Satria berdiri di hadapan Azza dengan tubuh bersandar pada batang pohon. Taman belakang sekolah selalu sepi, dan nyaris tak pernah ada murid-murid sekolah yang mengunjunginya. Azza berdiri dengan wajah super datar, memandang lurus kepada Satria dan mengernyit samar ketika menyadari betapa berantakannya penampilan pemuda itu. “Apa gue kelihatan cukup berantakan?” Sebelah alis Azza dinaikkan. Satria menyadari penampilannya tapi tetap tak memperbaikinya? “Lalu kenapa tidak dirapikan?” Satria mengangkat bahu. “Males, lagian gue udah biasa gini ‘kan?” Mengabaikan fakta bahwa apa yang dikatakan Satria memang benar adanya. Sejujurnya, Azza masih tidak ingin bertemu dengan Satria. Ia tidak merasa memusuhi pemuda itu. Biar bagaimana pun, Satria adalah teman dekatnya. Tapi melihat wajah Satria m

