Semuanya terjadi. Peristiwa yang paling tidak pernah ia pikirkan pada akhirnya terjadi juga dalam hidup Azza. Azza terdiam cukup lama, memandangi lawannya yang tengah tersenyum lebar dengan bangga. Azza melihat semua binar kebahagiaan dari kedua bola mata gelap di hadapannya. Tidak ada sama sekali kesan lega, hanya bahagia, seolah hari ini dunia menjadi miliknya. Azza merasakan sekitarnya tiba-tiba terasa gelap. Riuh penonton dan pendukung seolah tak terdengar lagi di telinganya. Kalah. Kalah. Kalah. Azza memegangi kepalanya. Tiba-tiba ia merasa menyesal mengatakan kepada Ila bahwa ia tak masalah untuk kalah. “Apa ini? Rasanya menyakitkan sekali.” Gumam Azza berulang-ulang. Ia tak habis pikir dengan orang-orang yang sering mengalaminya. Bagaimana mereka bisa tahan dengan rasa sakit yan

