Ketukan pintu membuat Natalie terkejut. Ia takut jika Kevin memang benar-benar mendatanginya. Ia tidak tahu lagi alasan apa lagi yang harus ia lakukan. Natalie belum membukabboks di tangannya. Tidak ada nama pengirim atau tulisan lainnya. Akan tetapi Natalie sangat yakin jika yang mengirimnya pasti Kevin.
Natalie sangat yakin karena Kevin terlihat begitu mencolok. Apa lagi perkataannya saat bertemu di lobi, membuat Natalie semakin yakin jika pengirimnya adalah Kevin.
Ketukan itu terdengar semakin keras. Namun, Natalie masih ragu untuk membuka pintunya. Ia tidak ingin terkecoh dan malah membiarkan Kevin masuk ke dalam kamarnya. Bayangan sikap Kevin yang membabi buta membuat Natalie bergidik ngeri jika membayangkannya.
Tak mau beranjak membuka pintu. Natalie mendengar suara asing yang memanggilnya. Natalie sangat yakin jika suara itu bukan milik Kevin. Gadis itu langsung berdiri dan membuka pintu.
Seorang lelaki berseragam batik lengan pendek berdiri di depan pintu. Lelaki itu membawa sebuah buket bunga mawar putih. Ia menyerahkannya pada Natalie. Gadis itu kembali heran siapa yang mengirimnya.
Natalie kembali menutup pintu dan mengamati bunga mawar yang ia dapat barusan. Sama seperti boks yang berada di tempat tidurnya. Tidak ada nama pengirim atau tulisan lainnya.
“Siapa yang ngirim?” Natalie masih penasaran.
Ia menaruh buket dan mengambil boks cokelat. Perlahan Natalie membukanya. Ia tidak mengira jika isi dalamnya di luar dugaannya.
Ada sebuah lipstik dan parfum. Natalie masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Bayangan lingerie hitam yang seksi tidak tampak sama sekali di dalam boks tersebut. Hanya sebuah lipstick berwarna merah serta parfum dengan wangi yang lumayan manis.
“Apa maksudnya mengirim lipstik dan parfum?” Natalie masih bertanya. Ia merasa semuanya aneh.
Bunyi notifikasi pesan membuat Natalie terhenyak. Ia tidak mau pusing memikirkan dari mana hadiah itu berasal.
[Aku tunggu kamu di taman.]
Satu pesan dari Andrew membuat Natalie tersenyum. Tiba-tiba ia sangat yakin jika pengirim bunga dan lipstik adalah Andrew. Ia merasa atasannya itu penuh dengan kejutan.
Tanpa basa-basi, Natalie langsung membalas pesannya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Andrew. Ah, rasanya momen indah akan terjalin dan membuat Natalie mudah mendapatkan Andrew.
[Baiklah. Tunggu aku sebentar lagi.]
[Aku menunggumu.]
[Baiklah, tunggu aku.]
Natalie langsung menutup ponselnya dan bergegas membersihkan diri. Ia ingin tampil sempurna di hadapan Andrew. Tidak ada hal yang membahagiakan selain bisa dekat dengan lelaki pujaannya. Lelaki yang terlihat begitu sempurna baginya. Sikap dan tutur lembutnya membuat Natalie semakin jatuh hati pada sosok seperti Andrew.
Setelah selesai, Natalie tidak lupa menyemprotkan parfum yang baru saja ia dapat. Ia menghidu berulang kali mawar putih yang membuatnya tersenyum melihatnya. Ia sudah membayangkan momen romantias sebentar lagi. Apa lagi jika Andrew akan memintanya menjadi kekasih. Ah, sungguh hal yang paling mendebarkan dan Natalie sangat tidak sabar.
Berjalan menuju taman membuat Natalie begitu bersemangat. Memakai flat shoes yang ringan membuat langkah Natalie semakin nyaman. Gadis itu terlihat semringah dan bahagia.
“Ada yang sedang bahagia sepertinya?” Kevin tiba-tiba datang dan berdiri tepat di depan Natalie.
Langkahnya terpaksa berhenti dan terkejut melihat Kevin yang tiba-tiba saja datang.
“Bukan urusan kamu!” Natalie kesal karena Kevin menghancurkan suasana hatinya yang bahagia.
“Sudah menerima hadiahku?” Kevin mendekat dan membuat Natalie harus mundur beberapa langkah. Suasana yang sepi membuat Kevin bebas menggoda Natalie.
“Hadiah?” Pikiran Natalie kembali tertuju pada sebuah boks cokelat dan sebuket bunga.
“Belum, ya? Aku kira kamu sudah menerimanya. Sayang sekali, padahal aku berharap kamu pasti sangat menyukainya.”
“Kamu ngirim apa emang?” Natalie penasaran.
“Penasaran?’
“Enggak. Aku sama sekali enggak penasaran!”
“Yakin?”
“Yakin, lah!”
“Baiklah, tunggu saja nanti malam. Aku pasti datang. Kamu nanti juga enggak akan penasaran lagi.” Kevin mengangkat kedua alisnya.
Natalie langsung membulatkan kedua matanya. Ia merasa tidur nyenyaknya akan terancam. Kevin terasa seperti bom waktu yang siap memborbardir tidur nyenyaknya.
“Mau ngapain? Enggak usah macam-macam!”
“Kenapa harus macam-macam kalau aku bisa lakukan satu macam.”
Natalie semakin kesal. Kevin selalu berbicara seperti itu saat Natalie memperingatkannya. Lelaki itu selalu terdengar tidak main-main dengan apa yang telah diucapkannya.
“Kamu diam berarti kamu sudah siap nanti malam.”
“Dasar gila!” Natalie mendorong kesal Kevin. Ia langsung pergi dan tidak peduli lagi dengan Kevin yang masih memanggilnya.
“Kamu tunggu saja!” Suara Kevin masih terdengar.
Natalie menggeleng mendengar perkataan Kevin yang terasa sangat konyol. Lelaki itu terdengar serius dan tidak main-main. Natalie merasa perlu membangun benteng kokoh agar Kevin tidak mudah menembusnya.
Suasana hatinya kembali buruk karena bertemu dengan Kevin. Padahal seharusnya ia harus selalu tersenyum karena bertemu dengan Andrew. Akan tetapi Kevin telah merusaknya.
Pikiran Natalie semakin kusut dan tidak tenang karena ucapan Kevin. Natalie berhenti sejenak sebelum menghampiri Andrew yang tengah duduk di taman. Lelaki itu terlihat tenang dan wajahnya terlihat begitu sejuk.
Natalie memandangnya dari kejauhan. Ia merasa sangat senang melihat atasannya. Ia menyiapkan hati dan pikiran agar tidak salah mengucapkan sesuatu. Ia berharap tidak gagal atau membuat Andrew ilfeel kepadanya.
Setelah siap Natalie berjalan menghampiri Andrew. Lelaki berkulit putih itu beranjak dan tersenyum menyambut kedatangan Natalie.
Lelaki itu terlihat sangat manis dan membuat hati Natalie benar-benar leleh. Ia merasa suasana hatinya kembali bahagia saat melihat Andrew tersenyum kepadanya.
“Aku tidak mengganggu waktumu, kan?” Andrew berdiri dan tersenyum.
“Tidak. Aku free.”
“Baguslah.” Andrew semakin menampakkan senyumnya.
“Apa ada hal penting?” Natalie sudah tidak sabar hal apa yang membuat Andrew ingin bertemu.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu saja.”
“Bertemu? Apa ada hal yang penting?” Natalie semakin pensaran. Ia tidak sabar ingin mengetahui maksud Andrew mengajaknya bertemu.
“Santai saja, lah. Kenapa harus terburu-buru.”
“Apa ada hubungannya dengan pekerjaan?” Natalie semakin tidak sabar.
Mendengar pertanyaan Natalie membuat Andrew hanya tertawa menanggapinya. Ia merasa bawahannya sangat tidak sabar.
“Kenapa tertawa? Apa aku lucu?”
“Bukan lucu lagi, tapi kamu sangat menggemaskan.” Andrew masih tersenyum.
Lelaki itu tampak begitu misterius bagi Natalie. Ia belum bisa menebak apa yang diinginkannya. Berbeda dengan Kevin yang selalu to the point dalam menyampaikan maksudnya. Hal itu yang membuat Natalie semakin tidak tenang.
“Malam ini adalah malam terakhir kita di sini. Besok kita sudah mulai aktivitas dan pastinya pekerjaan kita akan semakin padat.” Andrew memulai pembicaraan.
“Lantas?”
“Setidaknya ....”
“Apa?”
“Kamu ...”
Natalie semakin cemas mendengarnya. Ia tidak sabar mendengar ucapan Andrew. Apakah ia akan bahagia karena Andrew mengungkapkan perasaannya.
“Kamu sangat cantik malam ini. Apa kamu suka dengan bunga yang aku kirim?”
“ Bunga?”
“Iya, bunga. Kamu suka, kan?”
Natalie langsung teringat buket mawar putih yang ia terima. Meskipun ia tidak begitu tertarik dengan bunga, Natalie harus berusaha menampakkan wajah bahagia. Meskipun bunga bank yang semakin membuatnya bersemangat.
“Kamu tidak suka, ya?” Andrew tampak kecewa.
“Eh, enggak. Aku suka, kok. Buketnya sangat cantik.”
“Buket?”
“Iya, buket.”
“Aku hanya mengirim setangkai mawar bukan berbentuk buket.”
“Mampus kamu Nath!” Natalie merutuki dirinya sendiri dalam hati.