Warning !!!!

1726 Kata
Natalie masih tersenyum membayangkan bagaimana Andrew menyatakan perasaannya tanpa basa-basi. Gadis itu masih berdiri di depan pintu kamar saat Andrew telah berbalik menuju kamarnya. Mereka berpisah dan akan bertemu kembali esok hari. Bagi Natalie Andrew terlihat begitu gentle dan lebih menghargai seorang perempuan. Lelaki itu langsung meminta Natalie untuk menjadi kekasihnya dan menjalin hubungan lebih dari sekedar profesionalitas. Tutur katanya yang lembut membuat Natalie tidak perlu berpikir panjang untuk menolak permintaan Andrew. Karena hal itulah yang memang diinginkan Natalie. Setelah mereka berkomitmen, tak tanggung-tanggung, Andrew berencana langsung mengajak kencan Natalie setelah sampai di Bandung. Mereka berencana akan makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Hal itu Andrew lakukan untuk mengobati rasa kecewa Natalie karena mereka harus merahasiakan hubungan mereka di kantor. Andrew hanya beralasan ingin tetap menjaga profesionalitasnya sebagai atasan. Natalie pun tidak bisa menolak dan tidak ingin kehilangan kesempatan. Ia setuju dengan semuanya dan bersiap menjaga kerahasiaan hubungan mereka. Setidaknya di luar jam kerja, hubungan mereka adalah lebih dari sekadar atasan dan bawahan. Semua terasa cepat, memang. Tidak ada proses perkenalan lebih jauh dan lainnya. Natalie pun tidak mempermasalahkannya, yang terpenting mereka suka sama suka. Natalie akan enjoy menjalaninya. Seperti hubungan yang sudah-sudah ia jalani dengan para mantan kekasih Natalie terdahulu. “Ada yang sedang bahagia rupanya. Aku sepertinya kecolongan start.” Kevin tiba-tiba saja datang, membuat Natalie terkejut. Ia merasa kehadiran Kevin merusak suasana hatinya yang tengah bahagia. “Ngapain ke sini? Sudah malam. Tidur sana!” Natalie berujar ketus. Ia langsung berbalik membuka pintu. Sialnya Kevin malah menahan tangannya. Lelaki itu tidak membiarkan Natalie pergi dari hadapannya. Lelaki itu terlihat seperti mengintrogasi Natalie. Ia melihat Natalie berdua dengan Andrew. Ia yakin pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Lelaki itu merasa dirinyalah yanga paling berhak atas Natale. Ia yang pertama bertemu Natalie. Sudah seharusnya Andrew tidak mendahuluinya untuk mendapatkan Natalie. “Kamu enggak bisa pergi dariku! Kamu masih punya urusan denganku.” Kevin menarik pinggang Natalie hingga mendekat. Ia menghidu aroma parfum yang sangat ia kenal. “Dari siapa parfum ini?” “Natalie tidak mengerti yang dimaksud Kevin.” “Apa aku harus mengajakmu masuk ke kamarku agar kamu mau berbicara?” “Jangan harap!” Natalie berusaha berontak. Namun, usahanya sia-sia. Ia tidak bisa lepas. “Kamu tidak memakai parfum yang aku kirim?” “Parfum? Jadi kamu yang mengirim parfum?” Natalie mulai paham arah pembicaraan mereka. Boks berisi parfum serta buket bunga tanpa nama pengirim. Semua itu pasti ulah Kevin. Apa lagi Andrew mengatakan jika mengirim setangkai mawar lewat room boy. Natalie berpikir itu semua ulah Kevin yang menggantinya dengan sebuket mawar putih. “Aku memang mengirim parfum, tapi bukan ini?” Kevin mengerutkan dahinya. Merasa ada yang janggal. “Apa kamu menerima Parfum dengan sebuah...” “Jangan bilang kamu yang menukar bunga pemberian Andrew?” Natalie manatap tajam Kevin. Ia terlihat begitu sengit pada lelaki di depannya. “Salah! Kamu yang salah!” Kevin menarik pintu kamar Natalie. Lelaki itu mendorong Natalie dan menutup pintu kamar. “Hei, kamu mau apa? Aku teriak, nih!” Natalie langsung gugup saat Kevin berhasil masuk ke dalam kamarnya. “Teriak saja, aku bisa menutupnya dengan ini.” Kevin menunjuk bibir tipisnya. Ia tersenyum karena berhasil membuat Natalie terdiam. “Kamu maunya apa, sih? Kenapa selalu menggangguku?” Natalie menyerah. Ia merendahkan nada bicaranya. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Kedatangan Kevin hanya membuatnya ketakutan. Ia tidak ingin mengulangi kejadian serupa karena ngompol. Ia terlalu malu dan tidak punya muka jika hal itu terjadi lagi. “Sederhana saja. Duduk dan temani aku?” Kevin duduk dan melipat kedua tangannya. “Ini sudah malam. Bukannya kamu besok harus ke Jakarta?” Natalie mencari alasan agar Kevin segera pergi. “Itu tidak penting. Aku bisa membatalkannya. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu tidak menerima parfum dan lingerie dariku?” Natalie masih tidak percaya apa yang ia dengar. Kevin memang benar mengirim lingerie kepadanya. Ah, rasanya Natalie ingin melompat dari jendela dan kabur dari Kevin. Gadis itu bisa memastikan jika Kevin akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Rasanya Natalie harus mencari cara agar bisa kabur dan tetap tenang menghadapi Kevin. Lelaki itu telah memberi kode keras pada Natalie dengan mengirim parfum dan lingerie. “Aku tidak tahu! Salah sendiri punya pikiran mesummm! Pantas saja barangmu hilang entah ke mana.” “Ha ha ha ha sepertinya Andrew terlalu takut kalau aku lebih dulu mendapatkanmu.” Kevin beranjak dan tertawa. Lelaki itu mendekat dan menghidu aroma manis yang masih melekat pada tubuh Natalie. Kevin berjalan berputar dan melihat penampilan Natalie. Matanya masih awas mengawasi bentuk tubuh gadis di depannya yang menurutnya cukup berisi. Sebagai lelaki normal, bohong bila Kevin tidak tertarik. Bahkan jika mau ia bisa langsung memaksa Natalie. Mudah baginya untuk melakukan semuanya. Tenaga Natalie tidak akan kuat melawannya. “Jangan melihatku seperti orang kelaparan!” Natalie merasa risih. Ia merasa tidak nyaman dan gelisah. Maju satu langkah sangat menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Kevin bisa menyerangnya kapan saja atau sebaliknya. Natalie harus memasang ancang-ancang dan bisa menguasai keadaan. “Aku tidak lapar, hanya ingin makan!” “Sama saja!” “Katakan padaku, kamu sama Andrew udah resmi menjalin hubungan?” Kevin semakin penasaran degan hubungan keduanya. “Bukan urusanmu!” Natalie merasa terusik. “Hello... gadis aneh. Kau tidak mau tanggung jawab kalau kamu sampai menangis.” “Menangis? Tidak akan!” Dengan mantap Natalie membalas perkataan Kevin. Baginya ia sudah cukup bahagia karena Andrew menyukainya. Masalah lainnya Natalie tidak peduli karena Natalie percaya seratus persen pada kekasihnya itu. “Yakin kamu menjalin hubungan dengan Andrew? Kekayaannnya tidak lebih banyak dariku. Masalah tampang, aku tidak kalah darinya.” “Setidaknya, dia tidak buaya sepertimu!” Natalie melangkah dan langsung membuka pintu kamarnya lebar. Ia mengambil kesempatan saat Kevin lengah, ia sengaja membuka pintu apabila terjadi sesuatu suara Natalie bisa terdengar ke seluruh penjuru kamar. Kevin menarik kedua alisnya. Natalie memang gadis yang selalu percaya diri. Ia selalu menganggap apa yang ada di dalam pikirannya memang benar adanya. Ia selalu bertindak menggunakan intuisi dan harus tepat sasaran. “Kamu mengusirku?” Kevin berjalan menghampiri Natalie di ambang pintu. Ia masih belum puas berbicara banyak dengan Natalie. “Sayangnya malam semakin larut. Tidak baik berduaan dengan pacar orang!” Natalie berbisik dan terkesan mengejek. Gadis itu sendiri sebenarnya belum puas ingin memberi pelajaran pada Kevin. Akan tetapi ia lebih memilih mengakhirinya daripada harus berurusan lagi dengan Kevin. Ia terlalu jenuh dan kesal jika setiap hari harus diteror oleh Kevin karena selalu mengejarnya. “Baiklah, semoga saja kamu tidak menyesal. Jika suatu saat kamu menangis, datanglah padaku, aku siap memelukmu erat, sayang.” Kevin tersenyum dann berlalu. Rencananya Kevin akan segera bertolak ke Jakarta dini hari. Lelaki itu lebih suka melakukan perjalan malam dibandingkan pagi hari. Jalanan malam yang agak lengang membuat Kevin bisa mengemudi dengan cepat bak pembalap formula. Mobil sport miliknya mampu melasat dengan kecepatan maksimal menembus tol dan jalanan yang lengang. Lelaki itu mulai terbiasa perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung. Hal itu sedikit demi sedikit membuatnya melupakan kisah cintanya yang pupus akibat pengkhiaatan sang kekasih. Ia sengaja pergi Ke Jakarta hanya untuk menghindari sang kekasih yang tinggal sebagai mama tiri dalam keluarganya. Ia bahkan sengaja tidur di apartemen miliknya karena tidak ingin bertemu dengan Michelle sang kekasih. Ia masih sakit hati karena keputusan sang kekasih yang memilih menikah dengan sang ayah dengan alasan karena Kevin tidak pernah serius dengannya. Andrew masih tersenyum memandangi wajah Natalie yang tampak begitu cantik di sampingnya. Berhenti di sebuah rest area di kawasan tol membuat Andrew memilih sebuah food court untk beristirahat. Mereka memesan dua cup hot coffe untuk mengusir kantuk yang menyerang. Tiba-tiba saja Andrew mendapat telepon mendadak yang mengharuskan dirinya segera kembali ke Bandung pagi-pagi sekali. Mereka harus membatalkan rencana menghabiskan waktu bersama sebelum kembali ke Bandung. Agak kecewa, tetapi Natalie berusaha memahami apa yang terjadi. Ia tidak mau terlihat egois dan mementingkan kepentingannya sendiri. Setidaknya ia harus tetap menjaga image dengan baik agar Andrew tidak mengalihkan pandangannya. “Kamu tidak apa-apa, kan? Kalau kita pulang lebih awal.”  Andrew menyesap kopinya. “Tenang saja, aku baik-baik saja.” Andrew tersenyum, lelaki tampan itu menarik tangan Natalie dan menggenggamnya. “Aku janji besok setelah semua urusan selesai kita akan bersama.” “Iya ....” Natalie hanya mengangguk. Ia sama sekali tidak mempunyai pikiran buruk. “Kamu tahu aku sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu.” “Aku pun sama.” Natalie menunjukkan senyum termanismu. Wanita yang tengah kasmaran akan melebihi segalanya. Semua tampak baik dan tidak terdapat satu cacat pun di depan matanya. Ketampanan dan kedudukan seolah menutupi semuanya. Naluri sebagai wanita modern yang selalu memimpikan kemewahan dan tidak mau hidup susah membuat Natalie tidak berpikir hal buruk sekecil apa pun tentang atasannya itu. Semua terasa indah dan baik-baik saja. “Nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai kost-an. Aku hanya bisa mengantar sampai balai kota. Apa kamu keberatan?” “Ah, tidak. Nanti aku bisa naik taksi dari Balai kota. Kalau urusanmu lebih penting, aku tidak masalah.” Natalie masih berusaha mengerti. Padahal dalam hati ia benar-benar kecewa. “Baiklah. Aku sangat menyukaimu. Kamu memang kekasih terbaik.” Andrew terlihat begitu gemas. Lelaki itu terlihat begitu senang karena Natalie tidak mempermasalahkannya. “Apa ada hal yang begitu penting hingga membuatmu harus terburu-buru?” Natalie tidak sabar dan langsung bertanya. Ia tidak tahan jika harus menahan pertanyaannya. Andrew terdiam, lelaki itu melepas genggamannnya dan menarik napas panjang. Ia terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Natalie. Sekretarisnya itu memang tahu semua jdwal pekerjaan Andrew. Menurut catatan, Andrew sama sekali tidak memiliki jadwal yang mendesak. Atasanya itu mulai sibuk saat semua anggaran yang telah diajukan mendapat persetujuan dari bagian keuangan. Itu pertanda jika kerjasamanya dengan Kevin segera dimulai. Acara launching produk sepatu terbaru yang pastinya akan menyita banyak waktu. “Kamu tidak percaya padaku?” “Bukannya aku tidak percaya.” “Baiklah, aku tahu, mungkin kamu curiga. Berpikir aku ini hanya main-main. Semua aku kembalikan padamu. Aku hanya milikmu seorang, tidak ada yang lain. Aku harap kamu bisa percaya itu. Jangan pernah percaya dengan omongan yang lain atau Kevin sekali pun. Dia hanya iri dengan kebersamaan kita.” Natalie hanya mengangguk menerima penjelasan Andrew. Baginya ucapan Andrew cukup masuk akal karena secara terang-terangan Kevin memang mengejar Natalie. Lelaki itu merasa kalah start dan kesal karena bingkisan darinya tertukar dengan yang lain. “Apakah kamu masih tidak percaya dengan kesungguhanku?” “Aku percaya padamu.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN