5. Perempuan Masa Lalunya

2155 Kata
Kepada Rindu, tolong jangan dulu membeku Kepada Rindu, tolong jangan dulu tersapu Kepada Rindu, tolong  diam di situ Kepada Rindu, kau tau dia tidaklah bisu _________ "CALON ISTRI, JANGAN LUPA SARAPAN LOH! JANGAN LUPA JUGA HARI INI YUGI SAMA SERA NIKAH. NANTI AKU JEMPUT, OKE?" Aku yang tengah menyisir rambut mendadak mematung. Bahkan dalam cermin tertangkap bila pantulan wajahku berubah tegang. Baru saja, indra pendengaranku menangkap bunyi yang tak asing. Suara berat, suara yang sarat akan perhatian, suara penuh kedamaian yang beberapa hari ini menghilang dari takdirku. Itu ... suara milik Gusta. Aku yakin betul. Melempar sisir ke sembarang arah, aku otomatis bangkit dari hadapan meja rias untuk melangkahkan kaki mengitari kamar. Mengabsen setiap sudutnya menggunakan dua irisku yang memerih. Aku bahkan beberapa kali mendongak ke arah plafon demi membuktikan bahwa aku tak sedang berdelusi. "Ta ...?" aku memanggil Gusta lirih seraya membuka pintu kamar mandi yang isinya nihil. Berlari terburu menuju balkon, aku melongokan kepala ke kanan-kiri, atas-bawah yang sayangnya hanya mampu menjaring pemandangan mendung menggantung pada area kompleks perumahan, di mana kediaman Prakosatama dibangun dengan gagahnya. "Ta?" ulangku memanggil. Tidak. Aku sadar seratus persen. Suara Gusta benar-benar hadir, begitu dekat hingga rasanya pria itu sedang ada di balik tubuhku. "Ta?" ujarku bersama volume yang kian susut, kali ini diikuti oleh laju terseok tungkai-tungkaiku yang memaksa kembali ke dalam ruang tidur. Menginvasi bagian per bagiannya untuk yang ke sekian kali, tiba-tiba gambar sekelebat cahaya di permukaan kasur terbiaskan melalui netraku. Benda itu ponselku. Meraihnya dalam sekali genggaman, aku lalu memeriksa ada notifikasi apa gerangan sehingga handphone tersebut menyala? Meta, satu hal lagi yang kamu nggak boleh kelupaan. Nanti, tangkap bunganya Sera, oke? Pengingat. Jadi, suara tadi adalah nada dering alaram pesan ini. Gusta, yang punya hobi usil itu, kapan kira-kira ia membuatnya? Mendekap erat ponsel tersebut di d**a, aku diam-diam menarik bibir tipis. Sangat tipis. "Thanks, Ta." Untuk perhatiannya yang tak kenal putus, untuk segala wujud tindakan yang ia perbuat demi memperioritaskanku, meski saat sekarang kami tak lagi bernaung di bawah langit yang sama. Gusta ... bagaimana bisa dia berharap aku akan sanggup mengkhianati cinta jua kesetiannya yang terlampau besar itu? Menikahi Rega atau Zio. Jujur dari dasar hati sana, rasanya sulit sekali untuk mampu kukabulkan. Semua pemikiran bercabangku terpaksa tersudahi tatkala hadir sebuah ketukan di daun pintu. "Meta, sarapan yuk?" tawar Tante Ane yang sepertinya telah menempatkan diri di depan pintu kamar. Mengusap sebulir tangis di pipi, aku lantas menjawab, "Iya, Tante. Bentar lagi Meta nyusul." *** "Katanya habis makan siang," keluhku sambil melirik pria di belakang kemudi yang pagi ini sudah berkilauan menebar iklan bersama setelan gaya windowpane ala-ala vintage nan klasiknya. "Lagipula, bukannya rencananya pergi bertiga? Kok, cuma kita di sini? Zio pakai mobil sendiri yah? Padahal aku ingin berangkat sama dia saja." "Pagi-pagi udah kayak beo. Berisik tahu!" desis Rega kejam yang tampaknya sedang dalam kondisi siaga siap letus. Huh! Dan jika pun ia memang tengah mendamba kesunyian, kenapa pula ia menyetel radio berbunyi 'raum raum raum' yang justru sepuluh kali lebih memekakan dari halusnya suaraku? Dasar macan tutul sok paling benar! Bakatnya terang tak jauh-jauh dari merendahkan serta menyalahkan orang lain. "Nggak usah menatapku begitu dengan mata segede ondol-ondol tahu bulatmu itu bisa nggak?" lanjutnya marah-marah. Norega Altriano, mentang-mentang matanya kecil, dia jadi dilingkupi rasa berhak untuk menghina dinaku. Huh! Mendecih pelan, aku memutuskan untuk menetralisir gumpalan emosi serta membalasnya dengan bertutur, "Ya, bisa saja sih asal kamu juga berhenti mencak-mencak kayak gunung mau lahirin awan panas." Menoleh refleks ke sisiku, Rega tiada ragu langsung menembakan lirikan tajam dari mata sehitam granatnya. Astaga! Aku yang dihantui deru menciut pun mengedip-ngedip pelan sambil sedikit demi sedikit menggeser posisi dudukku supaya lebih dempet ke arah pintu mobil. "Eh, tapi Zio datang, kan?" tanyaku sesaat setelah menemukan sedikit getar penasaran yang singgah. "Enggak," jawab Rega singkat sembari menaruh fokusnya guna menyalip Kijang berlaju lambat di dalam lajur kami. "Zio nggak datang?" ujarku menegaskan. "Iya." "Kenapa?" "Meeting." Tumben Rega irit kata-kata, biasanya, kan dia sebatas irit harta. "Tapi, katanya kemarin yang mau pergi meninjau bertiga. Kalau Zio nggak datang, nggak adil dong." Selepas pernyataan tersebut, aku mendapati pergerakan mobil memelan. Dipukul denyut keheranan, aku kemudian mendongak mencari wajah Rega yang kini sedang tersenyum miring ke arahku. Sumpah! Menyaksikan seorang Norega Altriano dalam mode macam begitu membuat bulu kuduk ini meremang disko. Tampan, mungkin sedikitlah. Yang amat mendominasi itu kesan horornya. Lagipula, kenapa sih manusia ini mendadak bersikap aneh seperti itu? "Apa barusan kudengar? Enggak adil?" ucapnya bersama intonasi serta dinamika suara yang tak biasa. Mengangguk patah-patah aku membenarkan penuturannya. Tentu saja! Aku, kan belum memutuskan akan menikah dengan Rega atau Zio. Jadi, sudah sepantasnya, kan jika kami bertiga wajib terlibat serta membagi segala hal secara seimbang. "Kenapa harus main adil-adilan? Jangan bilang kalau kamu mulai berpikir soal poliandri yah?" "Hah?" "Hati-hati! Kedepannya nanti kamu mungkin bakal merasa kehilangan juga butuh Zio saat sedang bersamaku. Dan menjadi begitu rindu padaku saat tengah berdua dengan Zio. Yang seperti itu bau-baunya pertanda poliandri loh." Mustahil bin omong kosong. Benar. Tidak ada wanita yang sudi seserakah itu. Kaum kami terlahir bersama perasaan agung; satu cinta, satu pasangan. Tidak ada celah atau pun ruang bagi pihak-pihak tambahan apalagi yang menyangkut poli-polian. "Kamu tuh polio, virus," dumelku sambil melempar pandangan ke ramainya jalanan Ibukota. Namun, baru sedetik berganti otakku lagi-lagi tersetrum arus penasaran, sehingga menuntun mulutku untuk bertanya, "Eh, bentar dulu deh. Kemarin, kenapa kamu ngaku-ngaku kalau aku calon istrimu di depan Ayudia? Atas dasar apa kamu menyebar fitnah macam begitu?" Rega tak segera menjawab, ia memutar setirnya ke kiri memasuki kawasan basemant sss hotel yang lengang. Bahkan mulutnya pun terus tertutup rapat hingga pria itu sukses mematikan mesin mobil. Entah di sebelah mana letak sukar dari kalimat ingin tahuku tersebut. Namun, setidaknya bila ia sungguh keberatan untuk menghapus gelombang penasaranku, dia, kan bisa mengudarakan sepatah-dua patah kata penolakan. Bukannya main gantung. Percikan-percikan kekesalan hampir mematik lidahku untuk meloloskan teror ke telinga Rega. Sebelum secara tiba-tiba pria yang sejak tadi membisu tersebut menoleh kilat guna memenjarakan sosokku melalui kontrol bola mata supernya. Dia mengamatiku sejenak sebelum berkata ringan sekali. "Jujur saja, aku pun ingin memberitahu faktanya kepada Ayudia. Aku pun berharap dapat mengakui bahwa kamu itu gentong air. Tapi, aku berpikir ulang. Jika aku beberkan itu, apa jaminanya kamu nggak akan mengadu ke Bundaku? So, aku terjebak dan nggak punya opsi lain. "Dan di atas segalanya, aku pun nggak mungkin bilang kalau kamu calon istriku dan Zio pada Ayudia." "Bukan 'dan' tapi 'atau'," koreksiku merasa dongkol dengan pemilihan frasanya yang keliru. "Okelah sekarang 'atau', nanti, kan bisa jadi kamu inginnya jadi 'dan'," balasnya seraya mengangkat bahu. "No way!" ujarku penuh percaya diri. "Eh, tapi kenapa nggak bisa bilang kenyataannya ke Ayudia? Dia ... masih cinta yah ke Zio?" "Cemburu?" tebak Rega menyebalkan. "Enggaklah!" "Yakin hatimu nggak celekit-celekit?" "Enggak. Ya udah sih kalau nggak mau ngasih jawabannya. Ayo turun! Udah sampai, kan ini?" kataku sambil membuka pintu mobil mendahului Rega yang entah terkena badai apa terus-terusan memojokanku bersama celotehan-celotehannya. s**l! Dan rasanya menjadi double s****n sewaktu aku harus melangkah beriringan dengan Norega ke dalam ballroom. Yang benar saja, terhitung sudah belasan kali aku menghela napas. Aku menyadari bahwa pria satu ini kadar kepekaannya luar biasa tipis, namun apa ia tidak terganggu mendapati mata-mata wanita yang terus ingin menerkam bila ia tengah melintas? Astaga, aku saja serasa mau mati karena terbebani jua terintimidasi. Terlebih, apa begitu sulit bagi macan tutul ini untuk tak menarik perhatian? "Heh, Gentong Air!" sapa Si Macan Tutul mungkin kepada keramik-keramik dalam ruangan. Tentu saja! Meski ia pernah menyebutku demikan bukan berarti aku sudi menyahut pada panggilan kaya akan penistaannya itu. "Meta!" Bukan Rega. Jelaslah, pria itu mana rela mengoreksi kesalahannya. Menoleh ke samping kiri, aku menemukan Resti yang melambai di pojokan sebelah meja resepsionis ke arahku. Tapi, wanita itu tidak sedang sendirian. Berdiri menjulang dalam jarak dekat dengannya, seorang pria necis yang ketika kutangkap wajahnya, mulutku gagal untuk tak ternganga kaget. "Gimana kabarmu?" sambut Resti tatkala aku diikuti oleh Rega sampai di hadapannya. Melepaskan objek yang sempat memompa kejutku, aku mengulas senyum simpul sambil menjawab, "Sehat, Res." Betul. Aku memang sehat tapi tidak baik-baik saja. "Syukurlah, Me! Hei, Mas Rega lama nggak jumpa yah?" Aresti Ariana—rekan kantorku di WT yang sedari awal mengurusi prosesi persiapan pernikahanku dengan Gusta—kentara sekali tengah mengamalkan trik basa-basi. Ayolah, aku pun tahu bila Resti ini adalah salah satu haters Rega yang hidup di lingkungan WT Organizer. Salahkanlah macan tutul itu yang gemar cari perkara di mana-mana. "Hm," balas si macan acuh tak acuh. Terserah dia sajalah mau berbuat apa. "Tapi, kalian lama loh. Aku sama Mas Zio saja udah hampir tumbuh lumut di sini gara-gara nungguin kalian yang ngaret banget tahu," komplain Resti, membuatku menyadari apabila pria rapi yang tengah menggendong seorang anak di d**a lebarnya adalah Ezio Nauerlino. "Bukannya ... kamu ada rapat yah, Zi?" ucapku agak tercekat sembari melihat lurus-lurus sosok Zio yang sesekali tangannya aktif menepuk-nepuk pelan punggung si bocah. "Iya, tiga puluh menit lalu baru beres. Di sini kok meeting-nya." Acara temu klien jenis apa? Yang begitu selesai dapat anak? Sesungguhnya aku tergiur guna menyinggung bahasan tersebut. Namun, mengingat protesan Resti di awal aku pun memilih untuk meredam gejolak itu demi mengefektifkan waktu. "Ini serius nggak ingin ngobrol di tempat yang lebih enak? Kita bisa ke kafetaria atau nyewa ruangan loh." "Nggak usah, Res. Sebentar ini, kan acaranya," tolakku mengambil alih situasi. "Oke deh. Jadi, bagaimana keputusannya? Ada yang dirasa kurang atau apa gitu soal gedungnya? Biar nanti aku perbaiki." "Res?" aku melafalkan nama Resti hati-hati sekaligus mengambil napas dalam sebelum melanjutkan, "aku ingin batalin." "Heh! Gentong ai—Meta! Udah gila kamu? Batal? Bundaku bisa kecewa berat kalau sampai tahu. Jangan buat masalah baru deh. Heh—" "Bukan pernikahannya, Rega! Aku mau batalin booking gedungnya," potongku cukup keras untuk menghentikan cerocosannya. "Batalin booking gedung? Dikira gedung ini punya nenek moyangmu. Dikira, nyewanya pakai gepokan daun." Rega menggerutu rendah sambil geleng-geleng kepala. "Terus apa alasannya? Kenapa, heh? Kurang luas? Kurang profesional service-nya? Kurang apa?" "Kurang kecil." "Cari yang kecil? Nikahlah di lubang semut." "Reg!" Zio menggeleng sekilas, tampaknya ia kembali menerima perannya untuk menengahi. "Oke. Kalau kamu maunya begitu. Jadi, kamu ingin menikah di tempat yang bagaimana, Me?" Zio menanyaiku santai yang secara tak langsung melelehkan sedikit hawa geramku. "Aku udah sempat tukar pemikiran sih sama Resti." "So, dia ingin booking lubang semut mana, Res?" Pemilik kalimat ini sudah pasti Rega. "Bukan gitu masksudnya Meta, Mas Rega. Jadi, begini. Gedung ini kapasitasnya, kan lebih dari seribu orang. Tapi, mengingat sebagian besar undangan akan di-cancel penyebarannya. Maka, supaya suasananya tetap hangat dan nggak ada kesan melompong. Niatnya, kami mau pakai area yang lebih simple tapi kesan kekeluargaannya tetap dapat. "Nah, tadi kami sempat mempertimbangkan Segarra sih. Kebetulan sepertinya ada afiliasinya gitu sama hotel yang kita batalin ini. Berharap prosesnya nggak terlalu ribet juga sebetulnya, secara batas waktunya udah mepet banget." "Outdoor? Di cuaca yang sering mendung begini?" komentar Rega sangsi. "Mendung nggak menjamin hujan," belaku tangkas. "Ya udah. Kamu urus saja Res. Nanti kubantu bicara sama pihak Segarranya," tutur Zio yang untuk ke sekian kalinya memihak padaku. "Oke deal. Aku tutup urusan sama sss dulu yah? Nanti baru aku coba ketemu sama pihak Segarranya." "Thanks, Res. Maaf yah ngerepotin," kataku sambil menggenggam tangan Resti. "No probs, Me. Aku, kan udah pernah ngomong akan total buat mengurus pernikahan kamu. Sama siapa pun itu." Resti mengusap lenganku. "Aku tugas dulu, yah?" Aku praktis mengangguk. "Hati-hati!" "Sip. Nanti kukabarin lebih lanjut. Yo, Mas Zio, Mas Rega!" pamit wanita yang dua tahun lebih dewasa dariku itu, menyongsong lift. "Udah sebatas ini saja? Membatalkan, kan bisa via telepon. Ribet amat harus jauh-jauh datang ke sini, buang-buang bensin pula." Rega in action. Mendecih sambil menatap Rega yang berlalu pergi, aku mendengar Zio berdehem singkat. "Nggak ada yang ingin ditanyakan?" "Memangnya aku calon mertua mesti tanya-tanya." "Kalau begitu, ada yang mau kujelaskan." "Apa?" Zio mengedikan dagu ke arah bocah yang masih bergelendotan bak koala di lehernya. "Namanya Nabila, empat tahun. Aku tadi ada rapat sama ibunya yang kebetulan narasumber untuk film terbaruku. Dan ibunya itu, dia mantan wanita yang pernah kucintai, Me." Ezio ini ... mantannya setebal pasir di pantai, yah? Atau sebanyak kumang di lautan? Hadir wanita satu katanya, bekas kekasihnya. Muncul lagi, dia juga bekas wanitanya. Seberapa tak terhitungnya memang gadis yang pernah ada di hidupnya? Dan mengapa Gusta harus menjebakku dengan adik playboy-nya? "Ada perbedaan yang sangat nyata antara definisi kata 'pernah' dan 'sedang'. Aku hanya nggak ingin menutupi apa pun sama kamu. Daripada kamu dengar dari orang lain yang mungkin ditambahi atau dikurangi. Bukankah lebih baik tahu dari sumber paling akuratnya langsung?" Ezio mengambil napas pendek sebelum melanjutkan, "Ah, nanti malam kutemani ke pernikahannya Yugi sama Sera. Aku jemput pulang kantor, yah? Gih, sekarang kejar Rega. Dia pasti lagi ngoceh-ngoceh gara-gara mesti menunggu di parkiran. Aku antar Nabil dulu ke rumahnya. Kasihan dia harus bangun dari sepagi buta demi ketemu aku." "Zi-o?" "Hm?" Aku menggamit bibirku sekilas. "Jangan telat!" Dia mengangguk. "Makan siang nanti kutelepon. Suruh Rega jangan ngebut!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN