Berdua

1180 Kata
Setelah insiden kecil di apartemen milik Kevin, Natalie sangat malu bertemu dengan Kevin. Ia berusaha menghindar agar tidak bertatapan secara langsung dengan Kevin. Setelah sampai di penginapan, Natalie sengaja langsung ke kamarnya. Ia beralasan ingin segera mandi karena perjalanan yang lumayan jauh membuat badannya agak lengket. Kevin menunggu Andrew dan Natalie di lobi penginapan. Setelah Andrew mengirim pesan alamat penginapan untuk mereka selama dua hari di puncak. Tentunya kesempatan begitu terbuka lebar bagi Kevin. Hanya saja mengingat Natalie yang mengompol membuatnya kehilangan semangat. Rasanya semua itu seperti momok yang sangat memalukan bagi Kevin. Ia masih penasaran dengan Natalie. Sejauh mana gadis matrealistis seperti Natalie akan menolak Kevin. Ia masih berusaha mencari celah untuk menaklukkan gadis yang awal bertemu ia selalu ia sebut dengan gadis gila. “Mana sekretarismu? Dia tidak ikut?” tanya Kevin yang melihat hanya Andrew yang menemuinya di lobi penginapan. “Dia langsung ke kamar,” jawab Andrew datar. “Wow makin agresif aja.” Kevin tertawa. “Ini seperti pertanda jika Natalie tidak sabar ingin melakukannya.” “Dasar omes!” Andrew memukul lengan Kevin. Teman dekatnya itu tidak pernah sedetik pun melepas bayangan wanita saat bersamanya. Berasal dari keluarga kaya membuat Kevin bebas melakukan apa saja. Apalagi wanita, mereka akan mendekat tanpa diminta. “Ayolah, enggak usah sok polos. Dia itu hanya memancing. Aku saja yang tidak bertemu bisa membaca jelas isyaratny.” “Kev, kita ke sini untuk kerja bukan yang lain. Jadi jangan macam-macam dengan Natalie.” Andrew memberi peringatan pada Kevin. Ia tidak ingin Natalie menjadi objek percobaan Kevin karena ditinggal menikah mantan kekasihnya beberapa hari yang lalu. “Dua macam tidak masalah.” “Kevin!” “Kamu lagi PMS apa enggak dapat jatah bulanan? Sensi amat. Hidup itu harus dibuat senang loh. Ada gadis cantik di depan mata kenapa harus dianggurin?” “Tapi enggak setiap gadis harus kamu perlakukan seperti itu.” Andrew menggeleng mendengar moto hidup temannya. Wanita selalu menjadi prioritas utamanya meskipun ia mempunyai seorang kekasih. Sering bolak-balik Jakarta-Bandung membuat Kevin merasa bebas dari pengamatan sang kekasih. Saat menetap di Jakarta untuk bekerja dengan sahabatnya membuat Kevin semakin bebas untuk berkencan dengan wanita manapun. Setiap malam sepulang bekerja ia selalu menyambangi klub malam hanya untuk bersenang-senang. Hingga saat sang kekasih memutuskan membuat Kevin marah dan frustasi. Bukan tanpa alasan ia marah dan frustasi. Sang kekasih lebih memilih menikah dengan ayahnya dari pada dengannya. Kevin merasa terpukul karena merasa telah dibohongi. Sejak saat itu ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan fokus dengan usahanya yang berada di Bandung. Ia ingin melupakan sang kekasih dan berusaha membalas rasa sakitnya pengkhianatan. Sosok Natalie cukup menyita perhatiannya. Gadis cantik yang terlihat begitu terobsesi dengannya saat pertama kali bertemu. Akan tetapi gadis itu malah terlihat menantangnya, membuat Kevin semakin penasaran. Apa lagi dalam satu bulan mereka akan sering bertemu karena event yang diselenggarakan tempat Natalie bekerja. Kevin menjadi satu-satunya EO yang dipercaya untuk mengerjakan event tersebut. Satu hal yang sangat menguntungkan baginya untuk mendekati Natalie. *** Setelah merasa siap, Natalie mencoba melupakan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Kevin. Ia tidak mau mengingatnya terus dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Ia tidak ingin kinerjanya terlihat begitu buruk di depan Andrew. Ia takut jika Andrew tidak respect terhadapnya. Kevin terlalu menunjukkan keagresifannya di depan Andrew. Membuat Natalie merasa kesal. “Dasar cacing! Selalu saja tidak bisa diam.” Natalie menggerutu kesal. Ia menyemprotkan parfum kesukaannya ke seluruh tubuhnya. Aromanya langsung merebak begitu wangi. Pintu kamarnya terdengar diketuk. Natalie merasa was-was jika yang datang adalah Kevin. Ia tidak ingin lelaki itu memanfaatkan situasi untuk melanjutkan misinya yang gagal. “Buka enggak?” Natalie msih ragu untuk membuka pintu. “Ini aku. Andrew!” Mendengar suara Andrew langsung membuat Natalie bergegas membuka pintu. Ia merasa aman jika yang datang adalah Andrew bukan Kevin. Setidaknya Natalie merasa aman terhindar dari Kevin yang selalu berpikiran mesuuuummmm. “Apa aku menganggumu?” Andrew berdiri di depan pintu dengan pesona yang begitu kuat. Natalie melihatnya begitu kagum. Sosok yang tampan serta sopan. Tidak arogan dan mesuuummm seperti Kevin. Lelaki yang beberapa menit lalu singgah dalam pikiran Natalie. “Malam ini kamu istirahat saja, besok kita baru survey soal lokasi event.” Andrew berbicara terlihat sangat manis. Natalie tidak sadar memperhatikannya. Gadis itu tersenyum dan memandangi Andrew yang sangat tampan menurutnya. “Nath, kamu dengar aku, kan?” “Ah, iya, aku dengar.” Natalie gugup karena Andrew mendapatinya begitu terkesima melihat pria di depannya. “Boleh aku masuk?” “Masuk?” Natalie tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Apakah ini namanya kesempatan atau kesialan. Harusnya Natalie merasa senang karena Andrew terlihat mengimbangi perasannya. Hanya saja Natalie merasa tidak nyaman jika harus berdua di dalam kamar dengan atasannya. Padahal sebelumnya ia malah berdua dengan Kevin dalam keadaan yang lebih parah. Kevin hanya bertelanjang dadadaa dan terlihat sangat agresif. Tanpa menunggu persetujuan Natalie, Andrew langsung masuk menerobos kamar Natalie. Lelaki itu melihat sekeliling dan tersenyum. Ia duduk di tepi ranjang dan tersenyum ke arah Natalie. Gadis itu terlihat salah tingkah melihat Andrew yang tampak aneh. Entah harus bahagia atau harus takut. Natalie masih berdiri di ambang pintu. Ia menggigit bibir bawahnya membayangkan kejadian di novel saat atasan mencari alasan untuk meniduri bawahannya. “Kamu ngapain masih berdiri?” Andrew tersenyum melihat ekspresi Natalie. “Kamu belum ngantuk?” Natalie masih berdiri. “Jelas! Aku sangat capek. Aku butuh rileks sebentar saja.” Perkataan Andrew terdengar begitu ambigu. Natalie tidak bisa menebak apa maunya. Lelaki ittu masih tersenyum dengan isyarat yang menurut Natalie tidak biasa. Gadis itu langsung menangkap sinyal keinginan Andrew untuk tidur dengannya. Ia langsung menepis pikiran kotor yang sempat melintas. “Kamu tidak berniat untuk tidur di sini, kan?” Natalie langsung to the point. Ia tidak ingin kejadian yang sama menimpanya dengan Kevin. Ia sudah terlalu malu menampakkan wajahnya. Ia tidak ingin bertambah malu di hadapan Andrew jika mendapatinya mengompol saat atasannya mendekat. “Ayolah, Nath. Jangan tegang, santai saja.” Andrew tertawa melihatnya. “Kamu enggak lagi mabuk, kan?” Natalie kembali memastikan jika kejadian di novel-novel CEO tidak akan menimpa dirinya. Meskipun materialistis Natalie masih mempunyai pikiran yang waras untuk tidak menyerahkan kegadisannya di waktu yang tidak tepat. “Mabuk? Aku baik-baik saja. Bahkan aku ingat siapa nama aslimu.” Andrew beranjak dan mendekati Natalie yang masih berdiri. Lelaki berkulit putih tersenyum penuh arti. Entah apa artinya, yang jelas Natalie tidak bisa menangkap maksudnya. Ia terlalu takut membayangkan jika Andrew memaksanya melepas kegadisannya. “Nath, kamu mau....” Natalie masih berdiri tegang. Andrew makin mendekat. Bibir itu seolah siap melakukan hal yang pernah Kevin lakukan padanya. Natalie respect menutup bibirnya. Ia masih waras untuk tidak menyerahkan bibirnya. “Kenapa?” Andrew terlihat kecewa melihat ekpresi Natalie. Natalie hanya menggeleng. Ia tidak ingin terjebak, meskipun ia sangat menginginkan Andrew. Lelaki sejuta pesona itu terasa begitu menarik bagi Natalie. “Apa aku terlalu norak? Apa mungkin Kevin lebih menarik?” “Bukan!” “Apanya yang bukan?” “Kamu! Eh bukan keduanya.” “Aku dan Kevin tidak ada yang menarik?” Andrew memburu Natalie. Lelaki itu begitu penasaran soal hubungan sekretarisnya dengan teman dekatnya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN