3. Menjadi Istrinya? OMG!

1919 Kata
Angin menderu, begitu beku Langit berseru, begitu saru Sedang rintik ini masih tak sudi berlalu Mengepakan kelabu, yang mengharu biru ________ Sedari pertama kali menginjakkan kaki di salah satu restoran Jepang mall ini, aku sudah diterpa firasat aneh. Mata orang-orang yang melirik dua kali setiap berpapasan, bisik-bisik mencurigakan, cekikikan sok malu-malu dari para pengunjung wanita. Alasannya? Membelokan pandanganku ke samping kiri, ada apa pula dengan Rega ini? Di dalam ruangan, tapi tetap mengenakan kacamata hitam. Jangan bilang kalau matanya sedang belekan atau malah bintitan. Menggeleng tak habis pikir, aku lantas mencolek lengan Rega sambil berdesis, "Heh!" Pria itu kemudian membalas dengan mengeluarkan sebentuk kedikan dagu ringan. "Lepas nggak tuh aviator!" titahku yang benar-benar sudah merasa risih akan perhatian tak lumrah yang terus-menerus diarahkan kepada kami. "Kenapa?" tanya Rega bingung. Entah pura-pura atau memang tidak sadar situasi. "Kamu nggak perhatikan? Orang-orang dari tadi pada lihatin kita?" Melirikan pengelihatannya ke samping kiri dan kanan, Rega lalu kembali fokus melaju bersama gesture yang justru terkesan lebih percaya diri. "Kamu yakin semua itu gara-gara kacamataku?" Dia menarik kursi yang berada dekat dengan pintu masuk restoran, sebelum mendudukan dirinya sendiri secara nyaman. "Bukannya itu karena mereka ngerasa heran? Kok, ada pria tampan yang sudi jalan sama Gentong Air?" Lidah Rega menudingku dengan kejam. Satu hal; sumpah, aku tak segendut tuduhannya. "Gentong Air? Mereka itu lihatin kamu yang udah mirip tukang pijet panggilan," koreksiku sembari membanting p****t di atas dudukan yang berada tepat di hadapan Rega. "Ya udah sih. Apa yang mereka perhatikan dan pikirkan itu penting? Kita ke sini mau makan. Masalah kita yang jadi bahan santapan mulut sekaligus otak mereka tuh lain cerita. Abaikan saja!" Fakta tambahan; Rega ternyata sangat cuek bebek. "Nih, menunya," lanjutnya, mengangsurkan selembar kertas ke arahku. Dan pria ini tampaknya lupa, bahwa tadi sepertinya sudah ada perjanjian rasa otoriter yang mengharuskan kami untuk makan sushi set saja. "Nggak butuh," tolakku mutlak seraya mendorongnya kembali pada Rega. Mendapati reaksiku, Rega tak lantas membalas. Dia justru terlihat melepaskan aviatornya dan mengamati permukaan wajahku sekilas. Entah untuk tujuan apa, doaku; semoga tak ada yang hilang dari mukaku gara-gara tersedot oleh mata awas bin tajamnya itu. "Serius mau aku yang pesan?" Norega bertanya retoris. "Bukannya kamu ada alergi sushi? Kalau aku pesankan sushi set terus nyatanya itu ada yang pantang buat kamu gimana? Nanti nggak kamu makan, mubazir, kan jatuhnya? Atau parahnya kamu malah muntah-muntah, terus ujungnya aku kena tuduhan meracuni lagi." Rega ini pelit atau bagaimana yah? Eh, tunggu dulu! Kok dia tahu aku punya alergi? Dari mana? Selama ini yang concern mengenai masalahku tersebut cuma Gusta. Apa Rega mengetahui ini berkat Gusta? Em, tentu saja, kan. Siapa lagi? "Mau kekeuh aku yang pilih? Jangan menyesal dan salahkan aku loh. Awas saja!" lanjutnya memperingati. "Mbak?" Rega melambaikan tangan di udara. Seorang pegawai berseragam merah-merah, lengkap dengan topi sewarna darah kemudian bergegas menghampiri meja kami. Tak lupa ia mengulas senyum basa-basi sebagai prosesi penyambutan. "Mau pesan apa, Mas?" bukannya ramah. Sekali lagi Rega melirikku seolah memastikan bahwa keputusanku sudah bulat dan tak terganggu gugat. Hingga pangkalnya dia berujar, "Mbak, saya mau—" "Inari sushi," serobotku cepat. "Yah itu, sama sushi set-nya satu. Ah, bawakan juga tiga botol air mineral," sambung Rega santai seolah apa yang baru saja dia minta tak semakin mematenkan kesan kikir pada dirinya. Tiga botol air mineral? Yang benar saja! Segelas kopi pun harganya tak sampai lima puluh ribu. Dan dia cuma membeli air putih selepas perjalanan sulit kami guna mencapai tempat ini? Gila! Aku bahkan bisa bayar sendiri jika ia memang sebegitu perhitungannya. "Satu porsi sushi inari, seporsi sushi set dan tiga botol air mineral. Ada lagi yang ingin ditambahkan Mas, Mbak?" "A—" "Sekarang itu saja dulu," putus Rega memotong kalimatku seenak kepalanya. "E, untuk air mineralnya tolong jangan yang dingin!" "Oh, baiklah. Ditunggu yah Mas, Mbak. Permisi," tutup si Mbak pelayan tanpa tertarik menanggapi ekspresi protes rautku. "Apa aku udah setuju sama pesananmu itu?" ujarku cukup lantang saat Rega masih sibuk mengikuti langkah kaki menjauh milik Mbak ber-rok sebatas lutut nan berkaki jenjang yang baru saja berlalu dari sekeliling kami. Menyudahi pelototan lancangnya, Rega kontan beralih untuk memandangku tanpa minat. Oke, aku mungkin kalah rapi serta kinclong dari Mbak-Mbak tadi tapi, bukan berarti pria ini bisa menghinaku dengan tatapannya. "Pertanyaan macam apa itu? Baru sedetik, udah lupa? Kamu sendiri loh yang ngomong ke Mbaknya soal pesananmu. Jangan keseringan memanfaatkan posisimu sebagai wanita yang capnya selalu benar. Oke?" tutur Rega ketus. "Aku nggak bicara tentang sushi-nya tapi tentang minumnya," kontraku. "Astaga! Begitu saja diperkarakan dan peributan. Dengar yah, diam dulu! Jangan sok paham, bisa nggak?" "Kamu tuh. Nggak usah bentak-bentak bisa nggak?" dumelku keras. Heran! Jadi pria kok mulutnya hobi banget asal bunyi. "Kamunya yang mancing minta dikerasin," sentaknya tajam yang refleks membuatku tercenung. Sekarang ini, entah bagaimana bisa aku kehabisan stock kata-kata. Kerongkonganku yang awalnya dipenuhi oleh energi keberangan mendadak menyusut dan raib. Segumpal rasa yang tersisa di dalam sana hanyalah gelenyar perih jua menyayat. Di mana setiap detiknya ia tumbuh dengan begitu dahsyat. Lalu, begitu saja deru itu tanpa ampun kembali mengundang bayang-bayang Gusta dalam mataku. Benar. Kali ini, aku mungkin memang telah berlaku berlebihan. Orang yang sedang duduk bersamaku bukanlah kekasihku. Dia bukan Gusta yang lumrahnya akan balik menggodaku saat aku mulai kesal. Aku bukan sedang mendebatkan soal makanan dengan Gusta. Yang seringnya akan menutup sesi marahnya dengan tawa khasnya. Rega ini bukan Gusta, meskipun mereka sama-sama tahu bila aku punya alergi sewaktu memakan jenis sushi tertentu. Ta, apa kamu tahu? Aku rindu kamu. Rindu sekali. Ini adalah makan siang pertamaku tanpa Gusta. Pasca sepanjang dua tahun ini aku selalu ditemani olehnya. Ini adalah kali pertama makan siangku tanpa segelas latte dingin atau teh hijau yang kerap Gusta pesankan khusus untukku. Rasanya baru kemarin dan memang baru dua hari lalu aku duduk, saling berhadapan dengan Gusta guna menyantap sushi sambil sesekali mencibir juga bercanda. Aku masih ingat betul bagaimana menyenangkannya saat suara berat Gusta menyebut namaku. Bagaimana dia tersenyum penuh makna setiap kali kami beradu tatapan. Bagaimana hangat dan lebarnya telapak tangannya sewaktu merengkuh jari-jari kecilku ketika menyambi menunggu pesanan diantar. Gusta .... "Me, sehari nggak makan sama kamu rasanya sepi banget. Ada yang hilang. Cukup sekali aku ngerasain itu. Kalau kita nikah nanti, pokoknya nggak boleh ada yang disebut dengan hari absen makan bareng. Aku mau terus makan sama kamu biar ada yang bisa kuisengin." Faktanya, dijahili oleh Gusta sensasinya bejuta kali lebih baik. Pada kenyataannya, mendapati Gusta yang kerap nakal mencolek-colek pipiku saat kami tengah makan, yang dulu rasanya begitu mengesalkan kini justru kurindukan. Realitasnya, menduduki restoran atau cafe jadi mengasyikan karena aku selalu ditempel olehnya. Benar. Asalkan itu dia, asalkan ada Gusta. Semuanya terasa benar dan baik-baik saja. Gusta ... duduk di sini tanpa alunan suaranya, tanpa wajah tampannya, tanpa belaian kulitnya, hatiku perih sekali. Bahkan tatkala menit berganti, aku memutuskan untuk lebih banyak bisu serta menunduk. Sewaktu Mbak-Mbak Pelayan datang mengantarkan pesanan, aku pun hanya menggumamkan terima kasih tanpa mengalihkan sorot mataku pada alas meja. Sementara Rega? Entahlah. Aku tidak mau repot memikirkannya. Terserah pria itu saja mau bertingkah jua berkata bagaimana. Kutak peduli. Menyentuh gulungan telur pengganti nori—rumput laut sumber alergiku—aku lantas mencimit sedikit demi sedikit inari sushi favoritku untuk segera terlahap. Juga, kebiasaanku jika makan sushi itu tanpa sumpit. Sebab, umumnya makan menggunakan tangan itu lebih nikmat. Seringnya sih begitu tapi, hari ini rasanya hambar saja. Sesekali mengibaskan rambut panjangku yang menjuntai menghalangi mulut. Tanpa sadar air mata menggenang lagi. s**l! Hatiku benar-benar tak nyaman dan langsung jadi terperanjat ketika kurasakan ada seseorang yang menyentuh helai-helai suraiku. Dia merangkumnya supaya menyatu lalu, mengikatnya entah menggunakan apa. Gerakannya sangat hati-hati, barangkali takut ada rambut yang ikut tertarik dan akhirnya justru menyakiti. Jelasnya ia menghabiskan waktu hampir semenit, sebelum ekor kuda terbentuk dari mahkotaku. Berniat menoleh guna mengecek siapa gerangan pelakunya. Mataku justru lebih dulu menangkap sosok Rega yang datang dari balik punggungku untuk menempati kursinya kembali. Dia tampak anteng, melipat tangan di depan d**a sembari menelitiku tanpa kata. Jangan bilang kalau dia .... "Kenapa sih wanita senang sekali memanjangkan rambutnya kalau pangkalnya membuat ribet sendiri?" Menatap Rega dengan lebih detail, aku berhasil menemukan sebuah kenjanggalan. Dasi garis-garis yang sedari tadi menambah perlente tampilannya, lenyap. Kini, dengan satu kancing kemeja yang terbuka, Rega tampak lebih kasual dan santai. Tapi, kemana larinya dasi itu? Apa mungkin? "Besok kalau mau mengembalikan tolong di laundry dulu yah. Aku nggak suka bau shampoo-mu yang feminin itu sampai nempel di dasiku," katanya menjawab seluruh rangakaian tebakan dalam ruang benakku. *** Melirik arloji di pergelangan tangan, aku lantas mendesah lelah. Pukul 13. 20, sudah hampir satu jam kami berdiam dalam restoran. Isi piring kami pun telah tandas. Lalu, mau sampai kapan kiranya kami harus terjebak tanpa melakukan apa-apa di tempat ini? Lagipula, klien Rega sebetulnya bakal datang atau tidak? Dari tadi batang hidungnya tak kunjung terlihat. "Re—?" Baru saja aku hendak bertanya, namun terdahului oleh seuntai suara yang hadir menginterupsi. "Mas Rega!" Aku otomatis mendongak ke sumber seruan. Di mana seorang wanita muda yang kira-kira baru menginjak twenty something, berpakaian training olahraga yang kentara masih ngos-ngosan tiba-tiba menghambur ke arah meja kami. "Telat lima menit loh kamu," sambut Rega menyeringai sambil mengedikan dagu ke arah botol-botol air mineral di atas meja yang memang utuh tak kami sentuh. Tadi, pria itu menambahkan dua gelas jus dalam pesanan tanpa sepengetahuanku. "Kalau siang teriknya sebatas begini sih, tiga saja cukup, kan?" imbuh Rega. "Sebatas begini? Di luar membakar tahu nggak sih, Mas. Tapi thanks loh. Mas Rega emang the best lah," ucap wanita berperawakan mirip model tersebut sambil meraih satu per satu botol air untuk diminumnya. Menghabiskan satu setengah botol dalam tempo yang relatif singkat, wanita tersebut lantas menoleh ke arahku. Jangan bilang kalau sedari tadi di matanya aku gaib. "Eh, ada Mbaknya. Siapanya nih, Mas?" tanya wanita itu seraya mengelap permukaan bibir merahnya dan memandang Rega dengan penuh selidik. "Siapa?" ulang Rega terdengar agak mencemaskan. Aku bahkan memberanikan diri guna mengintip ekspresi rautnya dengan jantung yang terus berdegub. Orang ini, dia tak mungkin berpikir dua kali untuk mengatai, menghina dina dan mencoreng mukaku. "Kok, masih tanya siapa? Dia ... calon istrikulah, Yu." Gila! Manusia bernama Norega Altriano Prakosatama ini perlu chek up ke Pskiater atau ahli Kejiwaan. Bagaimana bisa mulut sok paling benarnya itu berdeklarasi asal macam begitu? "Hah? Kok? Bukannya Mas Rega tuh dekat sama Renata?" ujar wanita yang kutak tahu identitasnya itu terkejut. Eh, tunggu! Dia barusan menyebutkan nama seorang gadis. Apa itu berarti Rega sudah punya pujaan hati? Oh, betapa kabar yang sangat luar biasa nan membahagiakan. "Nggak usah mengungkit hal yang udah masa lalu begitulah, Yu. Nanti calon istriku salah paham. Tuh, lihat mukanya udah menuntut penjelasan. Menambah pekerjaanku saja kamu." "Hehe sorry sorry. Aku nggak tahu kalau Mas udah nggak sama Renata sih. Maaf yah Mbak? Jangan diambil hati, please? Mas Rega super setia kok orangnya. Jangan terus jadi ragu loh Mbak gara-gara omongan nggak up to date saya, yah?" Masa bodohlah. Mau dia super setia kek, super lengket kek macem lem, superman sampai super duper tak kewer kewer. Kutak ada urusan. Siapa juga yang sudi menikah dengan manusia tipe j*****m macam dia? Bisa jadi mimpi buruk tanpa akhir itu. "Ah, Mas tungguin Kak Reni yah? Dia lagi beli jajan di supermarket bawah. Abis itu kita rapat asyik. Oke oke?" ujar wanita yang entah bagaimana kini sanggup kuyakini bahwa profesinya adalah seorang model. "Kalau aku nggak butuh icon buat edisi winter, udah aku tinggal pulang kamu dari tadi." "Hehe maaf maaf." Dan obrolan mereka pun terus mengalir. Keakraban yang membuatku sukses menjadi nyamuk tak dianggap. Dasar Norega kutu busuk memang! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN