“Jadi… “ Azza menghela napas. ia menatap Aji yang duduk di hadapannya. “Apa tujuan lo ngajak gue kemari selain diam sambil nyengir nggak jelas, hah?” Aji tertawa riang. “Tolong biarkan gue menikmati sensasi di mana gue masih aja nggak percaya kalau Naira Azzarine yang peringkat satu seangkatan, jago main basket, dan super duper dingin itu sekarang udah resmi jadi pacar gue. Wah, mimpi apa gue sebelumnya?” “Apa-apaan. Nggak usah lebay, pacaran sama cewek bukan sesuatu yang baru buat lo, harusnya gue yang bereaksi seperti itu. Gimana ceritanya gue yang derajatnya berkali-kali lebih tinggi ini bisa setuju pacaran sama lo!” Jelas kalimat pedas seperti itu tak akan semudah itu menyakiti Aji. Dia adalah manusia paling kebal dengan hal-hal seperti itu. Aji memegangi dadanya, bertingkah seolah-

