Aku Suka Kamu

1203 Kata
Natalie masih bingung mencari alasan yang tepat. Ia tidak ingin Andrew kecewa karena Natalie sama sekali tidak menerima setangkai bunga dari atasannya itu. Gadis itu mencoba mengalihkan perhatian Andrew agar tidak membahas soal bunga. Ia yakin pasti ada yang mensabotase semuanya. Kevinlah yang menjadi tersangka utama yang ada di dalam pikiran Natalie. “Kamu sudah makan malam?” Natalie duduk di samping Andrew. Ia ingin Andrew melupakan soal bunga pemberiannya. “Belum. Aku sengaja menunggumu untuk makan malam.” Natalie merasa tersanjung, Ia merasa sangat percaya diri jika Andrew benar-benar jatuh hati padanya. “Kenapa nungguin? Nanti kamu bisa sakit.” “Enggak apa sakit asalkan kamu nantinya semakin perhatian sama aku.” “Maksudnya?” “Aku enggak mau basa-basi. Kita baru beberapa hari kenal. Aku juga enggak ingin terlalu munafik untuk mengakui semuanya.” “Sebentar, ini maksudnya apa? Aku masih belum paham.” Natalie berpura-pura. Padahal semestinya ia sangat paham apa yang diinginkan Andrew. Hanya saja Natalie hanya ingin berbasa-basi agar tidak kelihatan gugup. “Nath, kita sudah sama-sama dewasa. Aku juga tidak perlu merayu atau lainnya. Aku pikir kita sama-sama tahu.” “Maksudnya? Beneran aku enggak tahu maksudnya.” Natalie masih berusaha memancing. Ia hanya ingin memperjelas apa yang dinginkan Andrew. Rasanya kemenangannya sudah ada di depan mata. Andrew beranjak dan menarik tangan Natalie meninggalkan taman yang mulai terlihat ramai. Andrew hanya ingin tempat yang lebih private untuk berbicara dengan Natalie. Ia ingin memanfaatkan kesempatan sebelum mereka kembali ke Bandung. Lelaki berkulit putih itu hanya khawatir jika Kevin akan mengambil start duluan untuk mendapatkan Natalie. Mereka memang berteman sejak lama, tetapi Andrew tidak ingin selalu kecolongan. Kevin selalu berhasil mendapatkan wanita incarannya karena Kevin selalu agresif dan mendekati mereka terlebih dahulu. “Kita mau ke mana? Ini sudah terlalu malam?” Suasana luar penginapan yang tampak gelap membuat Natalie agak ketakutan. Apalagi Andrew masih saja menarik tangannya. Natalie masih harap-harap cemas memikirkan apa yang akan terjadi. “Tenang saja, selama ada aku, kamu aman.” Andrew berhenti dan berdiri di depan pagar pembatas penginapan. Mereka berada di area belakang penginapan yang menyuguhkan pemandangan puncak di malam hari. Ratusan rumah tampak dari atas dan ratusan lampu berkerlap-kelip dari tempat mereka berdiri. Udara malam yang semakin dingin membuat Natalie agak kedinginan. Ia hanya membawa kaus tanpa memakai sweeter. Ia tidak tahu jika pada akhirnya Andrew akan membawanya ke luar. “Kamu kedinginan?” Andrew menarik tangan Natalie dan menggenggamnya. Lelaki itu terlihat sangat perhatian. Natalie semakin tersanjung dibuatnya. Perilaku Kevin sangat jauh berbeda dibandingkan dengan Andrew. Kevin terasa sangat mesummm dan sangat agresif. Lelaki itu hanya membuat Natalie ketakutan jika bertemu dengannya. “Nath? Ada yang salah?” “Ah, tidak. Aku hanya merasa aneh. Kenapa kita harus ke sini. Hari mulai larut. Bukannya kamu belum makan? Sebaiknya kita makan dulu. Aku enggak mau kamu sakit karena sakit maag.” “Itu tidak penting! Aku hanya ingin kita berdua. Tidak ada yang mengganggu. Apa lagi Kevin!” Andrew terdengar tidak suka dengan lelaki yang dikenal sebagai sahabatnya itu. “Bukannya dia sahabatmu?” “Iya, kita memang berteman, tetapi aku juga berhak mendekati wanita yang aku suka.” Andrew kembali mengeratkan tangannya. Cahaya yang terlihat temaram membuat Natalie tidak bisa begitu jelas melihat ekspresi Andrew. Ia sangat ingin melihat wajah tampan Andrew saat menyatakan rasa sukanya. “Apa ini berarti kamu?” “Iya, aku cemburu! Aku tidak suka melihatmu dengan Kevin. Aku tidak ingin kamu dipermainkan lelaki seperti Kevin. Dia terlalu playboy dan suka berganti pasangan. Dia bukanlah lelaki yang setia dan pantas bersamamu.” Andrew terdengar begitu menggebu. Perkataannya membuat Natalie yakin jika perasaannya bersambut dan ia akan segera melepas status lajang. Natalie pun tidak mengira jika semua terasa begitu cepat. Ia masih tidak percaya jika orang seperti Andrew akan jatuh hati padanya pada pandangan pertama. “Aku mau kamu bersamaku.” Andrew mencium punggung tangan Natalie. Tatapan matanya yang samar membuat hawa dingin tidak terasa. Natalie pun tidak peduli lagi jika dirinya kedinginan. Asal bersama Andrew, semua akan baik-baik saja. Pantulan cincin berwarna silver yang melingkar di jari Andrew membuat Natalie sadar dengan keberadaan benda kecil tersebut. Natalie berusaha memastikan cincin itu bukanlah cincin pernikahan. Ia tidak ingin suasana hatinya rusak karena dianggap pelakor dalam rumah tangga orang lain. “Kamu tidak suka?” Andrew mencoba memastikan jawaban Natalie. Wanita di depannya diam seribu bahasa saat Andrew mengatakan maksud hatinya. “Aku suka bahkan sangat suka. Hanya saja ....” “Kenapa? Apa kamu lebih suka dengan Kevin? Ah, sepertinya dia memang selalu unggul di kalangan wanita. Aku harus mengalah dan menyerah.” “Bukan.” Natalie langsung menyangkal. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan saat Andrew menyatakan perasaannya. “Aku hanya penasaran, cincin apa itu?” Natalie langsung to the point dan tidak mau berbasa-basi. Natalie tidak ingin terjebak dalam situasi rumit sebelum memutuskan menjalin hubungan dengan atasannya itu. Setidaknya tidak ada drama perlabrakan menimpa dirinya. “Ah, cincin ini?” Andrew tertawa. Ia melepas tangannya dan kembali menikmati pemandangan malam yang semakin larut dan membuat hawa semakin dengan. “Kamu sudah menikah?” Andrew semakin tertawa lebar. Ia tidak serius menanggapi pertanyaan Natalie. Ia bahkan lebih memilih diam dan tidak menjelaskan pada Natalie. “Apalah arti sebuah cincin. Yang terpenting aku suka padamu dan kamu suka padaku. Kita jalani hubungan ini atas dasar suka sama suka. Aku kira itu udah cukup.” “Tapi aku enggak ingin ....” “Nath! Bagaimana dengan kita? Kamu setuju?” Andrew berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia kembali menekankan permintaannya untuk bersama. “Setuju?” Apa maksudnya?” “Kita berkomitmen menjalani hubungan lebih dari profesionalitas di luar kantor. Aku bisa gila kalau harus melepasmu begitu saja. Apalagi melihat Kevin mendekatimu.” “Aku....” Natalie masih mengulur waktu. Ia hanya ingin mengetahui sejauh mana Andrew akan menunjukkan perasaannya. Satu trik yang biasa Natalie lakukan pada lelaki yang selalu mengejarnya. “Ayolah, aku tetap atasanmu dan kamu bawahanku. Kita menjalani semua hanya aku dan kamu. Biar saja mereka menganggap kita seperti biasa. Semua demi kita.” “Apa kita melakukannya diam-diam?” Natalie memastikan semuanya. Ia juga tidak ingin menjadi pergunjingan seluruh kantor karena berhubungan dengan Andrew. “Iya. Aku tidak mau kita menjadi pusat perhatian dan dianggap tidak profesional saat bekerja. Yang terpenting adalah perasaanku, bukan yang lain. Kamu bersedia, kan?” Natalie hanya mengangguk dan tidak terlalu memikirkan keputusan Andrew untuk menyembunyikan hubungan mereka. Ia lebih percaya seratus persen dengan Andrew dari siapa pun. Lelaki itu seakan mempunyai pesona kuat yang mampu menarik Natalie untuk masuk ke dalam. Membuat Natalie percaya dan yakin jika perasaannya tidak salah menempatkan rasa cintanya pada Andrew. Entah rasa cinta apa yang mereka miliki. Pertemuan yang singkat dan membuat mereka yakin jika perasaan mereka adalah cinta seutuhnya. Cinta yang serba instan tanpa tahu seluk beluk pribadi masing-masing. Cinta yang hanya mengandalkan materi, kedudukan dan fisik yang terlihat sempurna. Natalie hanya menganggap materi dan kedudukan Andrew menjadi faktor penting di dalam hubungan mereka. Natalie tidak ingin terus-terusan hidup susah dan selalu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya. Ada rasa lelah dan jenuh saat dirinya mengingat semua masa lalunya. Kepergian ibunya selama-lamanya membuat Natalie harus berjuang lebih keras lagi. Belum lagi perginya sang ayah yang tidak mau hidup susah, membuat Natalie harus hidup sendiri untuk menghidupi kebutuhannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN