu rumah pun menoleh kearahnya.
"Kita mau jalan-jalan ke Puncak Bu." Jawab Mas Rangga yang keluar dari mobil.
"Ooh.. " Hanya jawaban singkat yang terlontar dari mulut Ibu Mertuaku, lalu ia berbalik badan mungkin ingin kembali kerumahnya.
'Jalan-jalan terus yang dipikirin, giliran anak aja gak dipikirin.' seloroh Ibu Mertuaku yang masih dapat aku dengar dengan jelas.
Huft...
Keluhku yang terdengar Mas Rangga, sepertinya ia juga mendengar ucapan Ibunya barusan.
"Sabar Sayang! Udah siapkan? Berangkat sekarang yuk, nanti kita sarapan di perjalanan aja." Ucap Mas Rangga sembari mengusap tanganku lalu mengajakku masuk ke dalam mobil.
"Jangan didengarin ya ucapan Ibu kalau membuat kamu sakit hati, aku juga kesal kalau Ibu menyinggung kamu itu sama saja Ibu menyinggung aku." Tutur Mas Rangga didalam mobil.
Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, huh.. Rasanya aku sudah tidak mood lagi jalan-jalan ke Puncak.
Tring!
Ponselku kembali berbunyi, ah.. Aku lupa tadi belum mengecek siapa yang mengirim pesan. Kurogoh ponselku dari dalam tas lalu melihat isi pesan yang ternyata ada dua pesan dari Meli.
(Mba Annisa, aku bawakan bubur langganan kita loh. Kamu pasti rindukan dengan bubur ayam yang biasa kita beli saat sekolah dulu?)
(Mba Annisa, kok rumahnya tutupan? Terus mobil Mas Rangga tidak ada digarasi? Kalian lagi keluar ya?)
Tring!
Satu pesan lagi masuk dari Meli.
(Barusan Ibu Mertua Mba Annisa bilang katanya kalian lagi jalan-jalan kePuncak ya? Kok kalian gak aja aku sih, kenapa?)
Aku hanya membaca semua pesan dari Meli lalu langsung menghapusnya tanpa membalas, untungnya Meli tidak punya nomor Mas Rangga. Lagian untuk apa juga aku harus izin Meli, siapa dia aku harus izin kemana pun aku pergi? rasanya aku menyesal sekali karena sudah membawa kembali Meli kedalam hidupku.
***
Sekitar satu jam setengah, mobil kami berbelok di Rest Area untuk membeli makanan karena kami tadi belum sempat sarapan dirumah.
Kami memilih makanan cepat saji, aku duduk dimeja yang berada dipaling ujung.
Tring!
Ponsel milik Mas Rangga berbunyi, untungnya suamiku sedang memesan makanan didepan. Aku membuka ponselnya lalu melihat siapa yang baru saja mengirim pesan.
(Mas Rangga, ini aku Meli! Aku dapat nomor kamu dari adikmu. Disave ya Mas!)
Tring!
(Mas, kamu nginepnya di Villa mana? Nanti kabarin aku ya, aku udah hubungin Mba Nisa tapi sepertinya ponselnya gak bisa dihubungi.)
Aku merasa sangat kesal saat membaca pesan dari Meli, sebelum Mas Rangga dateng aku buru-buru memblokir nomor Meli lalu menghapus pesan dari Meli.
'Sepertinya aku harus hati-hati kepada Meli, aku ingat banget dulu Meli pernah bilang kalau dia naksir Mas Rangga saat kami masih pacaran' batinku.
"Maaf Sayang lama nunggunya! Tadi dikasir lumayan panjang antriannya.. Ini ayam bagian kesukaan kamu paha atas plus ekstra saus." Aku tersenyum menatap suamiku, dia memang suami yang selalu pengertian kepada istrinya.
Kami berdua menikmati makanan hingga habis, setelah beberapa saat kami beristirahat. Kami kembali melanjutkan perjalanan, karena libur panjang jadi jalan tol terlihat macet total.
Karena merasa sangat bosan aku memutuskan untuk tidur saja dimobil, entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku dibangunkan oleh Mas Rangga, ternyata sudah sampai tujuan.
"Sayang, aku sudah bayar Villanya! Jadi kita tinggal masuk aja yuk. Ini kunci villanya juga sudah aku ambil barusan." Jelas Mas Rangga, aku pun keluar dari mobil lalu Mas Rangga mengeluarkan koper dari bagasi. Ia membangunkan aku yang tengah tertidur lelap, sepertinya tadi ia meninggalkan aku sendirian didalam mobil.
Karena rasa lelah diperjalanan, aku dan Mas Rangga ingin beristirahat sejenak untuk melepas penat.
Sore harinya kami berdua berkeliling disekitar Villa, saat melewati taman yang tidak jauh dari Villa yang kami tempati. Aku melihat seseorang yang sangat aku kenal sekali, orang itu menghampiri kami berdua saat melihat kami dari kejauhan.
"Mba Annisa! Mas Rangga! Wah, gak nyangka sekali ya kita berjumpa disini." Ucap Meli, ya orang itu adalah Meli. Kenapa bisa dia ada disini, perasaan aku tidak memberitahu alamat Villa ini. Lalu Mas Rangga juga gak mungkin juga kasih tahu sedangkan nomor Meli saja sudah aku blokir diponsel Mas Rangga.
"Kok kamu bisa ada disini Meli?" Tanya Mas Rangga yang terlihat terkejut.
"Ooh itu Mas! aku kesini diajak temanku Mas. Itu orangnya lagi pesan makanan, kalian kok gak bilang-bilang kalau ada disini juga. Kalau kalian bilang kan kita bisa berangkat bareng-bareng." Ucap Meli sembari tersenyum senang menatap Mas Rangga, wajah Mas Rangga terlihat datar saja.
"Ooh begitu ya!" Jawabku menimpali ucapan Meli.
"Mba Annisa duduk sini! Gabung saja sama aku!" Pinta Meli.
"Gak usah Mel! Aku dan Mas Rangga mau duduk disana aja. Ayuk Sayang kita kesana!" Aku menarik tangan Mas Rangga, untungnya Mas Rangga tak mengiyakan kemauan Meli.
Aku sekilas menoleh kearah Meli, nampak sekali wajahnya merah padam seperti menahan kesal. Bahkan nampak beberapa kali Meli menghentakan kakinya sembari mengomel, entah apa yang sedang ia bicarakan.
"Sayang tunggu disini ya! Aku mau pesan makanan dulu disana." Ucap Mas Rangga.
Aku terpikirkan ingin menghampiri Meli, rasanya aku penasaran sekali bagaimana bisa Meli ada ditempat yang sama dengan kami.
"Kenapa Mba Nisa balik kesini lagi? Tadi bilang gak mau disini, pingin disana aja!" Ujarnya saat melihatku menghampirinya. Nampak Meli melirikku dengan tatapan sinis seolah ia mulai menunjukan rasa tidak suka terhadapku.
"Kamu tahu dari siapa Meli kalau kami ada disini?" Tanyaku tanpa basa basi lagi.
"Ehm, kenapa memangnya Mba? Apa pentingnya buat Mba Annisa?" Bukannya menjawab justru malah dia membalikan pertanyaan kepadaku. Bahkan sikapnya nampak acuh kepadaku.
"Penting lah! Kenapa sih kok kaya nya kamu itu selalu pengen dekat-dekat sama Mas Rangga terus? Ooh... Aku tau! Jangan bilang kalau kamu itu masih menyimpan rasa dengan suamiku?" Ucapku yang sudah mulai geram saat melihat mimik wajahnya.
Meli terdiam menatapku, aneh sekali bukannya menjawab justru malah ia tersenyum simpul.. Aku semakin yakin kalau Meli memang masih menyimpan rasa kepada suamiku.
"Ternyata Mba Annisa belum berubah ya! Sedari dulu selalu saja suka membuat kesimpulan sendiri.. Tuh, suamimu sudah kembali! Sana balik ke bangkumu sendiri!" Aku merasa belum puas dengan jawaban dari Meli, kutoleh kebelakang. Benar saja ternyata Mas Rangga sudah duduk dan menatap kearah kami berdua.
Dari samping pun muncul 2 orang wanita yang sepertinya mereka teman Meli, aku memilih kembali ketempat dudukku lagi.
"Wajahmu kenapa terlihat kesal Yang? Terus kenapa kamu menghampiri Meli?" Tanya Mas Rangga yang terlihat bingung.
"Gak papa kok Mas! Aku hanya ingin tahu siapa yang sudah memberi tahu kalau kita ada disini.. Emhh, kamu ngomong sama siapa aja Mas kalau kita menginap di Villa ini?" Mas Rangga nampak terdiam sejenak.
"Tadi Mas cuma bilang sama Dion aja sih Dek, sudah lah Sayang! Kita itu kan disini mau liburan, biarin aja Meli pun berlibur disini." Ucap Mas Rangga sembari menyendokan makanan kemulutnya.
****
Selama di Villa, kami berdua memang tidak bertemu lagi dengan Meli dan kawan-kawan nya. Tetapi saat kami hendak pulang, tiba-tiba saja Meli menghampiri Mas Rangga yang sedang memasukan barang-barang ke dalam bagasi mobil.
Aku sengaja bersembunyi dibalik tembok, untungnya ada pot bunga yang berukuran besar bahkan bunga dan daunnya sangat lebat.
"Mas Rangga! Mba Annisa mana Mas?" Tanya Meli sembari menoleh kekanan dan kiri sepertinya ia mencariku.
"Kayanya lagi dikamar sedang bersiap-siap mau pulang, ada apa Meli?" Jawab Mas Rangga.
"Kenapa pesanku gak dibalas Mas? Terus pas aku kirim pesan lagi, eh.. Malah centang satu doang!" Ucap Meli, dadaku rasanya sesak sakali melihat sikap Meli. Apalagi cara bicaranya yang dibuat-buat dengan nada manja.
"Kapan kamu kirim pesan Mel? Perasaan gak ada pesan dari kamu di ponselku." Jawab Mas Rangga sembari mengecek ponselnya.
"Apa jangan-jangan pesanku dihapus sama Mba Annisa? Coba lihat Mas! Barang kali nomor aku juga sudah diblok sama Mba Nisa.. " Meli nampak mendekat kesamping Mas Rangga, pundak mereka nampak hampir bersentuhan.
Aku pun langsung keluar dari tempat persembunyian karena sudah tak tahan melihat tingkah gatal Meli.
"Mba Annisa!" Meli nampak terkejut melihatku yang muncul tiba-tiba. Ia langsung bergeser sedikit menjauh dari Mas Rangga.
"Aku mau titip ini ya untuk Ibu Asri dan yang lainnya." Ucap Meli menyodorkan beberapa bingkisan yang dia genggam kepadaku.
Aku terdiam mematung menatap bingkisan tersebut, nampak jelas kalau Meli melirik Mas Rangga.
"Gak Usah repot-repot Mel, kalau untuk keluargaku biarlah nanti kami beli sendiri dijalan.. Lebih baik bingkisan itu untuk keluargamu saja!" Ujar Mas Rangga, lalu ia berjalan menuju samping dan masuk kedalam mobil.
"Ini Mas tolong masukin mobil!" Aku menyodorkan tasku kepada Mas Rangga.
"Mba Annisa tolong diterima ya!" Pinta Meli kepadaku dengan tatapan berbinar.
"Gak usah Mel! Sudah ya aku mau pulang!" Aku pun menyusul Mas Rangga masuk kedalam mobil.
Dari kaca sepion aku dapat melihat jelas bagaimana raut wajah kesal Meli saat menatap mobil kami yang sudah berjalan menjauhi dirinya.
"Makasih ya Mas!" Aku merangkul lengan Mas Rangga. Senyumku merkah saat menatap wajahnya.
"Makasih untuk apa Sayang?" Tanya nya sembari mengecup keningku.
"Makasih karena kamu sudah mengabaikan wanita lain dihadapanku, ya semoga saja di belakangku juga kamu bisa mengabaikan wanita lain yang sama seperti Meli." Ucapku, nampak lesung pipinya saat tersenyum lebar menatapku.
"Itu sudah kewajibanku Sayang, sebagai suami aku harus bisa menjaga perasaan istrinya." Tuturnya mampu membuat jantungku berdebar hebat.
"Ooh ya.. Apa benar kamu memblokir nomor Meli diponsel milikku?" Tanya Mas Rangga tiba-tiba.
"Kenapa emangnya Mas? Kamu keberatan kalau aku blokir nomor Meli? Kalau kamu keberatan ya tinggal dibuka aja blokirnya.." Jawabku kesal.
"Gak ko Sayang! Mas gak masalah kok kalau kamu blokir nomornya.. Mas juga risih dengan tingkahnya yang gak pernah berubah dari dulu. Makanya Mas lebih pilih kamu karena kamu itu mahal." Ucapnya sembari mengecup punggung tanganku.
Sesampai nya didepan rumah, kami turun dari mobil. Nampak dari sebrang sana muncul wanita paruh baya lalu ia berjalan menghampiri kami.
"Mana oleh-oleh buat Ibu?" Todong Ibu Mertuaku kepada kami berdua. Baru juga sampai rumah belum juga masuk kedalam rumah sudah ditodong oleh-oleh.
"Ada kok Bu, Annisa sudah belikan untuk Ibu!" Mendengar ucapan Mas Rangga, mata Ibunya langsung mendelik menatap kami.
"Yang Ibu minta itu oleh-oleh dari Meli, bukan dari kalian! Mana oleh-oleh yang Ibu pinta dari Meli?" Ucapan Ibu Mertuaku mampu membuat dadaku terasa sesak sekali. Kenapa harus pemberian dari Meli yang ia minta, sebenci itukah Ibu Mertuaku kepadaku.
"Cukup Bu! Mau Ibu itu apa sih? Masih untung kami sudah belikan untuk Ibu, kalau memang Ibu tidak mau oleh-oleh dari kami ya sudah. Udah lah Bu! Lebih baik sekarang Ibu pulang! Kami sudah sangat lelah menghadapi sikap Ibu yang selalu keterlaluan dan berlebihan." Ucap Mas Rangga yang mulai meninggikan suaranya.
"Ooh... Jadi kamu sudah berani melawan Ibu demi perempuan mandul itu ya? Rangga! Yang melahirkan kamu itu Ibu.. Ngapain kamu bela perempuan yang gak guna itu?" Ucap Ibu Mertuaku yang tak kalah tinggi suaranya.
Karena mendengar kegaduhan dari rumah ini, beberapa tetangga keluar dari rumah mereka karena penasaran ada ribut-ribut diluar. Dari sebrang sana nampak Bapak Mertuaku berjalan tergesa-gesa ke arah kami.
"Cukup Bu! Selama ini aku diam dengan cacian yang keluar dari mulut Ibu.. Tapi bukan berarti aku terima dengan semua hinaan itu Bu." Ucapku dengan suara bergetar. Aku terisak dipelukan Mas Rangga, nampak tetangga berkerumun menatap kami.
Mereka semua saling berbisik membicarakan kami yang sedang berdebat.
"Sudah Ibu! Ayo kita pulang! Lihat itu banyak tetangga pada penasaran dengan keributan kalian.. Mau sampai kapan sih Bu? Kasian Annisa selalu Ibu sakiti seperti itu." Bapak Mertuaku berusaha melerai kami, bahkan tangannya menarik lengan istrinya.
"Ibu akan diam sampai Nisa berhasil memiliki anak perempuan... Jadi selama Annisa belum memiliki anak, Ibu tidak akan pernah diam Pak!" Seloroh Ibu Mertuaku dengan lantang, wajahnya merah padam.
"Pulang sekarang Bu!" Pinta Bapak Mertua.
Dengan langkah berat Ibu Mertuaku pun langsung melangkahkan kakinya kembali kerumahnya.
Aku masih mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Mertuaku itu.
"Kasihan Annisa ya!"
"Iya.. Punya Mertua kaya si Asri aku sudah pasti minta pisah."
"Padahal Annisa sudah program hamil juga loh Mba, yang namanya belum dikasih.. Masa iya mau maksa kehendak Tuhan!"
Ucap beberapa tetangga yang masih berdiri ditepi jalan. Mereka menatapku dengan tatapan Iba.
"Ayo Sayang kita masuk kedalam! Biarkan saja Ibu!" Mas Rangga mengajakku masuk kedalam rumah, sebelah tangannya menarik koper sedangkan tangan satunya menggandeng tangku masuk kedalam rumah.
'Kenapa sampai segitunya Ibu kepadaku? Hanya karena aku belum memiliki anak, sikapnya sangat kasar kepadaku. Ya Allah.. Sampai kapan aku harus mendapatkan perlakuan seperti ini?' aku berdoa sembari menangis sesenggukan.
Sakit sekali hati ini, semakin hari sikap Ibu Mertuaku semakin keterlaluan. Kalau saja Mas Rangga tidak memihakku, sudah pasti aku tidak akan kuat menjalani rumah tangga ini.
"Sayang! Tolong maafkan Ibuku ya... Aku tahu pasti hatimu sangat terluka sekali, semoga saja sikap Ibu bisa seperti dulu lagi." Ucap Mas Rangga memeluku dari depan. Aku hanya mengangguk lemah, bingung harus berkata apa lagi.
Kulepas kan mukenah lalu kulipat, begitu pun Mas Rangga melepaskan sarungnya lalu melipatnya.
"Aku mau kerumah Ibu sebentar!" Mas Rangga melenggang keluar kamar. Biarlah Mas Rangga berdebat dengan Ibunya, aku sudah sangat lelah berhadapan dengan Ibu Mertuaku itu.
Tring!
(Mas Rangga! Kamu kenapa ribut sama Ibumu? Hanya karena oleh-oleh dariku yang kamu tolak, kamu jadi berantem sama Ibumu!)
Aku kaget saat melihat nomor itu milik Meli, bagaimana bisa Meli bisa mengirimkan pesan. Bukankah aku sudah memblokirnya kemarin, apa jangan-jangan Mas Rangga membuka blokirnya.
Karena penasaran aku pun mengeceknya, benar saja! Nomor milik Meli sudah dibuka blokirnya.
Tring!
(Balas dong Mas! Btw.. Makasih ya udah mau buka blokiran nya, jangan bilang Mba Annisa ya Mas.. Nanti takutnya diblokir lagi sama dia.)
(Kamu tahu dari mana kalau aku berantam sama Ibuku?) aku mencoba membalas pesan Meli, sebenarnya apa sih mau Meli sepertinya dia ngebet sekali sama Mas Rangga.
(Ibu kamu curhat sama aku Mas.. Harusnya kamu itu bela Ibu kamu Mas, bukan malah bela Mba Annisa!) dadaku semakin sesak saat membaca pesan dari Meli.
Ooh jadi Ibu Mertuaku sekarang mulai dekat dengan Meli, pantas saja mereka berdua saling berkomunikasi.
Tring!
(Semoga saja Mas Rangga bisa membuka pikiran, jangan bertahan untuk suatu hal yang tidak pasti Mas) pesan masuk dari Meli lagi.
Kali ini aku semakin yakin kalau memang Meli itu masih mencintai Mas Rangga.
"Assalamualaikum!" Mas Rangga membuka pintu depan lalu menguncinya lagi. Aku buru-buru menghapus pesan dari Meli, sebaiknya nanti saja aku coba tanyakan soal nomor Meli.
"Waalaikum salam!" Aku menaru kembali ponsel Mas Rangga diatas nakas. Lalu merebahkan tubuh memeluk guling.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut suamiku, ia nampak merebahkan tubuhnya membelakangiku.
****
Pagi hari disambut dengan suara gemercik air hujan yang membasahi tanah, kubuka jendela kamarku. Tiba-tiba saja aku terasa sangat mual, aku bergegas berlari menuju kamar mandi.
Hoekk! Hooek!
Perih rasanya perutku, bahkan mulutku rasanya sangat pahit. Sepertinya penyakit asam lambungku kambuh, aku membuat roti panggang dan juga pisang goreng untuk sarapan pagi.
Bekal sudah siap, Mas Rangga sedari subuh terlihat murung. Apa yang sedang ia pikirkan ya, apa semalam mereka bertengkar hebat.
"Mas ini sarapan dulu, aku sudah buatkan teh manis terus juga ada roti panggang sama pisang.. "
"Gak usah Dek! Nanti aku makan dikantor saja! Mobil kamu sudah diantar kan? Jadi berangkat pakai mobil sendiri ya.. Aku mau berangkat duluan!" Ucap Mas Rangga sembari memakai sepatu, lalu ia berlalu menuju mobilnya.
Mataku menatap nanar kearah meja makan, disana sudah tergeletak teh manis dan pendampingnya. Tapi sayangnya mereka tak disentuh oleh Mas Rangga, bahkan bekal buatanku saja tidak dibawanya.
Kenapa sikap Mas Rangga berubah drastis setelah bertemu dengan Ibunya semalam, sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan sampai-sampai Mas Rangga jadi cuek.
Aku membawa semua makanan dan juga bekal milik Mas Rangga, biarlah nanti aku bagikan kepada teman kerjaku.
Saat hendak masuk kedalam mobil, nampak Ibu Mertuakan tersenyum kecut melihatku. Apa sebaiknya aku tanyakan sama Dion atau Adit saja, karena mereka pasti tahu apa yang sudah terjadi dirumah mereka semalam.
(Adit! Maaf Mba Nisa mau tanya apa boleh?) aku menghubungi Adit lebih dulu.
Tring!
(Boleh kok Mba! Ada apa Mba?) balas Adit.
(Semalam Mas Rangga ribut apa sih sama Ibu? Soalnya dari pagi sikap Mas Rangga berubah cuek sama Mba Nisa.) Tak berselang lama pesanku sudah centang biru.
Tring!
(Belum saatnya Mba Nisa tau.. Maafin keluargaku ya Mba! Karena selalu menyakiti perasaan Mba Nisa) balas Adit.
Apa maksudnya..
Apa yang sebenarnya terjadi..