Bukannya tidak terlihat
Bukannya tidak terdengar
Kadang, semua suram
Karena hati itu temaram
________
Yugi dan Sera, mereka teman baik Gusta. Menurut cerita pria kecintaanku itu, dulu mereka satu SMA serta kebetulan ketiganya pun pernah terlibat dalam lilitan cinta bersegi. Parah! Namun, hebatnya hubungan mereka tetap terjalin akrab. Mungkin karena salah satu pihaknya adalah Gusta Eldriano si makhluk super tahan banting, sang antis sakit hati.
Gusta melepas cinta pertamanya untuk sahabat sejati perdananya. Gusta, aku baru sadar bila di kehidupannya dia sudah terlalu sering melemparkan diri sebagai korban. Dia, tak segan-segan menyerap lara demi kebahagiaan orang lain.
Ta, sekarang sama Tuhan kamu harus egois. Di sana, kamu jangan berpikir soal orang di luar diri kamu sendiri lagi. Bareng Tuhan, kamu yang tenang. Bareng Tuhan, kamu mesti bahagia. Bareng Tuhan, tolong jangan lagi khawatirin apa pun. Karena aku akan mengusahakan segalanya demi kamu. Hanya buat kamu, Ta.
"Kenapa? Kok bengong?" Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku cepat sebelum menoleh ke arah Zio yang tampak menunggu munculnya bunyi dari pita suaraku.
"Em, nggak. Cuma lagi ngerasa anginnya agak dingin ternyata," kilahku sambil mengusap area bahu berlapis gaun sewarna gading berlengan 3/4 yang tadi siang baru diantar kurir sebagai pesanan atas nama Gusta.
Benar. Pria itu, telah menyediakan semuanya untukku agar dapat hadir di pesta resepsi milik dua teman karibnya. Gusta menyiapkan segalanya kecuali kehadirannya.
"Aku baru tahu, dinginnya angin bisa buat orang meneteskan air mata," ujar Zio seraya mencekal pergelanganku, menghentikan langkah kaki serta menggiringku supaya berdiri menghadapnya yang sore ini terlihat sangat kasual dengan setelan hitam-hitam juga rambut yang ia sisir klimis. Ezio Nauerlino, ternyata memang punya sisi ajaib dalam hal memanjakan mata hingga luruhan tangisku pun sempat terlupa.
"Aku...," kataku patah-patah, mencari kalimat yang kiranya pantas dijadikan alasan. Namun, sulit. Kerongkongan itu rasanya tercekat entah karena efek dingin, entah karena jantungku yang tiba-tiba bertalu aneh.
"Dan aku juga baru tahu, kalau aku bawa ini," ucap Zio yang lantas merentangkan selendang sewarna gaunku ke daerah pundak. "Nggak begitu tebal. Tapi lumayan."
Melarikan bola mataku ke arah selendang jua wajahnya, aku tidak kuasa untuk tak mengeryitkan dahi pertanda kurang memahami. "Kok, bisa bawa selendang?"
Ayolah! Jangan katakan bila Ezio Nauerlino Prakosatama ini satu perguruan dengan David Copperfield atau mungkin Demian Aditya sehingga dia bisa menghilangkan serta memunculkan benda secara tiba-tiba. Huh! Aku tidak senaif itu.
"Entahlah," balasnya singkat sambil mengedikan bahu ringan. Lalu, kembali membuka akses jalan yang sebelumnya ia blokade.
"Hah? Ish, katanya kamu nggak mau menutupi apa pun. Zio? Kok, bisa sih? Datang dari mana coba? Kasih tahu dong! Kamu sembunyikan di mana? Aku penasaran," pujukku seraya terus mengejar pergerakannya yang melebar. Dan tanpa kusadari, aksi sederhana Prakosatama bungsu tersebut berhasil mengalihkan kesedihanku atas Gusta.
***
"Zi ...." Aku menelan bulat-bulat sekumpulan suku kata yang niatnya hendak kukuarkan. Sementara, sorot ini refleks membesar begitu mendapati pemandangan menyilaukan dekorasi pesta Yugi-Sera.
Di atapi langit sore yang mulai jingga, lampu-lampu kekuningan berkerlip lembut di ujung pengelihatan. Lalu, bangku-bangku porselen yang belum sepenuhnya terisi tamu, tirai-tirai yang berkibar tertiup angin laut yang melintas, mawar putih yang menyebar hampir di seluruh sudut kosong. Intinya ada tiga paduan warna dominan yang menakjubkan di sini: hijau, putih, salmon. Terpaku pada pintu masuknya, aku sukses merasa ikut bergembira.
Dan Gusta, kamu luar biasa. Selalu.
Ya, pernikahan Yugi-Sera merupakan konsep terakhir rancangan WT di mana Gusta turut campur di dalamnya. Acara yang memang disusun sederhana tapi hangat. Sesekali, meski Gusta mengaku tak tertarik dengan pekerjaannya, aku jusru berpikir dia teramat berbakat mengurus bidang ini. Selera Gusta terang tiada duanya.
Mengalihkan visualisasi ke arah pelaminan, aku merasa tercekat oleh objek yang baru saja tertangkap. Hanya jika retinaku berfungsi maksimal dalam jarak sepuluh meter ini maka, dua orang yang sedang tertawa-tawa di sisi tuan rumah ialah si Macan Tutul juga Ayudia. Tunggu! Kenapa mereka bisa ikut diundang?
"Bengong lagi? Anginnya masih terlalu kencang?" Suara berat Zio menyadarkanku.
"E-nggak," responku agak kaku.
"Lalu?"
Memposisikan telapak tangan di samping muka, aku berusaha menyembunyikan wujud semampuku.
"Memangnya Rega kenal sama Yugi-Sera?"
"Iya. VER, kan supplier butiknya Sera. Lagipula sepertinya Rega juga udah berangkat ke sini dari tadi."
Kenapa Zio baru bicara sekarang? Sudah begitu, kenapa pula si Norega itu harus datang dengan Ayudia? Bila wanita itu tahu aku didampingi Zio, apa yang akan terjadi kira-kira? Harga diriku mungkin akan terluka. Kemarin Ayudia mengantongi penjelasan bahwa aku adalah calon istri Rega namun, hari ini aku justru berdempet ria dengan mantan kekasihnya. s**l. s**l. s**l.
"Ada masalah? Kok, khawatir begitu?" tanya Zio yang tampaknya diberkati rasa peka sedikit di atas rata-rata kebanyakan kaum pria.
"Aku ... nggak bisa," akuku akhirnya beserta sudut siku yang melorot.
"Bisa apa?"
"Nggak bisa salaman sama Yugi-Sera," jawabku seadanya.
Bungkam sesaat, terjaring Zio mengangguk maklum satu kali. "Takut bertemu Ayudia?"
"Hum?" Nah, loh sepertinya Zio betul-betul mentalist. Dia bisa tahu.
"Tuh, dia lagi dengan Rega merusuh di sana, kan?" kata Zio mengangkat dagu menunjuk pelaminan. "Aku pun lihat."
Menghela napas rasa putus asa, aku bergumam, "Apa yang akan dia pikirkan soal aku nanti?"
"Terus inginmu memang bagaimana?" ujar Zio santai. "Dengar, kamu sendiri loh yang kemarin menilai kalau Ayu itu easy going, baik, asyik. Jadi, kira-kira apa dia akan menjambak atau mungkin main tinju kalau dia tahu faktanya?"
“Tapi, Rega bilang dia masih cinta ke kamu loh, Zi. Kalau Ayudia ketemu kita begini, kan bisa saja dia kecewa," jelasku di tengah tusukan deru tak nyaman.
"Me, secinta-cintanya dia sama aku. Ayudia yang kukenal cukup dewasa kok dalam menghadapi hal-hal yang singgah di hidupnya. Lagipula, Yugi-Sera itu kepentingannya Gusta. Masa kamu nggak mau memberi selamat? Ikut senang-senang, hm?"
Aku berpikir sejenak, mempertimbangkan sebab-akibat, jua tekadku di awal sebelum memutuskan datang memenuhi undangan.
Demi Gusta, dorong batin sana.
Menyuplai oksigen anyar ke dalam tubuh, aku pun berkata, "Tapi, salaman saja yah, Zi! Sehabis itu kita pulang."
"Oke," tukas Zio menyetujui seraya menyelipkan jari-jari panjang nan hangatnya demi merangkum tangan kecilku yang membeku. Sekilas ini bak de javu. Rasa aman yang menjalar ... Gusta?
Ezio, kenapa dia selalu menjelma layaknya pria kesayanganku? Pria yang memancing debaran menghentak pada jantung itu. Yang meninggalkan efek gelayar menyenangkan nan memabukan sampai-sampai rasanya aku mau gila seperti saat sekarang ini.
"Metaaaa!" Terima kasih untuk suara Sera yang menggelegar sebab berkat interupsinya, gelombang rasaku kembali ke titik normal.
"Aku pikir kamu nggak datang tahu," lanjut wanita bergaun halus nuansa salmon tersebut sambil mengurungku ketat dalam peluknya.
"Hem, mana tegalah aku. Nanti kamu nangis-nangis sepanjang acara lagi gara-gara aku alpa."
"Sempet-sempetnya yah bercanda!" gerutunya yang lalu menangkup mukaku dengan kedua tangan. "Tapi, kamu udah mendingan, kan?"
Aku tak langsung menjawab, berdetik-detik waktu habis untuk mengamati raut Sera yang hari ini dipulas make up sarat akan pesona.
Sera ... dulu Gusta pernah bilang bila wajah wanita ini mampu jadi obat hati yang gundah karena kelunakan gurat ekspresinya. Dan kini, kutemukan bukti omongan itu. "Iya, Ser. Aku ... udah lebih baik."
Bersama munculnya pengakuan tersebut, Sera pun menempatkanku kembali ke rengkuhannya. Dia mendekapku seolah kami sahabat lama, padahal kami belum punya sejarah panjang. Ikatan kami ada karena Gusta. Tentu saja. Semenjak kenal pria itu, aku jadi menerima banyak perhatian dari mereka yang disebut teman. Iya, sebab siapa pun temannya, selalu Gusta usahakan agar bisa jadi temanku juga. Gusta paham betul seberapa berat kehidupan yang kupikul sebelum bertemu dengannya.
"Selamat yah, Ser. Yang langgeng, yang bahagia, yang akur sama Yugi. Ah, yah kata Gusta, jangan kelamaan menunda momongannya ntar ditagih mulu loh sama para ibu suri."
Sera mengangguk masih dengan menumpukan kepala di pundakku. "Iya. Makasih. Kamu juga jangan nangis terus yah? Gustanya biar tenang."
"Huum."
"Yuhuuuu, para ladies mesra-mesraannya nggak mau ajak-ajak ini?" Suara serak Yugi yang khas menginvasi acara ladies's talk kami.
Kompak mengurai dekapan, aku dan Sera pun otomatis memicing ke arah pria tinggi berdarah campuran Jawa-Thailand tersebut sembari mencibir, "Pengennya."
Selepasnya tawa geli pun bercampur di antara kami. Namun, tidak lama. Sebab, melalui ekor mata aku sanggup menjumpai pandangan berbau teror dari dua sejoli yang sedari tadi ingin kuhindari. Rega featuring Ayudia, alamat jadi butiran debu jika aku sampai dicegat untuk bicara oleh mereka.
"Sekali lagi, have a new life's journey. Happy wedding, Yug, Ser," tutur Zio menyalami.
"Terus kami juga mau pamit nih," lanjut Zio yang kedengarannya bersiap menepati janjinya kepadaku.
"Loh, kok buru-buru, Zi? Belum juga makan, aku belum potong kue, acara, kan baru mulai banget," protes Sera seraya mentransfer lirikan keberatan padaku.
"Kalau memungkinkan juga ingin ikut sampai habis tapi, kami udah keburu ada janji," jelas Zio berdusta. Oh, Tuhan jika memang bisa dosa Zio kali ini, ditulis dalam raporku saja.
"Ya udah deh. Tapi nanti kalau kita buat pesta berikutnya wajib hadir sampai selesai, pokoknya. Titik," kalah Sera tak lupa diiringi juga oleh bumbu ancaman yang aku respon dengan cengiran lebar.
"Kami duluan yah?" tutup Zio yang tanpa aba-aba kembali mengambil alih telapak tanganku. Astaga!
Ezio, membimbingku guna membelah tamu. Dari posisiku yang tepat di belakang tubuhnya, jelas terbias betapa tegap nan kokohnya punggung pria itu. Berjalan seperti ini ... aku merasa aman. Sangat sangat ... aman.
"Kita ...."
"Loh, Me? Kenapa?" Aku yang baru sadar ternyata telah ambruk, terduduk di atas tanah. Entahlah tadi agaknya kakiku lumer ibarat jelly. Untung kami telah berada cukup jauh jaraknya dari lokasi resepsi.
"Nggak. Deg-degan saja, Zi," kataku terengah sambil sedikit menarik otot mulut yang tegang.
"Takut?" tebak Zio, berjongkok menyamaiku.
"Iya ...." Mungkin juga karena terlalu intens lihat kamu yang makin mirip Gusta sih, sambungku.
"Yakin kuat jalan ke parkiran? Masih sekitar sepuluh menit lagi loh sampai pintu keluarnya."
"Kuat kok."
"Coba sini deh!" Zio membalikan tubuhnya masih sambil berjongkok di depanku. "Naik!"
"Eh? Nggak, Zi. Serius, aku bisa kok. Lagipula aku berat loh, Zi," tolakku seraya mengibas-ngibaskan tangan percuma karena toh, nyatanya Zio sedang membelakangiku.
"Try me. Biar aku yang putuskan kamu berat apa nggak."
Ragu-ragu aku pun melingkarkan lengan ke perputaran lehernya. Menempelkan diriku ke punggungnya yang ternyata hangat serta beraroma harum khas pria.
Menggeleng mengusir deret imajinasi, aku lantas fokus pada Zio yang mulai menegakan tubuh dan melanjutkan perjalanan.
"Berat, kan?" tegasku.
"Lumayan."
"Turunin ah kalau gitu, nanti kamu capek."
"Tanpa diminta nanti pun kuturunakan kok kalau udah dalam mobil."
"Zio, ih!"
"Em, tunggu sebentar!" selanya, kemudian berbelok ke arah jajaran anak-anak pohon mindi yang agaknya anyar ditanam di sepanjang rute jalan.
Entah apa niat pria itu tetapi terasa sebelah tangan Zio yang menopangku menghilang sesaat. Dari tempatku di gendongannya, mata ini berupaya mengintip apa gerangan yang tengah Ezio perbuat. Belum juga terbias, mendadak tangan yang tadi lenyap menyembul di hadapan mukaku bersama setangkai daun mindi.
"Kamu nggak sempat ikut prosesi lempar bunga. Anggap saja ini bouquet pengantin, hm?" terangnya.
"Ya ampun, Zi. Yang ada-ada saja. Eh, tapi itu pohon milik pemerintah loh, kamu petik-petik nanti ada yang sadar kena pasal loh," ujarku tak sepenuhnya bergurau.
"Justru berkat dipetik nanti dia bakal bercabang," balasnya acuh tak acuh. Dasar!
"Em, tapi makasih yah." Karena sudah bantu aku mengabulkan pesan Gusta.
"Ah, boleh tanya nggak, Zi?" sambungku begitu teringat akan suatu bahasan yang menarik getar penasaran.
"Soal?" pancing Zio yang perlahan menggerkan langkahnya lagi.
"Ibunya ... Nabila?"
"Ibunya Nabila atau Ayudia?"
"Dua-duanya sih," ringisku.
"So?"
"Kalau Nabila itu anaknya ...?"
"Kalau anakku pasti udah kunikahi, kan?" timpal Zio tegas, "walau bukan pun kalau dia mau tentu akan kunikahi."
"Hm?"
"Tiga tahun sebelum aku bertemu Ayudia, ibunya Nabil mengirimiku undangan pernikahannya. Padahal aku udah bilang, kalau aku juga rela menikahinya meski dia sedang mengandung anak pria lain. Tapi, yah aku masih mahasiswa waktu itu. Sama sekali belum punya power apa pun untuk meyakinkan dia kalau aku dapat diandalkan."
"Zi ...?"
"Dulu, aku nggak sekali pun percaya kalau cinta pertama bakal menancap lebih lama dalam hati, Me. Tapi, agaknya aku kena kutukan. Realitasnya, menghapus memang nggak mudah."
"Zio?" Lagi lagi aku hanya sanggup mengulang namanya.
"Me, pernikahan tanpa cinta itu berat. Gusta ... kamu mungkin nggak akan bisa melupakan dia. Tapi, tahu nggak? Hati yang cuma satu itu, dia punya sekumpulan ruangan di dalamnya. Saat kamu berhasil membuka satu pintu, kemungkinan untuk bisa membuka pintu lainnya itu masih ada.
"Mencintai orang lain, bukan berarti melupakan orang yang pernah kita cintai. Mencintai orang lain, sama artinya dengan kita mengisi ruang hati yang kosong. Intinya, siapa pun yang kamu pilih nanti cobalah untuk jatuh cinta lagi. Jatuh cinta nggak selalu maknanya berkhianat kok, Me."
Benarkah demikian? Benarkah aku bisa membagi hati? Lalu, bagaimana jika setelah aku memutuskan membuka pintu yang lainnya, aku jadi serakah? Sungguh, aku tak mau main hati.
"Ah, jika kamu masih kepikiran soal selendangnya, itu dari balik jasku. Ada sakunya, Rega yang desain." Demi Tuhan, siapa yang menyuruh Zio beberkan masalah tersebut sekarang? Huh! Aku, kan sedang sangat serius.
***