Insiden Kecil

1223 Kata
Kevin berhasil membawa Natalie ke tampatnya. Lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya. Natalie tidak bisa lari ke mana-mana. Kevin mengancam akan mengatakan kepada seluruh isi kantor jika Natalie telah berciuman dengannya. Satu trik yang berhasil Kevin terapkan. Karena Natalie tidak ingin hal tersebut sampai pada Andrew. Ia tidak bisa membayangkan jika Andrew mengetahuinya, semua rencana Natalie akan gagal dan harus rela kehilangan kesempatan untuk mendapatkan atasannya itu. “Cepat lakukan apa yang kamu mau?” Tanpa berbasa-basi Natalie langsung pada tujuan Kevin membawanya. “Aku sangat suka. Kamu ternyata lebih agresif dari yang kukira.” Nataie menutup mulutnya, sepertinya ia salah bicara hingga membuatnya terjebak dalam kondisi yang semakin sulit. “Tunggu di sini. Aku akan membersihkan diri dulu.” Kevin berbisik dan beranjak pergi. Kulit cokelatnya terlihat begitu jelas saat melepas kemejanya. Tubuh itu seolah menggambarkan jika sang pemiliknya selalu rajin melakukan olah raga. Keringat itu terlihat begitu basah menempel tubuh cokelatnya. Natalie hanya bisa menelan ludah berulang kali melihatnya. Mencoba mengusir fantasi liar yang bermain dalam pikirannya. “Ah, sial! Aku terjebak!” Natalie berdecak kesal. Ia mencoba mencari cara agar bisa keluar dari tempat yang menurutnya sangat menyeramkan. Bisa dipastikan Natalie keluar dengan label tidak perawan jika dia tidak segera melarikan diri. Pandangan Kevin terasa nakal dan siap melucuti semua yang menempel di tubuhnya. “Ayolah, Nath. Kamu pasti bisa keluar.” Natalie masih mondar-mandir memperhatikan seluruh sudut ruangan. Ia mencoba membuka pintu, tetapi hasilnya Natalie tidak bisa membuka pintunya. Akses masuk kamar Kevin terpasang pass code yang Natalie tidak mengetahuinya. Natalie mencoba membuka ponselnya, tetapi nasib sial tetap menyertainya. Batere ponsel habis dan Natalie tidak bisa menghubungi siapapun. “Apa aku harus kehilangan kegadisanku sekarang?” Natalie menutup mukanya. Ia merasa pasrah dan bergidik ngeri jika harus mendapati kenyataan yang terjadi selanjutnya. Pintu kamar mandi terbuka, Kevin muncul hanya mengenakan balutan handuk sepinggang yang melilit. Lelaki itu melempar senyum ke arahnya. Ia berjalan santai dan melempar handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah. “Kamu baik-baik saja, kan?” Kevin mendekat. Wajahnya terlihat segar dan semakin membuat Natalie tidak bisa berbapas melihatnya. Gadis itu berusaha menahan ketakutannya saat menghadapi Kevin yang bertelajang d**a. Tidak dipungkiri lelaki di depannya begitu menarik. Sayanganya, Natalie benar-benar ketakutan menghadapinya. “Kamu mau ngapain?” “Bukankah? Kita sudah sepakat?” Kevin masih saja terus berjalan. Pandangan Natalie tertuju pada bagian tubuh Kevin yang menarik perhatiannya. Gadis itu berusaha menutup rapat matanya agar tidak melihat hal yang membuatnya ketakutan. “Kenapa harus kamu tutup?” Kevin membingkai wajah Natalie. Lelaki itu terlihat senang membuat Natalie ketakutan karenanya. Tangan dingin Kevin yang terasa membuat Natalie semakin gugup dan tidak bisa berkutik. Ah, jika bisa memilih Natalie ingin langsung menghilang dan lari dari Kevin. Ingin rasanya gadis itu memukul mulutnya yang berbicara sembarangan. “Kita mulai dari sini, sini, dan sini.” Kevin menarik tangan Natalie dan menunjuk d**a bidangnya. “Santai saja, aku akan membuat kamu serileks mungkin.” Kevin mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di belakang telinga Natalie. Natalie menarik napas dalam. Ia harus mengumpulkan tenaga lebih untuk melakukan perlawanan. Kevin menarik tangan Natalie dan menuntunnya duduk di tepi ranjang. Gadis itu masih terdiam dan menurut. Sepertinya pesona Kevin telah membuatnya menurut dan tidak melakukan perlawanan. Mereka duduk berhadapan dan Natalie hanya menunduk. “Aku tidak akan memakanmu.” Kevin menarik dagu Natalie. “Aku tidak lapar.” “Aku tidak menawarimu makanan.” Kevin menggeleng. Gadis yang terlihat berani ternyata begitu ciut di depannya. “Aku harus pulang.” Natalie mencoba mencari alasan. Ia beranjak dan berusaha menghindar dari Kevin. Kevin langung menariknya dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya. Natalie merasa nasib sialnya semakin bertambah. Gadis itu semakin merasa tidak bisa berkutik saat sesuatu terasa menekan. “A--ku bi—sa mi—nta se—su—a--tu ....” “Apa? Katakan saja.” Kevin masih menahan Natalie di pangkuannya. “Aku bisa memulainnya dengan satu tarikan ataupun dengan satu kali desahan.” “A—ku i—ngin ...” Belum sempat menuntaskannya. Kevin merasakan sesuatu yang membasahi bagian pahanya. Ia merasa belum melakukan sesuatu, keperkasaaannya pun belum ia tunjukkan, tetapi kenapa ia merasa ada yang keluar begitu hangat. “Hei! Kamu ngompol!” Kevin langsung mendorong Natalie bangkit dari tubuhnya. Gadis itu melihat roknya basah. Ia menutup mulut karena pertama kalinya terlihat begitu memalukan di depan laki-laki. Apalagi Kevin yang sudah tampak begitu bersemangat saat mendekatinya. Semua itu hancur karena Natalie yang tidak bisa menahan ingin buang air kecil karena ketakutan. “Ish! Tunggu di sini. Aku akan membersihkan badan. Setelah itu aku antar kamu pulang!” Kevin tampak kesal dan langsung kembali masuk ke kamar mandi. Tak lupa ia mengambil kaus dan celana dari dalam lemari. Natalie tampak lega. Ia tidak mengira insiden yang sangat memalukan bisa membuatnya masih memliki keperawanan. Meskipun Natalie harus malu dan membuat Kevin menjadi ilfeel kepadanya. Baginya itu sama sekali tidak penting. Karena tujuan utamanya adalah Andrew bukan Kevin. ***  Suasana di mobil tampak canggung. Natalie mengganti roknya dengan celana kolor milik Kevin. Ia tidak mungkin pulang dengan keadaan rok basah dan bau pesing. Natalie merasa tidak enak karena sepanjang perjalanan Kevin terlihat begitu kesal. Ia bisa membayangkan bagaimana seorang kevin yang merasa telak dengan seorang gadis saat kelekaiannya dipertaruhkan. Bayangan malam panas terlewat begitu saja dengan insiden kecil yang sangat memalukan. “Kamu sudah mengirim penginapan untuk lokasi survey besok.” Akhirnya Kevin mau membuka suara. “Sudah. Hanya saja Andrew belum memilih tempatnya.” “Besok aku langsung ke lokasi. Aku tunggu kalian di sana.” Kevin masih terlihat datar. Harga dirinya sebagai seorang lelaki terasa dipertaruhkan. “Tapi ...” “Udah nurut aja. Aku tahu Andrew pasti bisa meyakinkan bagian keuangan untuk segera meng-acc permintaannya.” “Oh gitu ... emm aku minta maaf.” Kini Natalie beralih membahas soal insiden kecil yang ia alami. “Lupakan saja. Aku tidak ingin membahasnya. Urusan kita belum selesai. Jangan harap bisa kabur dariku.” Kevin menjawabnya mantap. “Aku tidak sengaja. Salah sendiri kamu terlalu agresif dan menakutkan.” “Menakutkan? Aku bahkan belum menghisap lehermu. Kamu bilang aku menakutkan?” Kevin semakin tidak habis pikir jalan pikiran Natalie. “Aku—aku tidak siap.” Natalie langsung jujur pada ketakutannya. “Siap untuk apa?” “Katamu kita akan mengetes apakah asetmu masih berfungsi dengan baik.” “Iya, tapi ... aku tidak akan mengambil keperawanmu.” “Lantas?” “Apa aku harus jelaskan bagaimana caranya?” Kevin terlihat semakin kesal. Natalie hanya mendekikkan bahunya. Ia tidak paham apa yang dimaksud Kevin. Lelaki itu terasa aneh. Ia muncul dengan bertelanjang d**a dan hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya, tetapi dia bilang tidak akan mengajaknya bercintaaah. “Sepertinya kamu perlu private khusus untuk tahu semuanya.” “Apa?!” Natalie benar-benar tidak percaya apa yang ia dengar. Private khusus? Apa lagi itu. Natalie benar-benar tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya. Kevin hanya menggeleng dan terus melajukan mobilnya membelah malam. Baginya, Natalie terlihat smart dan modern, tetapi cara berpikirnya soal relationship begitu kuno. Kevin merasa menghadapi gadis lugu yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya bercintaaa. Bahkan Kevin merasa kesal saat hasratnya mulai hancur karena Natalie yang mengompol di pangkuannya. Ah, rasanya sungguh memalukan jika Kevin mengingat kejadian konyol tersebut. Padahal sebenarnya ia hanya ingin Natalie memijat kakinya yang sakit akibat ulah stiletto milik Natalie.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN