Natalie bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Andrew. Ia sangat tertarik pada lelaki di depannya, tetapi Natalie juga tidak ingin menunjukkannya secara gamblang. Apa yang telah dilakukan Kevin kepadanya membuat Natalie tidak ingin Andrew menganggapnya sama. Ia ingin terlihat lebih bermartabat dan tidak murahannn
“Kenapa kamu diam? Apa itu benar? Kevin jauh lebih menarik daripada aku.” Andrew masih berdiri menunggu jawaban Natalie.
Lelaki di depan Natalie tampak begitu serius. Kedua netranya mencari jawaban pasti dari Natalie. Memastikan apa yang sedang terjadi di antara mereka.
“Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Ini sudah waktunya istirahat.” Natalie mulai tidak nyaman dengan pandangan Andrew. Padahal seharusnya Natalie senang melihat Andrew yang semakin penasaran dengannya.
Hal tersebut seperti sinyal positif yang menurut Natalie sangat bagus untuk hubungan mereka.
“Jawab dulu.”
“Apa aku harus jawab?” Natalie menghindari tatapan memburu di depannya. Pikirannya berkelana membayangkan yang tidak-tidak.
“Harus!”
“Alasan apa aku harus menjawabnya?”
“Karena kamu bawahanku. Kamu menjadi tanggung jawabku.” Andrew menarik bahu Natalie dan memaksa gadis di depannya untuk menatapnya.
Lelaki itu melihat ada ketakutan pada diri Natalie. Ia tersenyum dan malah melepas kedua tangannya. Ekspresi Natalie baginya terlihat sangat lucu.
“Kamu takut?”
“Takut. Ah, bukan. Aku tidak takut.” Natalie beralasan. Ia merasa situasi sedang tidak berpihak padanya.
Harusnya ia bahagia dan bisa mengimbangi Andrew.
“Kalau tidak takut jawab pertanyaanku. Apa hubunganmu dengan Kevin?”
“Apa hal itu begitu penting?”
“Sangat penting.”
Natalie membulatkan matanya. Ia seolah tidak percaya apa yang ia dengar. Hatinya terasa mau lepas karena begitu bahagia mendengar jawaban Andrew. Padahal lelaki di depannya tidak menyatakan cinta, tetapi Natalie sungguh berbahagia. Rasanya bunga dalam hatinya bermekaran dan mewangi. Dunia terasa indah saat Andrew menganggapnya begitu penting.
“Aku tidak ingin kamu dipermainkan oleh Kevin. Dia itu selalu mempermainkan wanita yang bersamanya. Aku hanya tidak ingin kamu sakit hati. Aku sangat mengenalnya.”
Lagi-lagi Natalie hanya tersenyum senang mendengarnya. Ia menangkap ada rasa cemburu pada nada bicara Andrew.
“Nath!”
“Iya. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan.” Natalie menjawab tegas pernyataan Andrew. Ia juga tidak ingin Andrew salah paham soal hubungannya dengan Kevin. Setidaknya Natalie tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Andrew.
“Kamu istirahat besok kita bertemu lagi untuk berbicara lebih serius lagi.” Andrew menarik bahu Natalie dan tiba-tiba saja langsung mencium kening Natalie.
Lelaki itu tanpa ragu melakukannya seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dilanda gelisah. Natalie terkejut dengan apa yang Andrew lakukan. Lelaki itu langsung melepas ciumannya dan beralih mengusap bibir Natalie.
“Maaf, tapi aku sangat tidak tahan untuk tidak melakukannya.”
Natalie mundur beberapa langkah seolah tahu apa yang akan Andrew lakukan selanjutnya. Hal itu membuat Andrew tertawa dan memicingkan matanya.
“Baiklah. Mungkin kamu belum siap. Selamat malam dan have a nice dream." Andrew berbalik dan meninggalkan Natalie.
Gadis itu merasa lega saat Andrew telah menghilang di balik pintu. Ia langsung mengunci pintu kamar dan meredakan degupan jantungnya yang tidak mau berhenti. Rasanya ia tidak percaya mendengar apa yang Andrew katakan. Bahkan ia tidak percaya saat Andrew memperlakukannya dengan lembut. Ciuman di kening Natalie masih terasa basah. Gadis itu masih tersenyum saat mengingatnya.
Ia hanya merasa bodoh karena tidak membalas hal apa pun yang dilakukan Andrew. Ia malah diam mematung dan terkesan menghindar.
“Apa ini awal yang baik?”
***
Setelah mendapat pesan dari Andrew. Natalie langsung bersiap dan menunggu kedatangan Andrew di lobi penginapan. Sebelum berangkat men-survey lokasi. Mereka akan sarapan bersama di resto penginapan. Setelah kejadian semalam Andrew tampak begitu perhatian. Pagi sekali atasan Natalie itu berkirim pesan dan mengingatkan Natalie soal jadwal mereka.
Padahal seharusnya hal itu dilakukan Natalie sebagai bawahan Andrew. Tak hanya itu, tiba-tiba saja Andrew mengirim sebuah kata-kata mutiara yang mengisyaratkan sebuah perasaan. Natalie hanya bisa tersenyum saat membacanya. Merasa keberuntungan sedang berpihak dengannya.
“Akhirnya kita ketemu juga.” Kevin duduk di depan Natalie dan menyapanya.
Natalie langsung gugup melihatnya. Kedatangan Kevin merusak suasana hati Natalie yang tengah berbahagia.
“Lantas?” Natalie terdengar tidak suka. Jika bisa menghilang dalam satu hentakan. Natalie lebih memilih menghilang daripada harus bertemu dengan Kevin.
Ia tidak ingin lelaki itu menghancurkan semuanya setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Andrew.
“Urusan kita belum selesai. Jangan coba melarikan diri.”
“Lari? Siapa yang melarikan diri. Lagian apa yang terjadi di antara tidaklah penting!”
“Siapa bilang?”
“Aku!”
Kevin malah tertawa lebar. Lelaki itu terlihat sangat santai dan sama sekali tidak punya beban. Wajahnya selalu tersenyum lebar saat di depan Natalie. Ekspresinya selalu menunjukkan bahwa dirinya begitu menginginkan Natalie.
“Selagi aku belum bosan, aku akan selalu meminta pertanggungjawabanmu.”
“Hei! Aku tidak pernah merugikanmu. Kenapa aku harus bertanggungjawab? Enggak usah nyari alasan. Bilang saja kalau kamu tertarik dan menginginkanku.” Natalie mulai kesal dengan keadaan. Ia tidak ingin terlalu lama berurusan dengan Kevin sebelum Andrew datang.
Bisa saja rencananya gagal jika Andrew melihat mereka dekat. Sinyal Andrew ingin mendekat akan berubah jika Kevin terlihat mendekatinya.
“Dua kali kamu mencederaiku.”
“Dua?”
“Iya. Satu, kakiku sakit karena injakan stilettomu itu. Dua, reputasiku sebagai lelaki hancur karena kamu ngompol di pangkuanku.”
Natalie langsung menunjuk bibirnya dengan telunjuk. Mengisyaratkan agar Kevin memelankan suaranya saat menyinggung insiden waktu itu. Ia merasa sangat malu karena Kevin mengingatkannya pada kejadian itu.
“Kamu malu?” Kevin tertawa menang melihat ekspresi Natalie. Ia merasa mempunyai senjata untuk memegang kendali.
“Enggak. Itu sangat pantas untukmu.” Natalie berusaha menutupi rasa malunya.
“Yakin? Kalau enggak malu kenapa kamu menyuruhku diam?”
“Karena kamu berisik!” Natalie kesal.
“Berisik? Baiklah sepertinya kita perlu tempat yang lebih private. Tunggu aku nanti malam di kamarmu, kita akan melanjutkan apa yang tertunda.” Kevin tersenyum senang. Ia merasa menang dan memegang kendali.
“Jangan macam-macam!”
“Tenang cukup satu macam saja! Jangan lupa dandan yang cantik dan pakai yang aku kirimkan ke kamarmu nanti.” Kevin berbisik. Ia sangat menikmati permainannya. Kegelisahan Natalie membuatnya semakin senang.
“Jangan ngaco!” Natalie membayangkan Kevin memberinya sebuah lingerie berwarna hitam. Rasanya hati Natalie semakin panas karena pikiran konyolnya.
“Kenapa? Kamu sudah tidak sabar?” Kevin tersenyum tipis.
“Dasar gilaa!!!”
“Tunggu saja, tidak usah terburu-buru membayangkannya. Cukup kita yang tahu. Andrew tidak perlu tahu apa yang terjadi. Setidaknya kamu enggak ingin malu, kan, dengan apa yang terjadi?” Kevin menekankan perkataan terakhirnya.
“Kamu?!”
“Sudahlah tidak usah tegang. Rileks saja. Aku tunggu di lokasi survey. Waktuku terlalu berharga jika harus menunggumu dan Andrew di sini. Berbahagialah menikmati waktumu bersama Andrew. Karena nanti malam kamu milikku!”
Kevin pergi meninggalkan Natalie. Ia telah membuat janji dengan pemilik lokasi yang akan ditinjau. Ia sengaja lebih dulu meluncur ke lokasi karena ingin bertemu dengan pemilik tempat. Ia ingin mengetahui semua tentang seluk beluk tempat yang akan dipakai untuk event. Setidaknya ia bisa memberikan fasilitas terbaik untuk kliennya. Apalagi Andrew adalah teman karibnya. Ia tidak ingin mengecewakan meskipun Andrew akan menyetujui apa pun yang dikatakan Kevin.
Natalie geram melihat Kevin yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Perkataan Kevin sangat mengganggunya. Lelaki mature itu tidak henti selalu menerornya.
Bayangan lingerie hitam tiba-tiba saja muncul di pikirannya. Ia membayangkan jika Kevin datang ke kamarnya dengan kondisi mabuk dan ... Natalie tidak bisa membayangkan lagi apa yang selanjutnya terjadi.
“It’s really true! Aku bisa gila karena dia!!!”