Natalie duduk menunggu di halte dekat balai kota. Ia menunggu taksi lewat sambil bermain ponsel. Ia berharap cepat mendapat taksi agar dapat segera beristirahat. Wanita itu berharap bisa beristirahat seharian sebelum besok harus kembali beraktivitas lagi di kantor. Badannya begitu lelah karena kurang tidur semalam. Ia harus bangun pagi-pagi sekali dan pulang ke Bandung. Padahal Natalie benar-benar masih mengantuk.
Sebelum pergi, Andrew berpesan pada Natalie agar segera beristirahat. Ia berjanji akan menelepon sang kekasih setelah semua urusannya selesai. Hal itu membuat Natalie sedikit tenang. Kabar dari Andrew sudah menjadi prioritasnya. Ia tidak ingin kehilangan momen indah saat berpacaran bersama atasannya itu.
Layaknya pasangan lainnya, Natalie juga ingin diperhatikan dan ditelepon setiap saat walaupun hanya untuk menanyakan kabar ataupun lainnya. Semua terasa basa-basi, tetapi Natalie sangat menyukainya. Ia merasa dihargai sebagai seorang wanita yang dicintai seorang lelaki.
Menunggu lama, Natalie mulai jenuh. Semua postingan yang muncul di feed instagramnya terasa biasa. Tidak ada yang spesial. Beberapa story yang ia lihat pun terasa tidak menarik lagi. Beberapa akun penerbit buku menawarkan flash sale novel dengan harga yang lumayan irit di kantong. Akan tetapi hal itu tidak membuat Natalie tertarik. Novel yang baru dibelinya pun belum ia sentuh karena lebih memilih membaca novel di platform novel digital. Ia selalu mengkoleksi novel cetak penulis favoritnya. Selain itu, ia juga selalu mengikuti cerita penulis favoritnya di platfrom digital. Saat waktu senggang, Natalie sangat suka membaca novel cetak maupun digital.
Terkadang ia berkhayal kisah asramanya bisa seromantis kisah cinta di novel favoritnya. Kisah cinta tentang seorang atasan dan bawahan yang selalu menjadi trending di beberapa aplikasi novel digital.
Flash sale baju branded import di store langganannya pun tidak menarik baginya. Padahal Natalie harus menambah koleksi pakaiannya agar terlihat semakin menarik di depan Andrew. Ia harus membuang beberapa baju lamanya dan menggantinya dengan yang baru. Style yang lebih fashionable dan menunjukkan penampilan Natalie yang harus berkelas.
Sebagai kekasih Andrew, Natalie perlu menjaga penampilannya agar tidak memalukan. Ia tidak ingin dipandang sebelah mata meskipun semua staf di kantor tidak mengetahui hubungan mereka. Setidaknya Natalie hanya ingin bahwa mereka menganggapnya cukup layak untuk bersanding dengan pria seperti Andrew.
“Ini supir taksinya sedang demo atau bagaimana, sih?” Natalie mulai kesal. Ia memasukkan ponselnya dan tampak resah. Badannya mulai terasa lelah dan ingin segara beristirahat.
“Nath kamu ngapain di sini?” Seorang pemuda memakai helm full face berhenti dan menyapa Natalie.
Gadis itu hanya terheran siapa yang memanggilnya. Ia merasa tidak pernah mengenal pemuda yang barus saja berhenti di depannya. Memakai motor laki-laki keluaran tahun 90-an membuat Natalie enggan bersikap manis. Bukannya apa, selama ini Natalie tidak pernah berteman dengan lelaki manapun yang memakai sepeda motor. Ia pun selalu bersikap ketus pada lelaki yang mendekatinya jika tidak memiliki banyak uang.
Gadis berambut cokelat itu selalu melihat apa yang teman kampusnya bawa saat ke kampus. Jika Natalie melihat mereka membawa mobil, ia akan menyambutnya sangat baik dan membuka kesempatan bagi mereka yang ingin mengenal secara personal.
Berbeda lagi jika ada teman satu kampus yang notabene hanya memakai motor butut. Natalie tidak akan menggubrisnya. Berbincang saja dia ogah, apa lagi sampai memberi kesempatan untuk saling mengenal. Natalie akan menutup semua aksesnya, karena dia tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki miskin yang tidak punya banyak uang.
“Aku Jordan.” Sahabat lamanya itu membuka helmnya dan tersenyum.
Jordan baru saja lewat dan melihat Natalie yang menunggu di halte. Teman semasa kecil Natalie di Surabaya itu akhirnya memutuskan berhenti.
“Kamu. Aku kira siapa.” Natalie berujar datar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran Jordan. Apa lagi dia hanya membawa motor.
“Kamu mau pulang?”
“Iya. Cuma enggak tahu, nih, enggak ada taksi yang lewat sama sekali.”
“Mau aku boncegin? Dijamin aman sampai kost-an.” Jordan menawarkan bantuan.
Lelaki itu memang dari dulu sudah menyimpan perasaan suka pada Natalie saat masih sekolah. Hanya saja Natalie selalu menganggapnya tidak lebih dari sahabat karena rumah mereka yang berdekatan. Natalie juga selalu memberi jarak di antara mereka meskipun Jordan selalu melindungi Natalie saat menjadi korban bullying di sekolah. Bahkan setelah memutuskan kuliah di Bandung. Natalie telah memutuskan semua komunikasi mereka. Ia beralasan hanya ingin memulai kehidupan baru dan melupakan semua kenangan bersama ibunya di Surabaya.
Jordan pun hanya bisa pasrah menerima semuanya. Meskipun dalam hati kecilnya masih ada secercah harapan untuk bisa bertemu dengan Natalie. Hingga saat Jordan memutuskan untuk tinggal di Bandung dengan pamannya, lelaki itu berharap bisa dipertemukan kembali dengan Natalie. Bekerja si sebuah EO terbesar di Bandung membuat Jordan bertemu kembali dengan Natalie. Tak sengaja saat mengantar dokumen milik bosnya yang tertinggal, Jordan bertemu dengan Natalie. Meskipun posisinya hanya sebagai OB. Jordan merasa bangga karena bisa mempunyai penghasilan sendiri tanpa meminta kiriman uang dari orangtuanya.
“Enggak usah. Aku engga mau mengganggu. Kamu lanjut aku. Aku masih bisa menunggu, kok.” Natalie menolak.
Gadis itu merasa enggan jika harus pulang bersama Jordan. Lelaki itu memang terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Namun, hal itu sama sekali tidak merubah perasaan dan standarnya dalam mencari pasangan. Natalie tahu jika Jordan menyukainya sejak lama. Ia sengaja tidak ingin terlalu dekat agar tidak membuat Jordan terluka. Bagi Natalie, sahabatnya itu terlalu baik dan pantas mendapat yang lebih baik.
“Santai aja. Aku tidak terlalu sibuk.” Jordan masih memaksa. Ia terlihat sangat ingin bersama Natalie lebih lama.
“Sayangnya aku tidak ingin rambutku berantakan.” Natalie menegaskan ucapannya. Meskipun tidak secara langsung, tetapi semua terdengar jelas jika Natalie tidak ingin membonceng.
“Kalau enggak mau berantakan, pakai ini.” Jordan menyodorkan helm yang ia bawa. Ia masih bersikukuh untuk mengantar Natalie pulang.
“Jordan ....”
“Matahari sudah mulai meninggi. Kamu tidak mau, kan, kulitmu terbakar sinar matahari.”
Natalie melihat sebagian tangannya yang terkena sengatan sinar matahari. Gadis itu mula panik karena sama sekali tidak membawa lotion pelindung untuk tangannya. Ia pikir sepulang dari Bandung ia tidak akan kepanasan karena diantar Andrew menggunakan mobil. Nyatanya, ia harus menunggu taksi yang tidak kunjung lewat.
“Kamu bawa jaket?”tanya Natalie agak ketus.
Jordan melihat jaket hitam yang ia kenakan. Ia sangat paham apa yang dimaksud Natalie. Segera Jordan melepas jaketnya dan menyodorkan ke arah Natalie.
“Pakailah, lebih baik aku yang kepanasan dari pada kulitmu yang terbakar.”
Natalie ragu mengambilnya. Badannya yang mulai tidak bisa diajak kompromi memaksanya untuk menerima ajakan Jordan. Meskipun dalam hati Natalie ia merasa enggan berboncengan naik motor. Gadis itu memakai jaket Jordan dan helm. Ia tidak ingin kulit mulusnya kepanasan karena membonceng Jordan. Ia khawatir jika saat masuk kantor, kulitnya menghitam karena terkena panasnya sinar matahari.
“Naiklah. Aku akan melajukan motorku sangat pelan.”
“Benar? Awas saja kalau kamu membuatku panik karena ngebut.”
“Baiklah, Nath. Pembalap handal sepertiku bisa dipastikan membawamu selamat sampai tujuan.”
“Dibilang jangan ngebut!”
“Enggak, Nath, Aku enggak akan ngebut, janji.” Jordan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Lelaki itu terlihat sangat bahagia akhirnya Natalie mau berbicara dan menerima tawarannya. Setidaknya Jordan berharap menjadi awal yang baik untuk mendekati Natalie. Ia masih berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan berpenghasilan besar agar Natalie mau bersamanya.
Menaklukkan hati seorang Natalie tidaklah mudah. Materi menjadi prioritas utama. Itulah yang selalu ia terapkan sejak dulu. Itulah yang menjadikanJordan tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ia hanya bisa melindungi Natalie sebagai sahabat. Berasal dari keluarga sederhana membuat Jordan harus menutup perasaannya. Namun, sekarang pikirannya berubah. Ia merasa harus berusaha untuk mendapatkan Natalie. Tuhan telah memberinya kesempatan, ia berpikir harus memanfaatkannya dengan baik untuk meluluhkan hati Natalie.
Sesampainya di tempat Natalie. Gadis berambut cokelat itu langsung membuka jaket dan helm milik Jordan. Ia sudah tidak tahan karena panas dan gerah. Ia pun tidak berbasa-basi mengajak Jordan singgah untuk sekadar memberinya minum. Ia langsung pergi tanpa mengucapkan kata terima kasih. Jordan pun hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Meski tidak dianggap ia masih saja tidak merasa sakit hati.
“Kamu masih saja tidak berubah.”
***
Malam semakin larut, tetapi Natalie tetap saja tidak bisa tidur. Ia masih belum tenang karena Andrew belum memberinya kabar. Ia mulai gelisah saat hari mulai gelap. Padahal kekasih barunya itu berjanji akan menghubunginya setelah semua urusannya selesai. Akan tetapi sampai sekarang Andrew belum menghubungi atau sekadar mengirim pesan.
Natalie mulai berpikiran buruk tentang atasannya itu. Cincin yang melingkar di jari manisnya terasa masih sangat misterius. Belum lagi ucapan Kevin waktu itu, Natalie merasa pikirannya berkutat pada satu nama. Seorang Andrew yang menjadi atasannya sekaligus kekasihnya. Perkenalan yang singkat dan mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih. Sangat konyol dan tidak masuk akal.
Sebuah hubungan terjalin tanpa mengenal satu sama lain. Namun, Natalie menepis pikiran buruk yang bergelayut. Ia tetap percaya pada Andrew, karena baginya atasannya itu merupakan lelaki terbaik yang ia temui. Setidaknya Andrew lebih baik dari Kevin ataupun Jordan.
“Apa aku harus meneleponnya?”
Natalie sudah tidak tahan. Rasa rindunya begitu menggila. Padahal pagi hari mereka baru saja bertemu. Belum ada hitungan 24 jam mereka berpisah. Toh, besok mereka juga akan bertemu di kantor. Namun, Natalie tidak sabar mendengar suara Andrew.
“Aku harus telepon. Aku enggak mau gila.” Gadis itu langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Andrew. Ia tidak ingin menunda dan berlama-lama. Apa lagi mati karena penasaran.
Sambungan telepon tiba-tiba terputus, padahal sebelumnya tersambung. Natalie kembali meneleponnya, tetapi nomor Andrew justru tidak aktif. Hal itu membuat Natalie semakin kesal. Ia merasakan dirinya hampir gila karena jatuh cinta. Padahal selama ini Natalie tidak pernah segila ini. Justru para lelaki yang dibuat gila karenanya. Sekarang, justru semua berbalik. Natalie yang harus merasakan kegilaan karena menahan rindu.
“Gini banget rasanya jatuh cinta beneran.” Natalie gelisah. “Jangan sampai dia lepas! Aku bisa kehilangan lelaki kaya dan baik seperti dia."
Gadis itu kembali duduk di tepi ranjang dan kembali melihat benda pipih miliknya. Ia berharap apa yang terjadi barusan adalah kesalahan. Ia kembali menghubungi Andrew. Hasilnya sama saja. Lelaki itu tidak bisa ditelepon. Nomornya tidak aktif dan susah dihubungi.
Natalie membuka semua aplikasi media sosial miliknya. Mulai dari f*******:, i********:, twitter. Ia sama sekali tidak memiliki akses untuk mengetahui keberadaan Andrew. Ia justru malah melihat banyak foto Kevin bertebaran di beranda miliknya.
Lelaki itu tampak berbahagia bersama seorang wanita berkulit putih yang tampak tertawa bersamanya. Mereka mengabadikan momen mereka dan meng-uploadnya di akun i********: milik Kevin.
Natalie baru tersadar jika dirinya tidak sadar telah mem-follow akun Kevin di i********:. Membuat Natalie bisa melihat pembaharuan Kevin jika mengunggah foto terbarunya. Gadis itu mulai men-scrool semua foto Kevin ke bawah. Ia penasaran dengan lelaki itu dan segala kehidupannya. Apalagi lelaki flamboyan itu terlihat tengah berada di klub malam bersama wanita seksi. Kedekatan mereka terlihat begitu intim.
Selain itu Natalie juga ingin mengetahui sejauh mana kedekatan Kevin dan Andrew. Kevin adalah sahabat Andrew, setidaknya mereka pasti memiliki foto bersama.
Natalie terus saja menggulir foto Kevin. Hingga satu foto membuatnya semakin penasaran. Saat Kevin memakai tuxedo dan memegang buket bunga di tangannya. Di dalam captionnya tertulis “Selamat brother. Semoga aku bisa cepat menyusul.”
Penasaran, Natalie mencoba menggeser gambar. Sialnya, ponsel Natalie langsung mati. Ia tidak bisa melihat foto Kevin bersama temanya karena batere ponselnya habis.
“Kenapa harus mati sekarang?!”