Bab 1. Sakit Hati Yang mendalam
"Annisa! Kamu gak masuk kerja hari ini?" Tanya Ibu mertuaku saat melihatku yang masih di sibukan dengan pekerja'an rumah.
"Engga Bu! Sepertinya Nisa hari ini mau cuti dulu Bu!" Jawabku dengan senyum yang kuukir indah dibibirku.
"Hah cuti? Ngapain kamu ambil cuti segala? Lagian kan kamu itu belum punya anak, jadi gak perlu lah keseringan ambil cuti." Ucap Ibu Mertuaku sembari melirik sinis kearahku.
Meski ucapannya selalu ketus kepadaku, tapi sebisa mungkin aku selalu membalas sikapnya dengan senyuman. Sebenarnya Ibu Mertuaku itu dulunya orang yang baik hanya saja karena keinginannya memiliki seorang cucu membuat sikapnya perlahan-lahan berubah terhadapku.
8 tahun sudah usia pernikahanku dengan Mas Rangga, tapi ternyata Allah belum memberikan kami berdua keturunan. Maka dari itu lah, Ibu Mertua selalu menyinggungku soal anak, sakit hati. Tentu saja selalu aku rasakan, tapi itu dulu saat usia pernikahan kami baru saja menginjak usia 2 tahun. Semenjak itu lah aku sudah mulai terbiasa dengan ucapan mertuaku yang selalu menyakitkan.
"Aku lagi gak enak badan Bu, emangnya salah kah kalau aku ambil cuti? Perasaan aku baru beberapa kali aja loh Bu ambil cuti." Mendengar jawabanku seketika wajah Ibu Mertuaku nampak berubah yang awalnya wajahnya masam sekali, kini wajahnya berubah cerah.
"Kamu kapan terakhir datang bulan Nis?" Tanya Ibu Mertuaku, aku terdiam sesaat mengingat kapan terakhir kali aku datang bulan.
"Sepertinya aku sudah telat 3 hari Bu, emangnya kenapa Bu? Ibu tidak bosan kah selalu bertanya seperti itu sama aku?" Tuturku dengan lemah lembut.
Selalunya bertanya hal yang sama kalau aku sedang merasa tidak enak badan, Ibu Mertuaku itu memang sudah mengharapan seorang cucu perempuan. Suamiku memiliki 3 bersaudara, dan anak pertama itu ya suamiku yang saat ini sudah berumur 30 tahun. Semua anak mertuaku laki-laki, maka dari itu beliau sangat ingin sekali memiliki anak perempuan.
Tapi semenjak Mas Rangga menikah denganku, keinginan Ibu Mertuaku berubah. Kini beliau sangat ingin sekali memiliki seorang cucu perempuan. Sayang nya keinginan beliau sampai saat ini belum terkabul.
"Ya engga lah! Ngapain juga Ibu bosan? Yang ada Ibu itu bosan karena sudah tua tapi masih kesepian. Ibu gak mungkin kan minta cucu sama Adit apa lagi Dion, Adit itu masih kerja jangankan untuk menikah. Pacar aja gak punya! Kalau Dion, kamu kan tahu sendiri Nisa. Kalau Dion itu masih kuliah!" Jelas Ibu Mertua dengan tatapan sinis menatapku.
"Ibu itu cape Nisa! Setiap berkumpul dengan teman-teman pengajian selalu ditanya.. Udah punya cucu berapa? Annisa sudah hamil apa belum? Ibu rasanya bosan ditanya seperti itu Nisa!" Keluhnya sembari mendengus kesal kepadaku.
"Yah.... Namanya juga belum dikasih sama Allah Bu. Jadi aku hanya bisa bersabar menanti buah hati yang akan Allah titipkan kerahimku." Tuturku, aku berusaha mengontrol air mataku supaya tidak berjatuhan dihadapan Ibu Mertuaku.
"Sabar teros... Kalian itu udah 8 tahun loh Nisa! mau sampai kapan kalian sabar hah? Lama-lama Ibu keburu mati duluan sebelum menimang cucu.." Seloroh Ibu Mertuaku sembari melangkah kepintu depan.
"Astagfirullah... Ya Allah kuatkan lah hambamu menghadapi coba'an ini" Gumamku sembari mengelus d**a menghembuskan nafas kasar.
Setelah kepergian Ibu Mertuaku, aku bergegas masuk kedalam kamar lalu menguncinya dari dalam. Aku berusaha menguatkan diri ini, entah sampai kapan aku harus merasakan sakit hati dengan segala ucapan Ibu Mertuaku.
Pecah sudah air mata ini, aku selalu lemah kalau sudah disinggung soal anak. Entah itu dari tetangga, krabat, atau pun keluargaku sendiri. Tapi yang lebih menyakitkan itu adalah pertanya'an yang terlontar dari mulut Ibu Mertuaku.
Aku dan Mas Rangga sudah melakukan berbagai cara supaya kami berdua diberi keturunan, tapi sampai saat ini usaha kami belum membuahkan hasil.
***
Sore harinya Mas Rangga pulang dari kantor, ia memarkirkan mobil kesayangan nya dihalaman rumah kami. Aku bergegas keluar kamar untuk menyambut Mas Rangga.
"Kamu pasti sehabis nangis ya, Sayang? Lihat itu mata kamu sampai bengkak." Tanya Mas Rangga kepadaku. Jelas dia sudah hafal kalau mataku bengkak pasti setelah menangis terlalu lama.
Aku hanya tersenyum tipis sembari menyalami suamiku. Dari teras rumah, Ibu Mertuaku nampak melihat sinis kearah rumahku. Ya, rumah kami berdua memang berhadapan. Maka dari itu, ibu Mertuaku hampir setiap hari datang kerumah ini.
"Badanmu sudah enakan belum Yang? Kalau masih kerasa pusing dan gak enak badannya, lebih baik kita ke Dokter saja yuk!" Ajak Mas Rangga saat ia baru saja selesai mandi.
Aku terdiam sejenak, perasa'an aku gak bilang sama Mas Rangga kalau aku sedang tidak enak badan. Tapi kenapa Mas Rangga bisa tahu, aku sengaja tidak memberi tahunya karena aku tidak ingin Mas Rangga khawatir.
Aku menatap wajah laki-laki yang sudah hidup bersamaku selama 8 tahun. Mas Rangga menghampiriku lalu duduk disebelahku.
"Kenapa Yang? Pasti soal Ibuku lagi ya?" Tanya Mas Rangga, tangan nya meraih kedua tanganku lalu ia mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Sampai kapan Mas kita terus berharap diberikan keturunan? Aku... Aku sudah lelah Mas! Menunggu yang tidak pasti Allah berikan kepadaku itu sangat menyakitkan." Aku memeluk erat Mas Rangga. Air mataku mengalir deras hingga membasahi pundaknya.
"Hust... Jangan bicara seperti itu Sayang! Maafkan ucapan Ibuku ya! Apa perlu kita cek ke Dokter lagi? Kalau perlu kita sekalian program bayi tabung seperti tahun lalu." Ajak Mas Rangga.
"Aku gak mau Mas! Percumah! Yang ada aku semakin disalahkan oleh Ibumu karena menghambur kan uangmu untuk suatu hal yang tidak pasti." Tolakku sembari menangis sesenggukan didalam pelukan hangat suamiku.
"Tadi Ibu bilang kalau kamu sudah telat 3 hari, apa benar Sayang?" Aku langsung melepaskan pelukan lalu menatap tajam suamiku. Oh, jadi Ibu Mertuaku ternyata yang sudah melaporkan kepada anaknya kalau aku sedang tidak enak badan.
"Kamu pasti mau kalau aku mengeceknya lagi kan? Sudah lah Mas! Aku itu sudah lelah Mas! Setiap bulan loh Mas.... Setiap aku telat datang bulan pasti kalian ingin sesuatu yang kalian harapkan itu terwujutkan. Mas Rangga.. Ini sudah tahun ke 8 loh Mas! Apakah selama ini yang kalian sangat harapkan sudah terwujut?" Ucapku dengan suara purau. Wajah suamiku nampak gelisah, aku yakin kalau Mas Rangga merasa bersalah karena sudah membahas hal yang menurutku sangat sensitif.
"Maaf Sayang!" Hanya dua kalimat yang terucap dari bibirnya, lalu ia mengecup keningku. Mas Rangga bangkit dari sofa lalu melangkahkan kakinya menuju kamar, aku memilih merebahkan tubuhku diatas sofa sampai menunggu waktu sholat tiba.
Kami tak saling bertegur sapa meski kami sholat bersama, setelah selesai sholat isya. Mas Rangga merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi menghadap jendela. Aku tahu pasti Mas Rangga tidak ingin bedebat denganku maka dari itu ia memilih untuk tidur lebih dulu.
Aku keluar kamar berjalan menuju dapur lalu membuat s**u almond. Sesak rasanya d**a ini karena selalu memendam sakit hati yang terkubur selama bertahun-tahun.
Entah mengapa aku terpikirkan ingin supaya Mas Rangga menikah lagi supaya apa yang mereka inginkan terwujudkan.
Tapi aku pun tidak sanggup kalau harus melihat suamiku bersanding dengan wanita lain..
****
Pagi yang cerah disambut dengan suara burung berkicau diatas pohon, aku membuka jendela kamar. Udara di pagi terasa sangat sejuk sekali apa lagi semalam diguyur hujan lebat, membuat hawa dipagi hari semakin dingin.
Aku bergegas menuju dapur menyiapkan bekal untuk suamiku dan juga untukku, aku sudah masak sedari subuh setelah selesai sholat subuh.
"Annisa! Kamu masak apa?" Suara Ibu Mertuaku menggelegar didalam rumah, setiap jam 6 pagi aku selalu membuka pintu rumah karena dibagian depan sudah ada pintu besi yang tidak terkunci. Maka dari itu hampir setiap pagi, Ibu Mertuaku selalu celonang-celonong masuk kedalam rumah tanpa mengucap salam.
"Aku masak pindang ikan patin sama cah kangkung Bu, Ibu kalau mau ambil saja!" Tawarku, biasa juga tanpa ditawari Ibu Mertuaku akan mengambil sesuka hatinya sendiri.
"Ibu ambil beberapa potong ikannya ya? Adit belum gajian Nis! jadi Ibu gak ada uang belanja makanya Ibu minta masakan kamu untuk sarapan Adit dan juga Dion." Ucap Ibu Mertuaku sembari mengambil 4 potong ikan patin kedalam mangkuk.
'Halah, biasanya juga setiap hari minta makanan kemari. Padahal setahuku Bapak Mertua selalu memberikan uang belanja kepada istrinya.' Batinku.
Untungnya aku masak ikan patin pindangnya 1kg, jadi bisa dibagi dua dengan Ibu Mertuaku.
"Kamu hari ini kerja Nis? Terus kamu udah beli tespek belum?" Baru saja sampai pintu hendak keluar, Ibu Mertuaku menghentikan langkahnya hanya untuk menanyakan hal yang menurutku sama sekali tidak penting.
"Aku kerja Bu, hari ini! Nanti pulang kerja sekalian mampir ke Apotik buat beli tespek." Jawabku, Ibu Mertuaku mengangguk sembari tersenyum sumringah lalu berjalan keluar pintu.
"Bekalku sudah siap belum Yang?" Suamiku muncul dari kamar dengan penampilan yang sudah rapih. Saat ia duduk dikursi, aroma parfumnya menyerbak membuatku terasa mual saat menghirup aroma parfumnya.
"Sudah siap Mas! Oh ya, kamu pakai parfum apa sih Mas? Tumben banget baunya semerbak banget." Keluhku sembari menutup hidung. Mas Rangga nampak mengerutkan dahi merasa heran dengan sikapku.
"Parfum? Ini kan parfum yang biasanya aku pakai setiap hari lah Yang.. Kamu kok tumben banget gak suka aroma parfumku?" Tanya Mas Rangga. Wajahnya nampak semakin heran saat melihatku menahan mual.
"Gak tau Yang! Ayuk kita berangkat udah jam setangah 7.. Nanti takut macet dijalan!" Aku bergegas mengambil tasku didalam kamar. Kami berdua tidak terbiasa sarapan sebelum berangkat kekantor, jadi kami selalu membawa bekal dari rumah.
Hari ini aku berangkat bersama Mas Rangga, untungnya arah ke kantor Mas Rangga dan arah tempatku bekerja itu satu jalur. Biasanya aku membawa mobil sendiri, cuma karena kemarin mobilku mogok alhasil harus dibawa kebengkel.
Seperti biasa aku bekerja melayani nasabah Bank hingga siang hari, saat hendak istirahat. Aku melihat seseorang yang aku kenal dahulu nampak sedang duduk dibangku. Aku berjalan menghampirinya, ia nampak kaget melihatku.
"Mbak Annisa! Aku kaget lihat kamu Mba.. Mba Annisa kerja di Bank ini?" Tanya nya sembari menyalamiku.
"Iya Meli! Aku sudah lama kerja disini! Kamu ada perlu apa?" Tanyaku kepada Meli.
Meli adalah adik kelasku saat masih sekolah SMA, dulu kami berdua sangat dekat sekali meski kami berbeda kelas. Tapi saat aku sudah lulus SMA dan lanjut kuliah di Yogya, kami menjadi putus komunikasi.
"Aku mau bikin tabungan yang baru Mba, Mba Annisa udah nikah belum?" Tanya Meli kepadaku.
"Udah Meli! hanya saja sudah 8 tahun pernikahanku tapi belum diberi anak Mel.. " Jawabku dengan tersenyum getir. Tiba-tiba Meli dipanggil menuju CS, Meli langsung memberikan nomor ponselnya supaya lanjut ngobrol lewat pesan.
Banyak sekali yang ingin aku obrolkan dengan Meli, mungkin lain waktu kalau aku ada libur kerja aku akan mengajak Meli main kerumahku.
****
Sore harinya seperti biasa kalau aku sedang tidak membawa mobil, sudah pasti Mas Rangga akan menjemputku pulang bersamanya.
"Mas kamu tahu gak tadi aku ketemu siapa?" Tanyaku kepada Mas Rangga yang sedang mengendarai mobil.
"Siapa memangnya Yang?" Jawabnya sembari menoleh kearahku sekejap.
"Aku ketemu sama Meli loh Mas! kamu masih ingat gak sama dia? Adik kelas kita loh! Meli sahabat dekat aku yang selalu kemana-mana bareng sama aku.. " Jelasku, nampak Mas Rangga terdiam seperti sedang mengingat.
"Owh... Meli yang dulu rambutnya pendek sebahu kan? iya.. Iya Mas ingat kok! Kok bisa dia ketemu sama kamu Yang?" Tanya Mas Rangga, aku pun menjelaskan kepadanya bagaimana bisa Meli bertemu kembali denganku.
"Mas, besok kan kita libur tuh! Bagaimana kalau aku undang Meli datang kerumah kita? Aku rindu sama dia Mas! sudah lama sekali aku gak jumpa sama dia.. Bolehkan kalau aku undang dia kerumah kita?" Tanyaku kepada Mas Rangga, ia pun mengangguk menyetujui perminta'anku.
Sesampainya dihalaman rumah, aku sudah disambut oleh Ibu Mertuaku yang sedang duduk manis diteras rumahku.
"Kamu gak lupa kan beli tespeknya Nis?" Huh, baru juga pulang sudah bahas masalah itu lagi.
"Belum Bu! Maaf ya Bu! Aku lupa soalnya dikantor lagi banyak kerja'an." Jawabku beralasan. Sebetulnya aku masih memiliki stok tespek didalam lemari baju, hanya saja aku tidak mau kecewa lagi dan lagi saat menggunakan tespek itu.
Bayangkan saja setiap bulan kalau aku telat selalu saja Ibu Mertuaku ingin aku mengeceknya. Aku memang kerap kali telat datang bulan kalau aku sedang merasa lelah pasti berpengaruh dengan hormon ditubuhku.
"Halah... Halah! Alasan aja kamu Anisa! Atau jangan-jangan kamu ini sebenarnya mandul.. " Ucapan Ibu Mertuaku mampu membuat hancur hatiku.
Duarrr....
Bagai disambar petir, dadaku rasanya bergemuruh saat mendengar ucapan dari Ibu Mertuaku.
"Ibu kalau ngomong dijaga ya Bu! Ibu kan sudah pernah Rangga kasih lihat hasil pemeriksa'an Dokter kandungan.. Dari hasil itu kan tertulis jelas kalau aku mau pun Annisa itu dinyatakan sehat. Ibu sudah cukup ya! Aku selama ini sudah sabar sama sikap Ibu yang selalu menyudutkan istriku.. Lebih baik sekarang Ibu pulang!" Ucap mas Rangga kepada Ibunya, lalu Mas Rangga menarik tanganku masuk kedalam rumah.
Blam!
Dengan sekuat tenaga Mas Rangga menutup pintu, aku yakin sudah pasti Ibu Mertuaku kaget saat melihat sikap anaknya.. Aku pun kaget saat melihat Mas Rangga membelaku secara langsung.
Aku berjalan cepat menuju kamar, sesak d**a ini saat mendengar hinaan dari Mertuaku..
'Ya Tuhan! Kapan aku diberikan kepercayaan untuk mendapatkan seorang anak?' ucapku dalam hati, air mata ini mengalir sangat deras. Kata-kata itu selalu terngiang diingatanku, selama 8 tahun aku menjadi menantunya tapi baru kali ini Mertuaku menghinaku mandul.
"Sayang! Maafkan ucapan Ibuku ya... Aku tahu bagaimana perasa'an kamu saat ini. Aku yakin kalau kamu itu adalah wanita yang sempurna yang Allah berikan kepadaku, aku sangat bahagia memiliki istri sepertimu! Masalah anak, nanti kita bisa adopsi dari panti asuhan." Tutur Mas Rangga sembari memeluk erat tubuhku.
Aku tidak mampu membalas ucapan suamiku, yang aku rasakan saat ini hanya lah sesak d**a ini dan begitu perih hati ini bagaikan teriris pisau lalu ditaburi garam.. Aku menangis untuk meluapkan segala kekesalan yang teramat dalam.
*****
Keesokan paginya, aku sudah menyiapkan beberapa masakan yang sengaja aku masak untuk menyambut kedatangan Meli.
Krrtt!
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu depan terbuka..
Huh...
Sudah pasti Ibu Mertuaku yang datang kemari, sudah biasa beliau celonong masuk seolah rumah ini miliknya.
Memang sih tanah ini dulunya milik kedua orang tua Mas Rangga, tapi kan itu dulu! Sekarang tanah ini sudah menjadi milik suamiku.
"Assalamualaikum!" Aku segera menoleh kebelakang karena suara ini bukan dari Ibu Mertuaku.
"Wa'alaikum salam! Eh Bapak toh! Nisa pikir tadi Ibu yang datang. Bapak bawa apa itu?" Ucapku, ah duga'anku salah. Ternyata yang datang kerumah adalah Bapak Mertuaku dan ditangannya membawa tentengan.
"Ini Bapak kemarin panen alpukat mentega dikebun belakang, Bapak ingat kamu dan Rangga suka sekali alpukat. Jadi Bapak petik banyak untuk kalian berdua." Jelas Bapak Mertuaku sembari menaruhnya diatas meja.
"Terima kasih banyak Pak! Bapak sudah makan belum? Kalau belum, makan saja disini Pak! Itu Nisa masak banyak soalnya kawan lama Nisa mau main kerumah hari ini." Tuturku. Tiba-tiba saja raut wajah Bapak Mertuaku berubah murung.
"Iya Nisa! Nanti Bapak makan disini! Rangga belum bangun ya Nis?" Tanya nya sembari menatap pintu kamar yang masih tertutup.
"Belum Pak! Kalau hari libur memang Mas Rangga bangunnya jam 8 Pak, ada apa memangnya Pak?" Tanyaku penasaran dengan gelagat Bapak Mertuaku.
"Begini Nisa, Bapak minta maaf ya! Bapak tahu kalau sikap Ibu selama ini selalu menyakiti hati Nisa.. Bapak juga sebetulnya ingin sekali memiliki cucu, tapi kalau Allah belum memberikan.. Yah, kita bisa apa kan?Bapak tahu betul Nisa! Usaha kamu dan Rangga untuk memiliki anak, Bapak akan selalu doakan semoga apa yang kalian dan kita inginkan diberikan." Ucap Bapak Mertuaku dengan tatapan sendu.
Ah, pantas saja Bapak Mertuaku datang kemari sepagi ini. Rupa-rupanya beliau ingin membahas perkata'an istrinya yang selalu menyakitiku. Bapak Mertuaku memang orangnya baik hati dan gak pernah ikut campur soal rumah tangga anaknya.
"Gak papa kok Pak! Nisa udah maafin Ibu kok, makasih ya Pak doanya. Semoga saja Allah mengabulkan doa-doa kita." Jawabku sembari tersenyum.
Kami berdua pun tak ngobrol banyak, setelah makan Bapak Mertua pun pamit pulang.
Jam di dinding sudah menunjukan angka 10, sinar matahari sudah terang benerang. Dari halaman depan muncul mobil berwarna putih lalu berhenti tepat didepan rumah.
"Meli...!" Aku bergegas menuju halaman untuk menyambut kedatangan Meli.
"Mba Nisa! Wah.. Rumah Mba Nisa bagus sekali! Halamannya luas terus juga banyak tanaman bunga menambah cantik rumahnya kalau dipandang lama-lama.. " Puji Meli saat baru saja turun dari mobilnya, aku menyalaminya lalu mengajaknya masuk kedalam rumah.
"Ah, kamu bisa aja Meli! Itu aku loh yang menanami bunga-bunga, kamu tahu sendirikan dari dulu aku itu suka berkebun.. Ngomong-ngomong kamu udah makan belum?" Tanyaku kepada Meli.
"Belum sih Mba! Tadi aku cuma sarapan roti sama s**u aja.. Terus buru-buru datang kemari." Jawab Meli sembari menggelengkan kepala.
"Makan dulu yuk Meli! Aku sudah masak banyak loh buat kamu." Aku mengajak Meli menuju meja makan, meski ia menolak tapi aku memaksanya kutarik tangannya menuju meja makan.
"Sayang sini! Meli sudah datang nih!" Aku memanggil Mas Rangga yang masih berada didalam kamar.
"Iya Sayang!" Jawab Mas Rangga, sepertinya ia sehabis mandi.
Tak lama muncul Mas Rangga dari balik pintu kamar milik kami, tumben sekali penampilannya terlihat rapih saat dirumah. Ehm... Mungkin karena ada Meli kali ya dirumah ini.
"Hey Mas Rangga! Bagaimana kabarnya? Kaya nya sekarang makin gagah aja ya... Hahahaha!" Ucap Meli menyapa Suamiku, entah mengapa aku merasa risih dengan tatapan Meli saat melihat kearah Mas Rangga.
"Alhamdulilah baik Mel! Waduh, makasih loh pujiannya.. Kamu kemana aja selama ini Meli? Annisa sering nanyain kabar kamu tau!." Jawab Mas Rangga sembari menarik kursi lalu duduk disebelahku.
"Aku masih tinggal di Jakbar kok Mas! Wahh.. Masakan Mba Annisa terlihat menggoda selera sekali, aku jadi gak sabar melahap habis masakan Mba Nisa. Hehehe... " Meli menatapku lalu matanya melirik Mas Rangga.
"Ayuk kita makan! Masa mau dianggurin makanan buatan istriku tercinta ini yang nikmat.. Meli ambil makan yang banyak!" Tutur Mas Rangga, tapi anehnya kenapa Meli terlihat masam saat mendengar Mas Rangga mengucapkan Istriku tercinta.
Setelah selesai makan, Mas Rangga pamit ke kamar karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sedangkan aku dan Meli membersihkan area dapur sembari bercerita masa SMA dulu.
"Mba Annisa! Kemarin bilang 8 tahun menikah tapi belum diberi anak.. Memangnya kenapa Mba? Pernikahan sudah selama itu tapi belum memiliki anak.. Apa Mas Rangga gak pengen punya anak Mba?" Tanya Meli. Aku risih dengan pertanyaan Meli yang menurutku sangat berlebihan.
"Semua pasangan yang sudah menikah sudah pasti mereka menginginkan buah hati... Tapi kalau Allah belum memberikannya, kita bisa apa?" Jawabku dengan senyum getir.
"Hati-hati loh Mba! Takutnya nanti malah Mas Rangga punya wanita lain... Apalagi kalau Mas Rangga ingin sekali memiliki anak." Ucap Meli. Ia memang dari dulu orangnya ceplas-ceplos kalau berbicara, tapi menurutku ucapannya sudah kelewat batas.
Aku menatap tajam kearahnya, Meli nampak salah tingkah.
"Eh.. Anu Mba Nisa! Maaf ya kalau ucapan aku sudah lancang.. Aku hanya ngasih tau Mba Nisa aja kok!" Ujarnya sembari melangkah menuju ruang tamu.