4. Resmi Dimulai?

1636 Kata
Sepi, sepi, sepi .... Mengapa mendadak sunyi? Di mana letak bunyi? Aku ingin dengar meski hanya sekali __________ Pukul 21. 10, baru beberapa waktu tadi acara doa bersama untuk Gusta selesai. Ditolak untuk membantu tugas bersih-bersih di dapur, Tante Ane justru menuntunku masuk ke kamar. Takut lelah, dalihnya. Padahal sepanjang hari ini, aku sebatas duduk-duduk entah itu di kantor Zio atau pun restoran dengan Rega. Sama sekali tak mencuci energi hanya sedikit menguras perasaan saja. Tapi, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kebaikan hati Tante Ane sebelas-dua belas dengan Gusta. Eh, Gusta lagi yah? Meraih ponsel pintar ber-casing hitam di atas bantal, aku lantas menyentuh icon amplop menggunakan jari telunjuk. Pesan dari operator seluler adalah yang paling rajin masuk seharian ini. Heran, ada saja agenda promosi mereka. Melewati SMS Wulan yang bertanya soal kondisiku juga Resti yang menanyakan periode cutiku. Aku menemukan sebuah kumpulan pesan dari kontak yang sedari tadi kucari-cari. GUSTAEL Dulu, nama itu ditulis langsung oleh jari-jari panjang Gusta. Jernih kuingat, dia menghadangku pada jam pulang di pintu masuk kantor demi menyita handphone-ku. Mengetikan SMS norak berbunyi 'Sayang' ke nomornya pribadi, dia lalu menyimpan kontaknya untukku. Menyebalkan. Tentu saja! Sebab waktu itu kami bahkan baru kenal. "Ta ...," bisiku rendah entah kepada siapa. Mungkin angin. "Kamu udah nggak hubungin aku loh dua hari ini. Handphone-ku serasa jadi sunyi banget loh." Mengelus permukaan layar ponsel, aku didera rasa sesal yang menyesakan akibat telah tega tak membalas pesan terakhir Gusta. Marahmu besok reda, kan? Ayolah Me! Kita masih bisa lanjutin marah ini nanti kalau udah resmi nikah yah? Ah, aku cuma mau ingetin kalau kita wajib dateng loh di nikahannya Yugi sama Sera. Mereka udah rusuh, ngancem ini-itu di semua sosial mediaku. Btw, aku udah siapin kado yang 'luar biasa gila' buat mereka. Jadi, dampingi aku yah? Diterima pukul 22. 31. Hanya beberapa menit setelah aku meninggalkannya masuk ke dalam rumah. Hanya beberapa saat sebelum dia pulang sambil mengebut dan terguling. Beberapa waktu yang menjadi saat terakhirku menerima perhatiannya. Malam itu, aku bahkan tak menengok lagi untuk menyaksikan punggungnya berlalu dan menjauh seperti yang biasa kulakukan. Gusta, dia bilang ingin aku dampingi. Namun, apa yang sebenarnya ada dipikirannya kemarin sampai berlaku ceroboh begitu? Gusta yang kukenal sangat taat aturan juga master-nya dalam hal berhati-hati. Menghapus kasar buliran tangis yang luruh, aku lantas bersiap mematikan ponsel serta meniatkan diri guna melanjutkan aktivitas tangis di balik selimut. Akan tetapi, segala rencana itu urung kulakukan begitu secara tiba-tiba telingaku menangkap sebuah bunyi berdenting tanda masuknya pesan singkat. Dering yang membuat jantungku melompat. Dering yang membuat mataku membulat. Dering yang membuatku berharap akan suatu hal yang jelas super mustahil. Tapi, bunyi itu ... aku yakin betul telah mengaturnya sebagai nada khusus milik Gusta. Menggeser tanda kunci menggunakan jari yang gemetar, aku menggigit bibir cemas. Bahkan saat angka satu menempel di icon amplop, detak jantungku masih bergemuruh, tak beraturan. Mana mungkin, kan? Gusta ... mengirimiku SMS dari surga? Memejamkan mata sejenak, aku memanfaatkan kesempatan demi menghirup oksigen secara rakus. Gila! Detakan jantung ini membuat gugup sekali. Mengangguk singkat untuk membulatan tekad, perlahan-lahan kusentuh bagian pesan. Selang sedetik, terpampanglah layar utama berisi jajaran kontak masuk yang beberapa saat lalu kucermati. Tepat di posisi paling atas, aku menemukan objek yang sempat membuat rasaku kalang kabut. EZIO Balkon. Diterima pukul 21. 27. Bukan Gusta. Tapi, bagaimana bisa nada deringnya persis serupa? Menggelengkan kepala mengusir bingung, aku memutuskan untuk tak lebih jauh menerka-nerka serta segera bergegas turun dari ranjang, menuju balkon menuruti permintaan Ezio. *** Melongok ke sebelah kanan, mataku langsung menemukan sosok Zio yang tengah bersandar pada dinding sambil mengacungkan mug putih ke arahku. "Cokelat panas?" tawarnya begitu mendekat, membuat aku refleks mengangkat alis heran. Hening tercipta beberapa detik, sebelum suara dengusan kilat Zio memecah situasi. Tampaknya ia berhasil menangkap kode tersiratku. "Kemampuan memasakku mungkin bisa bikin kamu keracunan tapi, sebatas nyeduh cokelat kemasan yang ada saran penyajiannya sih aku nggak sepayah itulah," terangnya seraya meraih jariku untuk menggenggam gagang mug. Meringis kecil, merasakan kehangatan yang timbul di permukaan keramik. Aku otomatis menarik kembali tangan berisi minumanku yang tanpa sengaja sempat bergesekan dengan kulit Ezio. "Thanks." Lalu sunyi lagi. Aku berupaya sibuk meniup-niup uap kental sementara Zio, begitu coba kulirik melalui ekor mata. Terlihat bahwa pria berkaus oblong itu tengah memerhatikanku. Tunggu! Kenapa dia harus memerhatikanku? "Ada apa?" tanyaku memberanikan diri balik menantang sorot tegasnya. "Kamu nggak ingin tanya sesuatu?" ujarnya ringan. "Maksud?" "Nada dering handphone-mu?" Jadi, suara tadi bukan halusinasi? "Jangan bilang kalau ...." Aku mengambil jeda, menunggu inisiatif Zio untuk melengkapi kalimat pradugaku. "Bunyinya akan begitu jika aku dan Rega mengirim pesan," katanya sambil mengangkat bahu, "telepon juga sih." Bagaimana mungkin bisa demikian? Siapa yang sudah membajak ponselku? Siapa yang telah mengutak-atik alat komunikasi pribadiku? Mereka berdua. Tentu saja. Pelakunya pasti kakak-beradik Prakosatama. "Bukan kami," ucap Zio yang lagaknya sanggup membaca pikiran. "Aku dan Rega tidak pernah mengurusi persoalan remeh-temeh macam begitu. Kalau kamu mau mencurigai seseorang, pelaku utama dan satu-satunya yang mungkin mengganti setting-an ponselmu jelas sekali cuma Bundaku." Harusnya aku tak terlalu terkejut. Bila dipikir ulang, Tante Ane, kan memang suka nyeleneh semi usil. Dulu saja, dia pernah mengirim aku serta Gusta ke kebun binatang di Selatan Jakarta sana untuk minum s**u kotak di atas bebek-bebekan, demi merayakan anniversary kami yang pertama. Namun, aksinya kali ini dengan mengganti nada dering ponselku bermaksud apa? "Gimana tadi? Ayudia sama Rega nggak membentuk koalisi buat mengabaikanmu, kan?" Perkataan Zio kali ini memaksa aku melepaskan simpul tanya-jawab yang berusaha kurangkai sebelumnya. Eh, tunggu! Kok Ezio tiba-tiba membahas itu, bagaimana dia bisa tahu? "Kamu kenal Ayudia juga?" tanyaku hati-hati seraya menumpukan punggungku pada pagar pembatas. "Yah, begitulah. Kebetulan kami sempat dekat dulu," ungkapnya membenarkan. Ngomong-ngomong soal dekat, jangan-jangan mereka berdua pernah menjalin sebuah hubungan. "Mantan kekasih?" todongku. "Mantan wanita yang sering kuantar-jemput, mantan wanita yang hobinya menanyakan kabar dan kegiatanku setiap hari, mantan wanita yang menemaniku jalan, mantan wanita yang sempat mengisi satu tahun waktuku. Hanya jika hal-hal itu bisa dikategorikan ke dalam sebutan kekasih, berarti tuduhanmu nggak keliru." Tuduhan? Bukannya memang faktanya macam begitu? Mengaku saja dia berputar-putar. Jangan katakan bila Zio ini tidak handal dalam urusan asmara! Sebab, sampai Everest cair pun kutak akan percaya. "Kenapa putus? Ayudia cantik," ujarku yang baru saja dihampiri hawa penasaran. "Memang," jawabnya singkat yang sepertinya tak tepat. Ayolah! Ayudia, wanita bermata bulat, beriris hitam terang, berkulit eksotis memabukan, pemilik surai merah berombak. Tubuh tinggi jua rampingnya yang penuh keringat pun harumnya masih semerbak. Dan Zio hanya berekspresi minimalis atas berkat luar biasa dahsyat tersebut? "Ayudia juga kesannya orang yang asyik, easy going, baik. Bukannya pria suka yang seperti itu?" "Kamu biasa saja, kamu galak, kamu susah diajak ngobrol, tertutup, manja. Tapi, buktinya Gusta cinta tuh. Jadi, pada kenyataannya nggak setiap pria suka sama sesuatu yang terlampau sempurna." Entah niatnya membuat perbandingan atau menghina. Tapi, aku merasa cukup damai sewaktu Zio mengakhiri kalimatnya dengan seulas ringisan menenteramkan. Ini aneh. Namun, untuk yang ke sekian kalinya aku jadi sering menangkap aura Gusta di dirinya. "Ah, besok kamu ada acara?" ujar Zio selang beberapa saat. Menggaruk rambut yang memang gatal, aku lantas mengingat-ingat jadwal kegiatanku untuk besok. Hari ini, besok, lusa hingga empat belas hari kedepan bukannya agendaku jelas melempong? Aku, kan sedang ambil cuti. Jika pun hendak melakukan sesuatu, sudah pasti itu mengenang Gusta, menangisi Gusta atau membayangkan Gusta. Tidak ada soal yang lain-lainnya. "Kalau nggak, siangnya kita ke sss Hotel, oke?" "Ngapain ke hotel?" "Ngapain? Ya, memang biasanya orang ke hotel mau apa?" "Bukan berarti karena aku mau ngobrol sama kamu. Kamu boleh macem-macem loh!" Bibirku belum seutuhnya mengatup, sewaktu telingaku berubah panas akibat menyisipnya seuntai suara yang sama sekali tak kuharapkan kehadirannya. "Wanita ini otaknya memang harus ditaburi detergent, Zi! Kotor, tercemar, jorok." Adalah Norega Altriano yang berhasil kutemukan saat memutuskan untuk menolehkan kepala ke arah belakang. Si makhluk menyebalkan yang separuh hari ini menuai sukses guna menyulapku bagai nyamuk. Dia, lengkap bersama arogansinya tampak sudah nyaman bersandar bak model di balkonnya yang terletak tepat di sisi kiri kamarku. "Udah dari kapan kamu nguping?" tudingku culas. "Udah dari kamu mulai kepo bertanya mengenai mantan orang," jawabnya masa bodoh. "Kepo, kamu bilang? Siapa yang kepo?" "Udah-udah!" Zio tanggap menengahi. "Dan Meta Yunara, besok kamu, aku, Rega. Kita bakal ke hotel buat meninjau ulang gedung." "Harus pakai gedung juga?" Aku mengalihkan perhatian kepada Ezio. "Ya, wajarnya begitu, kan? Lagipula ini pernikahanmu yang bakal terjadi sekali seumur hidup. Memangnya kamu nggak masalah nikah di KUA saja?" Norega yang tak diundang lagi lagi unjuk suara. Mengurut pangkal hidung menggunakan tanganku yang bebas. Satu-satunya yang menjadi masalahku ialah aku cuma bersedia menikah bersama Gusta. Mau itu pakai gedung kek, pakai Cinderella Castle di Disneyland kek, pakai tenda biru sekaligus dihibur orgen tunggal kek. Semua aku terima. Asal mempelai prianya Gusta. Sekarang, bagaimana bisa aku tertawa-tawa, menerima selamat dan doa dari orang-orang tanpa Gusta? Apakah itu adil untuknya? "Me, percaya deh. Gusta mau yang terbaik buat kamu," kata Zio masih berusaha memupuk keyakinanku. "Zi-o?" "Hm?" Menghempaskan napas secara kasar. Aku lalu mengacungi Rega melalui telujuk sambil berujar, "Mesti yah makhluk itu ikut juga?" "Heh, manusia over confidence! Dengar! Kalau ini bukan titah Bunda, aku pun malas menghirup napas di sekitarmu tahu. Dan jangan lupa untuk cuci bersih dasiku sebelum kamu kembalikan!" dumel makhluk bernama Rega itu sambil berlalu masuk kembali ke sarangnya. Dasar macan tutul emang! "Kenapa? Ada masalah yah sama Rega tadi?" tanya Zio begitu kami tinggal berdua. "Kalau ada dia tapi nggak ada masalah itu baru aneh." Betul. Norega itu expert untuk mencabik-cabik mood-ku. Dia selalu saja punya cara guna mengusik tatanan kehidupanku. Bahkan wajahnya pun sanggup meruntuhkan semangat. "Kata-katanya emang suka menyakiti tapi, dia perhatian kok sebenarnya." Ezio ini musuh Rega, kan? Kenapa pula harus terus membelanya? "Udah malam, Me. Tidur gih!" titah Zio pasca menyadari bahwa malam kian larut. "Hm," setujuku sambil diam-diam memanjatkan doa supaya tidak diberi mimpi bertemu macan tutul. Huh! Amit amit wasiatun deh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN