2. Dia dan Dirinya

3379 Kata
Bagaikan garis lintang yang berlari dari equator. Aku terbelah di antara selatan dan utara. _______ "Yas, kamu yakin serial yang akan kita produksi ini nggak akan kesandung kasus plagiarisme?" Ezio menempati dudukan di poros lingkaran, di sekelilingnya tampak empat buah kursi lainnya melingkari pemuda itu dengan rapi. "Maksudnya, Pak?" Aku yang memilih untuk menempati bangku di luar lingkaran mereka, mencoba fokus mengamati seorang wanita berkacamata yang beberapa waktu tadi terdengar mengeluarkan suara. "Nggak ada yang salah dengan penggunaan sebuah premis serupa. Toh, di zaman sekarang ide yang orisinil udah jarang." Zio mengusap ujung dagunya yang tercukur bersih sebanyak dua kali sepanjang menelurkan kalimat tersebut. Sementara aku, berupaya untuk terus bertindak sebagai pengawas. Di mana semakin lama mencermati situasi meeting para pelaku sineas ini justru merasa kian terkagum-kagum. Ezio begitu muda akan tetapi, melihat feedback para staff-nya yang teramat intens guna menadahi segala tutur kata dari bungsu Prakosatama itu membuatku sadar, bahwa kepemimpinan tidaklah sederhana dan ia tak selalu bisa diukur dengan usia. "Di rapat sebelumnya, kita udah sepakat mau menciptakan script yang seperti apa. Tapi, bukan berarti kita bisa me-rewrite. Sekali pun itu dari film lama, netizen sekarang lebih kritis loh," ujar Zio sambil mengangkat sejilid kertas yang dugaku adalah skenario di tangan kirinya. "By the way, Yasmin? Kamu penggemar Zac Efron atau malah mungkin Matthew Perry?" Aku melihat Zio mengerutkan sebelah alisnya sewaktu menanyai wanita berkacamata yang berada tepat di seberang duduknya. "Em, anu, itu—" Belum sempat bunyi penjelasan dari Yasmin menghambur ke udara, suara tegas nan santai khas Ezio yang bernada agak acuh tak acuh justru ambil bagian guna kembali mengangkasa. "'When you're young everything feels like the end of the world. But it's not; it's just the beginning. You might have to meet a few more jerks, but one day you're gonna meet a boy who treats you the way you deserve to be treated. Like the sun rises and sets with you'. Kalau halaman lima dari naskah kamu dialih bahasakan, bunyinya persis dengan film yang diarahkan oleh Burr Steers." "Pak, itu—" "Bahkan di halaman pertama juga halaman-halaman selanjutnya, dialog-dialog maupun adegan tokohnya juga terkesan sangat familiar." "Pak Zio saya ...." "Reynita?" Manuver Zio yang tiba-tiba sempat membuat kami yang berada di dalam ruangan kompak terperanjat. Alasannya, bukan karena boss sang pimpinan rapat siang ini berteriak. Tidak. Ezio sama sekali tak mengubah intonasi bicaranya. Hanya saja, pria itu sempat menipiskan nada dalam seruannya, selain itu kami juga dengan telak menangkap sorot mata Zio yang mendadak berubah runcing. Walau tidak menyeramkan, entah mengapa kami sanggup menerjemahkan perilaku tersebut sebagai sebentuk ancaman. Bahkan aku yang belum begitu akrab dengan pria itu pun mampu terperangkap dalam rasa intimidasi yang Ezio kuarkan. "Iya, Pak?" Wanita pemilik bangku di sisi kanan Zio, yang namanya baru saja dilafalkan oleh pria itu menyahut penuh sopan santun. "Apa kamu mau men-direct karya yang bisa jadi kedepannya bermasalah?" tanya Zio to the point. "E, saya sih gimana Pak Zio saja. Kalau Bapak oke, saya bakal kerjakan semaksimal mungkin," respon Reynita, salah satu staff Zio yang berperawakan kurus nan mungil. Meski dari gurat wajahnya, kemungkinan ia memiliki umur beberapa tahun di atas Ezio. "Itu kalimatmu sebagai pegawai saya, tapi di sini yang mau saya dengar adalah kalimat kamu sebagai seorang Sutradara dengan pengalaman tujuh tahun di industri ini. Bagaimana, kamu keberatan untuk menangani project terbaru kita ini?" Reynita tidak langsung menjawab, wanita itu kentara sekali tengah berpikir sebelum akhirnya berdehem lirih dan berujar, "Meskipun cuma sekali. Yang namanya kesalahan biasanya justru lebih mudah diingat, Pak. Sekali kita terjerat kasus, apalagi plagiasi. Kedepannya, pandangan pasar terhadap kita tentu bakal berbeda." Aku melihat Zio mengangguk singkat dalam menanggapi penjelasan yang memang terdengar masuk akal tersebut. "Lalu, bagaimana pendapat kamu soal Yasmin sebagai partner kerja?" Entah apa yang hendak Zio tuju dengan prosesi tanya-jawab ini. Namun, bagiku dia tergolong sangat kritis dan untuk ke sekian kalinya aku dibuat takjub akan kenyataan itu. "Saya percaya. Sangat percaya bahwa Yasmin bisa kita andalkan di project kita, Pak," jawab Reynita tak tergoyahkan. "Kalau keyakinan kamu ternyata salah?" Zio menuntut. "Saya ...." "Nggak usah dijawab," tutur Zio kalem sambil mengacungkan telunjuknya ke udara demi menghalau suara lanjutan dari Reynita. "Oke. Kamu udah dengar semuanya, kan, Yas? Sutradara kita sangat percaya bahwa kamu kapabel dan sepertinya yang lain pun sependapat." Zio melirikan matanya kepada dua peserta rapat lainnya yang mulai mengangguk-angguk setuju. "So, kalau saya beri satu kesempatan lagi. Kamu bersedia buat merevisi naskahnya?" "Pasti, Pak! Saya akan berusaha sebaik mungkin dan akan lebih berhati-hati lagi," ujar Yasmin bersama nada gembira yang kentara. Aku sendiri yang memerhatikan dalam diam, tak kuasa untuk membendung senyum kecilku. "Begini, di sini kita semua tahu, mudah bagi kita untuk membeli lisensi dalam menangani problem kesamaan naskah ini. Saya sendiri bukannya nggak mau melakukan hal itu. Hanya saja, sama seperti orang lain yang duduk di sini. Saya memilih Yasmin, saya memilih Reynita juga kalian semua untuk bergabung dalam project karena saya tahu kalau kalian mumpuni. "Dan satu hal yang perlu diingat, bahwa saya paling nggak suka bekerja sama dengan orang yang beranggapan jika peraturan diciptakan untuk dilanggar. Ada pertanyaan?" "Pak?" Reynita terjaring mengangkat sebelah telapak tangannya ke sisi kepala. "Silakan, Rey?" ujar Zio. "Mengenai project film kita yang direncanakan buat rilis di awal tahun nanti, Pak?" "Ah, yah kamu ambil bagian juga, kan di sana?" "Iya, Pak." "Kalau sementara saya minta kamu untuk fokus di project stripping kita yang ini saja nggak apa-apa?" "Bisa sih, Pak," ucap Reynita tak keberatan walau nadanya tertangkap agak meragu. "Sepertinya waktu perilisannya pun bakal sedikit diundur sih, Rey. Saya masih harus mengadakan pertemuan beberapa kali lagi dengan narasumbernya. Tapi, kalau dalam waktu dekat ini saya bisa menemukan script writer yang tepat, mungkin akan lain ceritanya. Kita bakal langsung ngadain casting dan kamu siap-siap saja buat bagi waktu. Oke?” "Oh, baik, Pak." "Nanti apabila ada kemajuan saya hubungi kamu." "Siap, Pak!" "Yang lain, sudah cukup jelas?" Ezio menelusurkan perhatiannya ke setiap staff yang terlibat dalam rapat. "Clear, Pak!" jawab beberapa orang secara serempak. "Oke. Yas, naskah versi baru saya tunggu dalam dua hari. Meeting selesai. Selamat siang." Dengan menutup rangkaian petemuan, Zio pun bangkit berdiri mendahului yang lain. Pria itu lantas berjalan mendekat ke arahku. Tanpa peringatan, Ezio meraih lenganku pelan untuk ia tuntun guna berjalan beriringan bersamanya mengeluari ruangan. Melangkah dalam keheningan hingga memasuki lift. Aku memberanikan diri membuka obrolan, "Kamu hafal banyak film, Zi sampai ke detail-detailnya?" Ezio yang berdiri menjulang dalam balutan setelan lengkapnya, padu padan kemeja hitam, celana bahan jua jas sewarna navy blue tak otomatis membalas kalimatku. Pria itu kusaksikan mulai menekan tombol empat pada dinding lift. Sebelum kembali menyembunyikan telapak tangan besarnya ke dalam saku celana. "Apa aku terlihat sehafal itu, Me?" beber Zio tenang. "Yah?" Menggaruk ujung hidungku yang tak gatal, aku lalu mengimbuhkan, "Soal skenario tadi, kamu bisa tahu bagian A mirip sama film A, bagian B mirip sama film C. Kalau kamu nggak ingat secara rinci film-film itu, mustahil, kan kamu bisa ngerti point-point yang miripnya?" "Serius. Apa pun yang sekarang ada di pikiran kamu, aku nggak seluar biasa itu," ungkap Zio sambil menampilkan sebentuk gelengan sederhana. "Meragukan," responku spontan yang malah menarik atensi Zio guna menatapku secara sempurna. "Serius," kata Zio singkat bersama intonasi yang lebih meyakinkan. "Tapi, gimana bisa ...?" "Riset." "Apa?" Suara denting lift yang terbuka hadir menyela. Dengan melingkarkan telapak tangannya pada area pergelanganku, Zio untuk ke dua kalinya membantuku melangkah. Pemuda itu bahkan mendorong pintu kaca kantor pribadinya yang terletak beberapa meter jaraknya dari lift, serta bergegas mempersilakanku masuk terlebih dahulu. "Jawaban dari pertanyaanmu adalah riset. Kami menentukan tema dalam rapat sebelumnya, lalu untuk mengantisipasi beberapa hal aku melakukan riset. Mencari informasi tentang film atau cerita di luar sana yang satu tema dengan project kami." Zio menjelaskan di sela lajunya guna menghampiri lemari pendingin pada sudut ruangan. "Mau minum apa?" lanjutnya. "Ah? Enggak. Nggak usah," tolakku lirih sama sekali tak merasa haus. "Jangan menyiksa diri sendiri." Ezio mengangsurkan sebotol air mineral ke hadapanku. "Hari ini, udah cukup memaksakan dirinya. Ingat kata Bunda tadi pagi, kan? Pernikahanmu dua minggu lagi. Jangan cari penyakit, minum!" Menggenggam botol pemberian Zio, aku lantas dihantam oleh kenyataan yang sejujurnya tak ingin kupercaya. Andaikan Tante Ane tak memintaku sambil memelas agar ikut Zio ke tempat kerjanya. Dapat dipastikan bila kini aku tentulah sedang sibuk mengurung diri sambil meratap. Terlebih sewaktu aku harus menghadapi fakta bahwa Gusta pergi dengan satu permintaan. Priaku, berharap supaya aku mau untuk memilih salah satu dari saudaranya demi menggantikan perannya. Hal yang jelas mustahil karena sampai mati pun, hatiku paten untuknya. "Gusta khawatir banget sama Meta. Makanya, dia menitipkan tanggung jawab ke Rega dan Zio. Salah satu dari mereka pasti bisa jagain Meta baik-baik. Gusta yakin itu, Meta mau yah dengarkan apa kata Gusta? Jadilah istri Rega atau Zio, demi Gusta, hm?" Tante Ane membombardir pagiku dengan kalimat tersebut. Lantas, bagaimana bisa semua orang tak merasa keberatan akan ide gila macam begitu? Ini mengenai aku yang harus menghabiskan seluruh sisa usia berdua dalam ikatan pernikahan. Tanpa cinta, terang sehampa apa nanti kedepannya? Gusta ... aku paham bahwa ia sangatlah mencintaiku. Bahkan di tengah rasa sakitnya ia masih menomor satukan kepentinganku. Dia takut meninggalkanku seorang diri, dia paham bila setelah kepergiannya otomatis aku jadi sebatang kara. Namun, mungkin ia lupa mempertimbangkan dampak keinginannya bagi perasaanku. Bagaimana aku bisa berbahagia seperti harapannya? Bagaimana aku dapat berdamai dengan semesta? Mengikat sumpah setia bersama pria selain dirinya artinya aku berkhianat padanya sekaligus pada suamiku. Hati yang tak utuh lagi, tidaklah pantas untuk dipersembahkan. "Di antara kami bertiga yang berbakat dan mengerti betul soal bidang pekerjaan yang kami geluti masing-masing sepertinya memang cuma Gusta." Suara dalam Zio menantingku kembali dari kubangan penuh lumpur hisap menyakitkan. "Dia hebat dalam banyak hal. Aku dan Rega bukan tandingannya Gusta." Setelah berkata seperti itu Zio kembali larut menangani tumpukan berkas-berkas yang tinggi membumbung di atas meja porselen. Apa tugas Produser yang merangkap Pimpinan Agensi hiburan memang sesibuk itu? Sehari saja cuti, Zio bahkan hampir tenggelam oleh pekerjaannya. Sedangkan aku, dalam posisi dudukku di atas sofa sedang mengupayakan secara mati-matian agar sanggup sejenak saja untuk tak tergelincir dalam menyelami kenangan tentang Gusta. "Zi-o?" Aku meloloskan nama bungsu Prakosatama tersebut dengan susah payah pasca berhasil sedikit mengendalikan hati. "Hm?" Aku menyerap oksigen banyak-banyak dari udara, mempersiapkan tekadku untuk bicara. "Apa kamu nggak punya kekasih? Maksudku, yah seseorang yang ingin kamu nikahi?" "Ada," responnya pendek terdengar cukup meyakinkan. Uh, Zio sudah memiliki gadis incarannya sendiri ternyata, syukurlah. Aku berharap mampu memanfaatkan fakta ini. Bagaimana bila membuat sebentuk kesepakatan? Zio mungkin bakal tertarik mempraktikan simbiosis mutualisme bersamaku. Aku terbebas dari prosesi pilih-memilih calon suami dan dia dapat bersatu dengan wanita yang ia cintai. Sempurna! "Em, lalu soal pembicaraan di rumah tadi pagi. Kamu masalah dong?" dugaku hati-hati. Zio ini seperti yang sudah kutekankan berulang kali, manusia pocker face. Sulit rasanya membaca pikirannya, hatinya atau bahkan tindakannya. "Nggaklah." Tuh, kan. "Kok?" "Kenapa mesti ribet-ribet kupermasalahkan? Apa pentingnya?" Ezio ini pria jenis apa sebetulnya? Dia bilang, ia sedang mencintai seseorang. Kemudian, tiba-tiba ia dipaksa guna terlibat pernikahan bersamaku. Yang seperti itu, bukan persoalan? Apa Zio ini termasuk ras b******n? "Kamu ... mau menikahi aku?" simpulku tak habis pikir. "Gusta berpesan seperti itu. Ya, kenapa nggak?" "Tapi ada wanita yang kamu sukai, kan? Barusan kamu ngomong ada gadis yang ingin kamu ajak menikah, kan? Dan di atas semua itu, aku nggak ingin menikah sama siapa pun kalau bukan Gusta," bantahku keras. Zio ini agaknya perlu digebrak agar sadar. Pendapatku demikian namun, siapa sangka jika Zio tak membalas satu suku kata pun. Dengan bibir yang sedikit gemetar, ragu-ragu aku mencuri pandang ke arahnya. Pemuda pemangku jabatan tertinggi di Marvelous Entertainment tersebut terjaring tengah lurus jua intens memenjarakan wujudku. Astaga! Bola matanya yang berkilat jernih kusaksikan dari enam langkah jarak penyekat antara kami. Ezio Nauerlino Prakosatama, sekarang aku diterjang realitas bahwa dia bisa menjadi sangat mirip dengan Gusta. Cara mereka menjatuhkan lawan tanpa suara. Gerakan lembut membuka-menutup kedua belah kelopak mata milik kakak-adik itu tiada beda. Satu detik, aku merasa jika Gustaku hidup lagi. "Sorry." Aku tersentak kembali ke alam nyata. "Sorry karena udah mengungkit tentang Gusta." Awalnya aku heran mengapa ia meminta maaf tetapi saat kurasakan basah meleleh di pipi. Aku mengerti. Air mata itu luruh lagi. Sebabnya, bukan karena Zio mengangkat topik akan Gusta tapi, karena aku sempat melihat Gusta pada dirinya. Setali dengan itu dadaku terus berdenyut tanpa aturan hingga menimbulkan sembilu menyakitkan. Daftar kenanganku dan Gusta yang tak terbatas berbondong timbul-tenggelam. Rasanya menyesakan. Meremas ujung kemeja kuat, aku menggamit bibir keras demi menahan isakan. Sebelum pada akhirnya Zio mengambil langkah tanggap untuk berdiri di depanku. Aku tidak berani berpikir apa yang hendak pria jangkung ini perbuat. Tetapi, pelan-pelan kulit wajahku mengering. "Gimana bisa tangisanmu deras begini sementara minum saja jarang?" gumamnya sambil terus mengusap jejak-jejak air mata di mukaku. "Aku minta maaf, yah?" Refleks kejut menyerangku telak. Apa yang Zio perbuat dan ucapkan, mengapa begitu serupa dengan yang sering Gusta lakukan padaku? Mereka dua pria berbeda, kan? "Aku yang salah tapi matamu yang harus capek nangis. Meta, aku minta maaf yah?" "Aku bukan Gusta," lanjut Zio membekukan segala deret tanya dalam benakku. "Tapi aku nggak akan menolak apa pun yang kakakku minta, termasuk mendampingi kamu. Dan satu hal, aku sedang nggak dekat dengan wanita mana pun. Walau pada kenyataannya aku tengah terlibat dalam sebuah hubungan pun, permintaan terakhir Gusta jauh lebih penting.” "Wanita yang ingin kunikahi adalah kamu, Meta." Sepanjang hari ini aku begitu seringnya terkaget-kaget. "Demi Gusta." Mengelus puncak kepalaku berulang kali, Zio lalu beranjak ke arah meja di pusat ruangan. Ia meraih tas selempang yang kutinggalkan di sana sebelum mengekorinya untuk meeting tadi. "Udah jamnya makan siang. Minta makan yang enak sama Rega nanti," ujarnya sambil menyerahkan tas tersebut padaku. "Kadang dia nggak sadar kalau mulutnya kepedesan. Jangan teralalu diambil hati, oke?" "Zio?" Ia menaikan alis tebalnya pertanda respon. "Harus yah aku membagi hari buat kalian begini?" "Nggak sih. Asal kamu udah punya nama yang akan kamu pilih buat mengikat janji empat belas hari lagi. Kupikir kamu nggak usah lakukan ini. Lain cerita jika kamu masih bingung. Maka, nggak ada opsi tambahan. Kenali dulu kami, jangan sampai menyesal. Sederhana kok." Jangan sampai menyesal? Memangnya ada cinta datang dalam dua minggu? Paling utama, aku sudah mustahil mencoret nama Gusta dari permukaan hati sana. Setiap detik yang kuhabiskan bersama mereka tak akan berdampak apa pun. Semuanya terang sia-sia belaka namun anehnya tetap wajib dijalani. Menyebalkan sekali! Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu menatih gerak rangsangku untuk menoleh. Di sana, tampak sesosok pria bertampang mengesalkan sedang mengisi celah yang ia ciptakan. Norega, masih terbilang sangat rapi setelah berkutat dengan apa pun kegiatan kantornya setengah hari ini. Dalam keburaman berkas kabut air mata, aku mampu menyimpulkan bila pria tersebut seratus persen menghayati profesinya sebagai Presiden Direktur VER Fashion. Tergambar jelas dari iklan colongan yang tengah dipraktikannya. Setelan jas Italian style yang body fit berwarna biji kopi, selembar kemeja katun hitam di baliknya, seikat dasi garis-garis, juga kacamata jenis aviator sok keren itu. Dia sukses berperan sebagai billboard berjalan dengan t***k-bengek hasil pabrikan VER tersebut. Tunggu! Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja karena pria ini sponsor utama pakaian-pakaian kekasihku. Sampai-sampai rasanya dengan sekali lirik saja aku sanggup mengenali produknya. Bentuk cutting-nya, pola jahitannya bahakan jenis benangnya kuhafal di luar kepala gara-gara lemari Gusta penuh oleh kain-kain VER. "Bola matamu melihatku sampai mau lepas. Apa? Kamu tiba-tiba deg-degan? Jatuh cinta padaku, hah?" Aku menyetujui peringatan Zio. Pria ini mulutnya macam cabai rawit, kalimat yang barusan ia kuarkan sama sekali tak bernada menggoda. Dia meneriakiku. Gila saja! Sebegitu khawatirnya ia kupilih? Siapa pula wanita sinting yang sudi terjebak bersamanya? "Jatuh cinta padamu sama dengan mencintai musibah!" dumelku sengaja menubruk bahu keras Rega serta langsung melenggang keluar. Sembari menanti lift terbuka, aku celingak-celinguk mengamati markas utama penghasil pundi-pundi uang milik si Prakosatama bungsu. Gedung kantor Zio total ada empat lantai. Aku tak tahu apakah bangunan ini terlampau besar untuk sebuah Production House. Namun, penghuninya lumayan ramai. Di lantai satu, sempat kulihat beberapa aktris kumpul-kumpul. Lantai berikutnya ada acara pemotretan, lantai tiga merupakan kawasan kami mengadakan rapat tadi. Dan area aku berpijak kini adalah lantai puncak. Lebih lengang dari tiga lantai lainnya, terdapat beberapa pintu kaca yang aku tak tahu menyimpan apa dibaliknya. Membentur-benturkan ujung karet sepatu pada keramik, aku menghembuskan napas lega tatkala pintu terbuka dalam kondisi kosong melompong. Syukurlah! Melangkah memasukinya, Rega serta merta menerobos bergabung di saat-saat terakhir. Mestikah aku menghabiskan setengah hariku bersamanya? "Mau makan apa?" Nadanya melenceng jauh dari kesan care. "Sushi? Padang? Salad mungkin kalau kamu sedang diet? Udah punya alamat tujuannya?" "Ter—" "Oke. Kita makan sushi set di mall dekat sini saja. Kebetulan aku sekalian mau ada temu klien di sana." Repot sekali makhluk menyebalkan ini bertanya bila ujungnya ia jawab sendiri. Memicing galak, aku terus-terusan mengarahkan mataku demi menerornya supaya dia merasakan aura-aura mencekam. Tapi memang dasar dia pria, pekanya lama sekali. Hingga hitungan menit berganti, tiba-tiba ia kembali melengos padaku. Bagus! Bercekak pinggang, Rega terdengar membuang karbon dioksida samar. "Begini, dari tampangmu terbaca sekali loh jika kamu adalah penganut ilmu terserah. So, daripada repot menunggu kalimat klisemu, bukankah lebih efisien bila aku yang putuskan?" Sekali lagi aku memahami mengapa Zio sulit bergaul dengan kakak sulungnya. Rega ini mungkin terbiasa hidup sendirian di hutan terlarang. Dia tak ambil pusing soal orang lain. Aku ragu bahwa manusia yang tengah berdua denganku ini lahir dari rahim serupa dengan Gusta. Mereka tak diberkati kemiripan secuil pun. Bahkan ketika ia menuntun ke halte busway, menempatkanku di sebalahnya guna menunggu armada bus melintas. Dia seolah tak kunjung puas menyiram api tanda tanyaku. Seorang Norega Altriano Prakosatama yang tampilannya perlente, boss besar brand tenar, sedang terbisiki malaikat mana kiranya sampai sudi mendaftarkan diri bermain desak-desakan dalam moda transportasi umum khas ibukota? "Bukannya aku nggak mampu beli Pertamax apalagi pelit. Hanya saja restoran yang akan kita tuju jaraknya cuma tiga halte dari sini. Dibanding nanti ribet nyari lahan parkir di jam penuh seperti ini, kupikir mending memperkenalkanmu sama busway. "Barangkali kamu belum tahu apa itu busway, kan? Aku lagi berbaik hati nih, kasih kamu kesempatan buat mengakrabkan diri, siapa ngerti kamu ntar jadi suka naik busway, kan? Bisa irit. Itu jawabanku untuk picingan matamu yang sebundar tahu bulat itu." Yang sejenis ini harus jadi kandidat calon suamiku? Apa tidak makan hati sisa umurku nanti? "Dasar mulut merica!" gerutuku cukup lirih untuk berkelit dari indra pendengarannya. Oke, kami terhindar dari aktivitas berburu parkiran tapi malah masuk perangkap lubang macet. Tiga halte yang gagal dieliminasi dalam tempo lima belas menit. Aku mendecakan lidah, memuji betapa perhitungan tukang baju ini jenius sekali untuk menyengsarakanku. Melempar pandangan ke jendela, mobil-mobil berebut celah. Saling menciptakan peluang agar finish duluan. Situasi padat yang tak lebih baik dari keadaan kami para penumpang dalam bus. Entah Jakarta sedang uji kekompakan atau bagaimana. Faktanya bus ini sesak sekali. Aku bahkan wajib merelakan kursi yang baru kududuki sepuluh detik demi ibu hamil yang tampak kegerahan jua kewalahan. Berharap Air Conditioner kendaraan berfungsi secara maksimal sebab, semakin lama tubuhku kian semangat mengolah keringat. Posisi Rega di balik punggung sana pun tak membantu apa-apa. Hawa panas tubuhnya malah menyumbang bulir-bulir peluh lain di dahiku. Sial! Kami mau makan siang atau hendak dijadikan makan siang sebenarnya? "Pokoknya ini salahmu," kataku culas semoga saja bisa jernih tertangkap oleh si Rega. "Yalah. Wanita, kan nggak pernah salah. Kamu penganut teori mainstream itu juga, kan?" Norega Altriano menurut data kartu keluarga ia baru berusia 30 tahun. Tapi belum pernah kutemukan pria sekekanakan dia dengan banderol umurnya itu. Sesekali aku merasa susunan kelahiran ketiga kakak-adik tersebut tertukar. Ezio yang tampil dewasa, berpola pikir maju meski kerap tak ikhlas kalah. Gusta, yang sangat peduli sesama. Menjunjung kebahagiaan orang lain lebih tinggi dari kepentingannya walau manjanya sering kumat-kumatan. Lalu, Rega orangtua rasa bocah. Pria ini bungkusnya saja matang, mentalnya mentah total. Sungguh! Aku masih menaruh prasangka jika kejadian yang menimpaku kini sebatas imajinasi, mimpi liar nan buruk. Namun, realitasnya tidaklah begitu. Sebab dalam mimpi sekali pun aku mustahil berpisah dari Gusta. Dunia tak mungkin sehampa ini. Jujur, detik per detik yang terlewati di hari ini terasa berat bagi hatiku tapi, cintaku pada pria itu lebih banyak timbangannya sehingga menghadapi dua saudaranya pun akan kulalui. "Heh! Kamu nangis? KTP-mu nggak palsu, kan? Shhh ... nanti kubelikan es krim, jangan cengeng!" Rega menempatkan kepalaku guna bersandar di dadanya yang beraroma wood kental. Lihat caranya menenangkanku! Dia pikir aku sebangsanya? Bocah? Membuat ingin lebih kuat meraung saja dia. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN